Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Terbata-bata


DM2 – Terbata-bata


Mb Minah mengangguk, Gadis menarik tangan


Rio, menuntunnya menaiki tangga satu persatu. Rio berusaha menjaga


keseimbangannya, ia baru bisa berjalan normal di lantai. Tapi untuk naik dan


turun tangga, harus di bimbing pelan-pelan.


Sampai di lantai 2 lagi, Gadis menyusap


peluhnya. Rio berjalan perlahan ke kamarnya sendiri dengan Gadis dibelakangnya.


Saat Gadis sudah menutup pintu kamar mereka, ia berbalik dan terkejut melihat


Rio berdiri di depannya. Rio menatapnya tanpa ekspresi, “Kenapa? Hem? Kamu mau


apa, sayang?”bisik Gadis mesra.


Gadis meraih tengkuk Rio, mencium dalam


bibir pria yang paling dicintainya itu. Ia mengarahkan tangan Rio memegang


tengkuknya juga. Keduanya berdiri sangat dekat, terus mereguk manisnya kecupan


dan ciuman yang penuh cinta. Gadis mendorong Rio, menghentikan ciuman mereka.


“Ambil nafas dulu, Rio. Huft! Hah! Hah!”


Gadis menarik kaos Rio hingga lepas, Rio juga melakukan hal yang sama pada


piyama Gadis. Rio menatap tubuh bagian atas Gadis yang masih memakai tank top.


Ia melihat tubuhnya sendiri yang polos.


“Kenapa? Mau aku lepas juga?”kata Gadis


menggoda Rio. “Lepasin dong.”


Gadis menarik tangan Rio untuk membantunya


melepas tanktop. Rio kembali menatap Gadis yang mulai melucuti sisa pakaian di


tubuhnya. Rio juga melakukan hal yang sama. Gadis meraih tangan Rio,


menuntunnya ke ranjang mereka.


“Rio, kalau kamu udah sembuh, bilang dong.


Kamu ngerti aku ngomong apa?”tanya Gadis.


Rio mengangguk. “Ak... nger...”suara Rio


terdengar tercekat. Gadis memeluk Rio, menciumi wajah pria itu. Air matanya


menetes lagi, ia sangat bahagia.


Gadis mendekatkan tangan Rio ke pipinya. Ia


tersenyum dengan sangat manis. “Sayang, kau mau?”tanya Gadis. Rio kembali


mengangguk, direngkuhnya tubuh Gadis dalam pelukannya. Rio memulainya duluan,


Gadis yang kini mengikuti gerakan Rio.


Penyatuan atas nama cinta kembali mereka


lakukan. Rio menyentuh Gadis dengan sangat lembut, ia mengusap perut Gadis,


membisikkan sesuatu agar calon anak mereka lekas tumbuh di perut Gadis. Rio


tidak sedetikpun melepaskan tatapannya dari mata Gadis. Ia tidak mau Gadis


memejamkan matanya, “Ja...ngan me...rem.”ucap Rio terbata-bata.


Gadis tersenyum manis dan mengangguk. Ia


menyentuh pipi Rio, menggenggam rambutnya saat Rio kembali membangkitkan


hasratnya. “Rio... sayangku...” Tubuh Gadis melengkung merasakan hentakan Rio


semakin kuat sampai mereka melepaskan diri. Rio terbaring di ranjang dengan


nafas tersengal. Gadis mendekat lagi, ia memeluk Rio dan menjadikan tangan Rio


sebagai bantal. “Sayang, aku seneng banget kamu dah sembuh. ”kata Gadis menatap


Rio.


Rio menarik sudut bibirnya berusaha


tersenyum. Setelah setahun mengalami depresi yang menyebabkan Rio tidak bisa


beraktifitas secara normal, ia hanya bisa terbaring di tempat tidur. Makan


harus disuapi, mandi, bahkan buang air juga harus dibantu.


“Kita ke dokter ya. Kamu harus ikut terapi


tahap berikutnya. Akhirnya kamu bisa sembuh, Rio.”kata Gadis lagi mengeratkan


pelukannya.


*****


Keesokan harinya, Alex sudah kembali pulang


ke rumah. Kaki kirinya masih di gips. Arnold dan Elo membantu Alex duduk di


kursi roda saat turun dari mobil. Gadis dan Rio sudah menyambut mereka di depan


ruang keluarga.


Alex dan Mia saling bertatapan melihat Rio


berdiri tegak sambil tersenyum ke arah mereka. Begitu juga Riri dan Rara yang


terkejut melihat saudara mereka sudah sembuh kembali.


Gadis menyentuh lengan Rio, “Panggil papa.


Rio, papa.”kata Gadis.


“Pa...pa...”kata Rio terbata-bata.


