
DM2 – Sembuh gitu aja
“Suster, apa dia belum sadar?”tanya Mia.
“Dia lagi hamil, suster. Dimana dokternya?”
“Sudah, bu. Sekarang sedang tidur. Tadi
dokter juga sudah memeriksanya. Kakak itu tidak apa-apa.”jelas suster.
“Oh, my. Apa terlihat jelas?”tanya Mia
membuat suster bingung.
“Apanya yang terlihat jelas, bu?”tanya
suster.
“Kerutan di mata saya ini. Suster manggil
saya, ibu. Tapi sama mantu saya manggil kakak. Apa saya keliatan tua banget
ya?”tanya Mia cemberut.
Suster cuma nyengir tidak bisa berkata
apa-apa lagi. Ia memilih kabur dari hadapan Mia, pura-pura mengurus
administrasi untuk Rio.
“Mia? Gadis gimana?”tanya Alex yang
mendengar suara Mia di bilik sebelahnya. Mia membuka korden penyekat antara Rio
dan Gadis. Keduanya kompakan tertidur di atas bed rumah sakit.
“Gimana bisa kayak gini sich, mas. Aku kira
kedatangan Kinanti bisa menyelesaikan masalah Kaori. Masalah Kaori selesai, eh,
malah muncul masalah baru lagi. Gimana kalau Rio malah tambah parah sakitnya?
Ini salahku, mas.”tutur Mia sedih.
Alex memeluk Mia, menenangkannya. “Bukan
salahmu, sayang. Kamu terlalu khawatir sama Kaori. Itu wajar. Mereka berdua
akan baik-baik saja. Kamu tenang aja ya, sayang. Jangan ikutan stress
dong.”hibur Alex.
Alex menangkupkan kedua tangannya ke pipi
Mia, ia hampir mencumbu istrinya itu gak liat tempat. Ketika tiba-tiba suster
membuka korden dan memergoki mereka.
“Ehem... Permisi, pasiennya mau saya
pindahkan ke kamar.”kata suster itu.
Alex dan Mia menyingkir saat bed Rio
didorong keluar. Mia memberitahu kalau Gadis juga ditempatkan di kamar yang
sama dengan Rio. Suster lainnya segera menyiapkan kepindahan Gadis ke kamar.
Mereka semua akhirnya berkumpul di kamar
rawat inap Rio dan Gadis. Rara, Arnold, Riri, dan Elo sedang mendengarkan cerita
Mia tentang kronologis kejadian yang menimpa Rio sampai pingsan gitu.
“Jadi status Kaori sudah aman dong, mah.
Dia juga udah hamil kan?”tanya Rara.
“Iya, Ra. Mama lihat memang dia bawa buku
periksa kehamilan waktu itu. Trus kalau waktunya pas, bisa jadi mereka berdua
bisa lahiran bareng.”kata Mia.
“Siapa yang barengan Kinanti, mah?”tanya
Riri. Ia melihat Rara yang geleng-geleng kepala. Mereka sama-sama belum tahu
berita kehamilan Gadis.
“Kasi tau gak ya?”tanya Mia pada dirinya
sendiri tapi matanya melirik Alex yang hampir tertidur. “Mas, tidur dulu sana.
Besok kan mas kerja.”
“Yah, mama gak seru. Kasi tau dong siapa
yang samaan? Mama hamil?”tebak Rara asal.
“Waduh, kalo mama hamil juga sekarang,
gimana Gadis nanti ya.”
“Gadis hamil??!!”ujar Rara dan Riri
berbarengan. “Kok bisa?”
Keduanya refleks melirik Rio yang masih
belum sadar.
“Pertanyaan kalian nich sama aja sama papa
kalian. Ya bisalah. Gadis yang diatas.”saut Mia asal. Padahal bukan itu yang
diceritakan Gadis. Keduanya kini menoleh menatap Gadis yang terlihat pucat
dengan wajah polos tanpa make up.
“Nah, gitu sekali-sekali. Diatas kan lebih
mantap.”saut Elo keceplosan.
“Ih, mas. Kalo aku gak diatas, gak jadi
tuch adiknya Ello.”balas Riri sambil nyengir.
“Apa kamu keseringan diatas makanya gak jadi-jadi
adiknya Rey?”tanya Arnold pada Rara.
Rara memonyongkan bibirnya, mereka lanjut
membahas masalah diatas yang tadi dikatakan Mia. Alex yang sudah lelah, malah
ngorok duluan. Ketika malam semakin larut, Rara dan Riri berpamitan bersama
membawakan pakaian ganti untuk mereka semua. Rey sudah mereka titipkan di rumah Alex tadi,
jadi Rara dan Arnold akan menginap di rumah Alex.
