Duren Manis

Duren Manis
Bed Rest


Minggu-minggu berlalu, perut Mia semakin membesar. Ia sering merasa kesulitan beraktifitas karena berat badannya yang terus bertambah.


Dokter kandungannya mulai membatasi makanan yang dikonsumsi Mia. Ia tidak bisa lagi menikmati makanan berlemak dan berat sebebas dulu.


Alex memperhatikan semua yang dikatakan dokter ketika mereka melakukan pemeriksaan bulan kelima. Perut Mia membuncit terlihat seperti hamil 8 bulan. Dan ia sering merasakan ada cairan yang keluar membasahi pakaian dalamnya.


Untuk menghindari pecah ketuban dini, Mia diwajibkan bed rest selama beberapa minggu sampai kondisinya membaik.


Alex langsung mengatur semua pekerjaannya bisa ia handle dari rumah dan itu artinya Romi akan sibuk lembur lagi.


Alex : "Kau bisa mengajak Jelita kerja di kantorku. Coba kau tanya dia dulu. Ya, aku harus menjaga Mia. Kau tahu dia sedikit bandel."


Romi : "Ok, aku akan tanya Jelita. Berkas hari akan kukirimkan sore."


Alex : "Ok. Thanks."


Alex meletakkan ponselnya, ia melihat Mia berbaring di ranjang rumah sakit. Tadi ia sempat mengeluh sakit di bawah perutnya dan dokter langsung meminta Mia opname sampai sakitnya menghilang.


Alex : "Masih sakit, sayang?"


Mia : "Iya, mas. Nyeri."


Alex : "Mau aku ambilkan sesuatu?"


Mia : "Makanan, mas. Aku laper."


Alex membuka tas Mia, ada beberapa cemilan sehat di dalamnya. Alex memberikan sekotak buah segar pada Mia yang langsung memakannya dengan lahap.


Alex memandang bentuk tubuh Mia yang membengkak disana sini. Wajahnya tidak terlalu terlihat gemuk dan tetap cantik. Ia mengelus kepala Mia, membuat istrinya mendongak dan berhenti makan.


Mia : "Kenapa mas?"


Alex : "Maafkan aku."


Mia : "Kenapa minta maaf?"


Alex melihat wajah tenang Mia berubah jadi ekspresi khawatir. Ia segera memeluk Mia untuk menenangkannya.


Alex : "Maksudku terima kasih atas semua pengorbananmu untuk kebahagiaanku. Apa kau bahagia menikah denganku?"


Mia : "Ya, mas. Aku bahagia hidup sama kamu."


Alex : "Apa kau pernah menyesal menerima duda sepertiku? Semua hal pertama dalam hidupmu kau berikan untukku."


Mia : "Pernah gak ya?" Melihat Mia berpikir, ketika menjawab pertanyaannya, Alex menunjukkan ekspresi sedih.


Mia tersenyum menenangkannya, ia menggenggam tangan Alex dan mencubit pipi suaminya.


Mia : "Mas pernah denger aku ngeluh gak?"


Alex : "Sering."


Mia : "Aku ngeluh apa? Coba bilang."


Alex : "Kamu ngeluh gendutan, ngeluh kalau aku telat makan, ngeluh dengan banyaknya uang yang aku keluarkan untukmu. Apa lagi ya?"


Mia : "Pernah denger aku ngeluh menyesal menikah denganmu?"


Alex : "Gak sich. Tapi kan..."


Mia : "Kamu khawatir apa sich, mas?"


Alex : "Aku gak mau kamu kenapa-napa. Aku takut..."


Mia : "Aku gak akan pergi, mas. Aku janji. Kondisiku baik-baik aja. Dokter bilang aku cuma perlu bed rest kan. Cuma ini pasti mahal."


Alex : "Gak ada yang mahal buat kamu dan anak kita, sayang. Yang penting kamu sehat, anak kita sehat."


Mia : "Mas sweet banget sich."


Alex : "Aku mencintaimu, Mia."


Mia : "Aku juga cinta kamu, mas."


