
Tulus mencintai
Lili menatap kesal pada Dion yang terus tersenyum
menatapnya. Mereka sudah terjebak selama empat jam di luar rumah hanya
gara-gara Dion ingin berduaan dengannya. Sebenarnya Elo yang menyuruh Dion
melakukannya karena Elo ingin memasak untuk Riri.
Kalau Elo memberitahu Lili tentang keinginannya
itu, Lili pasti akan banyak alasan dan akhirnya Elo akan mengalah membiarkan
Lili memasak untuk Riri. Dion mengajak Lili mengunjungi supermarket pada
awalnya. Setelah itu Dion mengeluh bosan dan ingin nonton film.
Lili masih bersabar ketika mobil masuk ke sebuah
lapangan yang luas dengan layar besar di depan mereka. Dion memesan popcorn dan
soda untuk mereka. Ketika Lili mulai menikmati menonton adegan demi adegan yang
ditampilkan di layar, Dion malah menariknya mendekat dan hampir menciumnya.
Lili melotot pada Dion, ia malu kalau harus
berciuman di tempat umum. Padahal itu sesuatu yang lumrah terjadi di negara
itu. Beberapa orang juga tampak berciuman di mobil mereka masing-masing.
Dion : “Cium dikit boleh ya.”
Lili : “Nanti ada yang ngliat.”
Dion memaksa mencium Lili sampai gadis itu takluk
dan tidak melawan lagi. Sisa film sudah tidak berarti lagi karena Dion malah
ketagihan mencium Lili. Mereka baru saling melepaskan diri saat layar sudah
dipadamkan dan satu persatu mobil bergerak keluar dari lapangan.
Lili menarik kemejanya menutup, tangan Dion sudah
tidak bisa ia kendalikan lagi kebablasan membuka kancing kemeja Lili. Untung
saja Lili memakai tank top dibalik kemejanya. Dion senyum-senyum menatap Lili
yang wajahnya merona.
Lili : “Dion, kita pulang yuk. Uda malem nich.”
Dion : “Tunggu bentar lagi. Aku masih mau
jalan-jalan.”
Lili : “Tapi nona gimana? Belum makan loh.”
Dion : “Riri masih punya Elo. Biarkan mereka
berduaan, siapa tahu mereka mau melakukannya di sofa atau di meja makan kan?”
Lili : “Melakukan apa?”
Dion : “Urusan suami istri. Kau mau tahu? Aku bisa
tunjukkan apa yang mereka lakukan.”
Lili : “Nggak!! Kita mau kemana lagi?”
Dion tidak menjawab Lili. Mobil terus berjalan
sampai ke sebuah tempat diatas bukit yang tidak terlalu jauh dari tempat
tinggal mereka. Dion menghentikan mobilnya dan keluar. Ia membuka bagasi mobil,
mengambil selembar selimut dan menggelarnya di atas kap mobil.
Udara dingin mengenai wajah Lili saat ia juga
keluar dari dalam mobil. Dion membuka botol minuman dan menuangkannya ke dua
gelas yang sudah ia siapkan.
Lili : “Aku gak minum.”
Dion : “Iya, tau. Ini gak berat kok. Aku kan juga
harus nyetir.”
Dion membantu Lili naik ke atas kap mobil juga.
Mereka melihat pemandangan malam kota di bawah mereka dan langit malam yang
penuh bintang. Lili menggosok tangannya yang kedinginan. Ia tidak memakai
pakaian yang lebih tebal karena mengira mereka keluar tidak sampai malam.
Dion : “Sini, aku peluk.”
Lili berbaring di pelukan Dion, sesekali ia meneguk
minuman yang membuatnya merasa lebih hangat. Lili mengalihkan pandangannya dari
pemandangan langit malam. Ia mengelus pipi Dion dengan lembut.
Lili : “Dion, aku boleh gak liat bekas luka kamu
yang lain?”
