Duren Manis

Duren Manis
Numpang makan


Anisa : “Aku gak


bisa jaga diri. Harusnya aku lebih waspada. Pantas aja aku ngrasa aneh waktu


diajak makan.”


Guntur : “Jadi kamu


curiga, temanmu itu ada hubungan dengan pria itu?”


Anisa : “Mungkin


saja, kan. Aneh aja, habis minum aku langsung lemes.”


Guntur : “Kamu mau


cari tahu?”


Anisa : “Memangnya


bisa?”


Guntur : “Kita bisa


cek CCTV. Kamu makan dimana?“


Anisa : “Di dekat


kantorku yang dulu. Restaurant H.”


Guntur : “Coba aku


cek dulu. Kamu uda selesai pakai baju belum sich?”


Anisa : “Udah. Tadi


cuma tinggal pakai hijab aja.”


Guntur kehilangan


kata-katanya, ia berbalik tanpa melihat Anisa dan segera masuk ke kamar mandi


untuk mengganti bathrobe dengan kemejanya. Guntur juga mencuci wajahnya agar


bisa tetap fokus.


Keluar dari kamar


mandi, Anisa tampak berdiri di samping ranjang yang sudah rapi kembali. Wajahnya


merona melihat Guntur dan Guntur juga begitu.


Guntur : “Kita


pergi sekarang? Aku antar pulang ya.”


Anisa : “Kita tidak


jadi mengecek CCTV?”


Guntur : “Sebenarnya


aku punya cara yang lebih baik. Tapi sebelumnya aku harus mengecharge HP-ku


dulu.”


Anisa : “Kau perlu


charger? Di tasku ada. Mana tasku?”


Guntur : “Tasmu?


Apa mungkin ketinggalan di mobil pria itu?”


Anisa : “Oh, tidak...


Dompetku juga ada disana. Surat-suratku.”


Guntur : “Ayo,


ikut.”


Guntur membawa


Anisa ke kantor manajer hotel itu. Ia meminjam charger pada manajer dan mencoba


mengirim pesan pada seseorang.


Manajer : “Apa ada


yang perlu saya bantu lagi, pak Guntur?”


Guntur : “Bisa saya


lihat CCTV di lobby dan parkiran hotel, pak? Kira-kira satu jam yang lalu.”


Manajer : “Baik,


pak.”


Manajer itu


memanggil teknisi IT dan segera menjalankan perintah Guntur. Terlihat saat


Anisa di bawa Jhon masuk ke lobby hotel.


Guntur : “Saya


perlu nomor polisi mobil pria ini, pak. Coba cek di parkiran hotel.”


Sebuah pesan masuk


ke ponsel Guntur,


Guntur : “Ini aneh,


signal ponselmu ada di hotel ini. Tepatnya di kamar nomor 428. Kamar itu


dipesan atas nama siapa, pak?”


Manajer segera


menelpon ke resepsionis dan mendapat jawabannya.


Manajer : “Kamar itu


dipesan atas nama tuan Jhon dan dia masuk setengah jam yang lalu bersama


seorang wanita.”


Guntur : “Dia


memang brengsek ya. Bisa kau dapatkan CCTV saat ia masuk ke kamar itu?”


IT bergerak dengan


cepat mencari CCTV yang dimaksud Guntur dan melihat Jhon berjalan di lorong


sambil merangkul seorang wanita yang berpakaian mini. Mereka bahkan dengan


tidak tahu malu berciuman di lorong sebelum membuka pintu kamar.


Guntur menelpon


seseorang,


Guntur : “Hubungi


istri pria itu katakan suaminya sedang bersama seorang wanita di hotel X kamar


428. Aku akan kirim fotonya padamu. Lakukan sesuatu untukku\, kamu bisa mencuri


dengar apa yang terjadi di dalam kamar?”


Guntur mengirimkan


foto CCTV pada seseorang yang ia ajak bicara dan kembali menelponnya.


Guntur : “Kau bisa


melakukannya? Pakai ponsel yang nomornya kukirimkan padamu.”


Guntur meloudspeaker


ponselnya dan mendengar suara-suara khas orang sedang bercinta. Anisa menatap


jijik pada ponsel Guntur. Terdengar suara wanita yang sedang terengah-engah,


Wanita : “Katamu


mau nyobain si Anisa itu, mana dia?”


Jhon : “Dia


menghilang, susah payah aku menyusun rencana untuk menjebaknya. Temannya yang


bodoh itu mau saja kusuruh membantuku. Ach, sayang...”


Wanita : “Apa


menariknya dia? Semuanya ketutup, gak panas apa.”


Jhon : “Bukannya


asyik, gimana kalau dia masih perawan. Membayangkan dia menggila diatasku itu


sangat menggairahkan.”


Wanita : “Aaacckkk...


pelan-pelan sayang...”


