
DM2 – Hampir terbang
Tapi tiba-tiba lift itu bergerak turun
dengan cepat. Grek!! Grek!! Alex terjatuh ke lantai lift. Melda yang sudah
turun, menatap ngeri lift yang bergerak turun.
“Alex!!”teriak Romi panik.
Semua orang yang melihat lift itu bergerak
turun, terdiam untuk sesaat. Romi yang masih memegang Melda, segera berlari ke
tangga darurat. Ia menuruni tangga itu dengan cepat. Brak!! Lift membentur
lantai dasar kantor Alex. Pintu lift sampai ringsek menciptakan debu yang
memenuhi lobby kantor.
“Alex!!”teriak Romi berlari menghampiri
pintu lift yang ringsek. Beberapa orang membantu membuka pintu lift itu. Mia
yang baru datang, menatap bingung pada semua orang yang terlihat panik di lobby
kantor.
“Alex! Alex!”
Deg! Jantung Mia bergemuruh kencang
mendengar nama Alex disebut-sebut, ia mulai menerobos kerumunan sampai di depan
pintu lift yang hampir terbuka.
“Masss!!!”teriak Mia panik melihat Alex
tergeletak di lantai lift yang ringsek.
Romi cepat menahan Mia agar tidak masuk ke
dalam lift, “Mass!! Lepas!! Alex!!”jerit panik Mia memenuhi lobby kantor.
Suara ambulance terdengar dari kejauhan,
“Biar aku yang masuk. Kamu tunggu sini!”kata Romi mengguncang tubuh Mia.
Karyawan lain menahan Mia agar tidak
mengikuti Romi. Mereka tidak tahu seberapa parah kondisi Alex. Dia harus
dipindahkan dengan hati-hati agar tidak terjadi hal fatal. Mia melihat Romi
memeriksa nafas Alex, wajah Romi terlihat lega.
“Romi...”panggil Mia dengan wajah khawatir.
“Dia masih bernafas. Tunggu ambulancenya
datang.”kata Romi sambil memeriksa bagian tubuh Alex yang terlihat berdarah.
Ambulance memasuki lobby kantor Alex.
Perawat segera masuk membawa bed dan tas medis. Romi menjelaskan situasinya
sekilas ketika perawat masuk ke dalam lift. Alex dibalikkan dengan perlahan
lalu dipasangi alat penyangga leher. Setelah itu perawat mengangkat tubuh Alex
dibantu Romi keluar dari lift.
“Ugh...”Alex bergerak sedikit saat mereka
mendekati Mia yang masih gemetaran.
“Mas...”panggil Mia.
“Mia, cepat ikut ke rumah sakit.
Sopir!”panggil Romi. “Cepat siapkan mobil. Ini rumah sakit mana?”tanya Romi ke
perawat yang langsung menjawab rumah sakit B di dekat kantor Alex. Mereka hanya
perlu berputar balik untuk sampai kesana.
Alex dibawa masuk ke ambulance, Mia
menyusul duduk disampingnya. Ia menangis melihat keadaan Alex yang terluka di
kaki dan kepalanya. “Sepertinya ada patah tulang di kaki kiri.”kata perawat
yang memeriksa Alex. “Ibu ini siapa?”tanya perawat itu.
“Saya... istrinya, dokter.”
“Nanti tolong diurus dulu administrasinya,
bapak Alex akan kami periksa di UGD dulu.”jelas perawat itu.
“Iya, dokter.”saut Mia sesenggukan.
Ambulance memasuki halaman rumah sakit,
mereka berhenti di depan UGD. Mia turun duluan disusul perawat yang menarik bed
tempat Alex terbaring. Romi menyusul di belakang mereka. Ia sempat meminta
manager HRD mengurus Melda dan mengurus kantor untuk sementara.
Romi mengurus administrasi Alex dan
menyiapkan kamar untuknya. Ia mengusul Mia yang berdiri di depan pintu UGD,
terlihat khawatir dan takut.
“Mia, mana Alex?”tanya Romi.
“Sudah didalam. Apa yang terjadi tadi?”
Romi menuntun Mia duduk di kursi
tunggu,”Aku juga gak tahu pasti. Tadi lift yang membawa Alex dan Melda
tiba-tiba berhenti di antara lantai 5 dan 6. Waktu kami sudah menarik Melda
keluar lift, tiba-tiba liftnya jatuh.”
“Mas...”panggil Mia cemas.
“Tenang, Mia. Semoga Alex gak pa-pa. Aku
yakin dia pasti kuat.”kata Romi menenangkan Mia.
