
Arnold masih menyuapi Rara makan, sesekali ia mencuri mencicipi makanan istrinya itu. Rara yang melihatnya, memasang wajah cemberut.
Rara : "Mas, jangan dimakan. Itu punyaku."
Arnold : "Cicip dikit aja.
Rara : "Eengg... Mas kan punya sendiri."
Arnold tersenyum maklum, mungkin bawaan orok. Biasanya Rara selalu berbagi makanan dengannya. Sesedikit apapun, Rara selalu membaginya adil dengan dirinya.
Kata Rara, mereka harus selalu berbagi suka dan duka bersama-sama. Tidak peduli seberapa berat masalahnya, mereka harus jujur satu sama lain.
Arnold menyodorkan suapan terakhir pada Rara, tapi Rara meminta Arnold yang memakannya.
Rara : "Mas yang makan."
Arnold : "Yakin?"
Rara : "Iya. Dedek bayi uda kenyang."
Arnold memakan suapan terakhir di piring Rara dan meletakkan piring kotor di atas nampan.
Rara : "Mas, kita pulang yuk."
Arnold : "Ntar. Diluar masih hujan."
Rara : "Sini, mas. Duduk sini."
Arnold : "Kenapa, Ra?"
Rara : "Baring sambil peluk."
Arnold : Manja."
Rara tersenyum manis ketika Arnold menuruti keinginannya. Mereka berbaring diatas ranjang saling memeluk sambil menunggu hujan reda.
🌳🌳🌳🌳🌳
Ditempat lain, Mia menatap hujan dari dalam kamarnya. Ia dan Alex baru sampai rumah ketika hujan turun dengan lebatnya.
Mia sedikit menggigil karena kakinya basah terkena hujan. Ia tidak boleh lari-lari untuk menjaga kondisi tubuhnya. Atau ia harus bed rest lagi.
Alex datang membawa susu hangat dan juga handuk.
Alex : "Ini minum dulu, sayang. Dingin ya."
Mia : "Iya, mas. Kakiku basah."
Alex : "Mana?"
Alex sengaja mengangkat rok Mia hingga istrinya itu menjerit.
Mia : "Iihh... Kakiku, mas. Mesum."
Alex : "Oh, kirain yang disitu basah juga."
Mia memonyongkan bibirnya membuat Alex tertawa geli. Alex membantu Mia mengeringkan kakinya dan menarik selimut menutupi kaki istrinya itu.
Alex : "Yang, istirahat dulu ya."
Mia : "Mas mau kemana?"
Alex : "Aku disini. Sambil kerja sich."
Mia : "Anak-anak mana, mas?"
Alex : "Coba WA. Aku kan sama kamu terus, gak sempat ngurus anak-anak."
Mia : "Gimana sich papa nich? Sibuk kebangetan."
Alex : "Kan ada kamu, mama."
Mia mengambil ponselnya. Ia menumpuk bantal agar lebih nyaman duduk bersandar. Sementara Alex bekerja lewat ponselnya.
Pertama, Mia v-call dengan Riri yang ada di dalam kamarnya.
Riri : "Mama uda pulang?"
Mia : "Uda, sayang. Kamu lagi ngapain?"
Riri : "Lagi baca buku, mah. Hujan, malas kemana-mana."
Mia : "Oh, gak pergi sama Elo?"
Riri : "Kak Elo lagi nemenin kakeknya ke pameran buku."
Mia : "Kok tahu?"
Riri : "Kak Elo laporan tadi. Tiap hari gitu, kalau mau pergi pasti ngasi tau."
Mia : "Ciee... Yang dilaporin."
Riri : "Iih, mama nich. Eh, ada telpon dari kak Elo, mah. Ntar sambung lagi ya."
Mia melongo ketika sambungan v-call diputuskan Riri. Ia geleng-geleng kepala sendiri.
Mia : "Astaga, mulai kenal cinta, mulai dikit ngobrolnya nich."
Lanjut yang kedua, Mia ingin menelpon Rara, tapi tadi ia sempat chat mengatakan kalau Rara sedang ke dokter sama Arnold.
Ia memutuskan v-call dengan Rio. Dan jreng! Mia melihat Rio hanya memakai handuk menutupi dadanya.
Mia : "Rio, kamu dimana? Kenapa cuma pakai handuk?"
Rio : "Rio lagi di motel sama Kaori."
Mia : "Apa??!! Motel??!!"
Rio : "Woow mah, tenang dulu. Mobilnya ada masalah tadi. Dan disini hujan deras banget."
