
Kaori mengangguk sambil tersenyum manis, Rio mulai menciumi leher Kaori, membuat gadis itu melayang dalam kenikmatan.
*****
Kaori : “Hah!”
Kaori tersentak kaget dari tidurnya, ia melihat ke samping, Rio tertidur sambil membelakanginya. Kaori mengintip ke balik selimut, bathrobe yang dipakainya masih terikat dengan baik. Begitu juga pakaian Rio
masih lengkap melekat di tubuh Rio.
Kaori memegangi pipinya yang terasa panas. Ia sibuk mengipasi tubuhnya yang berkeringat. Barusan ia bermimpi bercinta dengan Rio!
Kring! Alarm di ponsel Kaori berbunyi, tanda sudah jam 5 pagi. Kaori cepat-cepat bangun, ia merenggangkan tubuhnya yang terasa lebih segar karena bisa tidur dengan nyenyak. Tapi lagi-lagi darah keluar dari hidungnya. Hanya sedikit, sepertinya itu sisa darah semalam.
Kaori ingin mandi lebih dulu, mereka harus kembali ke asrama jam 6 pagi atau mereka tidak akan sempat untuk berganti pakaian dan kuliah tepat waktu. Usai mandi, Kaori keluar lagi memakai bathrobe. Ia
mendekati ranjang untuk membangunkan Rio.
Kaori : “Rio, bangun. Ayo, bangun.”
Rio membuka matanya, ia tersenyum melihat wajah cantik Kaori dan memonyongkan bibirnya.
Rio : “Morning kiss.”
Kaori : “Ogah, ah. Bau jigong. Mandi dulu sana, baru boleh cium.”
Rio garuk-garuk kepala, ia beranjak ke kamar mandi juga akhirnya. Kaori buru-buru memakai pakaiannya kembali. Wajahnya masih memerah mengingat mimpi panasnya dengan Rio. Kalau sampai Rio tahu, entah apa yang akan terjadi nanti. Setelah Rio selesai mandi, mereka bersiap-siap kembali ke kampus.
*****
Kaori menarik nafas panjang saat namanya dipanggil untuk masuk ke ruangan dokter.
Dokter : “Loh, Kaori kan? Saya kira orang lain.”
Kaori mengangguk pada dokter yang menangani papanya saat baru masuk ke rumah sakit. Ia menceritakan dengan jelas, gejala sakit yang ia alami dan meminta dokter memberinya obat penahan rasa sakit.
Dokter : “Saya tidak bisa memberikan obat tanpa tahu apa penyakit Kaori sebenarnya. Begini saja, kita lakukan tes darah ya. Hasilnya bisa diketahui seminggu lagi.”
Kaori : “Tapi saya benar-benar perlu obat penghilang rasa sakit, dokter. Kalau tidak, sakit sekali rasanya. Saya kan harus kuliah.”
Dokter : “Kalau untuk nyeri dan sakit kepala, bisa minum Parasetamol saja. Tapi saya tidak mau memberikan resep obat ya. Kita harus tunggu dulu hasilnya.”
Kaori : “Baik, dokter.”
Dengan rekomendasi dari dokter itu, Kaori diantar ke lab untuk pengambilan darah. Ia meringis saat darahnya diambil. Setelah semuanya selesai, Kaori cepat-cepat kembali ke kampus. Tapi ia mengatakan pada
temannya kalau ia ijin kuliah hari itu karena ingin ke apotek membeli obat sakit kepala.
Sekarang ia harus sudah sampai di kelasnya lagi atau Rio akan kebingungan mencarinya. Selama ini Kaori tidak pernah kemana-mana sendirian. Rio selalu siap mengantarnya kemanapun Kaori mau. Hal yang cukup
sulit baginya untuk tidak ketergantungan dengan Rio.
Apalagi sikap Rio yang sangat memanjakannya, sebagai kekasih tentu saja Kaori merasa sangat bahagia bisa mendapatkan cinta Rio. Sebelum kembali ke kampus, Kaori menyempatkan diri mampir ke apotik untuk
membeli Paracetamol. Setidaknya kalau rasa sakit itu datang lagi, ia sudah siap dengan obat.
