
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 35
“Kita harus menjawab semua pertanyaan Kaori, pah.
Jadi siapa yang akan menjawabnya?” tanya Gadis pada Alex.
“Sebaiknya kita jujur sama Kaori. Kita tunggu apa
yang ingin dia tahu. Toh, kita nggak tahu sampai sejauh apa Kaori mendengar
pembicaraan Endy, kan?” tanya Mia.
Alex mengangguk, ia setuju dengan Mia dan Gadis.
Kaori sudah dewasa dan sudah bisa mengambil keputusan sendiri. Dia berhak
mengetahui asal usulnya dan apapun yang terjadi, Kaori tetap adalah putri
sulung Rio dan Gadis.
Ceklek! Keempat orang tua itu menoleh saat
mendengar suara pintu terbuka. Kaori keluar dari dalam kamarnya. Gadis itu
sudah mandi dan tampak sangat cantik. Meskipun matanya masih bengkak karena
menangis semalaman, senyuman tidak pernah lepas dari bibirnya.
“Kaori, selamat pagi. Kamu mau sarapan?” tanya Alex
mencoba bersikap biasa saja.
“Selamat pagi, opa. Opa, apa aku masih boleh minta
makan disini?” tanya Kaori segan.
Alex tercekat, entah apa saja yang sudah didengar
Kaori semalam, sampai sikap gadis itu berubah jadi lebih segan. Mia
menghidangkan sarapan di depan Kaori, ia tidak menanggapi pertanyaan Kaori tapi
langsung menyuapi gadis itu makan. Rio dan Gadis juga bersikap biasa saja pada
putri cantiknya itu.
“Kaori, nanti mama mau masak ayam bakar. Ada extra
buncis dan wortel bakar juga loh,” kata Gadis mencoba memancing reaksi Kaori.
“Aku sudah diperbolehkan makan saja, sudah cukup,”
sahut Kaori sambil meneguk air putih.
Kaori bahkan tidak menyentuh susu kesukaannya.
Meskipun sudah dewasa, ia paling suka minum susu hazelnut di malam hari dan
susu murni di pagi hari. Alex menarik nafas panjang sebelum bicara dengan
Kaori.
“Kaori, jangan menganggap kami orang asing. Kami
juga keluargamu, Kaori. Kamu bisa berbagi apapun dengan kami, princess,” ucap
Alex sambil menggenggam tangan Kaori.
Tidak mudah bagi Kaori untuk menerima kata-kata
Alex setelah ia mendengar hal yang mengejutkan semalam. Isak tangis mulai
terdengar dari bibir Kaori. Gadis itu menangis sesenggukan seperti semalam.
Alex bergerak memeluk Kaori, menenangkan cucu kesayangannya.
“Kaori, kamu tetaplah cucuku. Di rumah ini kamu
tetap putri sulung papa Rio dan mama Gadis. Ini salah opa karena tidak
mengatakan yang sebenarnya. Tapi opa melakukan ini agar kamu tidak merasa
sedih, Kaori,” ucap Alex.
Mia, Gadis, dan Rio juga bergerak memeluk Kaori. Mereka
menguatkan gadis itu dan membuatnya kembali tersenyum. Tapi masih banyak
pertanyaan yang ingin ditanyakan Kaori. Mereka semua pindah ke ruang kerja
untuk membicarakan hal penting itu setelah Kaori menyelesaikan sarapannya.
“Aku mendengar semalam kalau orang tua kandungku
itu mama Kinanti dan papa Endy,” kata Kaori tapi dipotong Rio.
“Sejak kapan kamu manggil mereka begitu, Kaori?”
tanya Rio tidak sabaran.
“Sejak mereka memberi restu atas pernikahanku dan
Ken, pah. Mama... maksudku tante Kinanti memintaku memanggilnya mama karena aku
akan menjadi menantu mereka. Tapi yang kudengar malah sebenarnya aku adalah
anak kandung mereka. Aku....” Kaori menarik nafas panjang agar suaranya tetap
stabil.
Kaori bertanya pada Rio, apakah semua yang ia
dengar itu benar. Rio mengacak rambutnya, seharusnya Kaori tidak akan pernah
tahu kebenaran ini. Ia tidak pernah memikirkan jawaban seandainya Kaori tahu
yang sebenarnya. Sekarang Rio jadi bingung harus menjawab apa pada Kaori.
Suasana hening di ruang kerja itu, tiba-tiba
terpecah karena kata-kata Gadis. Wanita itu mengatakan kalau semua yang
didengar Kaori itu benar. Rio yang mendengar Gadis bicara dengan tenang,
merengut menatap istrinya itu. Gadis hanya menoleh balas menatap Rio dengan
tatapan mengancam.
