
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 41
“Iih, udah dibilangin kalau aku nggak ada hubungan
seperti itu sama kak Rey, Ken. Jangan nyebelin dech,” kata Renata sambil
mencubit lengan Ken.
Ken tertawa ngakak, melihat wajah merah Renata.
Gadis itu sangat kesal karena Ken tidak berhenti menggodanya. Akhirnya Renata
menunjuk sebuah gelang berlian yang cukup mahal, ia ingin membuktikan kalau
Reynold tidak akan mengganti uang Ken.
“Jangan menangis kalau kamu rugi ntar ya, Ken. Kak
Rey nggak akan mengganti uangmu,” kata Renata yakin.
Ken meminta Renata memakai gelang itu dan mengambil
fotonya. Ia mengirimkan foto itu beserta nota pembelian gelang berlian yang
cukup fantastis harganya kepada Reynold. Tidak lupa Ken mengirimkan nomor
rekeningnya. Dalam sekejap, notifikasi uang masuk ke rekening Ken, membuat Ken
tersenyum lebar.
“Bukan cuma balik modal tapi dapat profit sepuluh
persen. Asyik juga berbisnis sama Reynold ya,” ucap Ken pada Renata.
“Masa sich?” tanya Renata belum percaya.
Ken menyodorkan ponselnya, terlihat transaksi
keluar dan masuk dalam hitungan menit. Nama Reynold jelas tertera disana.
Renata mulai panik, ia ingin mengembalikan gelang berlian itu, tapi pegawai
toko sudah membungkusnya dengan cantik.
“Lain kali kalau aunty mau morotin Reynold lagi,
kasih tahu aku ya. Lumayan sepuluh persen,” kata Ken girang.
“Bisa-bisanya kamu ngomong gitu. Ini gimana?” tanya
Renata bingung.
“Ntar kan juga ketemu. Balikin sendiri. Awas, ntar
ditagih yang lain,” ucap Ken masih menggoda Renata.
Wartawan yang melihat kedekatan mereka di dalam
toko, tidak melewatkan kesempatan mengambil foto-foto mesra mereka. Berita
gosip langsung menyebar dengan cepat. Ken diberitakan ke toko perhiasan bersama
seorang gadis dan membelikannya gelang berlian.
Ken cuma bisa tertawa melihat berita gosip itu, ia
sudah punya tim untuk membalas berita-berita semacam itu. Tentu saja Ken tidak
perlu repot menjelaskan pada siapapun. Semua keluarga mereka sudah tahu kalau
Ken hanya mencintai Kaori.
“Sudah cukup kan? Kita bisa ke toko gaun sekarang,”
ajak Renata.
Ken mengangguk, cincin kawinnya sudah ada di tangan
Ken. Hasilnya tentu saja sudah sesuai dengan bayangan Ken dan ia bisa pergi
dari sana tanpa komplain. Mereka menuju tempat selanjutnya, ke toko pembuat
gaun pengantin untuk Kaori. Renata juga memesan di toko yang sama untuk gaun
pendamping pengantin wanita.
Rupanya wartawan mengikuti mobil Ken ketika menuju
ke toko itu. Lagi-lagi berita gosip semakin gencar menyerang Ken. Sehari
sebelum pernikahannya, Ken membelikan gelang dan gaun untuk wanita lain. Ken
berselingkuh sehari sebelum pernikahannya. Dan masih banyak berita miring
lainnya tentang Ken.
“Sepertinya mereka tidak tahu hubungan diantara
kita ya. Mereka juga tidak tahu wajah Kaori, padahal aunty sangat mirip dengan
Kaori,” kata Ken ketika Renata sedang berganti pakaian di balik tirai.
“Aku sudah terbiasa. Kak Rey selalu menyuruhku
menjadi tamengnya. Jadi pacar bohongan. Lagian hanya kita yang tahu sebenarnya.
Buat apa pusing dengan gosip yang beredar di luar sana,” sahut Renata.
Tirai yang memisahkan Ken dan Renata akhirnya
terbuka. Ken mengambil foto Renata yang terlihat mempesona lalu mengirimkannya
pada Reynold dengan banyak emoji lidah menjulur. Ia tertawa puas melihat
balasan dari Reynold, pria itu mengirimkan gambar jari tengah dan emoji
marah-marah.
“Gimana, Ken? Ada yang kurang?” tanya Renata sambil
memutar tubuhnya.
