Duren Manis

Duren Manis
Bianca & Ilham


Flash back...


Setelah Ilham keluar dari ruangan tempat Bianca menunggu, ia bertemu seseorang yang menyerahkan sebuah ponsel padanya,


Ilham : "Halo?"


Papa Bianca : "Halo, Ilham. Saya Jonathan, rekan kerja Alex dan papanya Bianca."


Ilham : "Ada yang bisa saya bantu, pak?"


Papa Bianca : "Ilham, saya boleh minta tolong satu hal? Maukah kau mengenal Bianca? Maksud saya lewat perjodohan."


Ilham : "Apa? Pak, perjodohan itu bukan main-main."


Papa Bianca : "Saya tahu, tapi sepertinya Bianca sangat menyukaimu. Tolong jalani perjodohan dengan Bianca ya. Kalau akhirnya kalian tidak cocok, saya akan bawa Bianca pergi dan tidak akan mengganggu kamu lagi."


Ilham terdiam, ia masih tahu diri dengan status sosialnya, Bianca masih bisa mendapatkan pria kaya yang bisa mencintainya.


Papa Bianca : "Tolong jangan berpikir tentang status Bianca, meskipun dia anak saya, tapi sejak kecil dia terbiasa hidup sederhana. Mamanya cukup keras dalam mendidiknya dan Bianca memiliki sertifikat menjadi ibu rumah tangga yang baik."


Ilham : "Pak, saya rasa masih banyak pria yang lebih baik dari saya."


Papa Bianca : "Memang ada banyak, jangan tersinggung, tapi kamu yang disukai Bianca."


Ilham : "Tapi sebelumnya, nona Bianca menyukai pak Alex."


Papa Bianca : "Ya, dan ia menyukainya cukup lama sekitar dua tahun. Tapi sekarang dia menyukaimu dan sepertinya dia sudah cukup lelah mencari orang baru lagi. Bisa kau pertimbangkan? Sekarang? 5 menit?"


Ilham menggaruk kepalanya, ia hanya perlu bilang iya dan papanya Bianca tidak akan mengganggunya lagi. Tapi ia tidak mencintai Bianca, apa ini tidak jadi masalah nantinya.


Ilham : "Baik, pak. Tapi saya tidak mencintai nona Bianca. Apa tidak apa-apa?"


Papa Bianca : "Dia akan terima kenyataannya, tapi berikan waktu untuknya mengenalmu ya."


Ilham : "Baik pak."


Setelah menutup telponnya, orang yang menyerahkan ponsel pada Ilham memintanya ikut ke ruangan sebelah untuk ganti baju.


Rencananya Ilham dan Bianca akan makan malam bersama dan lanjut ngobrol dari hati ke hati. Tapi kenyataannya Bianca mengira ia sedang berhalusinasi dan malah minum sampai mabuk.


Flash back end..


Ilham membaringkan Bianca diatas ranjang di dalam kamar itu. Ia melepaskan dasi kupu-kupu yang dipakainya dan meletakkannya di atas nakas.


Ia menatap wajah Bianca yang tertidur pulas. Ilham berjalan ke pintu keluar, ia membuka pintu dan melongokkan kepalanya keluar. Sepi. Tidak ada siapapun diluar.


Tadinya Ilham ingin X yang menjaga Bianca, toh itu memang tugasnya. Tapi kemana pria itu pergi?


Ilham : "Bagaimana bisa dia meninggalkan anak bosnya bersama pria tidak dikenal berdua saja dalam kamar hotel?"


Hatsiu!! X yang berada di kamar sebelah bersin-bersin saat Ilham menggerutu tentang dirinya. X dan timnya tampak berjaga di sebelah kamar Bianca, lengkap dengan monitor besar yang terhubung dengan beberapa kamera tersembunyi di kamar Bianca.


Mirip adegan film spy terkenal. Apa pekerjaan papa Bianca sampai memiliki anak buah seperti X? Hanya author yang tahu.


