
“Karena aku butuh kepastian. Semua wanita itu butuh kepastian, kak Rey. Aku bisa saja menerima semua kenyamanan ini sekarang. Tapi sampai kapan? Aku juga harus tahu kakak usahanya apa? Aku bukan tipe wanita yang bisa jadi ibu rumah tangga untuk suamiku nanti. Aku ingin bekerja atau setidaknya memahami cara kakak menjalankan usaha kakak,” ucap Renata panjang lebar.
“Sudah selesai?” tanya Reynold.
Renata mengangguk dengan wajah sedikit menegang. Sungguh, Renata benar-benar takut sekarang. Dia tidak tahu apa yang ada dipikiran Reynold saat pria itu menatapnya dalam. Yang jelas, Reynold sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit. Keduanya sama-sama terdiam tapi tidak berpaling. Sampai sebuah mobil lewat di dekat mereka.
Acara pemakaman Anthony sudah selesai dilakukan. Tampak di kejauhan, Kaori dan Andika sedang berjalan keluar dari tempat acara. Ken menyusul di belakangnya bersama Felix. Mobil Ken juga sudah meluncur kembali mendekati mereka. Satu persatu, Kaori, Andika, dan Ken masuk ke dalam mobil yang langsung bergerak meninggalkan pemakaman.
“Renata, maukah kau ikut denganku ke suatu tempat? Tidak jauh kok,” ucap Reynold sambil menggenggam tangan Renata.
“Kita mau kemana, Kak? Jujur, aku takut sama Kakak,” sahut Renata sambil melirik tangannya yang dipegang Reynold.
“Aku berjanji tidak akan menyakitimu, sayang. Katamu mau tahu apa pekerjaanku, hari ini, aku akan memberitahu semuanya. Tapi kau harus berjanji padaku satu hal. Apapun yang kau tahu nanti, kau tidak akan marah padaku,” pinta Reynold lalu mengecup punggung tangan Renata.
“Aku janji nggak akan marah, Kak.”
Renata tersenyum menatap Reynold lalu mengusap surai pria itu dengan lembut. Dia mendekat pada Reynold dan mengecup pipinya. Reynold tersenyum senang mendapat perlakuan yang manis dari Renata. Dia akan mengajak Renata ke FoRena Group dulu, lalu membawanya ke mansion lagi. Reynold mulai menjalankan mobilnya keluar dari pemakaman lalu meluncur menuju apartemen.
Sepanjang jalan, Renata tidak berhenti tersenyum ketika memikirkan apa reaksi Reynold kalau tahu hubungan mereka tidak terlarang. Mereka bisa menikah dan terus bersama selamanya. Apa yang dilakukan Renata saat ini adalah memastikan kekuatan Reynold kalau ada keluarga mereka yang menentang hubungan ini. Terlebih lagi, Renata ingin menekan Endy dan Kinanti agar setuju dengan rencana pernikahannya dengan Reynold.
“Ren? Kamu mikirin apa sih?” tanya Reynold ketika mobil berhenti di lampu merah.
“Tidak ada. Aku hanya membayangkan seandainya orang tuaku bukan papa Alex dan mama Mia, kita pasti bisa menikah ya,” ucap Renata dengan nada bercanda.
“Meskipun orang tuamu, Opa Alex dan Oma Mia, kita tetap bisa menikah, Renata. Aku berjanji,” ucap Reynold enteng.
“Apa yang akan Kakak lakukan kalau mereka menentang hubungan kita?” tanya Renata berubah sendu.
Sorot matanya yang tadinya berbinar, kembali meredup dan berganti menjadi kesedihan. Renata melihat keluar jendela dan menyadari kalau mereka baru saja melewati gedung FoRena Group. Mobil Reynold berhenti di depan apartemennya dan pria itu menatap Renata lagi.
“Karena aku ingin menjadi lebih kuat, selama ini aku berjuang membangun perusahaanku sendiri. Sedetik pun aku tidak berhenti mengejar pencapaian perusahaan papa, Opa Alex, Om Ello, Om Jodi, bahkan Ken juga. Aku ingin menjadi lebih kuat dari mereka semua. Dengan begitu, hubungan kita tidak akan ditentang siapapun. Renata, aku akan tunjukkan bisnisku ini sekarang padamu. Ayo, turun,” ajak Reynold.
Pria itu turun lebih dulu dari mobilnya lalu berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk Renata. Sambil menggenggam tangan Renata, Reynold berjalan memasuki gedung apartemen. Beberapa rekan kerja Reynold saat itu sedang mengantri di depan lift untuk masuk per satu. Seperti biasanya, mereka baru saja kembali dari berbelanja makanan.
“Hai, kalian baik-baik saja?” tanya Reynold berbasa-basi.
“Ya, Rey. Eh, ada Renata juga. Hai, Rena,” sahut salah satu dari mereka.
Sapaan untuk Renata langsung diikuti semua rekan kerja Reynold. Renata hanya tersenyum sambil mengangguk pada mereka. Mereka tidak mau mengganggu pasangan itu memasuki lift khusus untuk menuju ke lantai tempat tinggal Reynold yang berada di sebelah lift utama. Mereka pun segera masuk ke dalam lift yang menutup dengan cepat. Setelah pintu lift terbuka untuk Reynold dan Renata, mereka segera masuk ke dalamnya.
