Duren Manis

Duren Manis
Keraguan Mia


Setelah Alex


berangkat ke kantor, Mia baru akan menutup gerbang rumah ketika Rara dan Arnold


datang sehabis jalan-jalan ke seputaran perumahan.


Mia : “Kalian uda


pulang, sampai mana jalan-jalannya?”


Rara : “Deket sini


aja kok, mah.”


Mia : “Oh, gitu. Trus


kenapa kalian diikutin ibu-ibu?”


Mereka menoleh ke


belakang dan memang benar ada segerombolan ibu-ibu yang mengikuti Rara dan


Arnold. Mengikuti Arnold tepatnya,


Ibu 1 : “Pagi, bu


Mia. Mantunya kok tambah ganteng sich.”


Mia : “Pagi, ibu-ibu.


Masa sich?”


Ibu 2 : “Bu Mia mah


enak, tiap hari bisa lihat yang bening. Suaminya ganteng, mantunya juga


ganteng.”


Mia : “Ach, ibu-ibu


bisa aja.”


Arnold : “Mah, kita


masuk dulu ya. Kasian Rara kelamaan berdiri.”


Ibu 1 : “Raranya


kasih masuk, mas Arnold disini dulu dong.”


Arnold : “Saya mau


siap-siap ke kantor, bu. Permisi.”


Dan ibu-ibu


langsung minggat, pulang ke rumah masing-masing. Mia menyusul Rara dan Arnold


yang sudah masuk duluan.


Mia : “Ada-ada aja


ibu-ibu itu. Ketemu dimana sich?”


Rara : “Gak tau,


mah. Kita aja baru sadar diikutin tadi di depan rumah.”


Mia : “Hihi... itu


karena Arnold ganteng.”


Yang disebut cuma


duduk santai dengan cool menyeruput susu coklatnya. Sejak sadar dari komanya,


Arnold tidak lagi mengkonsumsi teh atau kopi. Ia lebih memilih minum susu


coklat seperti bocah. Uda ganteng, minumnya susu coklat lagi. Ngegemesin banget


kan.


Rara : “Iya, nich.


Suamiku kelewatan gantengnya sampai punya banyak fans.”


Arnold : “Gak


segitunya juga. Ra, aku mau mandi. Ikut yuk.”


Rara : “Nggak ach,


mas. Dingin.”


Arnold : “Semalem


kamu bilang udah gak nyampe nyabunin punggung. Ayo, aku sabunin.”


Rara : “Aku gak mau


mandi. Dingin.”


Mia : “Biarin aja,


Arnold. Ntar kalo gerah juga mandi sendiri.”


Arnold : “Kamu gak


ikut ke kantor?”


Rara : “Eh, iya.


Ada dokumen yang perlu tanda tanganku ya.”


Mia tersenyum


melihat Arnold membentuk huruf v dengan jarinya di belakang punggung Rara


setelah Rara mau mandi bersamanya.


Mia : “Gak mantu,


gak mertua, sama aja mesumnya.”


*****


Mia baru selesai


memandikan bayi kembarnya, ketika ponselnya berdering tanpa chat masuk. Mia


mengabaikannya karena masih sibuk menyusui Reva. Tapi setelah beberapa saat,


chat yang masuk bertambah sering.


Penasaran, Mia


membuka ponselnya dan melihat chat dari nomor gak dikenal.


Mr.X : “Malam ini


Alex akan datang ke pesta dengan wanita lain.”


Mr. X : “Apa dia


tidak mengajakmu?”


Mr. X : “Sungguh


kasian, mana mungkin Alex akan mengajak wanita gendut sepertimu.”


Mr. X : “Kau harus


berkaca, kau lebih gemuk dari sapi.”


Sebuah foto badan


wanita yang sangat bagus, muncul di bawah chat itu. Mia meremas ponselnya


dengan gemas.


Mia : “Ini orang


ngajak gelut. Kebetulan aku perlu pelampiasan stress.”


Mia mengetik pesan


balasan dengan cepat, dengan satu tangan.


Mia : “Badanmu


bagus, kenapa gak kau pakai untuk menggaet lelaki single dan bukan suami orang.”


Mr. X : “Suamimu


yang menginginkan aku, Mia.”


Mia : “Oh, ya?


Berarti kau yang halu. Apa kau sudah mengecek matamu?”


Mr. X : “Kau tidak


lihat saat Alex menggodaku. Andai bisa kukirim fotonya padamu.”


Mia : “Ya, ya terus


saja halu.”


Mia berusaha


menahan amarahnya karena cemburu. Ia melihat gelambir lemak yang tersisa di


perutnya setelah melahirkan. Hanya itu yang tampak buruk, sisanya hampir


kembali seperti semula.


benar-benar tidak memberi kesempatan Mia untuk sedikit berolahraga. Mereka


menyedot ASI-nya sampai habis, terus tertidur, dan buang air.


Mia teringat


perkataan Alex tentang baby sister. Apa dia memerlukan baby sister sekarang?


