Duren Manis

Duren Manis
Beradaptasi


Beradaptasi


Romi : “Kamu kenal saya?”


Gadis : “Ada name tag-nya, pak.”


Romi beneran lupa kalau sedang memakai name tag saat itu. Gadis tidak menyapa Rio, ia mengira kalau Rio tidak bekerja bersama Romi. Ia hanya kebetulan berada disana. Romi meminta Rio dan Gadis ikut dengannya,


ia mulai menjelaskan pembagian tugas Rio dan Gadis.


Gadis mendengarkan semuanya dengan baik dan mencatat sedikit agar ia tidak lupa. Sementara Rio hanya mendengarkan Romi sambil manggut-manggut. Keduanya di tempatkan di lantai yang sama dan hanya


terpisah sekat kaca saja.


Gadis menarik nafasnya agar jantungnya lebih tenang, tidak berdisko seperti tadi saat Rio berdiri di dekatnya. Ia merutuki nasibnya yang kurang beruntung. Berharap menjauh, tapi malah semakin didekatkan pada Rio.


*****


Beberapa ratus kilometer dari Rio, Riri sedang membaca literatur untuk membuat tugas kuliahnya. Alih-alih mencarinya di internet, Riri memilih membaca buku-buku yang berhubungan dengan tugasnya. Elo


yang sudah pulang bekerja, mendapati Lili baru selesai memasak untuk mereka.


Demi Riri, Lili belajar memasak agar bisa memasakkan makanan kesukaan Riri dan beberapa jenis masakan rumah lainnya.


Elo : “Lili, dimana Riri?”


Lili : “Nona sedang di kamar, tuan muda. Sedang mengerjakan tugas kampus.”


Elo : “Aku ke kamar dulu. Makan malam sudah siap?”


Lili : ”Sudah, tuan muda.”


Elo masuk ke kamarnya dan Riri, dilihatnya istrinya itu sedang duduk di meja belajarnya tampak menulis sesuatu.


Riri : “Mas, sudah pulang ya?”


Elo : “Kok tau, mas yang masuk?”


Riri : “Kecium bau asem.”


Elo : “Masa sich? Padahal mas gak keringetan.”


Elo mendekat ke meja Riri dan melihat di ponselnya ada terbuka aplikasi CCTV. Mengertilah Elo dari mana istrinya tahu tentang kepulangannya.


Elo : “Kamu nakal sekarang ya.”


Elo mencium leher Riri dan menggelitik pinggangnya. Ia menikmati aroma segar tubuh istrinya yang sudah mandi. Riri mendorong kepala Elo dan memintanya mandi dulu. Tugas kuliahnya sudah hampir selesai dan mereka sedang di tunggu makan malam.


Lili : “Dion!”


Riri dan Elo menoleh ke ponsel Riri, karena terdengar suara Lili dari sana.


Lili : “Dion, jangan ganggu aku. Lepasin!”


Riri dan Elo menonton CCTV yang menunjukkan area di sekitar dapur. Tampak Dion sedang berdiri di depan Lili yang terjepit di antara Dion dan meja dapur.


Riri : “Kak Dion mau ngapain tuch?”


Elo : “Kayaknya mau ini.”


Elo mencium bibir Riri sekilas dan lanjut menoleh menonton pertunjukan di ponsel Riri.


Suasana di dapur, tampak panas. Dion menempel ketat pada Lili dan memerangkap gadis itu di meja dapur.


Lili : “Dion, mandi sana.”


Dion : “Gak mau. Cium dulu.”


Lili : “Kamu gila! Ntar diliat nona. Dion!”


Lili menahan tubuhnya agar tidak menyentuh bumbu dapur di belakangnya. Dion terus mendekat sampai ia berhasil mencium pipi Lili. Wajah Lili merona mendapat perlakuan manis itu.


Dion : “Kapan kau mau menikah denganku?”


Lili : “Itu aja dibahas. Tunggu nona punya anak dulu.”


Lili : “Kamu uda sering masuk kamarku gak pake ijin. Dasar.”


Dion : “Kapan aku gitu?”


Lili memukul dada Dion dan mencubit lengannya. Ia kesal karena hampir setiap hari memergoki Dion ada di kamarnya terutama di pagi hari setelah Lili mandi. Lili sampai harus membawa pakaiannya ke dalam kamar


mandi.


Dion : “Kita sekamar yuk.”


Lili : “Nggak!!”


Dion : “Kalo gak mau, aku cium sampe tuan muda keluar kamar.”


Lili : “Kamu gila! Kita belum nikah! Apa kata nona kalau lihat kita sekamar.”


Dion beneran melaksanakan ancamannya, ia menaklukkan Lili dengan ciuman yang panas. Sampai Riri dan Elo saling pandang di dalam kamar mereka.


Elo : “Dion kebelet kawin kayaknya.”


Riri : “Gimana kalau kita nikahkan mereka disini?”


Elo : “Sepertinya Lili belum mau nikah sekarang. Usianya masih muda juga.”


Riri : “Aku lebih muda dari Lili, tapi aku uda nikah. Gimana, mas?”


Elo : “Coba kamu bujuk Lili, daripada kayak sekarang. Oh, ya ampun.”


Suasana di dapur makin panas karena Dion sudah menciumi leher Lili. Pakaian Lili sudah terbuka bagian atasnya, Elo mengajak Riri keluar dari kamar mereka dan berjalan menuju meja makan.


Riri : “Lili. Ayo, kita makan.”


Riri melihat Lili berlari ke kamarnya, sementara Dion berdiri di dekat meja makan dengan cengiran lebarnya.


Elo : “Ngapain kamu?”


Dion : “Gak ngapain. Kepo.”


Elo : “Perbuatanmu sangat jelas di CCTV tadi. Kamu sengaja ya?”


Dion : “Jangan salahkan aku, tiap malam selalu mendengar suara berisik dari kamar kalian. Apa kalian gak capek?”


Mereka bertiga duduk di meja makan, menunggu Lili keluar dari kamarnya.


Elo : “Kenapa jadi nyalahin kami? Dan kenapa kamu bisa tau? Kamu nguping?”


Dion : “Kamarku di sebelah kalian, makanya aku mau pindah ke kamar Lili. Dan dia sudah setuju.”


Elo menimpuk Dion dengan remasan tisu ketika melihat cengiran mesum sahabatnya itu.


Riri : “Kak, jangan maksa Lili.”


Dion : “Aku gak akan maksa dia, Riri. Aku masih


tahu batasanku. Tapi kalau dia yang godain duluan, aku gak janji ya.”


Riri sudah hampir membalas omongan Dion tapi Lili keburu datang dan bergabung dengan mereka. Lili menghidangkan makan malam untuk mereka tanpa berani menatap Dion. Riri melotot melihat bibir Lili yang bengkak dan merah.


Ia menyikut Elo yang balik menyikut dirinya. Elo berbisik, biarin aja apa yang diinginkan Dion daripada Lili menderita terus karena bibirnya jontor. Riri terkikik geli mendengar bisikan suaminya. Lili menatap Riri dengan kepo, tapi Riri tidak mengatakan apa-apa lagi.


Usai makan malam, Dion membantu Lili membereskan meja makan karena Elo ingin Riri menemaninya mandi. Lili mempercepat pekerjaannya, ia terlihat tidak tenang dan hampir menjatuhkan piring yang


dipegangnya.


Dion : “Pelan-pelan aja. Malam masih panjang.”


Lili : “Kamu gak serius kan?”


Dion : “Kamu kan sudah setuju.”


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).