Duren Manis

Duren Manis
Extra part 41


Extra part 41


Usai makan malam yang cukup singkat, Keira mengikuti


Bilar masuk ke kamarnya. Keira melirik tempat tidur yang lebih rendah dari


tempat tidur standar pada umumnya. Koper besar Keira sudah diletakkan di sudut


ruangan.


“Bilar, aku tidur di sofa aja ya. Kamu tidur di


sana,” kata Keira menunjuk tempat tidur.


Bilar tidak mengatakan apa-apa, Keira segera


mengganti pakaiannya dengan piyama tidur, di kamar mandi. Keluar dari kamar


mandi, Keira melihat diatas sofa sudah tergelar bedcover tebal dan juga bantal.


Sedangkan Bilar sudah berbaring tengkurap diatas tempat tidurnya.


Keira tersenyum lega, ia duduk di sofa hangat itu


lalu menyisir rambut panjangnya. Perhatian Keira teralihkan ke jendela besar


yang terletak di sisi lain sofa itu. Keira ingin melihat lagi pemandangan


dibawah sana. Sambil melirik Bilar yang masih berbaring, Keira melangkahkan


kaki jenjangnya mendekati jendela besar.


“Wow...,” gumam Keira mengagumi ciptaan-Nya.


Pemandangan seluruh villa jelas terlihat dari jendela


itu. Ada kolam renang dibawah sana dan sepertinya ada mini bar juga lengkap


dengan peralatan untuk barberque.


“Pasti menyenangkan kalau bisa bersenang-senang


seharian disini,” gumam Keira.


Gadis itu merenggangkan tubuhnya dan pinggangnya


tiba-tiba dipeluk dari belakang. Bilar terbangun ketika melihat bayangan Keira


di dekat jendela besar. Keduanya saling menatap sebelum kembali berciuman.


**


Keesokan paginya, pintu kamar Bilar diketuk


seseorang. Pelayan menunggu sebentar, tapi pintu kamar tidak kunjung terbuka.


Akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Bilar dan masuk ke


dalam sana. Pelayan itu membawakan sarapan pagi untuk kedua insan yang bahkan


belum bangun itu, lalu meletaknya di atas meja.


X juga ada disana bermaksud melihat apa yang mereka


berdua lakukan. Bianca sudah tahu kalau Bilar menculik Keira dari bandara dan


membawanya ke villa pribadi mereka. Seharusnya Bianca yang langsung melabrak


keduanya, tapi X meyakinkan Bianca kalau tidak akan terjadi apa-apa meskipun


mereka bersama.


X memberi tanda pada pelayan untuk keluar dari


kamar Bilar. Ia melirik Keira yang tertidur di sofa, berbalut selimut tebal.


Sementara Bilar tidur di tempat tidurnya. X tersenyum setelah mengambil foto


keduanya dan mengirimkannya pada Bianca.


“Nyonya, mereka tidur dalam satu kamar tapi berbeda


tempat.” Ketik X menyertai foto itu.


Semalam setelah keduanya berciuman panas sekali


lagi, Keira mendorong Bilar ke atas tempat tidurnya dan menyelimuti pria itu. Ia


mengucapkan selamat malam dan menunggu sampai Bilar tertidur. Lalu, ia sendiri


masuk ke dalam bedcover diatas sofa dan tertidur disana sampai pagi.


“Keira...,” panggil X.


“Hmm...,” sahut Keira yang baru terbangun. Gadis


itu merenggangkan tubuhnya sebelum memicingkan matanya melihat X.


“Pagi, om. Om???!!!!” jerit Keira panik sambil melihat


ke seluruh penjuru kamar. Ia jadi parno mengira Bianca juga ada disana.


“Nggak ada Nyonya Bianca. Tenang, Kei.” X berusaha


menenangkan Keira.


Keira bernafas lega, ia melihat sarapan hangat


diatas meja. X meminta Keira untuk sarapan dulu sebelum mengantar Keira pulang.


