
Alex mengantar Mia pulang sore itu, Mia tidak ingin berlama-lama di rumah Alex karena takut mereka khilaf sebelum waktunya. Yah, meskipun Mia harus menahan godaan yang diberikan Alex sebelum pulang.
Mia memperhatikan suasana rumahnya yang masih sepi, sepertinya mamanya belum pulang kerja. Ia menoleh pada Alex yang sudah menatapnya.
Mia : “Mas… mau mampir dulu?”
Alex : “Boleh? Ayo turun…”
Mia sebenarnya belum ingin memperkenalkan Alex sebagai kekasihnya sekarang, tapi mengingat besok nenek
akan datang ke rumahnya bersama Alex dan Rara, Mia tidak punya pilihan lain.
Nenek dan kakeknya sedang duduk di beranda samping saat Mia masuk ke dalam bersama Alex,
Nenek : “Loh, Mia pulang sama siapa?”
Mia : “Nenek, kakek, ini mas Alex…”
Alex : “Nenek, kakek, saya Alex, pacar Mia.”
Nenek & Kakek : “Pacaarr??!!”
Alex di minta duduk di ruang tamu dan disuguhi teh, kakek menemaninya ngobrol. Sementara Mia digiring neneknya duduk di ruang tengah.
Nenek : “Sejak kapan kalian pacaran, Mia?”
Mia : “Belum lama, nek. Mas Alex itu papanya Rara, tapi statusnya duda.”
Nenek : “Apa kalian serius? Dia duda, Mia.”
Mia : “Mia tahu, nek. Tapi mas Alex dan Mia sudah saling cinta…”
Nenek : “Kalau memang serius, kapan dia akan melamarmu?”
Mia : “Besok ibunya mau kesini untuk membicarakan lamaran, nek.”
Mama Mia : “Miaaa…!!!”
Deg! Deg! Deg! Jantung Mia langsung marathon mendengar teriakan mamanya yang sudah berdiri di batas antara ruang tamu dengan ruang tengah. Mia berusaha menelan salivanya untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering.
Mama Mia : “Masuk kamar sekarang!”
Mia : “Tapi, mah…”
Mama Mia : “Mama bilang masuk!”
Mia menatap Alex yang sudah berdiri dari duduknya, ia memalingkan wajahnya dan berjalan cepat masuk ke kamarnya. Mia sudah menduga mamanya akan marah kalau mendengar hubungannya dengan Alex. Apalagi Mia belum lulus kuliah, padahal sedikit lagi dia akan menyandang gelar sarjana.
Mia bolak-balik di kamarnya, sudah 2 jam lebih ia masuk kesana tapi tidak ada yang datang memberitahunya sesuatu apapun. Ponselnya juga sepi sama seperti suasana di luar.
Mia : “Apa mas Alex diusir mama?”
Mia merana memikirkan kemungkinan itu, kalau sampai terjadi, bagaimana hubungannya nanti, bagaimana dengan Rara dan si kembar. Mia terlanjur menyayangi keluarga Alex, ia mulai merasa hidupnya memang untuk mereka.
Tok, tok, tok. Tubuh Mia menegang, ia membuka pintu dan ternyata itu ART yang membawa makan malamnya.
Mia : “Bi, di luar masih ada tamu?”
ART : “Masih, non. Tapi lebih banyak dari yang tadi sore.”
Mia : “Orang yang datang sekarang sama gak sama yang tadi sore?”
ART : “Beda, non. Lebih ganteng dan keren. Pakai batik. Pokoknya top, non.”
Mia : “Mereka ngomongin apa?”
ART : “Tadi saya denger masalah lamaran buat non Mia.”
Mia : “Apa mungkin mas Alex? Mereka ngajak anak kembar gak, bi?”
ART : “Gak ada tuch, non.”
Mia menatap makan malamnya yang terlihat masih panas, sop ayam dan tempe goreng. Itu makanan kesukaan Mia,
Mia : “Bi, bisa minta tolong, tas saya tadi ketinggalan di ruang tengah. Tolong bawain kesini ya.”
ART : “Baik, non.”
Mia memutuskan makan malam dulu karena perutnya sudah lapar, ia bahkan belum mandi. Sampai ia menghabiskan makan malamnya, tidak ada lagi yang datang. Mia tidak berani keluar dari kamarnya, akan kacau kalau Mia tidak mendengarkan mamanya sekarang. Mama Mia kalau marah sangat mengerikan.