Rio mengarahkan kamera ke jendela motel, tampak banjir semata kaki merendam jalanan di luar.
Rio : "Rio uda mau balik tadi, tapi mikir hujan masih lebat gini. Jadi nunggu dulu bentar lagi, baru pulang."
Mia : "Kalian gak..."
Rio : "Mama tolong jangan parno ya. Rio gak ngapa-ngapain Kaori. Tadi kami sempat kehujanan jalan dari bengkel ke motel dan Kaori gak kuat kena dingin. Dia bersin-bersin terus sampe bengek sekarang."
Rio menyodorkan ponselnya agar Mia bisa melihat sendiri keadaan Kaori dengan hidung merah dan suara bengek.
Kaori : "Hai, kak Mia. Saya gak pa-pa."
Mia : "Aduch, kasian. Kamu uda minum obat?"
Kaori : "Disini gak ada penjual obat, kak. Jadi cuma dijaga biar tetap hangat aja."
Mia bisa melihat Kaori memakai kemeja Rio dengan tubuh bagian bawah ditutupi selimut. Ia jadi deg-degan membayangkan bentar lagi bisa saja setan lewat di tempat mereka.
Mia : "Kalian perlu dijemput? Mobilnya kenapa?"
Rio : "Cuma kurang air radiatornya, mah. Rio belum sempat service ke bengkel. Belum gelap juga, bentar lagi hujannya reda kayaknya, mah."
Mia : "Ya sudah. Kalian hati-hati ya. Dijalan dan disitu."
Rio : "Iya, mah. Rio inget kok. Mama uda pulang tuch?"
Mia : "Iya, uda boleh pulang. Sampe rumah sepi, makanya mama telpon satu-satu anak mama pada kemana."
Rio : "Ibu ayam kehilangan anak ayam... Pengen peluk dech."
Mia : "Anak ayam mau peluk ibu ayam? Nanti papa ayam ngambek lagi."
Rio : "Hais, papa lagi disebut. Mana papa? Masi kerja?"
Mia : "Sstt...papa ayam lagi bobok."
Rio : "Sembunyiin HP-nya mah. Gitu dah kerja terus gak sempat istirahat."
Mia : "Sayang banget sama papa ya, mas."
Rio : "Mas??!!"
Rio merona dipanggil mas sama mamanya. Kaori terkikik geli melihat ekspresi wajah Rio yang imut.
Mia : "Iya, bentar lagi kan ada yang manggil mas."
Rio spontan menoleh ke samping, bibirnya hampir menyentuh bibir Kaori yang masih menatapnya.
Mereka langsung spontan menjauh dengan wajah merona. Hening sejenak, Mia bisa melihat keduanya malu-malu kucing.
Mia : "Ehem..! Kalian uda makan?"
Rio : "Uda tadi makan mie, mah. Eh, kayaknya uda reda hujannya. Kami siap-siap balik ya, mah."
Mia : "Iya, ati-ati di jalan. Rio, Kaori."
Mia mematikan sambungan v-call. Untung saja Alex tertidur kalau nggak, entah bagaimana Rio diomelin papanya.
Ia mengurut dadanya mencoba menenangkan dirinya sendiri agar tidak berpikir aneh-aneh. Rio bisa menjaga dirinya sendiri dan Kaori agar tidak sampai kelewat batas.
Mia menatap ke samping, Alex tertidur dengan lelapnya. Bahkan suara ponselnya yang penuh dengan chat tidak mengganggunya.
Perlahan Mia menarik ponsel Alex dari tangan suaminya itu. Dan memeriksa chat dari siapa saja. Mia sebenarnya bukan tipe istri yang kepo dengan ponsel suami.
Sekarang ia iseng saja ingin tahu apa yang sedang dikerjakan Alex.
Chat paling atas tentu saja chat dengan Romi. Pasti urusan kerjaan, Mia mengabaikannya.
Chat berikutnya dari sekretarisnya yang mengingatkan dokumen yang perlu tanda tangannya sudah dikirim ke rumah. Mia membalasnya dengan tanda jenpol seperti balasan Alex sebelumnya.
Tiga chat berikutnya dari partner kerja Alex, skip aja.
Mulai chat ini ada bermacam nama wanita dengan profil wanita cantik.
Mia melirik kesal pada Alex yang berpindah posisi dan kembali tidur. Masi saja ada wanita yang mengejar suaminya itu.
Satu per satu Mia membuka deretan chat wanita-wanita itu.
