Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Menghilang


DM2 – Menghilang


“Kau!! Ngapain kamu kesini?!”


Semua orang menoleh terkejut melihat reaksi


Rio. Gadis juga sama terkejutnya dengan Rio saat melihat Kinanti dan Endy ada


di ruang tamu. Ia mulai takut dengan kemungkinan Kinanti datang untuk mengambil


Kaori darinya. Tapi saat ia mendengar suara Rio di belakangnya, Gadis lebih


terkejut lagi.


Gadis berjalan lebih dulu ke ruang tamu


karena ia mendengar suara Kinanti dari sana. Tanpa disadari Gadis, Rio berjalan


mengikutinya dari belakang dan saat Rio melihat Kinanti duduk di sofa dengan


posisi yang sama seperti dulu Kinanti datang ke rumah Alex untuk pertama


kalinya, kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Rio.


“Aaaarrggghhhh!!!!”teriak Rio memegangi


kepalanya. Bruk!


“Rio!!!”Gadis histeris melihat Rio meluncur


turun terjatuh di lantai dengan posisi meringkuk.


“Rio!!”teriak Mia dan Alex bersamaan.


Alex membalik tubuh Rio dengan cepat,


putranya itu seperti tercekik hampir tidak bisa bernafas dengan baik. Mia


menepuk-nepuk pipi Rio agar sadar kembali. Gadis hanya berdiri dengan tubuh


menggigil. Tengah Alex kebingungan menyadarkan Rio, seseorang mengambil alih


posisinya di samping Alex.


“Maaf, om. Saya harus melakukan ini.”


Endy mengambil posisi diatas tubuh Rio, memompa


dada Rio sambil memberikan nafas buatan pada pria itu.


“Om, telpon ambulance. Cepat!”teriak Endy


menyadarkan Alex yang langsung mengambil ponselnya. “Yank, Gadis tuch...” Endy memberi


tanda pada Kinanti yang langsung bangkit dan menarik Gadis agar duduk di sofa.


“Gadis, tenang ya. Rio akan baik-baik saja.


Endy punya sertifikat pelatihan keselamatan.”kata Kinanti menenangkan Gadis. Ia


tahu ibu hamil tidak boleh sampai stress karena bisa berbahaya untuk


kehamilannya.


Mereka masih melihat Rio yang sedang ditolong


Endy. Tak lama suara ambulance terdengar mendekati rumah Alex. Alex membuka


pintu gerbang lebih lebar, perawat masuk membawa bed. Rio segera diangkut ke


bed lalu di bawa masuk ke ambulance. Endy menjelaskan apa yang terjadi pada Rio


adalah serangan panik. Rio kesulitan bernafas karena serangan itu.


Perawat meminta seseorang menemani Rio di


dalam ambulance dan Mia segera masuk kesana. Alex hanya sempat memberikan


ponselnya pada Mia. “Aku akan menyusul sekarang.”kata Alex.


Ambulance segera berangkat ke rumah sakit,


Alex masuk lagi bersama Endy. Kinanti masih menenangkan Gadis di ruang tamu.


“Terima kasih.”ucap Alex pada Endy.


“Saya hanya menolong untuk kemanusiaan, om.


Tidak perlu sungkan.”saut Endy.


“Aku akan menyusul ke rumah sakit. Gadis.


Hei, Gadis. Kamu ikut ke rumah sakit?”tanya Alex sambil menepuk pundak Gadis.


Gadis yang masih shock melihat kondisi Rio,


hanya menoleh pada Alex.


“Om, sebaiknya Gadis dibawa juga ke rumah


sakit. Sekalian di cek kondisinya habis kaget tadi.”kata Kinanti.


Alex mengangguk, ia memanggil mb Minah


untuk mengambilkan tas dan ponsel Gadis diatas. Sementara ia mengambil dompetnya


dan ponsel Mia di dalam kamar mereka. Setelah memberikan beberapa pesan pada mb


Minah, Alex menuntun Gadis masuk ke mobilnya. Endy dan Kinanti tidak ikut ke


rumah sakit, mereka berpamitan pada Alex karena masalah mereka juga sudah


selesai.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, Alex


menyempatkan menelpon Rara, mengabari kondisi Rio dan lokasi rumah sakit tujuan


mereka. Alex menepuk pundak Gadis, “Rio akan baik-baik saja, Dis. Kamu harus


kuat ya. Kamu kan lagi hamil.”


