Duren Manis

Duren Manis
Sudah berakhir?


Mereka bertiga menoleh saat dokter Kevin keluar dari ruang operasi. Jodi lebih dulu berdiri menghampiri dokter Kevin.


Jodi : "Gimana, dok?"


dr. Kevin : "Situasinya sedikit tidak baik. Rara mau dengar ini?"


Ronald merangkul lengan Rara, menuntunnya mendekat.


Rara : "Apa yang terjadi, dok?"


dr. Kevin : "Kondisi Arnold tidak baik. Terjadi pendarahan tadi dan untungnya stok darahnya cukup. Tapi kondisinya kritis."


Ronald memekik saat merasakan Rara meluncur turun tidak bertenaga. Rara mendengar suara Ronald dan Jodi memanggil namanya tapi ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Jodi dengan cepat mengangkat Rara, membawanya kembali ke kamar dengan Ronald mengikuti di belakangnya.


Jodi membuka pintu dengan cepat dan membaringkan Rara di atas tempat tidur. Ia menekan tombol untuk memanggil suster yang tidak perlu ia lakukan karena suster sudah melihatnya membopong Rara.


Dua suster masuk ke dalam kamar. Salah satunya menghubungi dokter untuk memeriksa Rara. Jodi melihat sudah ada yang mengurus Rara, ia ingin kembali ke ruang operasi. Ia menatap Ronald,


Jodi : "Om, tolong..."


Ronald : "Pergilah..."


Jodi berjalan secepat yang ia bisa kembali ke depan ruang operasi. Dokter ahli tampak berdiri di depan sana.


Jodi : "Bagaimana dokter?"


Dokter : "Operasinya sudah selesai, tapi Arnold belum sadar. Kita harus menunggu dia sadar. Jodi, dia kritis."


Jodi : "Dimana dia? Dimana Arnold?"


Dokter : "Dia sedang di pindahkan ke ruang ICU."


Jodi : "Apa kami bisa menengoknya?"


Dokter : "Tunggu dua jam lagi. Kau bisa menunggu di depan ruang ICU kalau mau."


Jodi : "Bisa kita bicara dengan keluarganya? Papanya ada disini, dokter."


Dokter : "Kami tunggu di ruang dokter."


Jodi berjalan cepat kembali ke kamar Arnold. Ia melihat Rara sudah sadar dan mendekati Ronald.


Jodi : "Om, dokter mau bicara."


Ronald : "Ayo kesana."


Rara : "Rara ikut, pah."


Ronald : "Kamu disini dulu ya. Ingat bayimu. Papa segera kembali."


Jodi dan Ronald berjalan cepat ke ruang dokter. Para dokter sudah duduk disana menunggu mereka.


🌸🌸🌸🌸🌸


Rara duduk bersandar di bed rumah sakit. Ia mengelus perutnya yang sedikit nyeri. Untung saja kondisi bayinya baik-baik saja.


Rara : "Sayang, apa yang akan terjadi pada papamu? Mama takut, nak. Mama takut kehilangan papamu."


Jantung Rara berdebar kencang, ia menggeleng.


Rara : "Papamu sudah janji sama mama. Kita akan sama-sama terus. Papamu pasti kuat, kan nak?"


Isak tangis terdengar di kamar itu. Rara menangis sendirian disana.


Tiba-tiba pintu kamar Arnold terbuka, Jodi masuk kesana tampak pucat dengan nafas tersengal-sengal. Ia menatap Rara dengan bekas air mata di sekitar matanya.


Rara : "Kak, ada apa?"


Jodi : "Arnold..."


Rara : "Mas Arnold kenapa? Kakak?!!"


🌸🌸🌸🌸🌸


Riri menahan nafasnya mendengar kabar dari Alex tentang keadaan Arnold. Ia menoleh saat Rio berlari ke arahnya dan duduk di sampingnya.


Rio : "Ini beneran?"


Riri : "Kasian mb Rara. Kita harus kesana, Rio."


Rio : "Ayo, kita bolos aja kuliah selanjutnya."


Riri : "Aku kasi tahu Kaori dulu. Minta titip absen kalau bisa."


Rio : "Aku ambil mobil. Kita ketemu di parkiran asrama ya."


Si kembar bersiap-siap pulang. Mereka ijin ke pengawas asrama karena akan menginap di rumah malam ini.