Ia ingin memeluk Mia untuk menenangkannya,
Jelita. “Coba kamu telpon anak-anak dech. Rara, Riri. Suruh kesini dulu.”kata
Romi memberi solusi.
Mia mengangguk. Ia mengetik di grup chat
kalau Alex kecelakaan dan sedang dirawat di rumah sakit B di depan kantor Alex.
Grup chat keluarga langsung ramai termasuk Gadis juga panik. Tapi Mia memilih
tidak mengatakan apa-apa lagi.
Ia sudah cukup cemas menanti dokter keluar
untuk memberitahunya tentang keadaan Alex. Dokter keluar dari UGD, Mia dan Romi
mendekati dokter itu.
“Gimana, dokter?”tanya Mia tidak sabaran.
“Ibu ini istrinya pak Alex? Bisa ikut
saya.”kata dokter mengajak Mia masuk ke UGD.
Mia mengangguk pada Romi yang memilih
menunggu diluar UGD. Dokter mengatakan kalau Alex sudah ditangani. Ada luka di
kepala dan juga kakinya sebelah kiri patah. Selebihnya, Alex tidak apa-apa.
“Apa suami saya sudah sadar, dok?”tanya Mia sambil menghapus air matanya.
“Tadi sempat ngigau manggil nama Mia. Siapa
Mia?”tanya dokter.
“Saya Mia, dokter.”
Dokter mengatakan kalau Mia bisa menemui Alex
dulu, meskipun belum sadar. Mia masuk ke sekat yang ditunjuk dokter. Ia melihat
Alex terbaring disana dengan kepala diperban dan kaki di gips. Mia berdiri
disamping Alex, ia menatap sedih kondisi Alex. Dikecupnya kening Alex yang
terluka.
“Mas, bangun dong. Kamu kok bisa gini sich?”kata
Mia.
Mia meraih tangan Alex, menempelkannya di
pipinya. Ponsel Mia berdering, Riri dan Rara sudah sampai di rumah sakit. Mia
ingin beranjak keluar memanggil keduanya, tapi Alex tidak melepaskan genggaman
tangan Mia.
“Mas...”panggil Mia.
“Hmm...”Alex membuka matanya. “Mia...”
“Aku disini, mas. Mas gak pa-pa kan? Mas
buat aku takut, tau.”rajuk Mia.
Alex mencoba tersenyum meski malah
meringis. Ia menggerakkan kakinya yang kaku sebelah, dilihatnya kaki sebelah
kirinya sudah tergantung di ujung bed.
“Aku kenapa?”tanya Alex.
“Mas gak inget? Mas jatuh di lift. Eh, lift
di kantor mas jatuh.”jelas Mia bingung sendiri.
“Kamu ngomong apa sich?”Alex menggenggam
tangan Mia. “Aku gak pa-pa, sayang. Jangan nangis lagi dong.”
“Aku takut, mas. Rasanya nyawaku dah
terbang waktu liat kamu di dalam lift itu.”
Alex ingin menghibur Mia lagi, tapi rasa
kantuk menyerangnya. Obat yang mengalir di infusnya membuatnya tertidur.
Dengkuran khas Alex mulai terdengar, Mia membetulkan letak kepala Alex agar
tidak terlalu keras mendengkur. Ia mengecup bibir Alex sebelum beranjak keluar
dari sekat itu.
Mia menemui Rara, Riri dan Romi yang masih
menunggunya di depan UGD. Rara langsung memeluk Mia yang masih sesenggukan.
“Papa gimana, mah?”tanya Rara.
“Gak pa-pa. Papa udah sadar. Kepalanya
luka, sama kaki kirinya patah. Sekarang papa ketiduran.”jelas Mia sambil
sesekali menarik nafas panjang.
Tiba-tiba kaki Mia melemas, ia hampir jatuh
terduduk kalau Rara tidak mengeratkan pelukannya. Romi membantu menggendong Mia
duduk di kursi tunggu. Jelas sekali wajahnya pucat tampak shock. Riri memberi
Mia air minum, setelah lebih tenang, Mia menyandarkan kepalanya di bahu Rara.
“Papa akan sembuh, mah. Mama tenang ya.”kata
Rara mengelus bahu Mia.
Ponsel Romi berdering, ia harus segera
kembali ke kantor untuk mengurus kantor Alex. Polisi juga sudah datang dan
memulai penyelidikan tentang jatuhnya lift yang mencelakai Alex.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.