Duren Manis

Duren Manis
Maafkan aku


Arnold melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat dengan rumah mereka. Jalanan yang cukup sepi membuat perjalanan mereka cepat sampai di tujuan. Mobil Arnold memasuki rumah sakit menuju UGD.


Mia sudah tidak sadar sepenuhnya, ketika Alex menggendongnya ke dalam UGD. Dokter jaga segera memeriksa kondisi Mia yang pucat.


Alex : "Tolong, dokter. Istri saya sedang hamil."


Dokter jaga : "Kami periksa dulu ya, pak. Silakan tunggu di luar."


Alex terpaksa keluar dari ruang periksa UGD dan duduk di depan meja dokter. Seorang suster menanyakan beberapa pertanyaan pada Alex yang dijawabnya dengan cepat.


Alex terdiam mendengar dokter mengatakan kalau Mia memerlukan donor darah. Suster menanyakan golongan darah Mia dan Alex tidak bisa menjawabnya.


Rara yang sudah sampai, ikut masuk ke dalam ruang UGD.


Ia mendengar ketika suster menanyakan golongan darah Mia,


Rara : "Golongan darah mama AB Positif, suster."


Suster : "Baik, ada anggota keluarga yang bergolongan darah sama?"


Rara : "Suami saya, suster. Sebentar."


Rara keluar UGD dan menarik Arnold masuk. Suster jaga sampai melongo melihat visual Arnold yang ganteng maksimal meski hanya pakai kaos oblong dan celana pendek.


Surga banget saat UGD yang dingin hanya berisi rekan kerja yang tidak terlalu good looking, tiba-tiba ada dua cogan datang menyejukkan pandangan.


Suster : "Bapaknya ikut saya ya."


Arnold berbaring di bed UGD di sebelah Mia yang masih diperiksa dokter. Suster mengecek tekanan darah Arnold dan mulai proses pengambilan darah.


Alex mendekap Rara yang terlihat lebih tegar darinya.


Alex : "Kamu tahu golongan darah Mia?"


Rara : "Kami pernah ikut donor darah di sekolah, pah. Papa sabar ya."


Setelah Mia diperiksa sekitar setengah jam, dokter jaga keluar dari ruang periksa.


Alex : "Gimana keadaan istri saya, dokter?"


Dokter jaga : "Apa sebelumnya ibunya pernah jatuh? Atau minum sesuatu yang tidak biasanya?"


Alex : "Setahu saya tidak dokter. Kami sama-sama terus karena kerja bersama. Tapi tadi dia sempat mimpi buruk."


Dokter jaga : "Mohon maaf sebelumnya, tapi janin dalam kandungan istri bapak tidak bisa kami selamatkan. Istri anda keguguran, pak."


Alex hampir jatuh kalau Rara tidak menahannya, air matanya menetes mendengar kenyataan kalau anaknya yang belum lahir harus pergi.


Rara : "Tapi gimana bisa, dok? Mama saya sehat-sehat saja. Setiap cek kandungan juga dokter bilang semuanya normal."


Dokter jaga : "Kemungkinan ibunya terlalu lelah bekerja. Kehamilan trisemester pertama memang cukup rentan apalagi kehamilan pertama."


Alex semakin merasa bersalah, pasalnya setiap hari ia minta jatah pada Mia. Mungkin itu yang menyebabkan Mia kelelahan. Alex memukul kepalanya dengan frustasi, apa yang akan ia katakan pada Mia saat ia bangun nanti.


Rara mencoba menenangkan papanya yang gelisah. Ia juga sedih kehilangan calon adiknya. Tapi mau bagaimana lagi kalau takdir sudah memutus jalan hidupnya bahkan sebelum dilahirkan.


------


Mia terbangun setelah hampir 6 jam tidak sadarkan diri. Mamanya ada disana, duduk disampingnya.


Mia : "Mah..."


Mama Mia : "Kamu sadar, sayang? Apa yang sakit?"


Mia : "Mah, Mia dimana?"


Mama Mia : "Kamu di rumah sakit, sayang."


Mia : "Perut Mia sakit, mah. Apa yang terjadi?"


Mama Mia : "Sayang, ini semua salah Alex. Mama sudah hukum dia gak boleh ketemu kamu."


Mia : "Maksud mama? Mas Alex mana?"


Mama Mia : "Gara-gara dia kamu... Sayang, bayimu sudah pergi..."


Mia : "Apaa??!!"


Nafas Mia mendadak ngos-ngosan, ia merasakan sakit di bagian bawah tubuhnya. Perutnya terasa kaku tapi lebih datar dari sebelumnya yang membuncit.


Mia : "Bayiku mana mah??!!"


Rara yang mendengar teriakan Mia segera masuk ke dalam kamar. Dari tadi ia mencoba membujuk papanya untuk mandi dan ganti baju. Karena baju yang dipakainya penuh darah Mia. Penampilan Alex agak mengerikan bagi pengunjung rumah sakit itu.


Alex juga ingin masuk, tapi pandangan tajam mertuanya membuat nyalinya ciut. Alex hanya bisa melihat ke dalam kamar dari pintu saja. Ia melihat Mia menangis histeris di dalam sana.