X tetap memastikan keselamatan nona mudanya tapi tidak dengan keutuhan nona mudanya itu. Papa Bianca hanya mengintruksikan untuk menempatkan Bianca yang mabuk bersama Ilham dalam satu kamar. Sisanya, biarkan mengalir begitu saja.


Bisa dibayangkan kalau Ilham termasuk kategori pria singa kelaparan? Bisa habis Bianca malam ini.


Ilham melepas jas yang dipakainya dan melemparkannya ke atas sofa tunggal dekat ranjang. Ia melonggarkan kemejanya dan membuka kancing paling atas. Tubuhnya cukup gerah karena belum mandi sejak diculik dari depan apartment Bianca saat ia mencarinya.


Ia memutuskan mandi dulu sebelum beristirahat. Ilham masuk ke kamar mandi dan mandi dengan cepat. Ia mengeringkan tubuhnya dan memakai bathrobe.


X terus memperhatikan layar monitor saat Ilham keluar dari kamar mandi hanya memakai bathrobe. Ia juga membawa kemeja dan celana panjangnya dan membuka lemari pakaian disana.


Ilham mengambil handuk kecil di dalam lemari dan membasahinya di kamar mandi. Ia mulai mengelap tangan, wajah, dan kaki Bianca. Kemudian menarik selimut menutupi tubuh Bianca.


Saat itu Bianca menendang selimut yang menutupi tubuhnya.


Bianca : "Aduch, panas sekali. Ambilkan air."


Bianca mengipasi tubuhnya dengan tangan, sebelah matanya terbuka menatap Ilham.


Bianca : "Ilham? Ngapain kamu disini? Kepalaku sakit banget."


Ilham : "Kamu sudah sadar atau belum? Mau minum?"


Ilham mengedarkan pandangannya, ada gelas dan teko air di atas meja dapur. Ia mengambilnya dan mengodorkannya pada Bianca yang langsung meminumnya.


Bianca : "Makasih."


Mereka saling pandang sampai Ilham sadar kalau ia hanya memakai bathrobe. Ia berjalan mendekati lemari dan mengambil kemeja dan celana panjang.


Ilham : "Aku numpang mandi tadi. Kalau kamu uda baikan, aku pulang ya."


Bianca : "Aku dimana?"


Ilham : "Kamar hotel. X yang membawa kita kesini. Atau kamu mau pulang?"


Bianca : "Aku... Aku disini saja. Tapi...  kamu temenin aku ya..."


Ilham : "Ok." Ilham menggantung kembali kemeja dan celana panjangnya.


Mata Bianca membulat saat mendengar persetujuan Ilham. Ia jadi salah tingkah setelahnya, sesungguhnya ia tidak siap dengan jawaban Ilham.


Bianca bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi, tubuhnya terasa lengket dan tidak nyaman. Ia segera mandi dan keluar kamar mandi memakai bathrobe.


Ilham tampak sedang duduk berandar di sofa, matanya terpejam. Bianca melipat bibirnya, ia berjalan pelan-pelan mendekati Ilham. Tangannya terulur ingin menyentuh wajah Ilham.


Tapi belum sempat ia menyentuhnya, Ilham tiba-tiba bangun dan menarik tangannya. Bruk! Bianca jatuh diatas pangkuan Ilham.


Bianca : "Ma... Maaf, aku kira kamu uda tidur."


Ilham : "Trus kalau aku uda tidur, kamu mau apa?"


Bianca : "Gak ada..."


Ilham mendekatkan wajahnya pada Bianca yang langsung memejamkan matanya. Ilham menunduk dan mencium leher Bianca.


Tubuh Bianca merinding mendapatkan perlakuan itu dari Ilham. Ia menjerit tertahan, dan segera bangun dari atas tubuh Ilham. Bianca naik ke atas ranjangnya, menutupi tubuhnya dengan selimut.


Ia berusaha memejamkan matanya dan tidur, mengabaikan Ilham yang masih menatapnya dari atas sofa.


-----


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------