“Bagus kok. Sepertinya Reynold juga suka. Hehe,”
ledek Ken.
“Kamu jadi menyebalkan setelah jatuh cinta pada
Kaori ya. Dulu aja kamu muji-muji aku terus. Mulutmu manis. Tapi sekarang udah
berubah pahit,” sahut Renata.
Ken tentu saja tertawa ngakak mendengar kata-kata
Renata. Memang sejak jatuh cinta pada Kaori, sikap Ken berubah sedikit pada
Renata. Ia tidak lagi bersikap mesra dan lebih menjaga perasaan Kaori. Renata
memukul lengan Ken agar berhenti menertawainya. Gadis itu kembali berganti
pakaian dengan gaun pengantin yang barusan dilihat Renata.
“Ken, aku mau coba gaun pengantin ini dulu ya,”
kata Renata sedikit ngegas.
“Buat apa? Memangnya aunty sudah punya calon suami?”
ledek Ken lagi.
Ken memasang ponselnya lagi, kali ini ia melakukan v-call
dengan Reynold. Saat wajah pria itu muncul, Ken memeletkan lidahnya dengan
wajah tengil. Ia menunjuk-nunjuk ke depan dan mengganti kamera belakang. Tepat
saat itu Renata muncul dari balik tirai yang kembali terbuka.
“Gimana, Ken? Memakai gaun pengantin itu adalah
impian setiap gadis, tau. Mau sudah punya calon suami atau belum,” omel Renata.
“Aunty, kalau ngomel kayak gitu, nanti calon
suaminya kabur loh,” ucap Ken sambil senyum-senyum sendiri.
“Aku nggak ngomel, Ken. Kamu yang bawel. Ini
gimana, bagus nggak?” tanya Renata lagi.
Ken menggeleng saat melihat Reynold menggeleng.
Reynold memberi tanda dengan menurunkan kaosnya, menunjukkan pundaknya. Ken
hampir tertawa ngakak melihat tingkah Reynold yang genit. Renata mengernyitkan
keningnya ketima melihat Ken berjalan ke deretan gaun pengantin dan memintanya
memakai gaun dengan pundak yang terbuka.
“Apa jadinya reaksi Kaori kalau tahu calon suaminya
memilihkan gaun pengantin untuk wanita lain,” ucap Renata sinis.
“Dia tidak akan berkata apa-apa karena aku
Dari tadi aku sudah pengen pulang, mau ketemu Kaori. Malah harus nemenin aunty
rese belanja,” sahut Ken.
“Kamu nggak boleh ketemu Kaori sampai besok, Ken.
Coba aja liat ntar, dikasi masuk ke rumah opa atau nggak,” kata Renata sambil
memeletkan lidahnya.
Tirai kembali tertutup dan Ken kembali menatap
layar ponselnya. Ia senyum-senyum tengil sambil melihat reaksi Reynold yang
tidak sabaran. Wajah pria itu jelas merah merona, ntah membayangkan apa.
“Mikir apa, lo? Mesum,” bisik Ken pada Reynold.
“Diem lo. Ngapain lo ngajak Renata ke toko gaun
pengantin? Modus,” balas Reynold dengan suara berbisik juga.
“Dia mau ngambil gaunnya buat besok. Mana gue tau
kalau dia mau coba gaun pengantin. Berani nikahin nggak lo?” tantang Ken.
“Gue pasti nikahin Renata, nunggu waktu yang tepat.
Awas lo,” ancam Reynold.
“Kalah lo ama gue. Gue dong berani bilang cinta
sama Kaori di depan opa Alex. Nah, lo berani nggak?” lanjut Ken memanas-manasi
Reynold.
Pria itu mengacungkan jari tengahnya ke layar
ponsel, membuat Ken harus membekap mulutnya yang keceplosan tertawa. Puas
rasanya bisa mengerjai Reynold hari ini. Ketika tirai kembali terbuka, Reynold
melongo melihat penampilan Renata yang super cantik.
“Kalau yang ini gimana?” tanya Renata meminta
pendapat Ken.
“Kayaknya ok,” sahut Ken sambil melirik ponselnya.
Reynold hanya melongo dengan wajah bodohnya. Ken meminta
Renata berpose dengan buket bunga putih dan juga rambut sedikit ditata. Meskipun
tanpa makeup, wajah cantik Renata selalu membuat semua orang mengaguminya. Ken
mengambil beberapa foto Renata dengan berbagai pose yang cantik. Renata benar-benar
terlihat seperti calon pengantin yang sangat mempesona.