Guntur melihat


Anisa menggigil menahan tangisannya, bahkan mendengar cara Jhon membicarakan


Anisa membuat darah Guntur mendidih.


Guntur : “Pria


brengsek ini harus diberi pelajaran. Lakukan.”


Dan dramapun dimulai,


beberapa pria berbadan besar.


Manajer langsung


siap siaga memanggil petugas keamanan untuk berjaga-jaga. Terlihat di CCTV,


Jhon diseret keluar kamar masih dalam posisi telanjang bersama wanita


selingkuhannya. Anisa memalingkan wajahnya dari CCTV, ia memilih duduk di sofa.


Guntur : “Manajer,


coba geledah kamar itu, cari tas wanita berwarna putih.”


Manajer menghubungi


petugas keamanan yang langsung menemukan apa yang dicari Guntur. Jhon dan


wanita itu diseret dan dipermalukan di lobby hotel sampai sebuah mobil datang


dan membawa mereka semua pergi dari sana.


Guntur : “Manajer,


maaf merepotkanmu dengan semua kekacauan ini. Saya yang akan menjelaskannya


pada atasan nanti. Terima kasih atas kerja samanya.”


Manajer : “Tidak


masalah, Pak Guntur. Hati-hati di jalan.”


Guntur menuntun


Anisa keluar dari ruangan manajer dan petugas keamanan memberikan tas Anisa


pada Guntur.


Guntur : “Terima


kasih. Kita pulang ya.”


Anisa hanya


mengangguk. Guntur membawa Anisa keluar dari hotel dan menuju mobilnya yang


terparkir di parkir khusus manajer. Setelah mereka berdua duduk di dalam mobil,


Guntur menatap Anisa.


Guntur : “Nisa, kau


baik-baik saja?”


Anisa : “Iy... iya.


Makasih, Guntur.”


Guntur : “Tadi


minta maaf, sekarang makasih, bentar apalagi?”


Anisa menoleh


menatap Guntur yang sudah tersenyum manis. Greb! Anisa memeluk Guntur yang


gelagapan sendiri.


Guntur : “Nis...


Nisa? Jangan gini dong. Gak enak dilihat orang.”


Anisa : “Iih,


nyebelin banget sich. Harusnya itu kalimatku. Kamu sich gak pernah agresif.”


Guntur : “Agresif?!


Kamu ini masih sama seperti dulu ya. Selalu bertindak duluan.”


Anisa : “Nungguin


kamu kelamaan, aku keburu jadi perawan tua.”


Guntur : “Habis


kita nikah, liat aja kamu masih perawan apa gak.”


Anisa : “Kayak kamu


berani aja. Wek.”


Guntur tersenyum


melihat Anisa sudah kembali ceria. Ia segera menghidupkan mobilnya, dan menoleh


pada Anisa.


Guntur : “Mamamu


masak apa?”


Anisa : “Kenapa


tiba-tiba nanya mamaku masak apa?”


Guntur : “Aku laper


nich, belum makan malam, boleh numpang makan gak?”


Anisa : “Oh...


bukan mama yang masak, tapi aku. Aku telpon ke rumah dulu ya.”


Guntur : “Aku cuma


bercanda. Kita makan dulu sebelum pulang ya.”


Anisa : “Eh,


beneran gak pa-pa. Aku telpon mama dulu, buat mastiin aja.”


Guntur kembali tersenyum,


ia mulai menjalankan mobilnya menuju rumah Anisa. Sedangkan Anisa terdengar


menghubungi mamanya.


Mereka tiba di rumah


Anisa setelah 15 menit berkendara. Guntur melirik jam di tangannya, sudah jam 9


malam.


Guntur : “Sepertinya


kita terlambat untuk makan malam.”


Anisa : “Nggak kok.


Ayo, masuk.”


Ruang tamu rumah Anisa


masih menyala saat Guntur dan Anisa masuk ke dalam rumah. Papa dan mama Anisa


tampak duduk disana. Didepan mereka ada seseorang yang menoleh ketika mereka


masuk.


Anisa : “Kau...!


Pergi dari sini! Tega sekali kamu!”


Guntur melihat


Anisa sangat emosi, ia menarik pakaian wanita yang duduk di ruang tamu


rumahnya. Padahal wanita itu sudah meminta maaf berkali-kali dan berusaha


menjelaskan sesuatu.


Anisa : “Keluar!


Aku gak mau ketemu kamu lagi!!”


Akhirnya wanita itu


pergi dari rumah Anisa dengan berlinang air mata. Anisa duduk di samping


mamanya, menangis dengan sangat sedih.


Papa Anisa : “Apa


yang terjadi, nak? Kenapa temanmu datang kesini dan meminta maaf seperti itu?”


Anisa menatap


Guntur dan mengangguk membiarkan Guntur menceritakan apa yang terjadi.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