Alex kembali menangis di luar kamar Mia, ia bisa merasakan hancurnya perasaan Mia saat mengetahui bayi dalam kandungannya sudah tidak ada. Arnold yang duduk bersama Alex, menepuk pundak ayah mertuanya itu.


Alex tetap tidak mau minum, ia bahkan belum makan dan tidur sejak sampai di RS dan hari sudah menjelang pagi.


Ia masih tetap menunggu di depan kamar Mia, meski nenek dan si kembar berusaha membujuknya untuk pulang dan mandi, ia tidak bergeming.


Baru menjelang malam, mama Mia akhirnya luluh mendengar Mia terus merengek ingin bertemu Alex.


Mia : "Ma, Mia pengen ketemu mas Alex. Ini bukan salah mas Alex, Mia juga gak bisa jaga diri, mah."


Mama Mia : "Seharusnya dia jadi suami itu jagain kamu, bukannya mentingin burung perkututnya! Awas aja dia. Mama sunat, baru tahu rasa."


Mia : "Jangan...!!!!"


Mama Mia sampai menutup telinganya mendengar teriakan Mia yang histeris karena gak mau suaminya disunat lagi.


Alex masuk ke kamar dipapah Arnold, tadi ketika mau berdiri Alex hampir jatuh. Ia dehidrasi dan belum makan hampir 18 jam. Lututnya gemetar hebat tidak kuat menopang tubuhnya.


Mia melihat penampilan Alex yang kacau, ia sudah bisa duduk meskipun perutnya masih sakit. Alex menatap Mia dan tangisan mereka kembali pecah. Mereka berpelukan berdua menangis bersama.


Alex : "Sayang, maafkan aku. Gara-gara aku, anak kita..."


Mia : "Mas... Mandi dulu sana, kamu bau."


Alex melongo melihat reaksi Mia, mau gak mau ia berhenti menangis dan masuk ke dalam kamar mandi dipapah Arnold.


Arnold : "Pah, pintunya jangan dikunci ya. Arnold tunggu diluar."


Mia menghapus air matanya, ia menatap Rara dengan mata berkaca-kaca.


Mia : "Habis ini suapin papamu makan ya. Mama beneran gak tega lihat papa begitu. Mama beneran gak pa-pa. Kan masih ada kalian, anak-anak mama."


Mia memeluk Rara dan si kembar yang menemaninya terus setelah pulang sekolah. Mama Mia tersenyum haru melihat cinta Mia untuk anak-anak tirinya.


Flash back...


Setelah menenangkan dirinya, Mia menanyakan keberadaan Alex. Rara menceritakan kondisi Alex pada Mia tapi mama Mia belum mengijinkan Alex menemui Mia.


Mia sempat bercerita kalau semalam ia memimpikan Stella sedang bersama Alex di sebuah kamar hotel. Ia terkejut melihatnya dan itu mempengaruhi kandungannya.


Belum lagi sebelum itu mereka harus berhadapan dengan beberapa masalah terutama dari masa lalu Alex yang kembali bermunculan. Stress ditambah kurang istirahat karena rutin berolahraga dengan Alex, membuat perutnya sering kram.


Tapi Mia hanya menyimpan rasa sakit itu untuk dirinya sendiri dan tidak memberitahu Alex. Puncaknya pada malam hari kemarin, bayinya tidak bisa bertahan.


Mia : "Mia juga gak jaga diri, ma. Sudah tahu lagi hamil, tapi gak bisa nahan emosi. Suka gak sadar bawa diri gak hati-hati. Mia juga ceroboh, mah."


Mama Mia : "Bela dah suamimu terus. Dia juga salah satu penyebab kondisimu ini."


Mia : "Mah... Kasi masuk dong... Kasian mas Alex belum makan."


Mama Mia : "Gak. Biarin dia rasakan, biar kapok. Gimana kamu bisa punya anak sendiri kalau dia terus begitu."


Mia : "Belum dikasi, mah. Tapi kan Mia punya Rara, ada si kembar juga."


Si kembar datang tepat waktu, mereka langsung memeluk Mia yang kembali menangis. Mereka berpelukan sambil menangis cukup lama.


Mia : "Mia janji kalau dikasi hamil lagi, Mia akan jaga dengan baik."


Cukup sulit meluluhkan mama Mia yang keras kepala. Ia takut kejadian Mia terulang lagi. Dirinya juga sama dulu, cukup sulit hamil karena sering stress. Ia menunggu cukup lama untuk bisa memiliki Mia.


Flash back end...


Alex sudah selesai mandi, ia berjalan mendekati Mia lagi sambil dipapah Arnold. Keduanya sudah terlihat ganteng maksimal.


Mia : "Mas, makan dulu ya. Sama Rara."


Lagi-lagi Alex mengikuti kata-kata Mia tanpa melawan. Mia tersenyum melihat Alex jadi penurut. Sepertinya hukuman mamanya cukup berhasil.


Alex makan sambil menatap Mia, sampai ia tersedak dan terbatuk-batuk.


Rara : "Pah, konsen kesini. Ntar aja liat mama lagi."


Mia tersenyum penuh arti pada Alex. Mereka baru saja kehilangan buah cinta mereka dan pasti perlu satu sama lain untuk saling menguatkan.


-----


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------