Duren Manis

Duren Manis
Sedih atau senang


Sedih atau senang


Elo mengambil ponsel Riri dan mem-block nomor yang mengirimi Riri chat permintaan tolong dan foto lain Elena yang babak belur. Ia mengirimkan screen shot nomor itu dan mengirimkannya ke nomornya sendiri.


Elo : “Bahkan sejauh ini, masih aja ganggu. Yank, kamu capek?”


Riri : “Nggak. Kenapa?”


Elo : “Lagi ya.”


Riri : “Mas, nich. Liat jam berapa itu. Cepat tidur.”


Elo memasang wajah cemberut yang menggemaskan, Riri tersenyum dan mencubit kedua pipi Elo hingga bibirnya dower.


Riri : “Bobok ya, sayangku. Besok lanjut lagi.”


Elo : “Iya, sayang.”


Riri mengelus-elus punggung Elo agar suaminya bisa tidur lebih cepat. Ia masih memikirkan keadaan Elena dan apa maksud  Elena mengirimkan chat padanya.


*****


Satu setengah bulan kemudian,


Gadis bangun dengan malas, ia melirik jam di ponselnya, sudah hampir jam 11 siang. Hari ini ia ijin pada Alex karena merasa tidak enak badan. Sudah sebulan belakangan ini ia merasa cepat sekali lelah, terutama setelah pulang bekerja.


Gadis memutuskan untuk kost di belakang kantor Alex karena kondisinya itu. Ia bisa berjalan kaki sebentar ke kantor Alex karena jaraknya sangat dekat. Lagipula, ia bisa beristirahat lebih cepat dan bangun


pagi lebih santai.


Gadis : “Aduch, lapar. Makan apa ya, enaknya.”


Hummpphh. Hummmpphh. Gadis memegangi perutnya yang terasa mual. Ia mengambil minyak kayu putih yang hampir habis isinya. Dioleskannya minyak itu ke perut dan pundaknya. Gadis merasa lebih baik setelah bau minyak kayu putih masuk ke hidungnya.


Gadis : “Sepertinya aku harus ke dokter. Tapi malas sekali mau kemana-mana.”


Sebuah kalender dengan banyak coretan, menarik perhatian Gadis. Ia juga mencatat jadwal penting di kalender itu. Iseng, Gadis melihat catatan datang bulannya dan tidak menemukan catatan itu bulan lalu.


Seharusnya ia sudah mendapatkan datang bulannya di tanggal sekerang.


Deg! Jantung Gadis berdebar kencang. Ia mengingat kembali malam tragis saat Rio merampas kehormatannya. Wajahnya pucat seketika, ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi pesan antar dan meminta dibelikan 3 jenis test pack.


Seorang ojol mengetuk pintu kamar kost-nya setelah ia menunggu 20 menit. Gadis membuka pintu dan mengucapkan terims kasih. Ia cepat-cepat membuka bungkusan itu. Gadis membaca setiap petunjuk cara pakai testpack dan membawa masuk sebuah wadah kecil ke toilet.


Gadis menarik nafas berat, ia sudah duduk di depan meja dengan wadah kecil berisi air seninya beralaskan tisu basah. Ia mengambil salah satu test pack dan mencelupkan sesuai petunjuk. Gadis meletakkan test


pack itu di atas tisu dan menunggu.


Test pack itu menunjukkan satu garis merah yang sangat jelas. Gadis masih menunggu sambil membolak-balik petunjuk di tangannya. Saat ia menoleh lagi melihat test pack itu, garis merahnya sudah jadi dua. Gadis


melanjutkan menggunakan dua test pack berikutnya dan hasilnya sama saja.


Huummpphh. Hummmpphh. Hoeekk. Gadis memuntahi lantai kamarnya, ia mengelap bekas muntahannya dengan tisu. Tangannya gemetar merasakan ketakutan yang amat sangat besar. Air mata Gadis mulai jatuh


membasahi lantai yang sudah bersih kembali. Dia bingung harus merasa bahagia atau malah sedih.


Gadis bimbang apa harus memberitahu Rio atau tidak. Peristiwa tragis itu masih membekas di benaknya, membuatnya sesak nafas setiap kali mengingat rasa sakit yang ia alami malam itu. Bahkan saat Rio menatapnya dengan pandangan jijik membuat Gadis ingin muntah lagi.


Gadis : “Kenapa aku bodoh sekali?!!”


Gadis memeluk lututnya, ia memukul-mukul tubuhnya sendiri sambil memaki dirinya sangat bodoh. Ia tidak hanya terlalu lemah hingga Rio bisa merenggut kehormatannya dan juga terlalu bodoh untuk mencari tahu


Gadis : “Aku harus gimana sekarang?”


*****


Rio menyelesaikan semua pekerjaan yang seharusnya dikerjakan


Gadis karena gadis itu tidak masuk kerja. Ia mengkerutkan keningnya melihat


banyaknya pekerjaan Gadis. Semuanya ia catat dengan baik, tersusun dengan rapi.


Siapapun yang menggantikannya akan merasa lebih mudah melanjutkan pekerjaan


Gadis.


Rio memperhatikan kalender meja di depannya.


Kalender itu penuh dengan coretan. Hari ini tercatat ada 3 meeting untuk Alex


dan sekarang Alex sedang meeting yang kedua. Rio membolak-balik kalender itu.


Ia melihat huruf M ditulis dengan tinta merah di beberapa tanggal dua bulan


sebelumnya dan bulan-bulan sebelumnya lagi. Huruf itu tidak ada di bulan lalu


dan bulan ini.


Rio memikirkan sesuatu tentang huruf M itu tapi belum


mendapat jawabannya sampai Alex meminta Rio masuk ke ruang kerjanya.


 Alex : “Rio, papa pulang duluan ya. Nanti kamu sama Romi lanjutkan meeting berikutnya.”


Rio : “Tumben. Ada apa, pah?”


Alex : “Mamamu lagi gak enak badan gara-gara menstruasi. Kamu bisa kan sama Romi?”


Rio : “Iya, pah. Tenang aja. Kabarin kalau dah sampe rumah ya. Ntar Rio telpon mama.”


Alex : “Ya.”


Setelah kepergian Alex, Rio kembali melihat-lihat kalender Gadis. Ia memikirkan soal menstruasi yang dikatakan papanya. Benar juga kalau perempuan kan selalu mengalami itu setiap bulannya. Rio melihat kalau


bulan lalu Gadis tidak menulis huruf M itu. Apa dia lupa?


Rio tidak bisa berlama-lama hanyut dalam


pikirannya. Romi sudah memanggilnya karena client mereka sudah datang. Rio


sibuk mengurusi urusan pekerjaan sampai melupakan apa yang ia pikirkan tentang


Gadis tadi.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).