Alex maju ingin mencium Mia, tapi bunyi perut Mia membuyarkan adegan romantis yang hampir mereka lakoni. Alex mengelus perut buncit Mia, ada pergerakan di dalam sana.


Alex : "Kalian lapar ya. Papa pesenin makanan ya."


Mia : "Iya, papa. Lapar banget nich."


Alex : "Mereka aktif sekali ya. Eh, kita belum tahu jenis kelaminnya ya."


Mia : "Seharusnya dokter sudah tahu. Mungkin di buku tercatat. Coba ambilkan."


Alex mengambil tas Mia, mencari buku pemeriksaannya dan menyerahkannya pada Mia. Mia membuka halaman terakhir periksa dan melihat tanda simbol jenis kelamin dipojok kanan atas.


Mia : "Tuch, bener kan ada."


Alex : "Mana? Oh, itu simbol laki-laki atau perempuan?"


Mia : "Coba mas browsing, masa gak tahu?"


Alex mengambil ponselnya dan membrowsing simbol jenis kelamin. Wajahnya langsung berubah sumringah.


Alex : "Ini satu, satunya lagi mana?"


Mia : "Simbolnya cuma satu nih, apa dokternya baru lihat satu aja."


Alex terlihat sangat senang, ia membayangkan bagaimana kamar bayi mereka nanti.


Alex : "Aku sudah tahu warna yang bagus untuk kamar bayi kita."


Mia : "Ya, direncanakan dulu ya mas. Lewat kandunganku 7 bulan baru boleh kita siapkan. Kata mama pamali kalo belum lewat 7 bulan."


Alex : "Oh, gitu ya. Ok dech."


Mia : "Maass..."


Mia bergelayut manja di lengan Alex, menempelkan dadanya di lengan Alex, memancing libido Alex naik.


Alex : "Apa, sayang. Belum boleh loh."


Mia : "Aku..."


Mia mengerling genit menggoda suaminya. Ia suka melihat wajah Alex memerah karena godaannya.


Alex : "Sayang... Mau apa?"


Mia : "Lapeerr... Mana makanannya?"


Alex mencubit hidung Mia dengan gemas. Ia menelpon ke kantin rumah sakit dan minta dibawakan makanan sehat untuk Mia dan dirinya.


🌼🌼🌼🌼🌼


Arnold menarik nafas perlahan mencoba mengurangi rasa sakit yang kembali menyerang pinggangnya. Ia masih ada di kantornya, sementara Rara dan Ilham pergi meeting dengan client.


Arnold menarik laci meja kerjanya, mengambil obat yang diberikan dokter untuk mengurangi rasa sakitnya. Ia berpikir sampai kapan ia akan mengalami penderitaan ini.


Air matanya jatuh membasahi pipinya, ia ingin menyerah tapi rasa cintanya pada Rara membuatnya bertahan. Tekadnya untuk hidup lebih lama hanya karena ingin bersama Rara.


Kini yang bisa ia lakukan adalah membuat Rara siap jika suatu hari ia harus pergi. Rara harus bisa berjuang untuk hidupnya sendiri sampai ada yang bisa menjaganya.


Arnold sempat berpikir kalau Jodi adalah kandidat yang baik, tapi masa lalu sudah merusak hubungan mereka. Mungkin mereka tidak akan bisa menjadi pasangan, setidaknya bisa jadi partner bisnis yang baik.


Jodi sangat berpengalaman dalam bisnis. Arnold ingin Rara ditempa dengan keras agar bisa menjadi penggantinya kelak.


Arnold sudah mengurus semua aset yang ia miliki menjadi atas nama Rara. Termasuk saham, apartment, mobil dan beberapa aset yang tidak diketahui Rara.


Semua sedang proses balik nama. Ia juga menyiapkan sebuah surat wasiat yang tidak akan bisa dibantah siapapun. Seluruh harta miliknya, yang memang ia beli dengan hasil keringatnya sendiri ia wariskan untuk Rara.


Arnold terlalu mencintai Rara hingga berusaha memberikan masa depan yang terbaik untuk istrinya itu. Setidaknya ia bisa tenang jika sewaktu-waktu ia pergi.