🌸🌸🌸🌸🌸


Mia dan nenek juga terkejut mendengar kabar tentang Arnold dari Alex. Mia mengelus perutnya yang terasa nyeri.


Mia menangis sedih meratapi kondisi tubuhnya yang tidak bisa kemana-mana. Bahkan ke rumah sakit untuk menghibur Rara sekalipun.


Nenek juga tidak dalam keadaan yang sehat. Penyakit tuanya memaksa nenek tetap tinggal di rumah. Sementara mb Minah standby di rumah, menjaga ibu hamil dan lansia ini.


Mia : "Apa Mia telpon Rara aja ya?"


Nenek : "Coba di telpon."


Mia mencoba menelpon Rara tapi tidak diangkat. Ia mengulang hingga dua kali, tetap tidak diangkat.


Mia : "Gak diangkat juga. Mia takut Rara kenapa-napa, bu."


Nenek : "Coba telpon Alex."


Mia : "Iya, bu."


Mia ganti menelpon Alex yang langsung diangkat.


Alex : "Kenapa, sayang? Kamu baik-baik aja?"


Mia : "Aku gak pa-pa, mas. Rara gimana, mas?"


Alex : "Masih nangis. Tadi sempat histeris waktu dikasi tahu."


Mia : "Dia gak pa-pa kan?"


Alex : "Mas lihat gak pa-pa. Dokter Kevin lagi bicara sama dia biar lebih tenang."


Mia : "Trus Arnold gimana, mas."


Alex : "Yah, gitu. Mas juga sedih. Mau gimana lagi."


Mia : "Siapa aja disana, mas?"


Alex : Ada Ronald, Jodi juga. Kakak Arnold baru aja datang sama mamanya juga."


Mia : "Aku gak bisa kesana, mas. Gimana dong? Rara, mas."


Alex menoleh ke pintu saat si kembar masuk ke dalam kamar. Riri dan Rio langsung berdiri di samping Rara yang langsung memeluk Riri.


Alex : "Si kembar sudah disini. Kamu tenang aja ya. Jaga kondisimu."


Mia : "Tapi, mas..."


Alex : "Doakan Rara bisa kuat menghadapi cobaan ini."


Mia : "Iya, mas. Salam buat anak-anak ya."


Mia meletakkan ponselnya, ia mengambil tisu mengusap air matanya. Nenek juga tampak menyeka air matanya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Jodi bersandar di dinding lorong rumah sakit. Ia meninju dinding merasa sangat kesal, sedih dan marah. Ia baru saja melihat kondisi Rara yang menyedihkan dan hatinya terasa sangat sakit.


Ia ingin memeluk Rara tapi menahan dirinya karena banyak orang didalam sana. Air matanya kembali mengalir membasahi pipinya.


Jodi : "Kenapa jadi begini, bro? Kamu gak akan kumaafkan karena buat Rara sedih."


Jodi mengepalkan tangannya, ia mengusap air matanya dan berjalan keluar dari rumah sakit. Ia harus bertemu Katty sekarang atau dia akan gila.


Jodi mengemudikan mobilnya sangat cepat, ia ingin mati saja saat itu. Beban yang harus ia pikul semakin berat ia rasakan.


Bukan hanya Rara yang harus ia jaga tapi juga bayinya.


Tin!! Jodi menyingkirkan semua kendaraan dari jalannya. Ia menambah kecepatan sampai berhenti di depan rumah Katty.


Wanita itu sudah pulang ternyata. Jodi membuka pintu mobil dengan cepat dan membantingnya menutup.


Setengah berlari, ia masuk ke dalam rumah Katty. Ia melihat sekeliling dan tidak mendapati Katty di dapur. Ia masuk ke kamar dan melihat Katty sedang tidur di atas ranjangnya.


Bruk! Jodi menerjang Katty yang sangat terkejut mendapati tubuh kekar menekan tubuhnya.


Katty : "Jodi! Ada apa?! Kenapa kamu begini?!"


Jodi : "Arnold... Dia..."


Katty : "Arnold kenapa? Jodi?"


Jodi tidak bisa meneruskan kata-katanya. Ia menangis sedih sambil memeluk Katty yang masih kebingungan. Katty tidak bertanya lagi, ia balik memeluk Jodi merasakan kesedihannya.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