Sepeninggalan mereka, Mia memeriksa kondisi
Rio dan Gadis dulu sebelum mendekati Alex. Ia berbaring di samping Alex,
merapatkan selimut mereka dan perlahan terlelap.
Sekitar jam 3 pagi, Gadis perlahan
terbangun. Ia menggeliat sebentar, membuka matanya menatap sekeliling kamar
rumah sakit. Ketika ia menoleh ke samping, Gadis menatap Rio yang juga sedang
menatapnya. Setetes air mata jatuh dari sudut mata Gadis, Rio akhirnya sadar
juga. Tangan Gadis terlentang ingin menggapai Rio.
Gadis hampir bangkit dari tidurannya, tapi
tubuhnya agak sulit digerakkan. “Rio... Aku gak bisa bangun.”lirih Gadis.
Diluar dugaan Gadis, alih-alih diam saja di
bed rumah sakit, Rio turun dari bed-nya. Ia berjalan perlahan mendekati bed
Gadis sambil memegang tongkat panjang tempat menggantung infusnya. Setelah
meletakkan pegangan infus itu ke bed rumah sakit tempat Gadis terbaring, Rio
ikut berbaring di samping Gadis.
“Sayang, aku mencintaimu.”ucap Rio dengan
jelas.
Mata Gadis terbelalak mendengar kata-kata
Rio. Ia memeluk erat tubuh Rio, menciumi setiap inci wajahnya.
“Kamu udah sembuh?”tanya Gadis masih tidak
percaya.
“Iya, sayang. Sepertinya banyak hal yang
sudah kulewatkan ya.”kata Rio.
Gadis berjengit saat tangan Rio mulai tidak
bisa dikondisikan meraba masuk ke balik pakaian Gadis. Ia menyusuri bagian
tubuh Gadis terutama daerah favoritnya.
“Yank, kamu mau apa? Jangan nakal.”bisik
Gadis menahan gejolak birahi yang muncul karena ulah Rio.
“Sudah berapa lama aku gini, Dis? Aku
benar-benar tidak ingat apa yang terjadi.”
“Sudah setahun lebih, Rio. Lihat badanmu
sangat kurus.”
Rio memperhatikan tangan dan tubuhnya.
Memang lebih kurus dari sebelumnya kekar berotot. Gadis memeluk Rio lagi, ia
sangat merindukan sentuhan dari suaminya secara sadar seperti ini. Tempatnya
bersandar dan berkeluh kesah. Gadis sangat mendambakan kehangatan yang selalu diberikan
Rio. Caranya memanjakan dirinya, membuatnya mabuk cinta sampai lupa dengan
kesedihannya yang belum dikarunia keturunan.
Gadis merindukan Rio, ia ingin dijahili
seperti dulu. Dicium seperti dulu. Dipeluk seperti dulu. Dia rindu cara Rio
menatapnya, tersenyum padanya, dan juga kelembutan yang diberikan Rio saat
mereka menyatu atas nama cinta.
“Yank, aku menginginkanmu.”bisik Rio seakan
membaca apa yang Gadis pikirkan.
Gadis melihat sekeliling kamar, ia melihat
Mia dan Alex tidur saling berpelukan satu sama lain di sofa panjang.
“Rio, ada mama sama papa. Gak enak disini.”kata
Gadis malu.
“Dibawah selimut gak keliatan kok.”bisik
Rio masih mengejar Gadis.
“Tapi... pelan-pelan ya. Aku... aku lagi
hamil.”bisik Gadis.
Tiba-tiba Rio bangun dari tidurannya di
samping Gadis. “Hamil?!”kata Rio sedikit marah. “Tapi... aku... gimana?!”tanya
Rio antara bingung dan marah.
“Kamu gak percaya ini anakmu? Kita
melakukannya waktu kamu gak sadar. Aku... aku yang ngajarin kamu caranya
memuaskan aku.”kata Gadis malu-malu. “Selama setahun ini aku tidak pernah
keluar rumah, aku selalu bersamamu. Kalau gak percaya, tanya mama aja.”
“Sejak kapan kamu jadi nakal gini? Kamu
harus dihukum, Gadis.”kata Rio kembali merengkuh Gadis dalam pelukannya.
“Jangan dihukum dong. Harusnya aku dapat
hadiah. Hmm. Eh, kok kayaknya ada yang aneh ya?”tanya Gadis memikirkan sesuatu.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.