
DM2 – Warga +62
Sementara itu, Rio dan Melda hampir sampai
di bandara. Beberapa kali mereka terjebak macet. Melda terus menatap layar
ponselnya mencari jalan alternatif yang bisa mempercepat mereka sampai di
bandara.
“Rio, udah jam segini. Pesawatnya jam
berapa?”tanya Melda cemas.
“Masih ada waktu kecuali kalau kak X check
in lebih awal. Bentar lagi sampai. Sabar.”
Mereka sampai juga di pintu masuk bandara.
Tapi antrean panjang memenuhi pintu
masuk. Banyak mobil yang mengantri untuk masuk ke bandara. Rio mencari celah
menyalip sebuah mobil dan bisa masuk duluan ke bandara.
“Disana terminal keberangkatannya!”teriak
Melda.
Rio menghentikan mobilnya di pinggir, Melda
belum juga keluar dari mobil.
“Lah, masih disini. Cepetan masuk.”kata Rio
menekan tombol pembuka sabuk pengaman.
“Kalau dia gak mau balik gimana?”tanya
Melda panik sambil melepas sabuk pengamannya.
“Teriak aja. Aku hamil anakmu, gitu sambil
nunjuk kak X.”jawab Rio asal. “Pasti warga +62 pada nengok tuch dan ngehalangin
dia. Jangan diteriakin maling, ntar kak X dihajar massa.”
Melda tidak punya waktu mendebat jawaban
tidak masuk akal Rio, ia berlari masuk ke dalam terminal keberangkatan. Entah
bagaimana Melda bisa menghindari petugas yang berjaga di depan. Ia berlari
sambil melihat sekeliling mencari sosok X. Matanya menatap layar monitor yang
menunjukkan pesawat tujuan negara B ada di gate 20.
Saat Melda sudah sampai disana, ia melihat
X mengantri untuk masuk ke pesawat.
“X!”teriak Melda sekuat tenaga.
Merasa namanya dipanggil, X menoleh menatap
Melda yang sudah berdiri diujung lorong. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya
pada Melda sebelum memberikan paspor dan tiketnya pada petugas yang berdiri di
gate 20. Melda semakin panik melihat X tidak menengok padanya lagi dan hampir
masuk ke pesawat.
“X! Aku hamil anakmu!!”teriak Melda tanpa
pikir panjang. Ia sampai jongkok saking malunya berteriak seperti itu di tempat
umum.
”Ya ampun, sumpah malu banget. X. Kalau dia
gak mau balik, aku mesti gimana lagi?” batin Melda frustasi.
Tiba-tiba Melda merasakan tubuhnya
terangkat keatas. Ia menggapai ke depan untuk berpegangan. Tangannya menangkup
leher X. Melda terpana melihat X yang sedang memegang kedua lengannya.
“Apa kamu bilang?”tanya X yang sudah
mengangkat Melda.
“Apa? Aku... Kamu gak jadi pergi?”tanya
Melda senang. Ia tersenyum lebar.
“Kamu bilang hamil tadi. Sama
siapa?!”bentak X.
“...sama kamu.”saut Melda malu-malu.
“Tapi, kita belum... oh.”kata X mengerti
maksud Melda. X menahan tengkuk Melda, lalu mencium bibir wanita itu. “Malam
ini, aku tidak akan melepaskanmu lagi. Bersiaplah, sayang.”
Tapi tetap saja Melda ingin mereka menikah
dulu. Ia ingin mempersembahkan miliknya yang paling berharga pada suaminya.
“Ayo, pergi. Kita ke KUA. Aku sudah tidak
tahan lagi.”kata X menarik tangan Melda.
“Tapi X, kopermu?”tanya Melda, tapi X sudah
tidak peduli dengan barang-barangnya. Untung saja ada anak buah X yang masih
berjaga di dekat mereka.
Melda ditarik X sepanjang jalan keluar dari
terminal keberangkatan. Rio yang masih khawatir pada Melda, memilih menunggu di
dekat sana. Ia melongok saat melihat X dan Melda berjalan keluar.
X menarik Melda mendekati mobil Rio. Mereka
masuk ke sana. “Rio, antar kami ke KUA. Cepat!”