“Tapi kalau kenyataannya begitu, memangnya Kaori
mau apa? Secara hukum, Kaori adalah anak kandung mama dan papa. Mereka tidak
bisa mengingkari itu. Lagipula sejak kamu di dalam kandungan Kinanti, mama
sudah menganggap kamu adalah putri kandung mama sendiri,” ucap Gadis dengan
mata berkaca-kaca.
Mendengar kata-kata Gadis, Rio mengangguk-angguk
membenarkan kata-kata Gadis. Kaori menunduk dengan air mata berlinang, ia
sangat terharu mendengar kata-kata indah itu. Sejak kecil, ia tidak pernah
merasakan kesedihan. Kaori selalu dihujani cinta dan kasih sayang, bukan karena
kekurangannya, tapi memang keluarga itu sangat menyayanginya.
“Maafin aku, opa, oma, ma, pa. Sikapku tidak dewasa
tadi. Tapi kenapa mereka membuangku? Apa karena aku buta?” tanya Kaori lagi.
Apapun alasan Kinanti dan Endy memberikannya pada
keluarga Alex, seharusnya orang tua kandung tidak setega pada anak kandungnya
sendiri. Tapi bagi Endy dan Kinanti, bahkan anak kandungpun bisa dikorbankan. Keempat
orang tua itu kembali saling pandang. Apa yang dikatakan Kaori adalah
kebenaran. Kinanti meninggalkan Kaori karena putrinya itu buta.
Padahal Kaori adalah pembawa kekayaan dan
kemakmuran bagi keluarga Wiranata. Seperti nenek Martha yang membuat keluarga
Wiranata berada di masa kejayaannya, Kaori membawa keluarga Alex ke masa-masa
kejayaan juga. Hal itu tidak disadari Kinanti dan Endy. Mereka menutup hati
mereka untuk menerima Kaori apa adanya dirinya.
“Apa mereka membuangku karena aku buta, opa? Benar
kan?” tanya Kaori.
Alex menimbang jawabannya, ia tidak bisa
menghancurkan hati cucu kesayangannya itu. Tapi Kaori harus tahu yang sebenarnya
sebelum mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
“Iya, Kaori. Saat itu Kinanti meninggalkanmu disini
karena kekurangan yang kamu miliki. Tapi sekarang itu sudah tidak penting lagi.
Kamu adalah bagian dari keluarga kami. Bagi opa, kamulah yang membawa keluarga
diberikan Tuhan karena kami memilikimu dalam keluarga ini,” kata Alex.
“Jadi, aku dan Ken adalah saudara kandung? Kami
kakak beradik?” tanya Kaori merasa sakit hati dengan kenyataan kedua.
“Bukan! Kalian bukan saudara kandung. Ken itu anak
ka... bukan, Ken bukan anak kandung Endy dan Kinanti,”sahut Mia cepat. Ia
hampir saja keceplosan mengatakan kalau Ken adalah anak kandungnya dan Alex.
Mia sudah sepakat dengan Alex kalau kebenaran
tentang anak yang tertukar, hanya akan dikatakan oleh Ken. Mereka tidak bisa
menghancurkan hati yang lain setelah hati Kaori.
“Tapi gimana bisa? Ken jelas adalah putra pertama
mereka. Dia juga punya adik bernama Kenzo,” ucap Kaori lagi.
“Endy dan Kinanti mengambil Ken dari orang tua
kandungnya lalu membuat seolah-olah Kinanti hamil dan melahirkan Ken. Kamu
ingat ketika papa Rio menolak lamaran Ken pertama kali?” tanya Alex.
Kaori mengangguk, sampai sekarang ia hanya tahu
kalau alasannya adalah karena kesalahpahaman antara papa Rio dan om Endy. Rupanya
dirinya lah alasan yang sebenarnya kenapa papa Rio dan om Endy bisa perang
dingin seperti itu.
“Saat itu papa Rio berpikir hal yang sama denganmu,
Kaori. Kalian adalah saudara kandung, dilihat dari perbedaan umur kalian, sudah
sangat jelas kalau kamu adalah kakak Ken. Tapi Ken malah meminta melakukan tes
DNA antara dia dan Endy. Hasilnya negatif, Ken bukan anak kandung mereka. Menurut
Ken, tuan besar Martin sudah tahu tentang hal ini. Dimalam penyerahan harta
kekayaan tuan besar Martin, Ken mengetahui semua itu,” jelas Alex.
Kaori terdiam melamun, ia tidak memikirkan
bagaimana hubungannya nanti dengan Ken. Gadis itu sudah cukup lega karena dia
mencintai pria yang tepat. Kaori akan stress kalau sampai mencintai saudara
kandungnya sendiri. Tapi Kaori masih ragu dengan hubungan mereka. Biar
bagaimanapun, Endy dan Kinanti adalah orang tua kandung Kaori. Kalau sampai
Kaori bisa menikah dengan Ken, ia akan memanggil mereka dengan sebutan mama dan
papa juga.
