
Katty : “Ehem...
ehem... Tante, Guntur...?”
Guntur mendekati
Anisa dan hampir mengulurkan tangannya.
Guntur : “Maaf...
kamu berhijab sekarang.” Guntur menyatukan kedua tangannya di depan dadanya
untuk menyapa Anisa.
Anisa : “Guntur,
kamu tambah gagah ya sekarang. Dulu kurus banget. Eh...”
Anisa membalas
salam Guntur sebelum Guntur duduk di samping Anisa. Menjaga jarak mereka cukup
berjauhan.
Jodi : “Kalian
saling kenal?”
Guntur : “Kami
teman SMA. Tiga tahun...”
Jodi bisa melihat
kalau Guntur menyembunyikan sesuatu. Ia bisa melihat Guntur memendam perasaan
pada Anisa.
Anisa : “Iya, waktu
itu Guntur sering banget bantuin aku. Apalagi kalau bikin PR yang susah, Guntur
yang ngerjain. Kamu ngapain disini?”
Katty : “Guntur ini
asistennya Jodi, tante.”
Guntur : “Tante?
Kamu tantenya Bu Katty?”
Anisa : “Iya,
kayaknya aku pernah cerita dech dulu sama kamu kalau aku punya ponakan
seumuran.”
Jodi : “Ceritain
lagi, dong tante. Penasaran nich.”
Mereka berempat
duduk di sofa dan Anisa mulai bercerita dengan seru bersama Guntur. Beberapa
kali mereka tertawa mengingat kenakalan yang pernah mereka lakukan bersama
dulu. Anisa tampak akrab sesekali menepuk lengan Guntur yang mengatakan
kejelekannya pada Katty dan Jodi.
Katty : “Astaga! Tante
pernah bandel juga ya.”
Anisa : “Itukan
dulu. Sekarang mana berani.”
Guntur : “Sejak
kapan kamu mulai berhijab?” Guntur memegang ujung hijab Anisa yang menjuntai di
sampingnya. Alih-alih menatap Anisa, Guntur malah asyik memperhatikan jahitan
diujung hijab itu.
Jodi menyenggol
lengan Katty dan mulai bisik-bisik,
Jodi : “Kayaknya
Guntur suka sama tantemu.”
Katty : “Kayaknya
sich, kebetulan tanteku masih jomblo. Kasi tahu, sana.”
Keduanya kembali
menyimak teman SMA yang sedang reuni itu.
Anisa : “Lulus SMA
aku langsung belajar berhijab dan mantap sampai sekarang terus memakainya.
Jangan ditarik-tarik. Tanganmu masih aja suka usil ya.”
Jodi : “Iya, tante.
Tapi biasanya cuma sama orang yang disukai aja usilnya.”
Wajah Guntur
memerah mendengar kata-kata Jodi. Katty semakin yakin kalau kata-kata Jodi
memang benar.
Katty : “Masa sich?
Perasaan Guntur gak punya orang yang disukai dech.”
Jodi : “Ada kok.”
Katty : “Mana?
Dikantor?”
Jodi : “Nggak, tuch
lagi duduk disampingnya.”
Anisa sedikit terkejut
mendengar kata-kata Jodi. Ia dengan cepat mengelak,
Anisa : “Apaan
sich, Jodi nich. Kami tuch temenan sejak SMA. Gak mungkinlah Guntur suka sama
aku.”
Guntur : “Aku suka
sama kamu, Nisa...”
Anisa menatap
Guntur yang sudah menatapnya. Ia tidak percaya kalau teman akrabnya saat SMA
dulu menaruh hati padanya. Guntur bahkan tidak pernah mengatakan apa-apa
tentang isi hatinya dulu. Jodi tos dengan Katty yang berhasil membongkar isi
hati Guntur.
Anisa : “Kamu
bercanda, kan. Gak mungkin, ach...”
Guntur : “Aku
serius, Nisa. Apa aku boleh melamarmu?”
Anisa : “Melamar?”
Anisa menoleh
melihat Katty dan Jodi yang kompak mengangguk. Ia menatap Guntur lagi, tidak
ada keraguan yang ia lihat dari tatapan Guntur. Anisa menunduk, ia tiba-tiba
merasa malu.
Katty : “Terima
aja, tante.”
Anisa : “Kamu tuch,
Jodi aja belum kamu terima, masih aja nyuruh tante.”
Katty : “Kalau
tante udah nikah, kan Katty bisa nikah juga. Gak enak tau nglangkahin tante
sendiri.”
Jodi : “Beneran?
Tante... please terima aja lamaran Guntur ya. Uda habis-habisan nich ngrayu
Katty tapi gak mau juga.”
Anisa : “Tunggu
dulu. Guntur, kamu gak lagi bercanda kan? Ini ikatan seumur hidup. Kamu yakin?”
Guntur : “Aku
menunggu saat ini sejak kita pertama kali bertemu.”
Anisa : “Apa?”
Anisa tersanjung mendengar pengakuan Guntur tentang perasaannya.
Guntur : “Aku jatuh
cinta padamu saat pertama kali kita ketemu.”
Anisa : “Tapi kamu
gak pernah bilang. Maksudku, apa kamu pernah bilang suka sama aku?”
Guntur : “Ratusan
kali dalam sehari.”
Anisa : “Beneran?
Kapan? Tunggu, apa aku pernah amnesia? Aku gak denger kamu ngomong gitu.”
Guntur : “Aku
mengatakannya dalam hatiku, saat kita bertemu di gerbang sekolah, saat kau
menyapaku, saat kita kerja kelompok, saat kita makan di kantin, saat kita
bicara, saat kau menatap mataku, saat kau menontonku bermain basket, setiap
kali kita bersama. Aku selalu mengatakannya, aku menyukaimu.”
