
Setelah Alex
berangkat ke kantor, Mia baru akan menutup gerbang rumah ketika Rara dan Arnold
datang sehabis jalan-jalan ke seputaran perumahan.
Mia : “Kalian uda
pulang, sampai mana jalan-jalannya?”
Rara : “Deket sini
aja kok, mah.”
Mia : “Oh, gitu. Trus
kenapa kalian diikutin ibu-ibu?”
Mereka menoleh ke
belakang dan memang benar ada segerombolan ibu-ibu yang mengikuti Rara dan
Arnold. Mengikuti Arnold tepatnya,
Ibu 1 : “Pagi, bu
Mia. Mantunya kok tambah ganteng sich.”
Mia : “Pagi, ibu-ibu.
Masa sich?”
Ibu 2 : “Bu Mia mah
enak, tiap hari bisa lihat yang bening. Suaminya ganteng, mantunya juga
ganteng.”
Mia : “Ach, ibu-ibu
bisa aja.”
Arnold : “Mah, kita
masuk dulu ya. Kasian Rara kelamaan berdiri.”
Ibu 1 : “Raranya
kasih masuk, mas Arnold disini dulu dong.”
Arnold : “Saya mau
siap-siap ke kantor, bu. Permisi.”
Dan ibu-ibu
langsung minggat, pulang ke rumah masing-masing. Mia menyusul Rara dan Arnold
yang sudah masuk duluan.
Mia : “Ada-ada aja
ibu-ibu itu. Ketemu dimana sich?”
Rara : “Gak tau,
mah. Kita aja baru sadar diikutin tadi di depan rumah.”
Mia : “Hihi... itu
karena Arnold ganteng.”
Yang disebut cuma
duduk santai dengan cool menyeruput susu coklatnya. Sejak sadar dari komanya,
Arnold tidak lagi mengkonsumsi teh atau kopi. Ia lebih memilih minum susu
coklat seperti bocah. Uda ganteng, minumnya susu coklat lagi. Ngegemesin banget
kan.
Rara : “Iya, nich.
Suamiku kelewatan gantengnya sampai punya banyak fans.”
Arnold : “Gak
segitunya juga. Ra, aku mau mandi. Ikut yuk.”
Rara : “Nggak ach,
mas. Dingin.”
Arnold : “Semalem
kamu bilang udah gak nyampe nyabunin punggung. Ayo, aku sabunin.”
Rara : “Aku gak mau
mandi. Dingin.”
Mia : “Biarin aja,
Arnold. Ntar kalo gerah juga mandi sendiri.”
Arnold : “Kamu gak
ikut ke kantor?”
Rara : “Eh, iya.
Ada dokumen yang perlu tanda tanganku ya.”
Mia tersenyum
melihat Arnold membentuk huruf v dengan jarinya di belakang punggung Rara
setelah Rara mau mandi bersamanya.
Mia : “Gak mantu,
gak mertua, sama aja mesumnya.”
*****
Mia baru selesai
memandikan bayi kembarnya, ketika ponselnya berdering tanpa chat masuk. Mia
mengabaikannya karena masih sibuk menyusui Reva. Tapi setelah beberapa saat,
chat yang masuk bertambah sering.
Penasaran, Mia
membuka ponselnya dan melihat chat dari nomor gak dikenal.
Mr.X : “Malam ini
Alex akan datang ke pesta dengan wanita lain.”
Mr. X : “Apa dia
tidak mengajakmu?”
Mr. X : “Sungguh
kasian, mana mungkin Alex akan mengajak wanita gendut sepertimu.”
Mr. X : “Kau harus
berkaca, kau lebih gemuk dari sapi.”
Sebuah foto badan
wanita yang sangat bagus, muncul di bawah chat itu. Mia meremas ponselnya
dengan gemas.
Mia : “Ini orang
ngajak gelut. Kebetulan aku perlu pelampiasan stress.”
Mia mengetik pesan
balasan dengan cepat, dengan satu tangan.
Mia : “Badanmu
bagus, kenapa gak kau pakai untuk menggaet lelaki single dan bukan suami orang.”
Mr. X : “Suamimu
yang menginginkan aku, Mia.”
Mia : “Oh, ya?
Berarti kau yang halu. Apa kau sudah mengecek matamu?”
Mr. X : “Kau tidak
lihat saat Alex menggodaku. Andai bisa kukirim fotonya padamu.”
Mia : “Ya, ya terus
saja halu.”
Mia berusaha
menahan amarahnya karena cemburu. Ia melihat gelambir lemak yang tersisa di
perutnya setelah melahirkan. Hanya itu yang tampak buruk, sisanya hampir
kembali seperti semula.
benar-benar tidak memberi kesempatan Mia untuk sedikit berolahraga. Mereka
menyedot ASI-nya sampai habis, terus tertidur, dan buang air.
Mia teringat
perkataan Alex tentang baby sister. Apa dia memerlukan baby sister sekarang?
