
DM2 – Kesedihan yang dalam
“Dokternya sebelah mana, mah?”tanya Gadis
dingin.
“Dokter yang biasanya di lantai 4. Tunggu,
mama bawa tas ini sekalian kita check out ya.”kata Mia.
Gadis menunggu Mia bersiap-siap, ia bahkan
tidak menyadari kalau Rio sudah tidak ada di kamar itu. Mereka keluar dari
kamar menuju lift lalu turun di lantai 4. Rio sudah berdiri di depan ruangan
dokter kandungan. Ia duluan turun untuk mendaftarkan Gadis untuk diperiksa
dokter. Rio mengulurkan tangannya pada Gadis, istrinya itu menerima uluran
tangan Rio tapi tidak terbit senyuman di bibirnya.
Mereka masuk ke ruang praktek dokter. Untuk
pertama kalinya Rio melihat calon anak kembar mereka. Ia tersenyum bahagia
bersama Mia, Gadis juga ikut tersenyum sambil mengusap-usap perutnya.
“Kondisinya normal. Ada keluhan?”tanya
dokter pada Gadis.
“Gak ada dokter.”
Dokter meminta Gadis datang lagi bulan
depan untuk melakukan pengecekan lagi. Mereka mengucapkan terima kasih pada
dokter sebelum keluar dari sana.
Dalam perjalanan pulang, Gadis kembali
tertidur. Ia sempat berpesan pada Mia ingin rujak lagi. Mia berhenti di pinggir
jalan tempat ia biasa membeli rujak. Ketika Mia keluar, Rio menatap Gadis yang
tertidur di kursi belakang.
“Kaori...”Gadis mengigau memanggil nama
Kaori. Air mata tampak menetes dari sudut matanya. Rio menghadap ke depan lagi,
tangannya mengepal menahan amarahnya.
Sampai di rumah Alex, Rio menuntun Gadis
turun. Gadis terbangun tepat saat Mia memarkir mobil Rio di garasi. Ketika
mereka masuk sampai ke ruang keluarga, mb Roh sedang bermain dengan bayi Kaori
disana. Gadis refleks mendekati bayi Kaori, ia merindukan bayi itu.
“Kaori sayang. Mama kangen banget. Anak
mama yang cantik. Kaori sayang.”kata Gadis di telinga Kaori.
Rio melihat bayi itu menatap kosong ke
depannya, ia tidak fokus melihat Gadis. Tapi mendengar suara Gadis yang lembut,
bayi Kaori mulai tergelak. Bayi itu bergerak sangat aktif menendang-nendang
dengan lincah. Gadis sangat senang melihat bayi Kaori meloncat-loncat menendang
lantai.
“Mb, apa Kaori sudah dikasi buah peras?”tanya
Gadis menggosokkan hidungnya ke punggung Kaori.
“Sudah mb. Sekarang nunggu dia ngantuk aja.”kata
mb Roh.
“Biar...”kata-kata Gadis terhenti ketika
melihat Rio masih berdiri di tempat semula. Ia melihat wajah Rio yang tidak
jelas ekspresi apa itu. Gadis mencium Kaori sekali lagi, sebelum
mengembalikannya pada mb Roh. “Mb, saya titip Kaori ya. Saya mau istirahat dulu
di kamar.”
Gadis menatap Kaori sebelum beranjak ke
lantai 2. Ia benar-benar tidak ingin melakukan apapun sekarang. Di kamarnya,
Gadis melihat mainan Kaori ada diatas tempat tidur. Ia mengambil mainan itu,
memeluknya sambil berbaring membelakangi pintu kamar.
“Gak pa-pa, ya nak. Kamu bisa kembali ke
mama Kinanti sama papa Endy. Mereka bisa menjagamu melebihi mama menjagamu.
Habis Rey pergi, kamu juga mau pergi. Semoga kamu selalu bahagia, Kaori.”ucap
Gadis sambil menciumi mainan Kaori.
Sore harinya, Gadis terbangun dari
tidurnya. Ia melihat sekeliling, kamar itu masih sepi. Rio entah ada dimana,
Kaori juga entah bersama siapa. Gadis beranjak turun ke lantai bawah, ia
melihat mb Roh sedang menemani si kembar yang sedang bermain di ruang tengah.
“Mb, Kaori mana?”tanya Gadis.
“Kaori dibawa keluar sama mb Mia sama mas
Rio, mb.”