Anisa : “Tapi aku
gak mendengarnya, Guntur. Mana bisa aku tahu perasaanmu.”
Anisa meraih pipi
sangat dekat.
Anisa : “Ach,
maaf.”
Situasi berubah
canggung diantara mereka setelah Anisa . Jodi dan Katty cuma senyum-senyum
melihat interaksi keduanya. Mereka berdua bahkan sudah pindah ke meja makan
untuk memberi ruang bagi Anisa dan Guntur.
Guntur : “Aku ingin
melamarmu, Anisa. Aku akan datang ke rumahmu bersama orang tuaku.”
Anisa : “Oh,
astaga. Apa kata ibuku kalau tahu aku berpamitan untuk mencari pekerjaan dan
pulang membawa calon suami.”
Guntur : “Jadi kamu
setuju?”
Anisa : “Hah?!
Kapan aku bilang setuju?”
Katty : “Sudahlah,
tante. Terima aja. Guntur orangnya baik, kalian seiman, dan pekerjaannya juga
bagus. Tunggu dulu... bukannya kamu bilang Guntur punya 2 anak?”
Jodi : “Iya... tuch
anaknya diluar 1, digendong 1.”
Anisa dan Katty
menatap Guntur seperti mencari sesuatu. Guntur menurunkan tasnya yang sejak
tadi masih ia silangkan di pundaknya.
Guntur : “Pak,
jangan bikin salah paham dong. Anisa, Pak Jodi selalu bilang laptop dan mobilku
itu seperti anak-anakku.”
Jodi : “Ya iyalah,
dijaga mati-matian, gak boleh lecet. Kalo bisa tuch mobil juga dibawa tidur
kayak laptopnya.”
Anisa : “Kalo gitu,
aku gak bakalan disayang dong.”
Guntur : “Kamu kan
beda. Aku pasti sayang sama kamu.”
Guntur meraih
jemari Anisa, sambil menatap dalam mata wanita yang dicintainya itu.
Katty : “Ehem...
pegang aja trus.”
Guntur segera
melepaskan tangan Anisa dan duduk sedikit menjauh.
Guntur : “Aku boleh
datang sama orang tuaku? Hari Minggu?”
Anisa : “Iya, aku
tunggu. Kamu masih save no-ku?”
Guntur : “Masih.”
Anisa : “Trus
kenapa kamu gak pernah menghubungiku?” Anisa mulai gemas lagi dengan Guntur.
Guntur : “Aku
pernah mencobanya tapi gak pernah aktif.”
Anisa : “Coba
telpon sekarang.”
Guntur mengeluarkan
ponselnya, dan menekan no.5 cukup lama. Ponsel Anisa langsung berdering
nyaring.
Anisa : “Tuch, kan.
Nyambung, emangnya kamu telpon aku kapan?”
Guntur : “Tengah
malam. Jam 1 dini hari. Kadang jam 3.”
Anisa menepuk keningnya
dan kembali mencubit pipi Guntur yang mulai suka dengan cubitan Anisa.
Anisa : “Ya,
iyalah. Aku lagi tidur, HP-ku pasti mati. Nyebelin banget sich. Eh. Nomorku kamu
taruh di speed dial no.5 ya. Kenapa?”
Guntur : “Karena
no.5 adanya di tengah-tengah. Jadi aku lebih mudah meraihnya, berharap bisa
juga meraih hatimu.”
Anisa melepaskan
tangannya dari pipi Guntur dan menunduk malu-malu.
Anisa : “Apaan
sich, kamu tuch.”
Katty beranjak
mendekati kulkas dan mulai mengeluarkan bahan makanan. Jodi ingin membantu
Katty, tapi Katty mengingatkan Jodi kenapa Guntur bisa datang ke rumahnya.
Katty : “Kenapa
Guntur bisa datang? Kebetulan?”
Jodi : “Hampir
lupa. Guntur, mana dokumen yang perlu tanda tanganku?”
Guntur : “Ini, pak.
Saya juga hampir lupa.” Guntur mengeluarkan dokumen dari dalam tas laptopnya
sambil tersenyum pada Anisa.
Jodi memeriksa
dokumen itu satu persatu, sambil membahas detail dokumen apa itu. Anisa tidak
mau mengganggu Jodi dan Guntur, ia beranjak mendekati Katty yang sudah bersiap
menghidupkan kompor.
Anisa : “Mau masak
apa?”
Katty : “Masak yang
simple aja, tante. Tante jadi nyari kerja disini?”
Anisa : “Iya, nih. Nenekmu
bilang biar aku lebih banyak bergaul diluar. Gak di kamar terus.”
Katty : “Tante
masih suka nulis?”
Anisa : “Iya.
Kerjaanku selama ini kan nulis. Cuma kata nenek, nulis itu gak bikin aku ketemu
jodoh. Jadinya disuruh cari kerja yang lain. Katty ada lowongan?”
Katty : “Katty sich
gak ada, kan Katty kerjanya freelance. Coba kita tanya Jodi ya.”
Keduanya menoleh
menatap kedua pria yang duduk di sofa. Mereka tampak sedang berbicara serius.
Katty : “Nanti aja
ya, habis makan malam.”
Anisa : “Iya, nanti
aja.”
Setelah makanan
siap diatas meja makan, Katty memanggil Jodi dan Guntur untuk makan malam
bersama. Anisa dengan sigap menuangkan nasi ke piring Guntur dan mengambilkan
lauk untuknya. Sedangkan Katty terbiasa melayani Jodi makan. Guntur terus
tersenyum sepanjang makan malam mereka.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