Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 7


Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 7


“Kamu dirumahku, Ken. Kamu ngapain disini?” tanya


Kaori lagi.


Ken tidak bisa menjawabnya, ia juga belum tahu


alasan sebenarnya kenapa bisa berada di rumah Alex. Tapi Ken tidak bisa


mendiamkan Kaori, gadis buta itu tidak bisa melihat ekspresi wajahnya yang sedang


bingung.


“Aku kesini liburan, Kaori. Kan udah lulus sekolah.


Dan aku kangen sama kamu,” kata Ken jujur dari lubuk hatinya.


“Ach, kamu bisa aja, Ken,” sahut Kaori. Kaori


tersenyum manis seperti biasanya.


Ken menahan dirinya untuk tidak mendekati Kaori. Ia


masih perlu waktu menenangkan dirinya dan juga mau makan. Gruk! Suara perut Ken


menarik perhatian Kaori. Gadis itu bangkit dari duduknya, lalu berjalan


mendekati Ken. “Ken, ayo kita makan dulu. Kamu tadi tidur disini ya?” tanya


Kaori.


Ken melihat infus di tangannya, ia harus memanggil


seseorang untuk mengalihkan perhatian Kaori. Pria itu tidak mau Kaori menyadari


keadaannya yang cukup menyedihkan. Mia masuk tepat waktu, Ken menatap Mia yang


berdiri di depan pintu dan menatapnya juga.


Saat Mia hampir bicara, Ken menunjuk infusnya dan


menggeleng sambil menempelkan telunjuknya di depan bibir. Ken tidak mau Kaori


tahu tentang keadaannya. Mia yang cepat tanggap, meminta Kaori untuk keluar


dulu dengan alasan kalau Ken belum memakai baju.


“Kaori, keluar dulu ya. Makan siang udah siap.


Biarin Ken siap-siap dulu.” Mia masuk ke ruang kerja lalu menunggu Kaori


selesai membereskan bukunya.


Setelah Kaori keluar dari ruang kerja itu, Mia


duduk di samping Ken. Wanita itu menyentuh kening Ken yang sedikit demam. Mba


Minah juga masuk ke ruang kerja, membawakan bubur dan air putih untuk Ken.


“Kamu makan ini dulu ya. Kata dokter kamu


dehidrasi. Makan ya,” kata Mia sambil tersenyum lembut.


Mata Ken berkaca-kaca dengan perlakuan lembut Mia,


pria itu minta Mia menyuapinya makan. Ken sudah bersiap akan ditolak, masa iya,


pria sebesar dia masih minta disuapi makan. Diluar dugaan Ken, Mia mengambil


mangkuk bubur lalu menyodorkan sesendok bubur hangat ke depan bibir Ken.


“Buka mulut, Ken. Ayo, makan dulu,” bujuk Mia


sabar.


Ken membuka mulutnya dan mulai makan sambil


menangis. Mia masih bersabar menyuapi Ken, sabar menunggu kondisi pria itu


membaik sebelum bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Sesekali Mia menyodorkan


gelas air putih dan mengelap sudut bibir Ken. Isak tangis Ken malah semakin


keras sampai akhirnya bubur itu habis juga.


“Ken, kamu masih mau makan lagi? Tante ambilin


makanan lagi ya.” Mia beranjak dari sisi Ken.


Ken masih sesenggukan saat Mia kembali membawa


banyak makanan. Sepertinya semua masakan di meja makan, dibawa Mia ke dalam


ruang kerja itu. Ken benar-benar kelaparan, ia terus membuka mulutnya minta


disuapi Mia sampai makanan diatas nampan ludes berlabuh ke perutnya.


Gee! Ken tidak sengaja bersendawa keras membuat Mia


mengacak-acak rambutnya. Mia menawari Ken untuk mandi dan berganti pakaian.


Meskipun bukan pakaian baru, tapi Ken tersenyum senang menerima pakaian milik


Alex. Mia keluar dari ruang kerja agar Ken bisa membersihkan dirinya dengan


nyaman.


Di meja makan, tampak Kaori, Rava, Diva, Gadis,


Renata, dan anak-anak Rio masih menikmati makan siang mereka. Penghuni rumah


belum ada yang sadar akan kehadiran Ken. Mereka tidak terlalu memperhatikan


ketika Mba Minah membawa nampan berisi makanan ke ruang kerja.


