Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 43


Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 43


Kaori yang masih kepo, ingin tahu apa yang


sebenarnya membuat Renata gelisah. Akhirnya Renata menyeret kedua calon


pengantin masuk ke kamar Kaori. Mereka harus bicara secara rahasia dan sangat


tidak aman jika Renata mulai bicara di ruang keluarga.


“Aku nyariin kak Rey dari tadi. Katanya mau kesini,


tapi sampai sekarang nggak nongol juga,” ucap Renata.


“Nah, kan. Pasti nyariin pangeran tercinta,” sela


Ken.


Renata menimpuk Ken dengan bantal Kaori. Pria itu


mengeluh kalau dirinya akan terluka cepat atau lambat. Ken pindah duduk ke


belakang Kaori agar Renata tidak bisa memukul atau mencubitnya lagi. Pria itu


memeluk pinggan Kaori dari belakang dan menempelkan bibirnya di tengkuk calon


istrinya itu.


“Kenapa aunty nyariin kak Rey? Bukannya tadi kak


Rey keluar sama aunty Rara ya,” ucap Kaori.


“Oh, gitu ya. Baguslah, setidaknya dia punya waktu


untuk melakukan hal lain,” sahut Renata.


“Maksudnya?” tanya Kaori kepo.


Renata mengatakan kalau sejak ia pindah ke negara A


untuk kuliah disana, Reynold tidak pernah memberinya waktu banyak untuk


sendirian. Pria itu selalu saja mengikutinya kemanapun Renata pergi. Bahkan


untuk ke kuliah saja, Reynold akan mengantar Renata.


Awalnya Renata merasa kalau perhatian Reynold wajar


saja karena ia baru pertama kali ke negara A sendirian tanpa Mia dan Alex. Tapi


lama kelamaan, teman-teman Renata mulai mengatakan kalau Reynold memiliki


perasaan lebih pada gadis itu.


“Masa mereka bilang kalau kak Reynold sangat


mencintaiku. Itu gila namanya. Masalahnya aku nggak  boleh ngasih tahu hubungan kami yang


sebenarnya. Kak Reynold melarangku mengatakan kalau dia itu keponakanku. Kan


mereka semakin salah paham, dong,” gerutu Renata sebal.


Kaori ingin bertanya lagi, tapi ciuman Ken pada


tengkuknya membuat Kaori kegelian. Renata memutar bola matanya malas melihat


kemesraan calon pengantin di hadapannya. Ia mengulurkan tangannya memelintir


jempol kaki Ken yang terbuka lebar.


“Addoww!!” pekik Ken kesakitan.


“Kalian ini dengerin aku nggak sich?!” protes


Renata. “Aku pergi nich, nggak lanjut cerita,” ancam Renata.


Keduanya mengangguk-angguk dihadapan aunty Renata


yang galak. Kaori menahan tangan Renata dan menyikut Ken agar fokus


mendengarkan Renata.


“Kira-kira kenapa kak Rey nglarang aunty buat


cerita yang sebenarnya?” tanya Kaori.


“Jelas karena Reynold tidak ingin mengakui hubungan


mereka. Ada maksud tertentu, mungkin kata teman aunty Renata ada benarnya,”


sambar Ken cepat.


“Nggak mungkin!! Jelas-jelas kak Rey bilang kalau


dia cuma minta tolong padaku untuk berpura-pura menjadi pacarnya. Dia bilang


nggak suka diganggu sama cewek-cewek yang biasa mengejarnya,” sahut Renata


cepat.


Ken tertawa keras, ia juga seorang pria.


Modus-modus seperti itu tentu saja hanyalah akal-akalan Reynold untuk bisa


selalu dekat dengan Renata. Wajah Renata memucat mendengar kata-kata Ken, ia


tidak percaya kalau Reynold memiliki perasaan lebih padanya.


“Bagaimana dengan perasaan aunty Renata sendiri?”


tanya Ken.


“Apa maksudmu? Kamu kan tahu kalau aku tidak


menyukai kak Reynold. Maksudku suka dalam hal yang lebih dari sekedar tante dan


keponakan,” sahut Renata cepat.


Ken dan Kaori kompak menaikkan alisnya, Renata


tidak perlu menjelaskan sedetail itu sebenarnya. Mereka berdua juga sudah paham


kalau Renata hanya menganggap Reynold sebagai keponakannya saja. Kedekatan


mereka juga karena Renata tinggal juga di negara A untuk kuliah.


