Duren Manis

Duren Manis
Menyelinap


Alex mendesah dengan nafas ngos-ngosan, ia baru selesai ‘berolahraga’


dibawah guyuran shower, kepalanya mendongak keatas membayangkan tubuh Mia


menari diatasnya. Lagi-lagi Mia berhasil membuatnya bergairah dan terpaksa


menuntaskannya di kamar mandi. Kalau saja Mia mau jadi istrinya, gadis manis


itu tentu akan habis dilahapnya.


Alex keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk, ia mengeringkan


rambutnya memakai handuk kecil. Tangannya menyingkap tirai di kamarnya dan


matanya kembali melotot melihat tubuh Mia yang basah. Tepat saat itu Mia baru


keluar dari kolam renang, ia mengibaskan rambutnya mengurangi air yang mengalir


dari rambut panjangnya.


Tangan Alex dengan cepat mengambil HP dan mulai memotret Mia yang


seksi. Seperti tahu sedang di foto, Mia berpose beberapa kali seperti model


papan atas. Alex menelan salivanya yang hampir menetes ke lantai. Kali ini dia


mengambil handuk dan membungkus tubuhnya. Rara, Mario dan Marie juga ikut naik


ke pinggir kolam. Mereka berjalan ke kamar masing-masing.


Alex segera memakai pakaiannya, mereka akan makan malam di salah satu


restaurant di kota. Tempatnya dekat dengan taman kota yang penuh dengan


permainan untuk anak dan dewasa.


-------


Malam itu Mia memakai dress pendek dengan sepatu kets yang


memperlihatkan kaki indahnya. Rara dan Marie juga kompak memakai dress yang


mirip. Mereka naik ke mobil yang dikemudikan Alex menuju restaurant.


Sampai disana, Alex meminta meja untuk 6 orang dan diantarkan ke


bagian belakang restauran yang didesain dengan lampu taman memberikan kesan


romantis. Dari sana mereka bisa melihat taman kota dan berbagai permainan untuk


anak-anak dan dewasa.


Pelayan restauran menuliskan semua pesanan mereka dan segera


menyiapkannya.


Mario : “Habis ini kita kesana, ya pah.”


Alex : “Iya, tapi jangan lari-lari ya. Takutnya misah.”


Rara : “Rio kalau gak nurut gak boleh kesana.”


Mario terdiam, ia memang sedikit takut dengan kakak perempuannya ini.


Pesanan mereka mulai berdatangan, mereka makan sambil


berbincang-bincang. Mia memperhatikan di bawah bibir Alex ada sambal yang


tertinggal, ia melirik Rara yang sibuk membantu Marie dengan seafood-nya,


sementara nenek membantu Mario.


Mia : “Om, itu ada sambal.” Mia menunjuk bawah bibirnya sambil menatap


Alex.


Alex : “Apa? Kenapa?” Alex kebingungan karena suara Mia yang kurang


jelas.


Akhirnya Mia mengambil tissue dan mengusap bawah bibir Alex. Refleks,


Alex memegang tangan Mia. Keduanya saling menatap, tidak mempedulikan suasana


restauran yang ramai.


Nenek : “Eehheemm…”


Mendengar suara nenek, Mia buru-buru melepas tangannya yang dipegang Alex.


Pura-pura tidak terjadi apa-apa, padahal dadanya berdetak sangat kencang. Bahkan


Alex sempat bengong sebentar, dan langsung melanjutkan makannya.


Selesai dengan menu utama, dessert mulai berdatangan. Mario menepuk


perutnya yang kekenyangan, ia belum bisa bergerak dan memilih memainkan HP-nya.


Sementara Mia pergi ke toilet, Alex ingin mengikutinya,


Alex : “Papa ke toilet sekalian bayar ya. Kalian kalau mau ke taman,


pergi saja duluan. Nanti papa nyusul.”


Mereka mengangguk-angguk, Alex dengan cepat berjalan ke kasir, tadi ia


berpesan agar bill-nya langsung disiapkan setelah dessert datang. Alex menatap


keluarganya yang mulai berjalan ke arah taman kota, ia segera menyelesaikan


pembayaran dan menyusul Mia di toilet.


Gadis manis itu baru saja keluar dari toilet saat seseorang menarik


tangannya,


Alex : “Mia…”


Mia : “Om? Kok disini? Yang lain kemana?”


Alex : “Mereka sudah duluan ke taman, kita jalan lewat sini ya.”


Alex masih menggenggam tangan Mia, berjalan melalui sisi samping


restauran, menjauhi taman kota.


Mia : “Om, kita mau kemana?”


Alex : “Mia, bisa gak jangan panggil om. Coba panggil namaku.”


Mia : “Tapi, om…”


Alex tiba-tiba berbalik, mendesak Mia ke pepohonan di dekat sana. Tangan


Alex menarik pinggang Mia, membuat Mia sangat terkejut.


Alex : “Panggil namaku, cepat… atau…” Tangan Alex menyusuri paha Mia,


membuat gadis itu melenguh,


Mia : “A… Alex… jangan…”


Alex : “Katakan lebih keras..!”


Mia : “Alex…!”