Alex takut juga kalau kandungan Gadis dalam


masalah karena kaget tadi. Ia mengendarai mobilnya dengan hati-hati terutama


saat berbelok. Sampai di rumah sakit, Alex menelpon Mia, menanyakan lokasinya.


Mia mengatakan kalau mereka ada di UGD. Rio sedang ditangani dokter dan


kondisinya sudah mulai tenang. Tapi ia belum sadarkan diri.


Alex menuntun Gadis ke dekat loket, ia


kamu duduk dulu ya. Rio masih di UGD. Papa ngurus kamar dulu.”kata Alex sambil


menuntun Gadis duduk.


Alex sibuk mengurus administrasi dan kamar


untuk Rio. Kalau mereka harus menginap, ia ingin Mia dan Gadis bisa


beristirahat dengan baik di kamar nanti. Saat Alex berbalik dari loket, ia


tidak melihat Gadis dimanapun.


“Gadis? Gadis, kamu dimana?”Alex bingung


mencari Gadis. “Mb, lihat perempuan yang duduk di belakang saya tadi, nggak?”tanya


Alex pada penjaga loket.


“Nggak, pak.”saut penjaga loket.


“Waduh, mantu saya kemana?”tanya Alex


bingung. Ia mencoba mencari keluar di parkiran tapi gak ada. Akhirnya Alex


mencoba mencari ke UGD, Gadis juga tidak ada disana.


“Mia, Gadis kesini gak?”tanya Alex ketika


bertemu Mia di UGD.


“Gak ada, mas. Bukannya sama mas tadi?”tanya


Mia bingung.


Alex menjelaskan kalau dia tadi mengurus


kamar rawat inap untuk Rio. Gadis duduk di belakangnya, tapi ketika Alex balik


badan, Gadis udah gak ada. Mia mulai panik, ia keluar dari ruang UGD melihat


sekeliling. Biar bagaimanapun Gadis sedang hamil dan malam juga semakin larut.


Mau kemana ibu hamil malam-malam gini?


“Apa mungkin ke toilet, mas?”tanya Mia.


“Mungkin juga. Emang didalem gak ada?”tanya


Alex.


Mia menggeleng, ia barusan keluar dari


bilik periksa Rio. Dokter bilang akan memindahan Rio ke kamar setelah kamar


untuknya tersedia. Alex mengatakan kalau nomor kamar yang tadi di berikan


penjaga loket di depan. Suster dan perawat segera bersiap memindahkan Rio.


“Aku cari ke toilet dulu ya. Mas tungguin


Rio disini.”kata Mia.


Ia keluar dari UGD, berjalan ke toilet yang


dekat dengan lobby tempat pendaftaran pasien. Dicarinya Gadis diseluruh ruangan


toilet, tapi tetap tidak ada.


“Haduh, ini anak kemana? Dimana?”tanya Mia cemas.


Ketika Mia kembali menuju UGD, ia


berpapasan dengan Rara dan Arnold.


“Mah!”panggil Rara.


“Hei, kalian kok bisa disini?”tanya Mia.


“Papa nelpon katanya Rio pingsan. Mana Rio,


mah? Apa yang terjadi?”kejar Rara tidak sabaran.


Mereka berjalan ke UGD sambil Mia


menceritakan secara singkat kenapa Rio bisa pingsan.


“Jadi Rio kaget ngliat Kinanti? Kenapa


Kinanti dateng, mah?”tanya Rara dengan raut wajah horor.


“Tunggu Riri dateng ya. Sekalian mama


ceritanya. Ini Gadis ngilang gak tau kemana. Mama masih nyariin dia.”


“Kok bisa ngilang, mah?”tanya Rara lagi.


Mia jadi gemes dengan putrinya itu. Mereka mengingkir sejenak karena ada orang


pingsan yang dibawa masuk ke ruang UGD.  Mia


memikirkan sesuatu, ia masuk lagi ke UGD dan bertanya apa ada perempuan pingsan


yang dibawa masuk ke UGD tadi pada suster jaga. Suster itu mengangguk, tadi ada


perempuan yang pingsan di depan ruang UGD. Saat itu Mia sedang melihat kondisi


Rio, ia tidak  memperhatikan Gadis yang


digotong masuk ke UGD.


“Dimana perempuan itu, suster? Itu mantu


saya.”ucap Mia khawatir.


“Ada di sebelah sana, bu.”tunjuk suster ke


salah satu bilik tertutup.


Mia segera mendekati bilik itu dan melihat


Gadis terbaring disana. Sepertinya ia belum sadarkan diri. “Suster, apa dia


belum sadar?”tanya Mia.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.