Rio memonyongkan bibirnya dianggap sopir.
Tapi ia mau mengikuti perintah X. Lagian KUA juga dekat dengan taman tempat ia
meninggalkan Gadis dan Kaori tadi.
X sibuk menelpon seseorang, meminta
mengurus semua tentang pernikahannya. Ia sedikit membentak orang itu karena
mengulang perintahnya.
“Apa kurang jelas! Aku mau menikah
sekarang. Siapkan semuanya.”geram X tidak sabaran. “Begitu saja tidak mengerti.”
Melda menepuk jidatnya, jelas saja orang
itu kebingungan karena X tidak pernah dekat dengan wanita, taunya mau nikah
aja. Dipikirnya dia sedang kena prank dari X.
Sampai di KUA, beberapa orang berpakaian
seperti X tampak sudah menunggu mereka. Ada seseorang yang meminta KTP Melda
dan juga menyodorkan gaun berwarna putih padanya. Pria itu juga meminta saksi,
X langsung menunjuk Rio yang hampir pergi dari sana. Rio di tarik masuk ke
dalam diikuti X dan Melda. Sementara Melda mengganti pakaiannya di toilet, Rio
menelpon Gadis dan menanyakan dimana dia.
“Aku masih di tempat yang tadi. Apa?
Sebentar, Rio.” Rio mendengar suara laki-laki tapi bukan Jodi. Gadis terdengar
akrab saat bicara dengan laki-laki itu.
“Yank! Siapa itu?!”tanya Rio di telpon.
“Ntar telpon lagi ya. Aku masih ngobrol.
Bye.”kata Gadis menutup telponnya.
Rio menatap horor layar ponselnya yang
sudah kembali menunjukkan wallpaper foto Gadis yang sedang tersenyum malu. Rio hampir
beranjak ingin kembali ke taman, tapi X menahannya. Acara ijab akan segera
dimulai. Rio tidak bisa protes, apalagi saat X melongo melihat Melda yang
terlihat cantik dengan gaun putihnya.
Rio duduk di kursi saksi bersama seorang
pegawai KUA. X tampak berlatih mengucapkan ijab pada penghulu. Setelah merasa
siap, X menjabat tangan penghulu dan penghulu memulai mengucapkan sebaris
kalimat.
X membalas dengan cepat dan tegas. “Sah!!”teriak
Rio menyambar pertanyaan penghulu yang bertanya padanya.
“Dimana saya bisa tanda tangan?”tanya Rio
tidak sabaran pada penghulu.
Penghulu menunjuk tempat Rio harus tanda
tangan dan ia membubuhkan tandatangannya dengan cepat.
“Kak X, Melda. Selamat atas pernikahan
kalian. Kadonya nyusul ya. Aku harus pergi ke tempat Gadis. Bye.”kata Rio cepat
sambil keluar dari ruangan itu.
Rio buru-buru keluar dari KUA, ia
celingukan mencari mobilnya yang tadi diparkirkan oleh teman X. Untung saja
orang-orang itu menunggu di dekat mobilnya diparkir. Rio segera pergi sementara
X dan Melda disambut oleh mereka yang terus menerus mengucapkan selamat atas
pernikahan mereka berdua.
Sampai di taman lagi, Rio berjalan cepat
menuju tempat mereka duduk tadi. Peluh bercucuran di keningnya saat itu. Ia
sempat tertahan rombongan turis yang tiba-tiba lewat tanpa memberinya celah
sedikitpun. Saat rombongan itu berlalu, Rio melihat sosok Gadis sedang bicara
dengan seorang pria yang cukup tampan. Rio berdecih, “Cih. Bocah darimana lagi
ini.” Ia mengepalkan tangannya melihat Gadis berjalan berdua saja dengan pria
itu. Tidak tampak Kaori di gendongannya.
“Apa-apaan ini? Sekalinya keluar udah ada
yang ngincer.”kata Rio dingin.
Dengan langkah panjang dan cepat, Rio
berusaha mengejar mereka. Tapi lagi-lagi rombongan turis tadi lewat di
depannya. Entah muncul darimana. Rio melongokkan kepalanya melalui kepala
turis-turis itu tapi ia tidak bisa melihat Gadis dan pria itu.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.