
Rio sakit
Motor yang mereka tumpangi tersenggol badan mobil
hingga motor terjatuh. Rio terlempar jauh ke depan dan jatuh diatas aspal. Lalu
lintas langsung tersendat saat orang-orang mulai kepo dan hanya memperhatikan
Rio yang tergeletak di aspal.
*****
Gadis membuka pintu mobil setelah sampai di depan
rumahnya. Ia terkejut saat melihat Rio sudah duduk di depan pagar rumahnya.
Gadis : “Rio? Ngapain kamu disitu?”
Rio : “Aku mau minta maaf. Tadi aku gak nyangka
ketemu kak Katty di mall. Kamu gak pa-pa?”
Gadis : “Nggak. Aku cuma gak enak, makanya pergi
gitu aja.”
Keduanya terdiam lagi masih saling menatap.
Gadis : “Sudah malam, aku masuk dulu ya. Selamat
malam, Rio.”
Rio : “Iya. Malam, Gadis.”
Rio menunggu sampai Gadis masuk ke dalam rumahnya
dan kembali duduk. Tangan dan kakinya gemetar menahan sakit. Luka di kaki dan
lengannya masih mengeluarkan darah saat ia sampai di rumah Gadis tadi. Untung
saja Gadis tidak menyadari keadaan Rio karena suasana yang cukup gelap.
Ojek online yang tadi mengantar Rio hanya terluka
sedikit dan masih bisa mengantar Rio yang sudah terluka cukup parah. Rio
memberi tanda dengan tangannya, dan ojek online yang tadi menunggu di belakang
sebuah mobil, meluncur mendekatinya.
Ojol : “Sudah, pak. Bapak yakin masih kuat
boncengan?”
Rio : “Ya, pak. Tolong antar saya ke rumah sakit
terdekat ya.”
Kesadaran Rio hampir hilang saat ojol berhenti di
depan UGD sebuah rumah sakit. Ia memberikan dua lembar uang 100ribuan pada ojol
itu dan mengucapkan terima kasih. Perawat melihat Rio berjalan tertatih-tatih
masuk ke UGD dan segera menolongnya.
Rio mengambil ponselnya dan menelpon Alex.
Alex : “Halo, Rio. Kamu dimana?”
Rio : “Pah, Rio di rumah sakit XX. Tadi Rio jatuh.
Papa bisa kesini?”
Alex : “Kamu gak pa-pa? Gadis gimana?!!”
Rio menjauhkan HP dari telinganya yang berdenyut
mendengar teriakan Alex. Harusnya ia menelpon mamanya tadi. Rio meminta Alex ke
rumah sakit dulu karena ia masih dirawat di UGD. Rio berdesis merasakan sakit
di lengannya yang sedang di bersihkan. Pakaiannya sudah compang-camping
dipotong perawat yang sedang membersihkan luka-lukanya.
Perawat : “Bapaknya punya KTP?”
Rio mengeluarkan dompetnya dan memberikan KTP-nya
pada perawat.
Rio : “Sebentar lagi papa saya datang.”
Perawat : “Ya, pak. Bapak merasa pusing? Ingat
dengan kejadiannya?”
Rio : “Saya gak pusing. Ya, saya masih ingat
kejadiannya. Saya gak pingsan kok.”
Tak lama, Alex datang bersama Mia dan Arnold.
Mereka dicegat perawat yang meminta mengurus administrasi dulu. Alex pergi
mengurusnya, sementara Mia dan Arnold menemui Rio.
Mia : “Rio, kamu gak pa-pa?”
Rio : “Mah. Sakit.”
Arnold : “Kenapa bisa gini sich?”
Mia melihat perawat menutup luka di kaki Rio yang
sudah di bubuhi obat merah dengan perban dan plester. Rio meringis menahan
sakit dan perih di kaki dan tangannya.
Mia : “Gadis, mana?”
Rio : “Udah pulang, mah.”
Mia : “Dia gak pa-pa kan? Gimana sich kejadiannya?”
Rio : “Dia baik-baik aja, mah. Rio aja yang luka.”
Alex yang sudah selesai mengurus administrasi Rio,
bergabung dengan mereka. Rio menceritakan kemana dirinya dan Gadis pergi sampai
berakhir begini.
Rio : “Habis nonton, Gadis mau makan udang, waktu
kami masuk ke restauran, ada kak Katty dan kak Jodi disana. Gadis langsung
pergi gitu aja. Rio ngejar Gadis yang naik taxi online pake ojol. Dijalan gak
Mia : “Hii, serem banget sich. Trus kamu kesini
naik apa?”