Mia mendekati Rio dengan mata berkaca-kaca.


Ia memeluk Rio dengan erat sambil menangis bahagia. Rio berjalan perlahan


mendekati Alex, ia membungkuk memeluk Alex yang juga menangis bahagia. Gadis


tersenyum bahagia melihat keluarga mereka memeluk Rio satu persatu.


“Sejak kapan kamu sembuh gini, Rio?”Hening.


Rio tidak menjawab pertanyaan mamanya. Semua orang menatap Gadis minta


penjelasan.


sambil menyentuh lengan Rio. “Rio, mama nanya. Bilang baru tadi.”


Rio menoleh, menyentuh tangan Gadis dan


mengatakan, “Ba... ru... di.”ucap Rio seperti bayi yang baru belajar bicara.


“Gadis, sejak kapan Rio gini? Ngikutin


gerakanmu?”tanya Mia. “Sepertinya dia cuma dengerin kata-katamu aja.”


“Sudah sebulan ini, mah. Awalnya Gadis liat


Rio gendong Kaori. Trus mulai ngikutin gerakan Gadis. Gitu caranya belajar


jalan lagi. Trus baru kemarin suaranya keluar lagi.”


Gadis menceritakan ketika ia memergoki Rio


menggendong Kaori. Gadis lupa menceritakan kemajuan itu pada mamanya karena


terlalu sibuk mengurus ayah dan anak itu. Tapi ia sudah menghubungi dokter Rio


untuk memberitahu perkembangan Rio.


“Gak pa-pa. Sekarang sudah bagus.


Pelan-pelan, pasti Rio bisa kembali seperti semula. Adikku yang ganteng.”kata


Rara sambil memeluk Rio. Riri juga memeluk Rio, Rio menatap keduanya. Gadis


kembali meminta Rio memanggil kedua kakaknya.


“Rio, kak Rara.”tunjuk Gadis pada Rara.


“Ra...”saut Rio.


“Ini Riri.”tunjuk Gadis pada Riri.


“Riri...”kata Rio lebih jelas.


Mereka duduk bersama di ruang keluarga,


sebentar lagi dokter Rio akan datang untuk memulai sesi terapi berikutnya.


“Kita harus rayakan kesembuhan Rio, papa


juga sudah keluar dari rumah sakit.”kata Riri semangat.


“Aku udah masak iga bakar sama wortel dan


buncis rebus. Mau nambah apa lagi?”tanya Gadis.


“Pizza!!”seru Rara dan Riri kompak.


Mereka duduk bersama mengobrol sampai


pizza-nya datang. Si kembar juga pas waktunya pulang sekolah. Keduanya memeluk


Alex bersamaan.


“Papa! Papa dah sembuh?”tanya Rava.


“Papa, dah bisa jalan?”tanya Reva.


“Haduh! Papanya jangan ditimpa gitu,


sayang. Ganti baju dulu sana.”kata Mia pada si kembar.


“Mah, tadi di sekolah Reva nakal.”adu Rava.


“Masa Amanda dicium.”


“Dia yang mau. Hehe...”smirk Reva.


Mia memonyongkan bibirnya melihat smirk


Reva mirip Alex. “Papanya playboy, jelas anaknya juga ketularan.”sungut Mia.


“Apa tuch playboy, mah?”tanya Rava.


“Kelinci.”saut Mia asal. Arnold dan Elo


menahan tawanya mendengar jawaban Mia.


“Papa gak playboy ya, tapi punya daya tarik


seksual yang kuat.”tegur Alex.


“Apa itu daya tarik sek... apa, pah?”tanya


Reva.


“Banyak wanita yang nguber-nguber.”jawab


Alex yang langsung dipelototi Mia.


“Gak usah dengerin papa. Papa lagi sakit.


Cepetan ganti baju. Mama gelitikin nich.”kata Mia menunjuk kamar si kembar.


“Loh, Rey mana?”tanya Rara. “Rava, mana


Rey?”


“Masih dimobil, ngambek karena liat Amanda


dicium Reva.”saut Rava.


“Idih, bocah.”kata Rara sambil berjalan


keluar rumah Alex.


Rara melihat Rey sedang bicara dengan


seorang wanita cantik yang membawa koper kecil. “Iya, tante. Ini rumah opa


Alex.”kata Rey ceria.


“Oh, adik ini cucunya pak Alex ya? Ganteng


sekali.”puji Melda yang baru sampai di rumah Alex.


“Selamat siang, cari siapa ya?”tanya Rara


menyapa Melda.


“Selamat siang, bu. Saya Melda, sekretaris


Pak Alex. Saya datang untuk meminta tanda tangan bapak. Pak Alex ada di dalam?”tanya


Melda.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.