Tubuh Mia mulai gemetar, ia tidak kuat menahan hasrat yang muncul


karena perlakuan Alex. Alex semakin mempererat pelukannya, mencium leher Mia


dan hampir menggigitnya kalau Mia tidak mendorong kepalanya.


Mia : “Om, jangan… Nanti dilihat orang…”


Alex : “…”


ciuman itu, mengalungkan tangannya di leher Alex.


Mia benar-benar sudah jatuh cinta sampai lupa dengan status mereka


yang belum jelas, sementara Alex sibuk menghisap bibir manis Mia, lupa dengan


keluarganya yang kebingungan menunggu mereka.


-------


Mereka baru kembali ke hotel setelah puas bermain,


Rara : “Kak Mia beneran gak pa-pa?” Rara memperhatikan bibir Mia yang


bengkak dan sedikit berdarah dibagian bawahnya.


Mia : “Iya, beneran gak pa-pa. Nanti juga hilang bengkaknya.”


Alex yang mendengarnya mulai senyum-senyum gaje, ia yang harusnya


bertanggung jawab atas kondisi Mia sekarang.


-------


Flash back---


Alex melepaskan ciumannya setelah menggigit bibir Mia yang langsung


mengaduh,


Mia : “Adduch…! Om, kenapa digigit… sshhh… sakit nich.”


Alex : “Aku gemes sama kamu, mau makan kamu…”


Mia : “Iihh… bibirku jadi jontor, om. Tanggung jawab nich.”


Alex : “Kamu juga harus tanggung jawab…”


Mia : “Kenapa…?” Mia bingung kenapa harus dia yang tanggung jawab.


Alex : “Siapa suruh kamu manis.”


Kata-kata Alex membuat wajah Mia semakin merah. Mereka berjalan


kembali ke taman kota, mencari yang lainnya. Saat bertemu, Rara terkejut


melihat kondisi bibir Mia yang bengkak,


Rara : “Kak Mia, kenapa?” Rara memperhatikan lekat-lekat bibir Mia.


Alex : “Tadi gak sengaja papa tabrak waktu ke toilet, jadinya kebentur


pintu dech. Maaf ya, Mia.”


Mia : “…” Ingin sekali Mia menginjak kaki Alex saat itu, dengan


mudahnya ia melepaskan tanggung jawab ke pintu toilet. Bikin orang geregetan


aja.


Nenek : “Uda diobatin? Kamu gimana sich, Lex. Kok gak hati-hati.”


Alex : “Ya maaf, namanya gak sengaja…”


Alex mengalihkan wajahnya menahan tawa, melihat kelakuan anaknya,


nenek tahu kalau tadi Alex melakukan sesuatu pada Mia.


Nenek : “Kita kembali saja ya, nanti kita kompres lagi di hotel.”


---Flash back end


-------


Mia menekan kompres es ke bibirnya yang bengkak, ia sudah ganti baju


dengan piyama tidur yang kalau Alex lihat, pasti langsung khilaf.


Rara : “Kak, besok kita kemana lagi ya?”


Mia : “Memangnya papamu gak bilang kita mau kemana?”


Rara : “Gak tuch…”


Tok, tok, tok… pintu kamar mereka diketuk seseorang, Rara berjalan


membuka pintu,


Alex : “Nich, papa bawain obat buat Mia…”


Alex menyerahkan obat ke Rara yang langsung membaca cara pakainya. Mata


Alex melotot melihat penampilan Mia yang saat itu sedang berdiri, mengikat


rambutnya ke atas, dengan bibir bengkak yang menggigit kompres es. Piyama


tidurnya tidak mampu menutupi semua lekuk tubuhnya, hanya bagian tertentu saja


yang tertutup dengan baik.


Tanpa sadar Mia bergerak menggoda Alex, menundukkan sedikit badannya,


membuat paha mulusnya terlihat jelas, ia juga memutar tubuh mencari karet yang


terjatuh dan membungkuk untuk mengambilnya.


Tanpa bilang apa-apa, Alex melesat menuju kamarnya, meninggalkan Rara


yang kebingungan di depan pintu kamar.


Mia : “Apa itu, Ra?”


Rara : “Obat buat kakak, papa kenapa sich? Pergi gitu aja.”


Mia : “Kebelet kali, coba sini lihat obatnya.”


Mia mengoleskan obat itu ke bibirnya yang bengkak dan merangkak ke


tempat tidur, dimana Rara sudah berbaring duluan disana. Rara seperti teringat


sesuatu dan mengetik chat di HP-nya.


Rara : “Lupa nanya sama papa, besok kita mau kemana. Aku chat papa


dulu ya, kak.”


Mia : “Hmmm.. aku tidur duluan ya, Ra.”


Suara notif chat di HP Alex berbunyi, tapi yang punya sedang sibuk


mengerang di kamar mandi. Untung saja, Mario memilih tidur bersama neneknya,


sehingga Alex dikamar sendirian.


Alex : “Shit! Aku mau lagi…” Sedikit putus asa, Alex menatap bagian


bawah tubuhnya yang tidak mau tidur juga. Bayangan tubuh Mia tidak mau pergi


dari otak mesumnya.


-------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini,


jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan


IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------