Kaori meminta taksi berjalan lebih cepat, ia sedang dalam perjalanan kembali ke kampus dan waktunya sangat mepet. Sebentar lagi kelas Rio akan bubar. Taksi memasuki halaman kampus, Kaori membayar ongkosnya dan berlari menuju kelasnya. Tampak dosen Rio hari ini sudah keluar dari kelas.
Deg! Kaori merasakan kepalanya kembali berdenyut. Sakit! Begitu yang dirasakan Kaori. Ia menahan tubuhnya yang hampir jatuh dengan memegangi bangku di luar kelas. Cepat-cepat Kaori mengeluarkan botol air dari
dalam tasnya dan meminum satu butir Paracetamol. Ia menghabiskan air di dalam botol untuk mencoba menetralkan jantungnya yang berdebar kencang.
Setelah merasa lebih baik, Kaori menoleh melihat Rio keluar kelas bersama Gadis. Mereka berjalan kearah yang berlawanan dengan Kaori karena kelas Kaori memang ke arah sana. Kaori ingin memanggil Rio, tapi
sudah terlalu jauh.
Tiba-tiba Kaori merasa takut, hasil pemeriksaannya akan keluar seminggu lagi dan ia takut kalau hasilnya tidak bagus. Apa dia akan meninggalkan Rio? Meninggalkan keluarganya? Kaori tidak sadar saat tubuhnya
diguncang Rio.
Rio : “Kaori! Kaori! Kamu kenapa?”
Kaori : “Hah?!”
Rio mengeluarkan tisu dari dalam tas Kaori, ia mengelap hidung dan bibir Kaori yang sudah belepotan dengan darah. Kaori melihat tisu yang berlumuran darah dan cepat-cepat mengambil tisu lebih banyak
lagi untuk menghentikan mimisannya.
Rio : “Kita ke rumah sakit ya? Mimisanmu lebih sering.”
Kaori : “Gak perlu. Aku cuma kurang istirahat. Aku gak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini. Baru semalem dapet tidur nyenyak.”
Rio : “Semalem waktu tidur sama aku?”
Kaori : “Iya.”
Gadis sampai menoleh menatap Rio dan Kaori bergantian ketika mendengar kata-kata keduanya. Sungguh, orang akan salah paham ketika mendengar kata-kata mereka barusan. Gadis jadi merasa malu karena
mengira hubungan Kaori dan Rio sudah sangat jauh. Bahkan mereka sudah tidur bersama.
Gadis : “Kaori, ini ada tisu basah. Darahnya masih nempel di pipimu.”
Gadis menyerahkan tisu basah pada Kaori yang menerimanya dengan baik. Rio membantu membersihkan wajah Kaori sampai tidak ada bekas darahnya lagi.
Rio : “Kita ke apartment papa lagi ya. Biar kamu bisa tidur nyenyak. Sampai kamu sembuh.”
Kaori : “Iya, Rio. Gadis, makasih ya.”
Gadis : “Iya. Aku balik duluan ya. Sampai ketemu besok.”
Gadis cepat-cepat pergi dari sana. Ia tidak akan mengganggu hubungan Rio dan Kaori. Cukup berteman saja.
*****
Pagi yang cerah di kamar pengantin Guntur dan Anisa. Mereka sudah bangun sejak jam 5 pagi dan membersihkan diri bersama-sama di kamar mandi.
Anisa : “Mas, udahan yuk. Nanti kamu telat ke kantor.”
Mereka masih berdiri di bawah shower sambil meraba tubuh satu sama lain. Guntur tidak mau melepaskan pelukannya dari tubuh Anisa.
Guntur : “Gak akan telat. Aku mau lagi...”
Anisa : “Nanti malem kan bisa. Ayo cepat, ibu udah nunggu buat sarapan tuch.”
Guntur : “Paling ibu juga belum bangun.”
Anisa : “Masa sih?”
*****
Kaori tambah parah sakitnya. Tapi sakit apa ya?
Pengantin barunya malah bangun duluan tuch.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).