Setidaknya kalau ia punya baby sister, dirinya bisa merawat diri dan mungkin


mengunjungi Alex di kantornya sambil membawakan makan siang.


Tadi orang ini


bilang Alex akan pergi ke pesta bersama seorang wanita. Siapa dia? Apa Linda?


Dilihat dari bentuk tubuhnya, sepertinya memang dia. Kenapa juga Alex tidak


mengatakan tentang pesta itu padanya?


Pikiran-pikiran


buruk mulai memenuhi kepala Mia, ia terlihat enggan menyusui si kembar karena


pengaruh mood yang buruk. Wanita hamil saja tidak boleh terganggu hormonnya,


apalagi ibu menyusui.


Setelah memikirkan


dengan matang, Mia menelpon mamanya, ia mengabaikan pesan baru yang masuk dari


nomor tidak dikenal itu.


Mia : “Halo, mah.”


Mama Mia : “Halo,


sayang. Ada apa? Tumben nelpon mama.”


Mia : “Mah, mama


ada kenalan baby sister gak?”


Mama Mia : “Baby


sister sich gak ada, tapi kalau pengasuh bayi ada.”


Mia : “Apa bedanya?”


Mama Mia : “Beda


namanya aja. Kerjanya ya sama. Tapi pengasuh bayi ini umurnya sama kayaknya


sama Alex. Dia janda, suaminya sudah meninggal dan anaknya juga sudah besar.


Kamu perlu pengasuh bayi?”


Mia : “Sepertinya


iya, mah.”


Mama Mia : “Kok


kedengerannya kamu ragu gitu?”


Mia : “Mia lagi bad


mood. Ada yang ngechat Mia dan bilang mas Alex mau pergi ke pesta sama wanita


lain. Mas Alex juga gak cerita sama Mia kalau ada pesta itu.”


Mama Mia : “Oh,


kamu cemburu nich ceritanya.”


Mia : “Wajarkan Mia


cemburu, meskipun belum tentu benar juga. Kapan pengasuh bayinya bisa datang,


mah?”


Mama Mia : “Besok


ya. Mama juga mau kesana nengok si kembar.”


Mia : “Iya, mah...”


Mama Mia : “Coba


tanya asistennya Alex, bener gak ada pesta.”


Mia : “Oh, iya mah.


Coba Mia tanya sama Romi. Besok mama dateng jam berapa?”


Mama Mia : “Habis


sarapan ya. Mertuamu sehat?”


Mia : “Sehat, mah.


Sampai ketemu besok, mah.”


Mia menutup telpon


dengan cepat dan menghubungi Romi via chat. Ia melirik Rava yang sudah


menatapnya dengan wajah sedih.


Mia : “Ya ampun,


anak mama. Maaf ya, harusnya giliran kakak Rava sekarang.”


Mia menggendong


baby Rava dan memberinya ASI. Bayi itu bahkan tidak protes dan dengan cepat


menyedot ASI dari Mia. Tring! Balasan datang cepat dari Romi,


Romi : “Iya, memang


ada pesta. Tapi sampai sekarang Alex belum ngasi tau mau datang atau tidak.”


Mia : “Oh, gitu.


Memangnya mas Alex mau datang dengan siapa?”


Romi : “Biasanya


kan sama kamu. Tapi kamu kan lagi jaga baby twin. Paling sama aku ntar.”


Mia : “Gak sama


perempuan lain?”


Romi : “Alex gak


pernah pergi sama perempuan lain kalau untuk urusan pesta. Biasanya dia pergi


sendiri atau sama aku.”


Mia : “Yakin?”


Romi : “Iya,


terakhir kalian kan pergi ke pesta berdua. Pesta tahun baru di hotel X itu,


kan.”


Mia teringat saat


Alex mengajaknya ke pesta, saat itu Mia sudah hamil dan dalam kondisi sedikit


mekar. Tapi Alex tidak peduli dengan penampilan Mia dan tetap mengajaknya ke


pesta. Bahkan Alex menjaganya dengan ketat dan tidak sekalipun meninggalkannya


meskipun Mia masih merasakan mual saat itu.


Mia menatap wajah


Rava yang masih tersenyum padanya sambil sesekali mengenyot ASI. Wajah Rava


semakin lama semakin mirip dirinya.


Mia : “Maafin mama


ya, nak. Sayangnya mama.”


Mia merasa sedikit


lega, ia kembali berkonsentrasi merawat bayinya, mengabaikan ponselnya yang


terus berbunyi.


🌻🌻🌻🌻🌻


Hai, salam buat pembaca semua. Author selalu


menantiknn like dan komentar kalian loh. Kasi author semangat dong. Meskipun


gak bisa up banyak, tapi kan kasi semangat buat rutin up gitu.


Author lagi kumat malesnya nich. Jangan lupa vote


juga ya.


Hehe, author banyak banget permintaan...


Klik profil author buat lihat karya author yang


lainnya ya.