Setidaknya kalau ia punya baby sister, dirinya bisa merawat diri dan mungkin
mengunjungi Alex di kantornya sambil membawakan makan siang.
Tadi orang ini
bilang Alex akan pergi ke pesta bersama seorang wanita. Siapa dia? Apa Linda?
Dilihat dari bentuk tubuhnya, sepertinya memang dia. Kenapa juga Alex tidak
mengatakan tentang pesta itu padanya?
Pikiran-pikiran
buruk mulai memenuhi kepala Mia, ia terlihat enggan menyusui si kembar karena
pengaruh mood yang buruk. Wanita hamil saja tidak boleh terganggu hormonnya,
apalagi ibu menyusui.
Setelah memikirkan
dengan matang, Mia menelpon mamanya, ia mengabaikan pesan baru yang masuk dari
nomor tidak dikenal itu.
Mia : “Halo, mah.”
Mama Mia : “Halo,
sayang. Ada apa? Tumben nelpon mama.”
Mia : “Mah, mama
ada kenalan baby sister gak?”
Mama Mia : “Baby
sister sich gak ada, tapi kalau pengasuh bayi ada.”
Mia : “Apa bedanya?”
Mama Mia : “Beda
namanya aja. Kerjanya ya sama. Tapi pengasuh bayi ini umurnya sama kayaknya
sama Alex. Dia janda, suaminya sudah meninggal dan anaknya juga sudah besar.
Kamu perlu pengasuh bayi?”
Mia : “Sepertinya
iya, mah.”
Mama Mia : “Kok
kedengerannya kamu ragu gitu?”
Mia : “Mia lagi bad
mood. Ada yang ngechat Mia dan bilang mas Alex mau pergi ke pesta sama wanita
lain. Mas Alex juga gak cerita sama Mia kalau ada pesta itu.”
Mama Mia : “Oh,
kamu cemburu nich ceritanya.”
Mia : “Wajarkan Mia
cemburu, meskipun belum tentu benar juga. Kapan pengasuh bayinya bisa datang,
mah?”
Mama Mia : “Besok
ya. Mama juga mau kesana nengok si kembar.”
Mia : “Iya, mah...”
Mama Mia : “Coba
tanya asistennya Alex, bener gak ada pesta.”
Mia : “Oh, iya mah.
Coba Mia tanya sama Romi. Besok mama dateng jam berapa?”
Mama Mia : “Habis
sarapan ya. Mertuamu sehat?”
Mia : “Sehat, mah.
Sampai ketemu besok, mah.”
Mia menutup telpon
dengan cepat dan menghubungi Romi via chat. Ia melirik Rava yang sudah
menatapnya dengan wajah sedih.
Mia : “Ya ampun,
anak mama. Maaf ya, harusnya giliran kakak Rava sekarang.”
Mia menggendong
baby Rava dan memberinya ASI. Bayi itu bahkan tidak protes dan dengan cepat
menyedot ASI dari Mia. Tring! Balasan datang cepat dari Romi,
Romi : “Iya, memang
ada pesta. Tapi sampai sekarang Alex belum ngasi tau mau datang atau tidak.”
Mia : “Oh, gitu.
Memangnya mas Alex mau datang dengan siapa?”
Romi : “Biasanya
kan sama kamu. Tapi kamu kan lagi jaga baby twin. Paling sama aku ntar.”
Mia : “Gak sama
perempuan lain?”
Romi : “Alex gak
pernah pergi sama perempuan lain kalau untuk urusan pesta. Biasanya dia pergi
sendiri atau sama aku.”
Mia : “Yakin?”
Romi : “Iya,
terakhir kalian kan pergi ke pesta berdua. Pesta tahun baru di hotel X itu,
kan.”
Mia teringat saat
Alex mengajaknya ke pesta, saat itu Mia sudah hamil dan dalam kondisi sedikit
mekar. Tapi Alex tidak peduli dengan penampilan Mia dan tetap mengajaknya ke
pesta. Bahkan Alex menjaganya dengan ketat dan tidak sekalipun meninggalkannya
meskipun Mia masih merasakan mual saat itu.
Mia menatap wajah
Rava yang masih tersenyum padanya sambil sesekali mengenyot ASI. Wajah Rava
semakin lama semakin mirip dirinya.
Mia : “Maafin mama
ya, nak. Sayangnya mama.”
Mia merasa sedikit
lega, ia kembali berkonsentrasi merawat bayinya, mengabaikan ponselnya yang
terus berbunyi.
🌻🌻🌻🌻🌻
Hai, salam buat pembaca semua. Author selalu
menantiknn like dan komentar kalian loh. Kasi author semangat dong. Meskipun
gak bisa up banyak, tapi kan kasi semangat buat rutin up gitu.
Author lagi kumat malesnya nich. Jangan lupa vote
juga ya.
Hehe, author banyak banget permintaan...
Klik profil author buat lihat karya author yang
lainnya ya.