Rio : “Rio lanjut ke rumah Gadis naik ojol itu.
Nunggu dia di depan rumahnya, sampai dia datang. Baru kesini. Rio gak tenang
kalau belum lihat dia gak pa-pa.”
Arnold : “Astaga, Rio. Trus mobilmu masih di mall?”
Rio : “Iya, kak.”
Arnold : “Sini kunci mobilnya. Pah, aku ambil
mobilnya Rio dulu ya. Kita ketemu di rumah?”
Alex : “Ya, kayaknya gak parah sich. Masih nunggu
perawat ngasi obat.”
Rio : “Rio parkir di deket pintu masuk mall tempat
bisa kita nonton, kak.”
Arnold : “Ok. Tiket parkirnya di dasboard?”
Rio : “Iya, kak. Makasi ya, kak.”
Arnold yang berjalan keluar dari bilik rawat Rio
membuat para suster menghentikan kegiatannya hanya untuk menatap visual Arnold. Mereka
sudah lelah karena UGD cukup ramai pasien malam itu, kedatangan Arnold, Alex
dan Rio membuat suasana UGD yang sedikit panas jadi adem gimana gitu.
Beberapa gumaman keluhan terdengar sampai ke
telinga Mia, mengeluh karena Arnold pergi dari UGD. Mia geleng-geleng kepala
mendengar suara-suara suster yang masih ingin melihat cogan.
Dokter jaga memanggil Alex dan mengatakan kalau
luka-luka Rio sudah diobati semuanya. Tidak ditemukan patah pada tulang dan
hanya luka luar saja. Alex harus menebus obat untuk Rio dan menyelesaikan
urusan pembayaran sebelum Rio bisa pulang.
Mia : “Rio, Gadis udah tau kamu begini?”
Rio : “Jangan kasi tau dia, mah. Ntar kepikiran.
Rio gak pa-pa, kok. Bentar lagi juga sembuh.”
Mia : “Kamu ini kenapa trus gini sich? Kalau gak
sakit hati, sakit badan. Mama khawatir, tau.”
Rio tersenyum melihat wajah cemas Mia, ia
mengulurkan tangannya dan memeluk Mia.
Rio : “Rio gak pa-pa, mah. Rio udah buat dosa, mau
nebus ya harus banyak berkorban kan.”
Mia : “Trus Katty gimana? Kamu mau bilang keadaan
Gadis?”
Rio : “Ya, mah. Cepat atau lambat harus cerita,
kan. Tapi sepertinya kak Katty marah sama Rio. Ini kan belum lama sejak Kaori
pergi.”
Rio mengusap air matanya yang sempat menetes. Ia
hanya ingin semua orang baik-baik saja sekarang, terutama Gadis. Tapi ternyata
sulit menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga Kaori sampai ia harus bersama
Gadis.
Alex yang sudah kembali, menahan dirinya ketika
melihat Rio sedang berpelukan dengan Mia. Ia melihat Rio sangat tertekan dengan
banyaknya masalah yang ia hadapi. Putranya itu bahkan tidak pernah mengeluh
padanya tentang apapun.
Alex merasa bersyukur memiliki anak-anak yang
sangat pengertian dan baik. Meskipun sejak kecil sudah kehilangan ibu
kandungnya, mereka bisa melewati cobaan itu dengan baik. Apalagi sejak Mia
menjadi bagian dari keluarga mereka, Alex merasakan kehidupan yang sangat
bahagia.
Alex kembali melihat Rio, ia melihat dirinya yang
dulu setelah kehilangan Selvi. Sangat sedih dan tertekan. Rio masih beruntung
karena Mia ada bersama mereka sekarang. Dulu, Alex harus menyembuhkan dirinya sambil
menjaga anak-anaknya.
Alex : “Ayo, kita pulang. Rio bisa jalan gak?”
Rio : “Bisa, pah. Ayo, mah.”
Rio berjalan perlahan-lahan sambil berpegangan pada
Alex. Rio dan Mia menunggu di lobby sementara Alex mengambil mobilnya di tempat
parkir.
*****
Keesokan harinya, Rio memaksakan dirinya untuk
bekerja. Ia menjemput Gadis lebih dulu sebelum ke kantor. Keringat dingin membasahi keningnya saat rasa sakit kembali
ia rasakan ketika menyetir mobil.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.