
Kaori
menimbang sesuatu dan membuka pintu lebih lebar. Rio menatap sekeliling kamar
yang tidak terlalu besar tapi sangat nyaman. Ada ranjang di sudut kamar yang cukup
untuk dua orang tidur. Rio masuk ke dalam kamar Kaori, ia memperhatikan semua
detail yang ada pada kamar itu.
Kaori :
“Aku mandi ya. Jangan berantakin kamarku.”
Rio :
“Iya, bawel.”
Rio
melirik Kaori yang masuk ke kamar mandi sambil membawa handuk bersih. Mata Rio
menangkap sebuah foto di tumpukan buku diatas meja. Ia menarik foto itu dan tersenyum
melihat itu foto dirinya dan Kaori saat mereka selfie di ruang keluarga rumah
Rio. Kaori tersenyum manis menatap kamera, sedangkan Rio mendekatkan wajahnya
ke pipi Kaori.
Rio :
“Jadi kamu nyetak foto ini.”
Rio
duduk di atas ranjang Kaori, ia berbaring disana dan memejamkan matanya. Entah
berapa lama Kaori didalam kamar mandi. Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka, Kaori
keluar dari sana hanya berbalut handuk. Ia melihat Rio tidur diatas tempat
tidurnya.
Kaori :
“Dia malah tidur. Kasian, pasti capek banget bolak-balik kayak tadi.”
Kaori
membungkuk disamping tempat tidurnya dan mencium kening Rio. Ia berjalan ke
lemarinya mau pakai baju, tapi tangan Rio menarik tangan Kaori hingga jatuh
diatas tubuh Rio.
Kaori :
“Rio!”
Rio :
“Kalo mau nyium bukan disitu, tapi disini.”
Kaori
tidak bisa bergerak karena Rio membelenggunya dengan erat. Rio mencium bibir
Kaori tapi tangannya tetap diam di pinggang Kaori.
Rio : “Kamu
tuch ya. Ada aku disini bukannya pake baju, malah deket-deket.”
Kaori :
“Aku kan cuma...”
Rio : “Cepetan
pake baju sana, ntar aku keburu khilaf.”
Rio
melepaskan pelukannya pada Kaori dan membalik tubuhnya menghadap ke tembok.
Kaori mendengar bunyi perut Rio saat ia mulai membuka lemari dan memakai
pakaiannya disana. Kaori yakin Rio tidak akan berbalik sampai Kaori
memanggilnya.
Kaori :
“Kamu laper?”
Rio :
“Iya. Ada makanan gak?”
Kaori :
“Coba aku lihat ke dapur ya.”
Rio
membalik tubuhnya, ikut keluar dari kamar menuju dapur. Kaori membuatkan mie
rebus untuk mereka makan malam itu.
Kaori
memperhatikan Rio yang menghabiskan mie di mangkuknya dengan cepat dan langsung
menghabiskan minum di gelasnya.
Kaori :
“Kamu mau lagi?”
Rio :
“Aku mau yang lain...”
Kaori :
“Apa?”
Rio :
“Kamu...”
Kaori
tersenyum manis, ia membawa piring kotor ke tempat cuci piring. Rio
memperhatikan Kaori yang sedang mencuci piring. Dengan keadaan mereka sekarang,
masih kuliah dan belum punya pekerjaan tetap. Pasti akan sulit sekali kalau
sampai mereka menikah diusia muda.
Rio :
“Kaori, gimana kalau seandainya aku khilaf?”
Kaori :
“Kamu gak mungkin khilaf. Aku tahu karena kamu sangat mencintaiku.”
Rio :
“Ya, kita sama-sama belum kerja. Masa nikah tapi ngandelin orang tua.”
Kaori :
“Makanya kamu sabar. Cepet lulus kuliah, cepet cari kerja. Trus nikah.”
Rio :
“Sama kamu kan?”
Kaori :
“Iya.”
Rio
tersenyum. Keduanya saling menatap di dapur Kaori dan saling berjanji akan
selalu bersama selamanya.
*****
Lili
mandi sambil menyiapkan pakaian ganti untuknya. Setelah Riri selesai mandi, ia
meminta Lili untuk memanggil Elo agar mandi dulu.