“Mah, makan dulu. Tadi mama kemana?” tanya Gadis.


“Itu, mama nemenin Ken makan dulu,” sahut Mia.


“Ken? Ada Ken? Kapan datengnya, mah?” tanya Renata


yang cukup terkejut.


Mia juga bingung mau jawab apa, ia tahu kapan Ken


datang, tapi kenapa pria itu datang pada dini hari dengan keadaan yang


berantakan dan pingsan, masih menjadi misteri buat Mia. Akhirnya Mia hanya


menjawab kalau Ken datang pagi tadi disaat semua orang belum bangun.


Kaori menambahkan kalau Ken datang untuk liburan


dan kangen padanya. Tapi ia cepat-cepat menambahkan kalau maksud Ken adalah


kangen pada Renata juga. Kaori masih berpikir kalau Ken sangat menyukai Renata.


“Apa aku sama Kaori boleh ketemu Ken, mah?” tanya


Renata setelah mereka selesai makan siang.


“Biarin Ken istirahat dulu ya. Kayaknya masih


jetlag juga. Nanti kalau dia sudah keluar kamar, baru kalian ngobrol ya,” kata


Mia memberi pengertian pada Renata.


**


Di dalam ruang kerja, Ken mencoba menghubungi


Melisa. Ia merubah sesuatu di ponselnya agar sambungan telponnya menunjukkan


kalau Ken masih di negara A. Ponsel Melisa masih aktif, tapi ia tidak


mengangkat telpon dari Ken. Pria itu berpikir untuk mengirimkan chat, tapi Ken


takut kalau chat-nya akan bocor keluar.


Disaat seperti itu, Ken teringat pesan Melisa untuk


menenangkan diri dengan meditasi. Semua permasalahan yang ada akan bisa diselesaikan


dengan kepala dingin dan tenang. Ken duduk dengan rileks, ia menarik nafas


panjang lalu menghembuskannya perlahan.


Satu persatu ingatannya saat menyamar dan mendengar


kata-kata Endy mulai berputar kembali di kepalanya. Ken mencoba mencari jawaban


atas rahasia hidupnya. Apa yang sebenarnya disembunyikan Endy? Dan apa hubungan


dirinya dengan Mia dan Alex. Serta kata-kata Melisa yang mengatakan kalau hasil


Ken terus bermeditasi sampai Alex tiba lagi di


rumah bersama Reva, Flora, dan Rio. Mia menyambut suaminya itu dengan senyum


manis dan kecupan di pipi seperti biasanya.


“Ken gimana?” tanya Alex. Biasanya pria itu akan


bertanya dimana Kaori, kali ini Alex menanyakan tentang Ken.


“Masih di ruang kerja tuch, nggak keluar-keluar.


Tadi sempat aku intip, dia lagi duduk sambil merem gitu, mas. Kira-kira lagi


ngapain ya?” tanya Mia sedikit manja pada Alex.


Keduanya berdiri sangat dekat, menghalangi jalan


menuju ke dalam rumah sampai Rio, Reva, dan Flora harus menyempil berjalan menyamping


untuk bisa masuk ke dalam rumah. Alex mengusap-usap punggung Mia, ia mulai


tidak fokus karena wangi tubuh Mia sehabis mandi yang membuatnya memanas.


“Sayang, kayaknya dia lagi meditasi. Mungkin kita


bisa meditasi juga sebelum ketemu Ken?” ajak Alex mulai nakal.


Mia yang tidak paham ada udang dibalik rempeyek,


hanya mengikuti suaminya itu masuk ke dalam kamar mereka. Saat penghuni rumah


yang lain melirik jam untuk menghitung lamanya Mia di dalam kamar, wanita itu


keluar dari kamar dengan cepat.


Gumaman ‘kok cepet’ sejenak memenuhi ruang keluarga


dan dapur. Tapi saat Alex keluar juga menyusul Mia, mereka semua menoleh kemana


keduanya pergi. Ruang kerja menjadi tempat keduanya berhenti. Setelah membuka


pintu perlahan, Mia masuk disusul Alex.


Keduanya duduk di depan Ken yang masih bermeditasi.


Mia berusaha memanggil Ken. Pria itu membuka matanya lalu tersenyum melihat


Alex dan Mia ada di depannya.


“Pa, ma...” Ken memanggil Alex dan Mia tanpa sadar.


Jawaban atas kebingungannya mulai terbuka sekarang.


