
Keesokan harinya, Riri sudah siap dijemput Elo. Semalam ia langsung minta ijin pada Mia begitu sampai di rumah. Dan Mia mengijinkannya asal jangan pulang terlalu malam.
Kali ini ia pakai dress simple warna peach dan flat shoes. Rio sampai melongo melihat penampilannya yang beda banget.
Rio : "Gak salah? Kamu mau kemana sich sebenarnya?"
Riri : "Aku kan uda bilang mau ke rumah kak Elo. Emang kenapa sich?"
Rio : "Aneh aja liat kamu gini. Tapi cantik kok. Emang gak risih?"
Riri : "Risih dikit sich, beneran gak aneh kan?"
Rio : "Ganti sana kalo gak nyaman."
Riri : "Tapi mau ketemu kakeknya juga."
Rio : "Liat reaksi kak Elo aja kalo gitu. Kayaknya uda dateng sich."
Riri : "Masak?"
Rio : "Masak air biar mateng..."
Riri : "Rese..."
Rio : "Ciiee... Yang mau ketemu camer. Sensi."
Riri : "Diem dech. Gak enak didenger nenek. Bacot."
Rio : "Heh..."
Benar saja, bel rumah Alex berbunyi. Riri berjalan cepat ke depan membukakan pintu.
Elo : "Pagi..."
Elo melongo di depan pintu melihat penampilan Riri.
Riri : "Pagi, kak. Gimana? Aku aneh ya?"
Elo : "Cantik... Eh, maksudku iya cantik. Wow!!"
Riri tersipu dipuji Elo. Rio muncul dari ruang tamu dan berdiri di samping Riri.
Elo : "Pagi, Rio. Apa kabar?"
Rio : "Pagi, kak. Riri uda bangun dari jam 5 pagi. Wajar dong jadi cantik gini."
Riri menyikut perut Rio agar diam tidak membocorkan rahasianya.
Elo : "Oh ya? Sudah siap berangkat?"
Riri : "Ayo, kak. Rio, aku pergi dulu ya. Bye."
Rio : "Iya. Hati-hati di jalan."
Elo berpamitan pada Rio dan menuntun Riri masuk ke mobilnya.
Mobil Elo meluncur menuju rumahnya yang berjarak tempuh setengah jam dari rumah Riri.
Selama perjalanan, Elo tidak sabar ingin menyatakan perasaannya pada Riri. Ia yakin Riri juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
Sampai di depan rumah Elo, Riri terkejut melihat bangunan tinggi dengan pagar yang tinggi juga. Nyalinya seketika menciut.
Security membukakan pintu untuk mobil Elo yang langsung meluncur masuk dan berhenti di pintu masuk yang sangat besar.
Riri berpikir pasti butuh setidaknya empat orang untuk mendorong pintu besar itu. Elo membukakan pintu untuk Riri dan membantunya turun dari mobil.
Mereka disambut deretan pelayan yang menyebutkan selamat datang. Riri semakin tidak nyaman dengan apa yang dilihatnya.
Ia merasa tidak pantas berada disana. Meskipun dengan status sebagai teman Elo.
Sejak dulu Riri alergi dengan namanya kemewahan. Ia tidak nyama mendengar orang berbicara tentang kekayaan dan kemewahan.
Itulah yang membuat Riri tidak bisa menyukai Keith. Kebiasaan Keith bicara tentang kekayaan mamanya membuat Riri alergi dan jadi menjauh.
Kini berada diruang tamu rumah Elo membuat Riri gelisah. Pasalnya ruang tamu rumah itu sangat luas, lebih luas dari ruang keluarga di rumahnya bahkan setelah penggabungan dua rumah.
Elo melihat perubahan pada diri Riri. Ia menatap khawatir pada gadia itu.
Elo : "Kamu kenapa?"
Riri : "Kak, ini beneran rumah kakak?"
Elo : "Ini rumah kakekku. Kalau aku gak punya rumah cuma apartemen. Kebetulan mamaku tinggal disini. Jadi kita kesini."
Riri : "Kakak orang kaya ya?"
Elo : "Keluargaku yang kaya. Kalo aku biasa aja."
Riri : "Oh, gitu. Maaf, kak. Aku sedikit gak nyaman ada disini."
Elo : "Kamu gak suka disini? Mau pulang aja?"
