
Mia menggeliat, ia memejamkan matanya meresapi kenikmatan yang baru saja melanda tubuhnya.
Ia sangat lelah dan hanya ingin tidur saat ini, tapi sentuhan Alex pada area sensitifnya kembali membangkitkan gairahnya.
Mia : "Maaass... udah..."
Alex : "Sekali lagi, sayang."
Mia : "Uda... empat... kali..."
Alex : "Jadikan lima kali ya... abis ini kita istirahat."
Mia hanya pasrah saat Alex kembali menjamah tubuhnya, menyalurkan hasratnya yang terpendam selama ini.
Kali ini Mia tidak melakukan apa-apa, seluruh tubuhnya terasa sakit. Ia hanya ingin tidur saja setelah selesai.
Malam itu ia sudah menjadi milik Alex seutuhnya, Alex benar-benar memberinya kenikmatan sampai ia lupa rasanya kesakitan saat tubuh mereka menyatu untuk pertama kalinya.
Alex mengusap keringat yang membasahi keningnya. Ia beranjak dari atas tubuh Mia dan berbaring di sampingnya. Mia sudah tertidur lelap, tidak peduli dengan kondisinya yang berantakan.
Alex tersenyum puas, ia merapikan selimut yang menutup tubuh Mia dan mencium keningnya. Tubuhnya terasa sangat rileks dan nyaman.
Kenyamanan dan kesegaran yang dirasakan Alex ini bahkan lebih dari saat ia melakukan gym. Alex memejamkan matanya, kantuk mulai menyerangnya setelah pertempuran mereka yang dasyat.
-------
Alex memicingkan matanya saat sinar matahari menyinari kamar apartment itu. Ia menatap wajah Mia dengan rambut berantakan.
Alarm di ponselnya berdering nyaring mengagetkannya. Sudah jam 7 pagi dan mereka belum bersiap juga.
Mia ikut menggeliat mendengar suara alarm, ia menoleh ke samping dan menatap Alex yang juga sedang menatapnya.
Alex : "Pagi, sayang."
Mia : "Pa... pagi, mas. Aku..."
Mia ingin bangun dari ranjang itu, ia merasa tidak nyaman dengan bagian bawah tubuhnya dan ingin mandi.
Alex : "Aku gendong ke kamar mandi ya. Masih sakit?"
Mia : "Pinggangku sakit, perih juga, mas."
Alex bangun duluan masuk ke kamar mandi, ia menghidupkan air hangat untuk Mia. Ia kembali mendekati ranjang dan menyibak selimut yang menutupi tubuh Mia.
Alex tersenyum melihat hasil perbuatannya semalam, hampir di sekujur tubuh Mia ada bekas ciumannya. Bahkan sisa-sisa cairan mereka mengotori seprai dan selimut.
Mia : "Maas, jangan tarik selimutnya. Dingin..."
Alex : "Ayo, mandi dulu. Abis ini kita sarapan."
Mia merasakan tubuhnya melayang, saat Alex menggendongnya ke kamar mandi. Alex menurunkan Mia pelan-pelan di dalam bathup. Ia membantu membasuh tubuh Mia hingga Mia merasa lebih baik.
Mia : "Mas, ini apartment punya mas ya."
Alex : "Iya, aku beli waktu Selvi hamil si kembar. Selvi aja belum pernah kesini, kamu yang pertama kuajak kesini."
Mia : "Semalam juga kita..." Wajah Mia memerah lagi, ia malu mengingat malam pertama yang duluan mereka lakukan semalam.
Alex : "Kamu menyesal?"
Mia : "Aku cuma shock, mas. Aku gak nyangka kamu sekuat itu."
Alex : "Maafkan aku ya. Seharusnya aku bisa menahan diriku semalam, tapi aku..."
Mia : "Mas, aku mencintaimu..."
Alex : "Aku lebih mencintaimu, Mia."
Mereka berpelukan dalam bathup, saling meresapi perasaan satu sama lain yang semakin kuat setelah penyatuan pertama.
-------
Pagi itu juga, Arnold menerima pesan dari dokter Kevin kalau ia bisa datang ke kota Y untuk ikut seminar kedokteran. Mereka bisa ketemu di apartment Arnold untuk melanjutkan terapi berikutnya besok malam.
Arnold meminta ijin pada Alex untuk membawa Rara ke apartmentnya dan mungkin Rara akan menginap disana juga.
Alex : "Ok, asalkan kamu bisa pegang janjimu. Berikan alamat apartment-mu dan nomor kamarmu."
Arnold : "Baik, om. Nanti Arnold WA alamat dan nomor kamar apartmentnya. Atau mungkin om mau menemani kami disana nanti? Om bisa lihat sendiri bagaimana terapinya."
Alex : "Om sibuk, Arnold. Kabarin saja om mengenai perkembangannya ya."
Arnold : "Atau mama Rara aja, bisa datang kan?"
Alex : "Mia masih sibuk juga. Om percaya sama kamu, tolong jaga Rara."
Arnold : "Baik, om. Makasi om."
Arnold menutup telponnya dan melihat ke gerbang rumah Rara, seperti biasa ia menjemput Rara untuk berangkat kuliah sambil ia jalan ke kantor.
Rara sudah siap dan baru keluar dari gerbang rumahnya,
Rara : "Pagi, kak."
Arnold : "Pagi, Ra..."
Rara menatap Arnold yang tersenyum padanya, ia celingukan melihat sekeliling yang masih sepi dan mencium pipi Arnold.