Rasa sakit yang ia rasakan mulai membuatnya kesulitan bernafas dan Arnold takut kematian akan datang pada saat ia tidak sadar atau tertidur nanti.


Arnold tersenyum mengingat kenangan manisnya bersama Rara. Pertemuan mereka, kemesraan mereka, pernikahan mereka dan semua keintiman yang mereka lalui.


Arnold bangkit dari duduknya di kursi meja kerja, ia merasa lebih baik sekarang. Ia menatap pemandangan di luar kantornya. Hari itu cukup cerah dengan sinat matahari yang bersinar dibalik awan.


Seharusnya Rara sudah kembali sekarang. Ia mulai melepas Rara menjalani meeting hanya dengan Ilham. Ia yakin Rara bisa melakukannya.


Rara : "Mas... Aku dah balik."


Arnold berbalik dan tersenyum melihat istrinya berjalan mendekatinya. Rara terkesiap sejenak melihat betapa tampannya Arnold dengan latar belakang langit biru.


Suaminya itu memang sangat tampan. Pesonanya bisa memikat siapa saja yang melihatnya. Tapi Arnold menjatuhkan pilihan pada dirinya. Seorang wanita yang tidak bisa apa-apa dan bukan wanita tercantik sejagat raya.


Arnold merengkuh Rara dalam pelukannya, mencium bibir Rara seolah mereka belum bertemu selama seminggu. Itu kebiasaan baru Arnold. Ia ingin selalu dekat dengan Rara.


Arnold : "Kamu capek? Gimana meetingnya?"


Rara : "Ok, mas. Uda deal. Ilham yang urus dokumennya tadi. Mereka sudah tanda tangan."


Arnold : "Bagus sekali. Kamu semakin hebat ya."


Rara : "Mas baik-baik aja? "


Arnold menatap mata Rara, ia tidak bisa berbohong pada Rara. Itu janjinya dulu. Terlebih Rara tahu apapun yang berubah pada dirinya.


Arnold : "Tadi kumat lagi sakitnya. Tapi uda minum obat kok. Besok baru terapi lagi."


Rara : "Besok aku temenin ya?"


Arnold : "Besok gak ada meeting?"


Rara : "Meeting habis makan siang. Aku bisa nemenin mas paginya."


Arnold : "Kamu gak nyiapin meeting? Nanti gak bisa jawab waktu presentasi."


Rara : "Nanti malam aku pelajari, mas. Semakin dijalani, semakin bisa aku lihat celahnya. Jadi lebih mudah, mas."


Arnold : "Tapi ingat, jangan terlena. Kamu harus selalu siap kapanpun."


Rara : "Siap, bos."


Arnold : "Bentar lagi aku yang harus manggil kamu bos."


Rara : "Maksud mas?"


Arnold : "Sini bentar."


Arnold mengajak Rara mendekati meja kerjanya. Ia mengeluarkan map biru dan membukanya di hadapan Rara.


Arnold : "Tanda tangan disini."


Rara : "Apa ini? Surat pengalihan saham? Maksud, mas?"


Arnold : "Aku mau semua sahamku di perusahaan ini jadi atas nama kamu."


Rara : "Mas ngaco ach. Gak mau."


Arnold : "Sayang, kalo gak mau aku cium nich."


Rara : "Sini cium."


Rara memonyongkan bibirnya dengan lucu membuat Arnold tertawa.


Arnold : "Tanda tangan ya. Ini cuma sementara sampai aku pulih."


Rara : "Oh, sementara. Apa papa uda tahu?"


Arnold : "Udah, dan papa setuju sampai aku sehat kembali."


Rara : "Kenapa harus alihkan saham?"


Arnold : "Biar kamu bisa leluasa mengatur perusahaan ini. Semuanya sampai mengatur jalannya operasional juga."


Rara : "Hii... Serem... Aku belum bisa, mas."


Arnold : "Makanya belajar, sayang."


Arnold menepuk pantat Rara, membuatnya berjengit.


Rara : "Iya, aku tanda tangan."


Arnold tersenyum melihat Rara membubuhkan semua tanda tangannya di tempat yang ia tunjuk. Hatinya bisa lebih tenang sekarang.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