Kebanyakan nanya kabar Alex tapi diabaikan Alex dengan tidak menjawabnya. Ada yang spam ping sampai Alex membalas, 'Mb, jangan ganggu suami orang. Mia, istri mas Alex.'
Mia mesam-mesem melihat Alex tidak menanggapi chat dari wanita lain yang menggodanya.
Satu chat yang menarik perhatian Mia adalah chat dari Karen. Dari profilnya tampak wanita blasteran yang sangat cantik. Bentuk badannya juga bagus.
Mia melihat perut buncitnya yang sedang mengandung. Ia mulai mengerucutkan bibirnya ingin mencubit Alex.
Pembicaraannya dengan Karen tampak akrab dan santai. Alex mulai chat dengan Karen sebelum Mia hamil dan yang mereka bahas adalah posisi bercinta yang memungkinkan untuk segera hamil.
Wajah Mia memerah melihat beberapa gambar posisi dikirimkan Karen ke ponsel Alex. Mia mengingat semua posisi itu dicoba Alex bersamanya sebelum dinyatakan hamil.
Tapi siapa Karen ini? Tidak ada pembicaraan lain selain itu. Seputaran kehamilan dan pra kehamilan saja. Masa iya Karen ini dokter kandungan.
Mia melanjutkan mengecek chat yang masuk ke ponsel Alex. Kali ini ada chat masuk yang lebih ekstrem dengan foto bagian tubuh wanita.
Alex tidak membuka chat itu ataupun mendeletenya. Ia membiarkannya begitu saja. Mia memblock nomor itu dan mendelete chatnya.
Sama juga dengan beberapa chat yang sama, Mia memblock nomor-nomor itu dengan gemas.
Mia terlalu asyik menstalker isi ponsel Alex sampai ia tidak sadar kalau suaminya itu sudah bangun dan sedang tersenyum menatap dirinya.
Alex : "Lagi ngapain, sayang?"
Mia : "Memusnahkan pelakor..."
Alex : "Boleh aja, tapi HP mas jangan dibejek-bejek gitu. Ntar error."
Mia menghentikan kegiatannya, ia menoleh ke samping dan melotot melihat Alex sudah bangun.
Mia : "Nich yang punya HP uda bangun. Jelasin siapa Karen?"
Alex : "Karen?"
Mia memperlihatkan berbagai macam posisi bercinta yang tersimpan di chat Alex.
Alex : "Aah, dia konsultan."
Mia : "Konsultan ngirim yang beginian?"
Alex : "Konsultan **** emang kerjaan ya begitu, sayang."
Mia : "Buat apa mas pake konsultan ****? Gak boong kan?" Mia memicingkan matanya.
Alex : "Kalau aku boong, kamu gak bakalan jadi sebulat ini, sayang."
Alex memeluk pinggang Mia yang mekar. Ia menempelkan telinganya ke perut Mia.
Alex : "Waktu kamu keguguran, aku sempat berpikir semua itu salah aku yang terlalu over saat bercinta."
Mia : "Aku juga kok yang gampang stress..."
Alex : "Denger dulu. Aku coba tanya sama dokter dan dikasi referensi dokter Karen. Katanya dia bisa bantu untuk mengontrol libidoku. Jadi gak terus-terusan menyerangmu."
Mia : "Itu sih, mas aja yang mesum."
Alex : "Kalau kamu gak menggoda mana bisa aku mesum."
Mia : "Kapan aku godain mas?"
Alex : "Nanya gitu kamu kira gak godain?"
Mia : "Cuma nanya juga dianggap godain?"
Alex : "Itulah yang buat aku gak bisa lepas dari kamu. Buat aku kamu tuch kayak kopi yang selalu buat aku bangun."
Mia : "Oh gitu. Ya uda aku diem aja dech, mas."
Alex : "Ngambek lagi."
Alex mencium perut Mia dengan sayang. Tangannya mengambil ponsel di tangan Mia dan melemparkannya ke dekat bantal.
Alex mengukung Mia yang hanya menatapnya saja.
Alex : "Kamu tahu... Kalau aku gak konsul sama dia, aku akan terus menyakitimu."
Alex memijat bahu Mia, merilekskan tubuh Mia yang sedikit menegang. Mia memejamkan matanya menerima sentuhan Alex.
Alex : "Tidur, sayang. Kamu harus istirahat."
Mia : "Tapi..."
Alex : "Ssttt... Tidur..."
Mia memejamkan matanya, ia merubah posisi tidurnya miring ke kanan memeluk guling. Alex memeluk Mia dari belakang dan kembali tertidur.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