“Wah, aku nggak sabar ngliat pengantinku besok.
Pasti lebih cantik dari aunty,” sahut Ken setelah mendapatkan foto Renata.
“Dasar bucin. Udah, kan? Aku ganti baju dulu ya.
Mau coba satu gaun lagi,” kata Renata cuek.
Ken merengek pada Renata tapi ia tidak bisa
mengalahkan keinginan aunty-nya itu. Padahal Ken ingin segera bertemu dengan
Kaori, tapi kalau ia meninggalkan Renata sendiri, bisa-bisa Reynold mengamuk
padanya.
“Aunty lo merepotkan, Rey,” keluh Ken yang masih
terhubung dengan Reynold.
“She gorgeous.
Wow, dia calon istri gue yang sangat cantik,” kata Reynold bucin.
“Dasar pedofil. Seharusnya lo sudah menikah, umur
lo sudah hampir kepala tiga kan? Lihat uban lo tuch,” ledek Ken.
Reynold mengepalkan tangannya, ia mengecat
rambutnya dengan warna putih keabu-abuan untuk menyesuaikan model tahun ini.
Tapi Ken malah mengatainya sudah ubanan.
“Lo nggak ada sopan-sopannya ama gue ya. Bentar
lagi lo bakalan jadi suaminya Kaori, adik sepupu gue. Lo harus manggil gue
kakak,” titah Reynold arogan.
“Ogah. Wek. Kakak pale lo bau menyan. Kakak
pedofil,” ejek Ken.
Reynold hampir membalas Ken, tapi Ken sudah
mengarahkan kamera kembali ke depan. Renata terlihat sangat cantik dengan gaun
malam berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Ken
cepat-cepat mengambil foto Renata dan buru-buru menyuruhnya ganti baju.
Sedangkan Reynold kembali melongo sampai ngeces melihat penampilan hot Renata.
“Hei, suruh dia ambil gaun hitam itu. Gue mau ajak
dia dinner besok,” pinta Reynold cepat.
“Ok, tapi inget profit gue ya,” sahut Ken dengan
senyum tengilnya.
“Iya, bawel,” sahut Reynold lagi.
Lagi-lagi Renata dibuat terkaget-kaget karena Ken
meminta pelayan toko untuk membungkus gaun malam yang tadi dipakainya. Ketika
Renata menanyakan untuk apa gaun itu, Ken beralasan kalau Reynold menitipkan
pesan agar Renata bersiap menemaninya dinner besok malam.
Renata jelas protes karena Reynold tidak mengatakan
apa-apa. Lagipula Renata mulai bosan selalu bersama Reynold dimana pun mereka
berada. Kata-kata Renata kebetulan didengar Reynold yang masih terhubung dengan
ponsel Ken.
“Jadi dia bosan denganku?” lirih Reynold tapi masih
bisa didengar Ken.
Ken cepat-cepat memutuskan sambungan telpon karena ia
ingin tahu apa alasan Renata berkata hal menyakitkan seperti itu. Renata
menoleh saat Ken memanggilnya sebelum gadis itu berjalan ke mobil duluan.
Pelayan toko sudah lebih dulu keluar dari toko sambil membawa kotak berisi gaun
Renata.
“Kenapa, Ken? Katanya mau cepet-cepet pulang?”
tanya Renata bingung.
“Kenapa aunty bilang bosan sama Reynold? Bukannya
harusnya aunty merasa bahagia ya bisa bersama dia,” tanya Ken kepo.
Ken sengaja memblokir akses signal masuk agar
Reynold atau siapapun tidak bisa menguping pembicaraan mereka berdua. Renata enggan
menjawab Ken saat itu. Apalagi wartawan mulai mencerca mereka dengan beberapa
pertanyaan menyebalkan saat keduanya berdiri di depan pintu toko. Ken merangkul
bahu Renata dengan erat, ia melindungi aunty Kaori itu dari kerumunan wartawan
yang tidak sabaran mengorek keterangan dari mereka berdua.
Keduanya segera masuk ke dalam mobil dibantu
beberapa bodyguard Ken yang datang untuk membantu mengendalikan situasi. Ken
masih menunggu jawaban Renata setelah mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan
toko gaun pengantin itu. Renata tampak ragu sejenak sebelum mulai bicara dengan
Ken.