Renata menatap sebal pada Ken dan Kaori yang kompak


mengangguk kali ini. Ia merasa kalau mereka berdua meragukan kata-katanya. Ketika


Renata sibuk membuat Ken dan Kaori percaya pada apa yang dirasakan Renata


terhadap Reynold, pria yang sedang dibahas Renata itu baru saja sampai di rumah


Alex.


Reynold sebenarnya tidak ingin mengganggu Renata,


tapi ia tidak tahan kalau tidak bisa melihat wajah cantik Renata meskipun hanya


sebentar saja. Ketika Reynold menanyakan keberadaan Renata pada Mia, wanita


cantik itu memberitahu kalau Renata ada di kamar Kaori. Reynold segera menyusul


tapi ia mendengar sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman. Renata bicara


sedikit ngegas pada Kaori dan Ken,


“Aku nggak suka kalau kak Rey selalu ngikutin aku


kemana-mana. Aku nggak bebas pergi sama teman-temanku, padahal mereka baik sama


aku. Seolah kehidupanku tuch sudah diatur sama dia. Memangnya kak Rey mau terus


begitu. Dia juga sampai sekarang belum punya pacar yang beneran. Harusnya kan


sudah menikah. Sudah umur berapa sekarang,” kata Renata ngegas.


Reynold tidak jadi masuk ke kamar Kaori, ia memilih


mendekati meja makan dan duduk disana. Gadis yang melihat Reynold duduk


sendirian, menemani pria itu duduk di meja makan.


“Kenapa, Rey? Kayaknya bete gitu. Kamu udah makan


belum?” tanya Gadis.


Reynold tidak mengatakan apa-apa, ia bergerak


mendekat pada Gadis lalu memeluk wanita cantik yang sudah ia anggap seperti


mamanya sendiri itu. Gadis bisa merasakan ada sesuatu yang mengganggu pikiran


Reynold, meskipun pria itu tidak mengatakan apa-apa. Gadis mengelus kepala


Reynold dengan sayang,


“Cerita dong, sayang. Anak mama kenapa?” tanya


“Mah, kayaknya aku lagi patah hati dech,” sahut


Reynold lemes.


“Wah, siapa wanita yang beruntung itu? Kenalin sama


mama dong. Eh, tapi kenapa bisa patah hati? Kamu ditolak?” tanya Gadis.


Reynold meminta Gadis untuk merahasiakan


pembicaraan mereka itu. Akhirnya Gadis mengajak Reynold ke kamarnya agar mereka


bisa bicara dengan bebas.


**


Saat makan malam bersama di rumah Alex. Meja makan


langsung overload karena keluarga besar Alex berkumpul disana. Untung saja


pelayan dari rumah besar kakek Martin juga datang untuk membantu melayani makan


malam. Bahkan ada beberapa menu tambahan, makanan kesukaan Ken dan juga Alex.


Ken meminta pelayan dan kokinya memasak karena ia menginap di rumah Alex malam


itu.


Melihat Ken makan dengan lahap, Kaori hanya menatap


calon suaminya itu dengan pandangan sayang. Sesekali Kaori meminta Ken makan


lebih pelan atau dia akan tersedak. Melihat perhatian Kaori padanya, Ken


langsung menyuapi Kaori makan. Keduanya menampilkan kemesraan yang membuat iri


Reynold. Pria itu sempat melirik Renata yang asyik makan tanpa mempedulikannya.


Reynold akhirnya memilih duduk di ruang keluarga


menemani Roy dan Varrel yang masih asyik mencoba games terbaru yang diberikan


Ken. Padahal Reynold sama sekali belum makan sejak sampai di rumah Alex. Kedua


remaja yang sedang asyik bermain games itu sampai tidak mendengar panggilan Mia


yang meminta Roy dan Varrel untuk makan dulu.


“Kak Rey, tolong mainkan games-ku. Aku mau makan


dulu bentar. Jangan sampai mati ya,” kata Roy sambil menyerahkan stik-nya ke


tangan Reynold.


Reynold mengambil stik itu lalu melanjutkan


permainan yang sudah setengah jalan. Tentu saja Reynold sangat ahli dalam


mengendalikan dunia maya. Ia bisa melewati musuh-musuhnya dengan mudah. Tidak


sampai sepuluh menit, Reynold sudah berhadapan dengan raja terkuat.