Keira mengatakan kalau ia belum mau pulang sebelum Bilar bisa memahami kalau


mereka tidak bisa bersama.


“Aku mau tunggu Bilar bangun, om. Aku nggak mau


diculik lagi kayak gini,” kata Keira sambil menatap kearah Bilar yang masih


tidur.


“Biar om yang bicara sama Bilar. Kamu lebih baik


pulang dulu. Kapan kamu berangkat lagi, Kei?” tanya X.


“Aku nunggu Reynold ngirim jet pribadinya, om.


Lumayan perjalanan gratis. Mungkin minggu depan. Tapi om bisa jamin kalau aku


nggak akan diganggu Bilar lagi?” tanya Keira.


“Om akan coba bicara. Kalau dia berani berbuat ini


lagi, nanti om yang urus,” kata X.


Keira tidak melawan lagi, sudah ada jaminan dari X


kalau Bilar tidak akan berbuat seenaknya lagi pada dirinya. Setelah Keira sarapan


dan mengganti pakaiannya, X meminta sopir mengantar Keira pulang. Meskipun


berat meninggalkan Bilar tanpa bicara pada pria itu, setidaknya Keira sudah


berusaha untuk memberi pengertian pada Bilar.


**


Hari-hari tenang pun mulai dirasakan Keira tanpa


rasa waswas diculik Bilar lagi. Reynold sudah mengatakan kalau ia akan mengirimkan


pesawat jetnya dalam beberapa minggu lagi. Sambil menunggu, Keira lebih banyak


menghabiskan waktunya untuk menemui teman-teman dan juga pulang ke rumah Jodi


untuk mengobrol dengan Pak Jang.


Siang itu, Keira memutuskan untuk pergi ke mall. Ia


ingin memotong rambutnya dan melakukan perawatan di salon langganannya. Setelah


mengunci apartmentnya, Keira segera masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Saat


baru sampai di parkiran apartment-nya, Keira melihat sesuatu yang tidak ia duga


sebelumnya.


Bianca tampak berjalan menuruni tangga dan


sepertinya ingin melabrak dirinya. Pandangan Bianca fokus menuruni anak tangga,


berpikir cepat, apalagi yang ingin dilakukan mama Bilar kali ini. Padahal ia


sudah tidak pernah berhubungan dengan Bilar lagi. Keira memutuskan menghadapi Bianca.


Ia tidak perlu takut karena dirinya tidak bersalah.


Tiba-tiba beberapa orang yang memakai penutup


wajah, mendekati Bianca dan menyeret wanita paruh baya itu kembali ke jalan


besar. Keira tertegun, otaknya blank seketika. Itu peristiwa penculikan. Bianca


sedang diculik seseorang.


Tanpa pikir panjang lagi, Keira berlari mendekati Bianca


dan beberapa orang pria yang terus menarik tangan dan tubuhnya. Bug! Keira


menerjang salah satu dari pria yang paling dekat dengannya. Heels yang dipakai


Keira sukses membuat tangan pria itu terluka.  Ketika pria dihadapannya lengah, Keira dengan


cepat memelintir tangan pria itu dan mendorongnya hingga jatuh terguling ke


bawah tangga.


Masih ada dua orang lagi yang menarik Bianca ke


dekat mobil van yang pintunya sudah terbuka di pinggir jalan. Keira mengejar


salah satu dari mereka lalu mengalungkan tali tasnya ke leher pria itu. Terjadi


tarik-tarikan antara Keira dengan pria itu. Tangan Keira terulur menjewer


telinga pria itu sampai terbungkuk-bungkuk dan sebuah tendangan lutut Keira langsung


menghajar rahangnya.


Keira meringis kesakitan karena lututnya terasa sakit.


Satu orang lagi yang masih menarik-narik Bianca. Mobil van itu sudah hampir


berjalan karena Bianca sudah hampir didorong masuk ke dalam mobil. Keira


melepas heels-nya lalu memakai ujung tajam heels itu untuk memukuli pria yang


mendorong Bianca masuk ke dalam mobil.