Deg! Secepat ini Kaori dikembalikan ke
orang tuanya. Tanpa sadar Gadis menangis, ia merasa sedikit pusing dan perlahan
duduk di tangga.
kembar Rava dan Reva lebih dulu bangun mendekati Gadis.
“Kak Gadis kenapa nangis?”tanya Reva.
Gadis hanya menggeleng, ia mengeluh matanya
kelilipan sesuatu makanya nangis. “Jangan bohong, kak. Rava tau kakak lagi
sedih. Gak boleh bohong loh.”ucap Rava jitu.
Gadis hanya bisa memeluk adik iparnya itu.
Mb Roh mengambilkan air hangat berisi sedikit gula untuk Gadis.
“Mb Gadis makan dulu. Kasian bayinya di dalem
kelaparan.”ujar mb Roh mencoba bercanda.
Gadis mengangguk, ia menyeka air matanya
sebelum beranjak ke meja makan. Gadis makan dengan lahap, ia berusaha mengobati
rasa sedihnya dengan menjaga bayi dalam kandungannya. Setelah selesai makan,
Gadis mengambil es krim di kulkas, ia mencari rujak yang dibeli Mia tadi dan
mencampur keduanya.
Si kembar berjengit ketika melihat es krim
dicampur rujak yang dibawa Gadis ke dekat mereka. “Mau gak?”tawar Gadis.
“Itu gimana rasanya, kak?”tanya Rava.
“Enak loh. Ada pedesnya, asemnya, manis,
dingin, campur sari pokoknya.”kata Gadis menyuapkan sesendok besar es krim
rujak ke mulutnya.
“Gak takut sakit perut, kak?”tanya Reva
yang penasaran ingin coba tapi takut pedes.
Gadis menggeleng. Si kembar ngiler melihat
Gadis makan dengan nikmat. Mereka membuka kulkas mencari es krim yang tersisa.
Keduanya rebutan menghabiskan es krim dalam kotak penyimpanannya itu. Gadis dengan
isengnya mencolek es krim ke pipi si kembar. Keduanya kompak menggelitiki Gadis
tapi mb Roh cepat-cepat melarang mereka mengingat Gadis sedang hamil.
Bercanda dengan si kembar membuat Gadis
lupa sejenak pada kesedihannya. Ia tertawa bersama Rava ketika berhasil
mengerjai Reva. Mereka bermain kartu bersama dan yang kalah harus di olesi
bedak. Wajah Reva hampir penuh dengan bedak karena dia kalah terus. Ketika
akhirnya dia bisa menang, Reva melempar bedak ke wajah Rava dan Gadis.
Ketiganya kembali tertawa melihat wajah cemong satu sama lain.
Suara tawa Gadis terhenti saat mendengar
suara mobil masuk ke dalam garasi. Tubuh Gadis menegang menunggu siapa yang
sudah pulang. Alex muncul dari ruang tamu, ia tersenyum melihat wajah mereka
bertiga yang masih cemong bedak.
“Kalian ini lagi ngapain? Kenapa bisa
cemong gitu?”kata Alex yang akhirnya ikutan ketawa juga.
Suasana tambah rame saat Alex ikutan
bergabung. Kali ini Reva girang sekali karena bisa menang terus bermain kartu.
Alhasil wajah Alex juga ikutan cemong.
“Ach, udah ah. Papa mau mandi dulu. Eh,
mama mana?”tanya Alex pada anak dan menantunya.
“Tadi kata mb Roh keluar sama Rio sama
Kaori juga, pah.”kata Gadis sendu.
“Masih belum balik, toh. Lama banget sich.”kata
Alex sambil beranjak ke kamarnya.
Gadis sebenarnya penasaran dengan kemana
perginya Rio dan Mia. Dilihatnya Alex tidak khawatir sama sekali. Kalau memang
ke tempat Kinanti, berarti Alex juga sudah tahu tujuan Rio kesana. Tiba-tiba
Gadis merasa sedih luar biasa. Ia beranjak ke lantai 2 untuk mandi sore,
setelah meminta si kembar untuk mandi juga.
Di dalam kamar mandi, Gadis berdiri di
bawah shower. Ia menghidupkan air hangat yang langsung mengguyur tubuhnya. Perutnya
terasa tidak nyaman dan sedikit nyeri. Gadis menangis lagi, ia tidak sanggup
menahan perasaannya.
“Aarrggghhh!! Hiks... Hiks...”Kucuran air
shower meredam teriakan Gadis. Ia ingin menghabiskan air matanya saat itu juga
agar tidak lagi menangis setelah Rio datang nanti.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.