Mia semakin gelisah melihat jam dinding sudah jam 11 malam, mamanya pasti sudah tidur. Ia melihat piring bekas
makan malamnya dan memutuskan membawanya ke dapur. Mia tidak suka membiarkan bekas makanan ada di dalam kamarnya.
mengambil air minum lagi. Saat akan kembali ke kamar, Mia melihat mamanya duduk di meja makan.
Mama Mia : “Mia, duduk.”
Mia : “Mama belum tidur?” Mia duduk di depan mamanya.
Mama Mia : “Alex sudah pulang dan mama sudah tegaskan kalau mama gak setuju…”
Mia hampir menjatuhkan gelas yang dipegangnya, air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya. Masa iya, cinta pertamanya harus kandas di tangan mamanya. Mia hanya diam, tidak mengatakan apa-apa.
Mama Mia : “Besok ada tamu yang mau bertemu denganmu. Jangan pergi kemana-mana. Mia, dengar mama.”
Mia : “Iy… iya, mah.”
Mama Mia : “Mama tidak mau ada kesalahan besok. Mia harus dandan yang cantik karena tamu ini sangat penting.”
Mia : “Apa… ini lamaran, mah?”
Mama Mia : “Iya dan jangan coba-coba lari dari rumah!”
Mia tiba-tiba bangun dari kursi meja makan dan berjalan menuju kamarnya, membiarkan gelas minuman tetap diatas meja makan.
Mama Mia : “Mia, kamu tidak sopan. Orang tua masih bicara malah pergi!”
Mia : “Mia tahu, mah. Mia capek, mau tidur dulu.”
Mia masuk ke kamarnya dan membenamkan wajahnya ke bantal, menangis tanpa suara. Perasaannya tidak karuan mengingat akan ada yang datang melamarnya besok dan itu bukan Alex. Mia bahkan tidak ingat lagi
untuk mengambil ponselnya di dalam tas.
Mia memejamkan matanya keras-keras, besok dia akan menolak lamaran itu di depan semua orang. Kalau tidak boleh bersama Alex, ia tidak akan mau dengan orang lain. Mia menangis sampai kelelahan dan tertidur.
-------
Matahari pagi yang cerah, menembus kamar Mia, tapi orangnya tidak ada di dalam sana. Sejak jam 4 pagi Mia
terbangun dan membantu ART memasak di dapur. Ia lebih banyak diam dan melamun, hanya duduk di pojokan mengupas bahan makanan.
Seperti itulah keseharian Mia ketika libur kuliah, mamanya bahkan tidak tahu kalau dia sudah praktek kerja dan
sedang menyusun skripsinya sekarang. Mama Mia selalu mengajarkan Mia untuk bisa memasak dan mengurus rumah dengan baik.
Harum aroma kopi memenuhi ruang makan ketika penghuni rumah yang lain berkumpul untuk sarapan. Mia menghidangkan sarapan dan minuman untuk semua orang. Kemudian ia duduk di salah satu kursi dan mulai makan tanpa komentar.
Semua orang merasakan kalau ada awan mendung disekitar Mia yang murung. Mereka tidak banyak bicara dan kembali menjalani aktifitas seperti biasa. Mia yang akan kembali ke kamarnya, melihat tas masih tergeletak di ruang tengah. Ia mengambilnya dan membawanya ke dalam kamar.
Ponsel Mia bahkan sudah mati karena kehabisan baterai. Ia memasangkan charger pada ponselnya dan memilih melamun sambil melihat keluar jendela kamarnya.
Tok, tok, tok! Seseorang mengetuk pintu kamar Mia,
Mia : “Masuk.”
ART : “Non, disuruh mandi sama Nyonya dan ganti baju pakai ini.”
Mia menoleh menatap dress polos berwarna peach yang tergantung di lemari bajunya. Mia memutuskan mandi dan
ganti baju. Wajahnya hanya ia poles dengan riasan natural dengan rambut tergerai dan dijepit di atas telinganya.
Mia menatap tampilan dirinya di depan cermin yang terlihat cantik bahkan tanpa senyum mengembang di bibirnya.
Keturunan blasteran membuat Mia selalu cantik bahkan tanpa make up.
Tok, tok, tok! Pintu kamarnya diketuk lagi, kali ini neneknya masuk ke dalam kamar Mia.
Nenek : “Mia sudah siap? Wow, cantik sekali.”
Mia : “Tamunya sudah datang, nek?”
Nenek : “Iya, ayo kita keluar.”
Mia menarik nafas sedikit sesak, ia harus menemui orang yang akan melamarnya sekarang.
-------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------