Riri : “Kamu
juga bisa mandi dulu, Lili.”
Lili : “Baik,
nona.”
Lili
berjalan menuruni tangga dan mendengar suara tawa dari dalam ruang santai. Ia
mendekat kesana dan mendapati Elo bersorak karena bisa mengalahkan Dion.
Lili :
“Tuan muda, nona memanggil anda.”
Elo : “Riri
sudah selesai mandi?”
Lili : “Sudah,
tuan. Saya permisi.”
Lili
keluar dari ruang santai setelah Elo keluar lebih dulu, sama sekali mengabaikan
Dion sepenuhnya. Ia berjalan ke arah kamarnya untuk mandi dan ganti pakaian
sebelum menemui Riri lagi.
Rumah di
belakang rumah besar memang khusus untuk tempat tinggal pelayan wanita. Untuk
bodyguard, sopir, dan pelayan pria, disediakan tempat di dekat garasi bagian
depan rumah. Sengaja dipisahkan untuk menjaga kenyamanan pelayan wanita. Dan
ada larangan untuk pria masuk ke dalam sana kecuali Pak Kim. Karena itu Lili
menarik Dion masuk ke dalam kamarnya saat pelayan wanita yang lain hampir
memergoki mereka.
Lili
masuk ke kamar mandi umum untuk pegawai. Ia bergegas mandi dan ingin memakai
pakaiannya, tapi karena terburu-buru ia lupa membawanya. Lili mengintip keluar
kamar mandi, lorong cukup sepi karena beberapa pelayan sudah selesai mandi dan
sedang mempersiapkan makan malam.
Lili
keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk kecil yang menutup setengah bagian
dada sampai pangkal pahanya. Saat ia hampir sampai di depan kamarnya, Lili tergelincir
lantai basah. Ia hampir jatuh kalau seseorang tidak menangkapnya.
Lili : “Ma...
makasih... kau!!”
Lili
berdiri dengan cepat setelah melihat siapa yang menangkapnya. Ia masuk ke dalam
kamarnya dan hampir menutup pintu. Tapi Dion menahan pintunya. Lili menahan
nafasnya saat Dion masuk ke kamarnya dan menutup pintu di belakangnya.
Dion
menatap Lili dengan intens, kulit tubuh Lili yang lembab sehabis mandi dan
wangi sabun dari tubuhnya yang barusan Dion rasakan. Wajah merah merona dengan
rambut yang basah sebagian, bentuk tubuh yang ramping yang biasa terbungkus
seragam hitam.
Dion
tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh Lili yang mulai gemetar di
depannya. Lili melihat selimut diatas tempat tidurnya, ia bergerak mengambil
selimut itu. Tapi saat ia hampir berhasil, Dion sudah mendorongnya hingga jatuh
ke tempat tidurnya sendiri.
Lili : “Aach...”
Tangan
Lili bergerak cepat mengambil bantal untuk menutupi tubuhnya. Dia menelan salivanya
saat Dion bergerak naik ke atas tempat tidurnya. Mengukungnya dengan kedua
tangan dan kakinya.
Lili : “Jangan
dekat. Kamu mau apa?”
Sungguh
Lili tidak berani berteriak, ia tidak ingin Dion kena hukuman karena melanggar
peraturan. Tapi ia takut juga karena Dion terus merangsek tubuhnya yang minim
penutup tubuh.
Lili : “Dion...
keluar dari kamarku.”
Tangan
Dion terangkat menarik kedua tangan Lili hingga tangan Lili tertahan tangan
Dion diatas kepalanya. Lili meronta, mencoba menarik tangannya yang ditahan
Dion.
Lili : “Dion,
lepasin tanganku. Tolong...”
Dion : “Kau
harus dihukum.”
Dion
menurunkan hoodie-nya. Lili menatap ngeri saat Dion yang semakin mendekat
padanya. Bukan karena takut melihat wajah buruk Dion, tapi karena takut Dio
akan melakukan sesuatu padanya.
Lili : “Apa
salahku?”
🌻🌻🌻🌻🌻
“Salahmu? Kamu gak vote & like novel ini.” Kata
Dion.
Author kehilangan kata-kata gak tau lagi gimana
caranya ngasi tau Dion jangan maksa.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).