Ia hanya perlu mencari tahu kebenarannya secara langsung dari Endy dan mencari


tahu apa tujuan Endy yang sebenarnya.


Alex dan Mia saling pandang saat mendengar


panggilan Ken. Mereka jelas bingung kenapa putra Endy itu memanggil mereka


seperti itu.


“Ken, kamu sudah bisa cerita apa yang terjadi


sebenarnya?” tanya Mia.


Ken masih diam, ia masih menatap kedua orang tua di


depannya. Kehangatan Mia dan Alex seolah menyingkirkan hatinya yang dingin


karena memiliki orang tua seperti Endy dan Kinanti.


“Atau kamu mau kami menelpon orang tuamu? Apa kau


baik-baik saja?” tanya Alex.


“Saya, baik, om. Maaf yang tadi hanya refleks.


Tolong jangan telpon mereka, bisa dibilang saya lari dari rumah.” Ken tersenyum


miris.


Mia langsung jatuh kasihan melihat ekspresi wajah


Ken yang memelas. “Mas, biarin Ken disini dulu ya.” Mia malah membujuk Alex


sambil memainkan telunjuknya di dada suaminya itu.


“Ehem, saya tidak akan tinggal lama disini, om.


Saya juga sedang liburan dari sekolah. Terima kasih karena om dan tante sudah


mau menerima saya disini,” kata Ken.


“Sebenarnya kamu ada masalah apa sampai lari dari


rumah? Disuruh ikut perjodohan?” tebak Alex asal.


Ken menimbang sesuatu sebelum bicara lagi. Ia tahu


kekuasaan Endy mungkin bisa menghancurkan Alex dengan mudah. Tapi keluarga Alex


lebih banyak dari keluarga Endy. Mungkin masih ada harapan untuk Ken.


“Sebelum saya mulai bicara, saya mohon sama om dan


tante, pembicaraan kita setelah ini harus jadi rahasia kita bertiga. Saya


mohon,” kata Ken.


Alex dan Mia saling pandang sebelum mengangguk


dihadapan Ken. Cukup aneh dengan permintaan Ken, tapi mereka berdua harus tahu


apa masalah yang dialami pria itu. Ken mulai menyebut-nyebut tentang tes DNA


yang diungkapkan Mia beberapa waktu yang lalu, bertahun yang lalu.


Pria itu mengatakan tentang apa yang ia dengar dari


Endy saat bicara dengan Kinanti. Alex dan Mia terlihat tegang mendengar cerita


Ken. Mereka belum tahu mau kemana arah pembicaraan Ken. Sampai Ken mengatakan


kalau ia juga melakukan tes DNA terhadap sampel DNA dari Mia.


“Bagaimana hasilnya?” tanya Mia tidak sabaran.


“Hasilnya negatif, tante,” sahut Ken.


Mia langsung lemes, tapi kata-kata Ken berikutnya


membuat Mia kembali bersemangat. Ken menyebutkan tentang dua tes DNA di dua


tempat yang berbeda.


“Anehnya, di tempat kedua, hasilnya malah positif,”


kata Ken masih berusaha tenang.


“Artinya apa? Mas?” tanya Mia masih bingung.


“Kamu yakin dengan hasilnya? Kamu bawa hasilnya?”


tanya Alex belum menjawab pertanyaan Mia.


“Waktu saya lari kesini, hasil tes DNA itu saya


tinggal di kamar saya. Tapi saya tahunya dari orang yang saya suruh mengambil


hasil tes itu, om.” Ken tidak menyebutkan nama Melisa.


“Mas, maksudnya apa sich?” tanya Mia masih loading.


“Jadi maksudmu bukti tertulisnya tidak ada? Trus


gimana kamu bisa begitu yakin hasilnya positif?” tanya Alex.


Ken bingung menjawab Alex, ia bisa saja meminta


Melisa untuk mengambil hasil tes DNA itu di kamarnya. Tapi sangat beresiko,


kecuali Ken yang mengambilnya sendiri. Alex menarik nafas panjang, mencoba


tenang dan berpikir. Sebelum mengatakan pada Ken kalau pria itu harus segera


kembali ke negara A untuk melihat lagi hasil tes DNA itu.


“Sebenarnya kalian bicara tentang apa sich?!”


lengking Mia yang kesal karena tidak ditanggapi kedua pria di ruang kerja itu.