Saat Reynold hampir memulai permainan lagi,


tiba-tiba ada yang menyodorkan sesendok nasi lengkap dengan lauknya ke hadapan


mulut Reynold. Tanpa menoleh, Reynold membuka mulutnya dan memakan nasi itu.


Mata Reynold tetap fokus menatap layar monitor di depannya.


“Ach, shit!” gumam Reynold ketika pemainnya


tertembak.


Untung saja tidak sampai mati, hanya saja meteran


darahnya sempat berkurang setengah. Reynold kembali konsentrasi, ia terus


membuka mulutnya menikmati makanan yang disuapkan entah oleh siapa. Reynold


sempat berpikir kalau itu Gadis. Dia akan mencium pipi Gadis kalau Reynold bisa


mengalahkan raja terkuat itu nanti.


Bukan hanya disuapi makanan, Reynold juga


mendapatkan suapan minuman dari gelas yang disodorkan padanya. Ia merasa sangat


gembira karena Gadis sangat perhatian padanya setelah curhatannya tadi. Reynold


sempat mengakui perasaannya pada seorang gadis, tapi Reynold tidak mau


menyebutkan nama Renata pada Gadis. Dan mama Gadis-nya itu mengangguk mengerti


dengan privasi Reynold.


Gerakan jemari Reynold semakin gencar menekan stik


di genggamannya. Ia tidak mau kalah sekarang dan berusaha mengungguli


permainan. Saat raja terkuat itu akhirnya kalah, Reynold langsung mengangkat


kedua tangannya. Ia menoleh dan seketika mencium seseorang yang duduk di


sampingnya.


Mata Renata terbelalak kaget begitu juga dengan


Reynold yang tidak menyangka kalau orang yang menyuapinya adalah Renata.


Reynold tidak sengaja mencium bibir Renata. Kalau saja gadis itu tidak


berpaling, Reynold hanya akan mencium pipinya saja. Tapi Renata menoleh saat Reynold


tiba-tiba menoleh juga dan langsung menciumnya.


Reynold langsung melepaskan ciuman mereka. Bukan


karena dia tidak suka, tapi Reynold takut kalau Renata akan berteriak dan


seseorang akan menyadari perbuatan Reynold barusan. Keduanya saling pandang


dengan wajah sama-sama terkejut. Reynold meletakkan stik di tangannya lalu


berdiri dengan cepat. Ia berjalan cepat keluar dari rumah Alex dan pergi dengan


mobil mewahnya. Tanpa mereka sadari, Ken merekam kejadian itu dengan ponselnya.


Renata segera tersadar dari rasa terkejutnya, ia


bangkit berdiri lalu membawa piring dan gelas kotor ke dapur. Sedikit melamun,


Renata mencuci piring dan gelas itu. Entah sengaja atau tidak, ia baru saja


berciuman dengan Reynold. Ciuman pertamanya yang ia harapkan dengan pria yang


ia cintainya, ternyata terjadi dengan Reynold.


“Gila, ini benar-benar gila. Tenang, Renata. Dia


tidak sengaja. Kak Rey tidak tahu kalau aku yang menyuapinya makan. Mungkin dia


kira aku ini kak Rara. Tapi kenapa dia mau nyium kak Rara?” gumam Renata di


dalam hatinya.


Bahkan sampai selesai makan malam, Renata masih


saja melamun. Pikirannya terus berulang-ulang seputar penyangkalan kalau


Reynold tidak sengaja menciumnya. Itu hanyalah sebuah kecelakaan. Lagipula, Reynold


juga langsung menjauh setelah ciuman itu.


Renata menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia memilih


duduk di gazebo sendirian daripada berkumpul dengan anggota keluarga yang lain.


Bayangan Reynold muncul di kepalanya seolah pria itu berdiri di hadapannya saat


ini.


“Aku bisa gila kalau terus begini. Aku harus


kembali kesini. Lupakan impian bisa kerja di perusahaan paling elit di negara


A, Renata. Kamu harus pergi, menjauh dari kak Rey. Kak Rara akan membunuhmu


kalau sampai tahu. Tidak, ini salah,” gumam Renata galau sendiri.


Disatu sisi, ia sangat dekat dengan Reynold karena


pria itu selalu membantunya, bersedia melakukan apa saja untuk membuatnya


bahagia. Tapi disisi lain, hubungan mereka adalah tante dan keponakan.


Sepertinya...