Baru saja Riri mau bilang iya, mama Ratna sudah muncul dari dalam rumah.
Ratna : "Riri dear. Selamat datang. Ayo, kita duduk dulu."
Elo mendekati mamanya, dan membisikkan sesuatu. Keduanya melirik Riri sebentar dan mama Ratna mengangguk.
Ratna : "Kita duduk di bar aja ya. Sambil ngobrol, nyemil."
Mama Ratna membawa Riri ke meja bar di dekat dapur. Suasana disana lebih santai dengan kursi tinggi dan pemandangan kolam renang yang menenangkan.
Melihat Riri lebih tenang, Elo mengangguk pada mamanya.
Mama Ratna : "Riri dear. Ini mama uda buatin teh dan ada cemilan juga."
Riri : "Makasih mama Ratna."
Riri menikmati tehnya dengan santai dan tenang. Sesekali ia memotong kue bolu pandan yang terasa pas di lidahnya.
Elo melongo saja melihat Riri menikmati teh dan kuenya. Mama Ratna sampai memukul lengannya.
Ratna : "Bengong aja. Kesambet loh. Kenapa? Riri cantik ya."
Riri menoleh mendengar namanya disebut. Ia tersipu dipuji lagi.
Elo : "Mama iih... Mana kuenya?"
Riri menyodorkan garpu yang berisi potongan kue ke Elo yang langsung memakannya dengan nikmat.
Ia membuka mulutnya lagi minta disuapin Riri dan mama Ratna beranjak ke belakang bar sambil menekan tombol.
Riri yang masih menyuapi Elo, menoleh ketika mendengar rak bar tiba-tiba bergerak memutar menjadi rak buku yang dipenuhi banyak buku.
Elo menggenggam tangan Riri memakan potongan terakhir kuenya.
Elo : "Kamu ngliatin apa sich?"
Riri : "Wow! Bukunya banyak banget."
Elo : "Kamu lebih suka buku daripada aku ya?"
Riri langsung menoleh menatap Elo yang masih menggenggam tangannya. Mereka berpandangan sampai mama Ratna datang bersama kakek Elo.
Ratna : "Riri, ini kakeknya Angelo."
Riri menoleh dan kaget mengetahui kalau kakek Angelo adalah pak Michael. Jadi Elo adalah cucu dari pemilik kampus tempat dia kuliah.
Riri menghampiri kakek Elo dan menunduk mencium tangannya.
Riri : "Senang sekali bisa bertemu pak Michael lagi."
Riri mengungkapkan kekagumannya pada Pak Michael. Ia terlihat antusias bisa bertemu dan berinteraksi langsung dengan Pak Michael.
Kakek Elo juga menunjukkan penerimaan yang baik pada Riri. Sepertinya restu dari camer sudah jelas ditangan.
Tinggal meyakinkan dan mengatakan perasaan masing-masing saja.
🌻🌻🌻🌻🌻
Riri : "Mama Ratna, terima kasih makan siangnya sangat lezat."
Ratna : "Sama-sama, dear."
Elo : "Ri, kita jalan-jalan bentar yuk."
Riri kembali disadarkan betapa besarnya rumah itu dan ia merasa tidak nyaman berasa disana. Elo melihat perubahan dalam diri Riri,
Elo : "Gak nyaman lagi ya?"
Riri : "Kok kakak bisa tahu?"
Elo : "Terlihat jelas di wajahmu. Ri, lihat aku."
Riri menatap Elo yang sudah berdiri di hadapannya, diraihnya tangan Riri dan ia genggam dengan lembut.
Elo : "Ri, aku sayang sama kamu."
Riri : "Apa, kak? Kakak serius?"
Elo : "Aku gak pernah seyakin ini, Ri."
Riri merasakan tangan Elo gemetar. Ia juga ikutan gemetar.
Riri : "Kak, jujur aku juga suka sama kakak."
Elo : "Beneran?"
Riri : "Iya, kak. Tapi kayaknya aku gak bisa terima perasaan kakak."
Elo : "Maksudmu?"
Riri : "Aku takut, kak."
Elo : "Takut apa? Aku gak akan nyakitin kamu, Ri."
Riri : "Aku gak nyaman dengan latar belakang kakak. Dari dulu aku gak bisa sama orang kaya."