“Renata, di lift ini ada sensor untuk mendeteksi kehadiranmu. Selama kamu memakai kalung yang aku berikan untukmu, semua peralatan ini akan bekerja dengan baik,” jelas Reynold memulai tournya.
“Jadi karena itu, setiap kali aku masuk ke gedung ini, pintu lift langsung terbuka dengan cepat?” tanya Renata kagum. Dia memegang kalung berbandul permata yang bersinar kebiruan yang tergantung di lehernya.
Reynold mengangguk sambil tersenyum ke arah Renata. Pintu lift pun terbuka lagi dan mereka sudah sampai di lantai kamar Reynold dan Renata. Hal pertama yang dilakukan Reynold adalah meminta Renata memejamkan matanya. Mereka akan masuk ke ruang rahasia yang selama ini tersembunyi dari siapapun.
“Kenapa aku harus menutup mata, Kak? Apa Kakak akan menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Renata curiga.
“Masalahnya … ach, sudahlah. Ikut aku. Nanti kau akan tahu sendiri,” ucap Reynold yang tidak mau Renata ngambek lagi.
“Kakak mau apa?” tanya Renata menelan salivanya melihat otot tubuh Reynold yang menggoda.
Reynold tidak mengatakan apa-apa dan terus saja melepaskan pakaiannya sampai tubuhnya polos di hadapan Renata. Saat itu Renata langsung berbalik membelakangi Reynold sambil menutup matanya dengan tangan.
“Kakak ngapain sih?! Cepetan pakai bajumu lagi!” pekik Renata mulai panik.
“Katamu mau lihat apa yang akan kulakukan. Jadi kamu harus melihatnya, Renata,” ucap Reynold sambil menarik tangan Renata mendekat padanya.
Tubuh Renata diputar Reynold sampai menghadap padanya. Saat itu Renata merasakan perutnya ditekan sesuatu di bawah sana. Takut-takut, Renata melirik ke bawah dan melihat kelelakian Reynold sudah menegang sempurna. Wanita itu ingin memejamkan matanya lagi, tapi Reynold melarangnya.
“Dia selalu seperti itu kalau berada di dekatmu, Renata. Tapi jangan takut, aku akan tunjukkan sesuatu sekarang. Berbaringlah di tempat tidur dan jangan bergerak,” pinta Reynold.
Renata menuruti Reynold dan berbaring diatas tempat tidur pria itu. Dia melihat Reynold merentangkan tangannya dan berbalik membelakangi Renata. Tiba-tiba dinding di depan Reynold terbuka perlahan dan menunjukkan ada ruangan lain di dalamnya. Renata yang penasaran, masih belum berani bergerak dari tempatnya.
“Ayo masuk, Ren,” panggil Reynold.
“Itu ruangan apa, Kak?” tanya Renata penasaran.
“Ruangan ini adalah tempat semua rahasiaku tersimpan selama ini,” ucap Reynold lalu berjalan masuk lebih dulu.
Meskipun sedikit takut, Renata mengikuti Reynold masuk ke dalam ruangan itu. Tubuhnya langsung diterpa udara dingin yang keluar dari pendingin udara. Dia melihat lemari besar berwarna hitam, dan juga perangkat komputer dengan banyak monitor di hadapannya. Di salah satu layar monitor itu tampak Alfian sedang bekerja di meja kerjanya. Pria itu sedang mengetik sesuatu di laptopnya dan terlihat sangat sibuk.
“Bukannya ini Pak Alfian ya?” tanya Renata spontan.
“Iya. Dia asisten pribadinya direktur FoRena Group ‘kan?” ucap Reynold.
Pria itu sedang memakai pakaiannya di belakang Renata. Dia harus segera menutupi tubuhnya atau godaan untuk bermain cinta dengan Renata akan semakin kuat di pikirannya. Berdua saja di ruangan itu membuat Reynold harus memfokuskan pikirannya hanya untuk mengantar Renata berkeliling.
“Tapi kenapa Kakak punya CCTV di mejanya Pak Alfian?” tanya Renata semakin penasaran.
“Nanti kamu juga akan tahu sendiri,” sahut Reynold lagi.
Tanpa menoleh, Renata kembali memperhatikan layar monitor itu satu persatu. Sampai Renata menemukan di salah satu layar monitor itu ada kamarnya di rumah Alex. Dia menunjuk layar monitor itu lalu menoleh ke arah Reynold.
“Kak, kenapa--Pak Direktur?! Ngapain Bapak disini?” tanya Renata ketika melihat Reynold yang sudah menyamar menjadi Direktur FoRena Group. Pria itu juga memakai topeng menutupi wajahnya dan menganggapnya sebagai Direktur FoRena Group.
Reynold berjalan mendekati Renata lalu merangkul pinggang wanita itu. Renata mencoba berontak untuk melepaskan dirinya. Tidak ingin Renata terluka, Reynold melepaskan topengnya. Seketika itu juga Renata ternganga kaget melihat wajah dibalik topeng itu.
“Kak Reynold!” pekik Renata.
“Iya, sayang. Ini aku Reynold, Direktur FoRena Group,” ucap Reynold sambil tersenyum menatap Renata.
***
Masih ditunggu lanjutannya ya.
Sambil nunggu, boleh nih baca novel terbaruku WANITA SANG CEO. Minta dukungannya juga ya. Makasih.