“Tolong! Tolong!” jeritan Bianca yang sejak tadi


tertahan tangan pria itu mulai terdengar.


Bug! Keira terlempar ke samping karena ditendang


pria yang tadi ia tendang rahangnya. Gadis itu sangat kuat dan keras kepala, ia


masih bisa bangun dan kembali menyerang dengan heels-nya. Kali ini Bianca juga


ikut melawan dengan memakai sepatunya.


Tangan pria yang mendorong Bianca terangkat keatas


siap memukul Bianca. Keira yang melihat hal itu, refleks mendekat dan menjadi


tameng untuk Bianca. Plak! Tamparan keras mengenai pipi kiri Keira. Gadis itu


langsung merasakan pusing berkunang-kunang.


Pertolongan dari Keira cukup memberi waktu untuk


bodyguard Bianca datang dan menolong mereka berdua. Keira hampir jatuh kalau


Bianca tidak menahan tubuh gadis itu.


“Keira!” panggil Bianca, tapi gadis itu tidak bisa


fokus melihat kemana pun. Kepalanya sangat pusing sampai akhirnya Keira pingsan


di pelukan Bianca.


Keributan yang terjadi di depan apartment Keira,


menarik perhatian sekuriti dan orang-orang yang kebetulan lewat. Beberapa orang


yang mendekat malah merekam peristiwa itu tanpa niat untuk menolong. Mobil van


yang hampir membawa Bianca, akhirnya menabrak pembatas jalan. Sementara


orang-orang yang tadi menarik Bianca, hanya tersisa dua orang yang bisa


ditangkap.


Didalam video itu tampak Bianca sedang berusaha


membangunkan Keira yang pingsan. Ia meminta pertolongan untuk membawa Keira


masuk ke mobilnya.


**


Bianca sudah duduk di sofa ruang keluarga di rumah


mewahnya. Seorang dokter dan suster tampak sedang memeriksa luka lebam di


lengannya. Ilham yang juga sudah datang, tampak sedang bicara dengan X.


Siang itu, Bianca sebenarnya ingin menemui Keira


lagi. Ia ingin memastikan tentang kepergian Keira keluar negeri.


Tanpa ia duga, mobilnya sudah diikuti sejak keluar


dari rumah. Para penculik itu memang mengincar Bianca sejak awal. Ayah Bianca


adalah salah satu ketua dari organisasi besar yang bergerak di dunia hitam.


Sepertinya kali ini saingan ayah Bianca ingin menculik Bianca untuk mengancam


ayahnya.


“Mohon maaf, Nyonya. Saya sudah menghukum body guard


yang teledor menjaga Nyonya,” kata X sambil membungkuk di depan Bianca.


“X, gimana keadaan Keira?” tanya Bianca yang lebih


kuatir pada gadis itu.


“Dokter sudah memeriksanya, Nyonya. Nona Keira


mengalami shock karena terkena pukulan yang cukup keras di pipinya. Untuk saat


ini masih belum sadar,” jelas X untuk yang kedua kalinya.


Bianca sudah bertanya ketika dokter selesai


memeriksa Keira dan kemudian memeriksanya. X tersenyum melihat Bianca sangat mengkuatirkan


Keira.


“Nona Keira akan baik-baik saja, Nyonya. Silakan


Nyonya beristirahat dulu,” kata X sambil mempersilakan Bianca istirahat di


kamarnya.


Ilham membantu Bianca masuk ke kamar mereka. Sementara


X kembali mengecek bawahannya yang sedang menjalani hukuman.


**


Keira tersadar dari pingsannya, ia ingin membuka


matanya tapi kepalanya terasa sangat sakit. Pipinya juga terasa sakit. Masih


memejamkan matanya, Keira mencoba mengingat peristiwa yang terjadi sebelumnya.


Terakhir kali yang ia ingat hanyalah pria berbaju hitam yang mengayunkan


tangannya.


“Akh...,” lirih Keira kesakitan. “Kenapa sakit


banget?”