Sebelum tahu kenyataan yang sebenarnya, Kaori
dengan mudahnya mengatakan hal itu. Tapi sekarang, Kaori berubah pikiran, ia
belum bisa memanggil mereka berdua dengan panggilan seperti itu. Melihat
kegelisahan Kaori, dengan pikiran yang sepertinya ruwet, Alex mengelus kepala
gadis itu.
“Kaori, apa kamu mencintai Ken?” tanya Alex.
Gadis itu tersipu malu, ia tidak bisa
menyembunyikan perasaannya pada Ken. Jelas sekali kalau Kaori mencintai Ken dan
sangat ingin bersama dengan pria itu. Tapi untuk saat ini, Kaori ingin menata
hatinya dulu. Ia belum siap bertemu dengan Ken apalagi kedua orang tuanya.
Kaori perlu waktu menyembuhkan luka di hatinya.
“Aku mencintai Ken, opa. Tapi saat ini aku perlu
waktu untuk sendiri. Aku ingin berpikir dengan tenang agar tidak salah
mengambil keputusan,” kata Kaori bijak.
Alex mengelus kepala Kaori, mengecup kening gadis
itu dan tersenyum bangga. Selama bertahun-tahun membesarkan Kaori dengan baik,
Alex memetik buahnya sekarang. Kaori telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang
cantik dan bijaksana. Tentu saja mereka semua menghormati keputusan Kaori yang
ingin menenangkan diri. Apapun yang bisa membantu Kaori akan mereka usahakan.
**
Ken terbangun di ruangan yang asing baginya. Bau
cairan pembersih memenuhi ruangan itu. Entah sudah berapa lama ia tertidur dan
entah siapa yang membawanya ke ruangan itu. Saat ia teringat kembali ada
kesedihan Kaori semalam, Ken memijat kepalanya yang terasa mau pecah.
“Kaori, aku merindukanmu. Apa kamu marah sama aku?”
gumam Ken sambil menarik nafas panjang.
“Ken, kamu sudah bangun. Ayo, sarapan dulu,” ajak
Alan yang masih setia di samping Ken.
“Kak, apa ada kabar dari Kaori?” tanya Ken pertama
kali.
“Belum ada, Ken. Sepertinya Kaori sangat kecewa,” ucap
Alan sambil meletakkan nampan sarapan di pangkuan Ken.
Ken mengambil segelas kopi untuk meredakan sakit
kepalanya. Ia sangat stress dengan tidak adanya kabar dari Kaori. Bahkan ketika
Ken memeriksa ponselnya, tidak ada chat ataupun telpon masuk dari Alex. Ken
menarik nafas panjang, kesalahannya kali ini terlalu besar sampai-sampai orang
tua kandungnya juga marah besar padanya.
Alan mengulurkan ipad-nya. Sejak semalam, pria itu
menguping pembicaraan Alex dan keluarganya dengan software mata-mata milik Alan.
Dan Alan mendapati kebenaran kalau Kaori adalah anak kandung Endy dan Kinanti. Ia
tidak berkomentar tentang hal itu. Rahasia itu adalah urusan antara Kaori dan
Endy, tidak ada hubungannya dengan Alan.
Alan ingin membantu Ken mengetahui yang terjadi
pada Kaori. Ketika Ken mendengar rekaman pembicaraan Kaori dan keluarga Alex,
ia menghembuskan nafas berat lalu menyingkirkan nampan sarapan dari pangkuannya.
Ken berdiri dari atas tempat tidur dan membenahi pakaiannya.
“Ken, kamu mau kemana?” tanya Alan melihat Ken
bersiap-siap.
“Apalagi, kak. Aku harus kerja. Kaori sudah
memutuskan untuk sendiri dulu. Aku juga tidak bisa mengganggunya. Entah apa aku
bisa diterima lagi di keluarga itu. Kesalahanku sulit untuk dimaafkan, Kak,”
kata Ken sendu.
Alan tidak mengatakan apa-apa, ia membuka pintu
ruangan itu dan meminta asisten Ken untuk masuk. Asistennya sudah membawakan
perlengkapan Ken, tapi Ken ingin cepat-cepat pergi ke kantor. Ia akan
membersihkan dirinya di kantor saja. Keluar
dari ruangan tempat ia menginap semalam,
Ken bertemu dengan Endy yang baru keluar dari ruangan Kinanti.
“Ken, gimana Kaori?” tanya Endy tanpa bisa menahan
dirinya.
“Dia tidak mau ketemu siapapun, pah. Aku pergi ke
kantor dulu,” sahut Ken dingin sambil melewati Endy begitu saja.