Elo : "Kamu aneh, Ri. Eh, maaf. Bukan aneh tapi unik."
Riri : "Gak, kak. Aku memang gini. Mungkin aku takut duluan, daripada mencoba menjalani."
Elo : "Apa yang kamu takutkan?"
Riri : "Aku takut gak bisa memenuhi standar jadi menantu orang kaya."
Elo : "Kamu mau nikah sama aku?"
Riri reload sejenak, otaknya mencari sesuatu yang menyebabkan Elo melamarnya.
Riri : "Maksudku... Aku gak ge-er kok, kak. Masa mau nikah sama kakak, eh bukannya aku gak mau... Aku mau nikah sama kakak."
Riri berhenti bicara lagi. Wajahnya memerah menyadari kata-katanya yang absurd. Elo tersenyum menatap Riri.
Elo : "Jadi gara-gara itu? Sini, Ri. Duduk sini."
Mereka duduk di gazebo di pinggir kolam renang. Elo mendorong palang kayu di samping gazebo, membuat lantai di bawah mereka terbuka.
Elo menarik Riri ke tengah gazebo agar ia tidak jatuh ke dalam kolam. Riri bisa melihat dibawah mereka ada beberapa ekor ikan hias yang cantik.
Riri : "Wow, bisa gitu ya kak."
Elo : "Kakek yang mendesain kolam ini. Bagus ya. Aku aja gak bisa."
Riri : "Pak Michael itu arsitek?"
Elo : "Iya. Semua rumah ini, detailnya kakek yang gambar."
Riri : "Trus, kakak lebih tertarik kemana?"
Elo : "Tertarik ke kamu."
Riri tersenyum manis, membuat Elo perlahan mendekatinya.
Riri : "Serius nich, kak."
Elo : "Aku pengen jadi penulis, Ri."
Riri : "Kok sama, ya kak. Aku uda mulai nulis novel online sekarang. Kakak mau nulis apa?"
Elo : "Aku bukan nulis novel tapi literatur kuliah. Gimana mata kuliah yang sulit bisa dijalani dengan mudah."
Riri : "Oh, karena itu kakak jadi asdos."
Elo : "Itu beneran kebetulan. Aku penggemar dosen Husin. Dan kebetulan dia juga teman kakek."
Mereka diam lagi, Riri menoleh ke samping, Elo sudah mengukungnya, menyudutkannya ke pagar gazebo.
Riri : "Kak Elo..."
Elo : "Panggil namaku, Ri."
Riri : "Angelo..."
Elo menunduk, nyaris mencium bibir Riri saat seorang tukang kebun berjalan dengan santai melewati mereka. Tidak sadar ada sepasang insan yang sedang duduk di dalam gazebo.
Riri terkikik geli, Elo menyandarkan kepalanya di pundak Riri dan ikutan ketawa.
Elo : "Besok-besok aku pasang tirai disini. Jadi gak akan ada yang ganggu kita."
Riri : "Kakak mau bawa aku kesini lagi?"
Elo : "Tunggu kamu lulus kuliah, aku akan melamarmu."
Riri : "Yakin, aku mau nikah sama kakak?"
Elo : "Kenapa gak mau? Takut tinggal disini? Aku uda punya apartment sendiri meskipun masi nyicil. Kita tinggal disana."
Riri : "Kak, pelan-pelan dulu dong. Kita baru kenal, belum tahu sifat masing-masing. Gak bisa dong mutusin nikah gitu aja."
Elo : "Kalo gitu kita pacaran dulu ya."
Riri : "Kakak sama aja sama Rio."
Elo : "Sama apanya?"
Riri : "Sama-sama suka maksa ngajak pacaran anak gadis orang."
Elo : "Kalo gak gitu, ntar kamu deket-deket lagi sama si Keith itu."
Riri : "Kakak cemburu?"
Elo : "Iya."
Wajah cemberut Elo membuat Riri geli. Ia mencubit kedua pipi Elo dengan gemas.
Riri : "Kita jalanin pelan-pelan ya kak. Masi banyak waktu, kalau memang kakak serius, mama sama papa pasti juga setuju. Tapi sabar ya."
Elo : "Iya, sayang."
Elo memeluk Riri, keduanya menatap jauh ke depan pemandangan taman di rumah itu.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