Arnold : "Ra, besok malam kita ke apartmentku ya. Dokter Kevin akan datang kesana, aku uda ijin sama papamu tadi. Dan mungkin juga kamu harus menginap disana."
Rara : "Ok, kak. Nanti sore jadi foto prewedding?"
Arnold : "Jadi, pulang kamu kuliah, kita langsung kesana."
Rara tersenyum cerah dan Arnold mulai menjalankan mobilnya menuju kampus Rara.
-------
Rara yang baru selesai kuliah, berjalan keluar kelas bersama teman-temannya. Diantara mereka ada satu teman sekelas Rara yang melihat Arnold dan berjalan duluan menghampirinya.
Stefani : "Kak Arnold, apa kabar?"
Arnold menatap Stephani sekilas dan kembali menatap sosok Rara.
Stefani : "Kak Arnold masa gak inget sama aku sich. Kita kan pernah ke klub bareng."
Arnold bukannya tidak ingat siapa perempuan di depannya ini, Stefani Wijaya, anak bungsu keluarga Wijaya salah satu rekan bisnis papanya.
Mereka sering ketemu dulu karena status sosial dan pergaulan mereka. Tapi Arnold tidak terlalu menyukai Stefani karena sombong dan egois.
Stefani : "Ih, kakak kok gitu sich. Aku marah nich."
Stefani dengan berani menggelayut manja di lengan Arnold yang langsung menepisnya.
Arnold : "Jaga sikapmu, jangan murahan."
Arnold memalingkan wajahnya dari Stefani dan melihat Rara di depannya.
Arnold : "Ayo pulang, Ra."
Rara berjalan mengikuti Arnold yang sudah menggenggam tangannya dengan erat. Saat lorong kampus berakhir, Arnold membuka payungnya dan meraih pinggang Rara agar merapat padanya.
Mereka berjalan menerobos hujan dan masuk ke mobil Arnold.
Arnold : "Apa kamu basah, Ra?"
Rara : "Basah dikit, kak. Kakak kenal sama Stefani?"
Arnold : "Gak usah bahas dia. Intinya dulu kami sering ketemu di klub karena papanya rekan bisnis papa. Tapi aku gak suka dia."
Rara : "Oh... Kirain mantan..."
Arnold : "Aku gak punya mantan, Ra. Gebetan sich banyak dulu."
Rara : "Siapa aja?!!"
Arnold : "Apa kamu cemburu?"
Arnold sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Rara. Saat itu hujan deras sudah mengguyur halaman kampus. Menyamarkan situasi mereka di dalam mobil.
Arnold : "Cuma kamu, Ra..."
Arnold mencium Rara dengan lembut, tangannya mengelus rambut Rara sambil merapikannya.
Rara mendorong Arnold karena takut kelihatan dari luar. Tapi Arnold tetap melanjutkan ciumannya sampai ia puas.
Arnold : "Ayo kita ke studio foto."
Rara : "Iya, kak."
Wajah Rara bersemu merah, malu karena dicium Arnold.
------
Sampai di studio foto, hujan sudah sedikit reda. Arnold menggenggam tangan Rara masuk ke studio foto itu. Mereka di sambut resepsionis dan menunjukkan studio tempat mereka akan difoto.
Rara dibawa kebalik korden tinggi untuk dirias dan berganti pakaian, sementara Arnold menunggu sambil duduk di sofa yang nyaman. Seseorang menghampiri Arnold untuk ganti baju juga dibalik korden disebelahnya.
Setelah selesai bersiap, korden perlahan terbuka dan Arnold berjalan keluar sambil merapikan kemeja putih yang dipakainya.
Rara berjalan keluar juga dan pandangan mereka bertemu,
Arnold : "Ra..."
Arnold terpana melihat penampilan Rara yang terlihat cantik dan seksi dengan dress putih yang dipakainya. Riasan natural menunjang penampilannya dengan rambut terurai yang sudah di blow.
Arnold : "Wow...!"
Fotografer memotret reaksi Arnold yang ternganga melihat penampilan Rara. Ia tersenyum puas melihat hasil jepretannya.
Fotografer : "Ayo, ayo kita mulai sekarang."
Rara tersenyum dan menggandeng tangan Arnold ke sofa yang sudah disetting di dalam studio itu. Rara mendorong tubuh Arnold agar duduk di sana, dan ia duduk di pangkuan Arnold.
Rara mengalungkan tangan kanannya di leher Arnold dan mulai berpose menghadap kamera. Arnold masih menatap Rara dengan penuh cinta. Bucin tingkat atas!!
Setelah perjuangan panjang mengambil foto Arnold yang sedang tersenyum agar menghadap kamera, fotografer berhasil mengambil satu-satunya foto mereka yang sama-sama tersenyum ke arah kamera.
Fotografer : "Haduh, mas-nya susah banget disuruh senyum. Ini cuma satu lagi foto senyumnya."
Rara tersenyum melihat hasil foto mereka, kebanyakan Arnold tersenyum saat menatap Rara. Arnold merangkul pinggang Rara, berbisik di telinganya,
Arnold : "Sayang, jangan sering-sering dandan gini ya. Aku gak tahan liatnya... pengen makan kamu..."
Wajah Rara langsung merah padam mendengar bisikan mesum itu. Lagi-lagi fotografer menangkap momen manis itu dengan kameranya.
Setelah memilih dan membayar untuk foto prewedding mereka, Arnold membawa Rara kembali ke mobilnya. Hujan deras kembali mengguyur kota itu.
--------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------