Dion : “Yakin mau liat? Ntar illfeel loh.”
Lili : “Trus kalo kita uda nikah, kamu gak mau
ngasih liat badan kamu gitu? Aku juga nggak kalo gitu.”
Dion : “Dih, ngambek. Mau aku buka sekarang? Tapi
ada syaratnya.”
Lili : “Apa?”
Dion : “Aku juga mau lihat badan kamu.”
Lili : “Mesum.”
Dion mengangkat pundaknya, mengatakan terserah pada
Lili mau setuju atau tidak. Lili memastikan kalau hanya itu syaratnya dan Dion
mengangguk.
Lili : “Kita lakukan di kamar saja. Aku malu kalau
disini.”
Dion : “Tunggu, aku cek dulu Elo udah pindah ke
kamar atau belum.”
Dion membuka aplikasi CCTV dan melihat keadaan
ruang santai dan dapur sedikit berantakan. Matanya membulat melihat Elena, Elo,
dan Riri berdiri di ruang tamu. Dua orang bodyguard yang diminta Dion untuk
menjaga mereka berdua, juga ada disana.
Dion : “Kita harus balik secepatnya. Elena
sepertinya mau mengacau lagi.”
Keduanya segera kembali ke rumah Elo. Tampak Elo
sedang menunjuk-nunjuk Elena yang sudah tersungkur di depan rumahnya. Lili
segera mengecek keadaan Riri yang hanya diam di belakang Elo. Tampak Riri
memegangi tangannya yang terluka cakaran.
Elo : “Jangan ganggu kami lagi! Kamu ngerti gak
bahasa manusia?!! Pergi!!”
Elena : “Angelo, aku sangat mencintaimu. Tante
Ratna yang memaksaku meninggalkanmu, kamu sudah lihat kan buktinya.”
Elo : “Kalau kamu pikir aku akan percaya omong
kosong itu, kamu salah. Aku sudah berhenti menyukaimu sejak kamu pergi jauh.
Berapa kali harus aku katakan aku sudah punya Riri sekarang. Aku mencintai dia.”
Elena : “Kamu cintanya sama aku!! Kamu selalu
melakukan hal-hal yang manis untukku.”
Elo : “Katakan hal manis apa yang kulakukan
untukmu!”
Elena mencoba mengingat hal manis apa yang
dilakukan Elo ketika mencintainya, tapi ia tidak bisa mengingat apapun.
Elo : “Kau tidak bisa menjawabnya kan? Karena sejak
awal kamu hanya peduli pada uangku saja.”
Elena : “Dia!! Kau pikir dia tidak sama sepertiku?!!”
Elena kehabisan akal sehatnya, ia menuding Riri
juga sama sepertinya, hanya ingin uang Elo saja. Riri tercekat dalam pelukan
membawanya masuk.
Elena : “Hei!! Jangan kabur kamu!! Perempuan
******!”
Plak! Mereka sempat mendengar suara tamparan tapi
Riri sudah tidak mau menoleh lagi. Lili membawa Riri masuk ke dalam kamarnya.
Ia menuntun Riri duduk di sofa sementara dirinya merapikan tempat tidur Riri
agar dirinya bisa berbaring dengan nyaman.
Lili : “Nona, berbaring dulu ya. Saya obati luka
nona.”
Riri menurut dan berbaring di atas ranjangnya. Lili
mengobati luka cakaran di lengan Riri dan memberinya air minum.
Lili : “Nona sudah makan? Mau teh hangat?”
Riri : “Lili, apa aku seburuk itu?”
Lili merasa sedih melihat nona-nya sedih seperti
itu. Ia memang baru mengenal nona-nya, tapi ia bisa merasakan kalau Riri tidak
seperti Elena. Ia sangat mencintai Elo apa adanya. Kalaupun setelah mereka
menikah dan Riri mendapatkan rumah besar tuan Michael, Riri masih sangat ramah
pada siapapun bahkan tukang kebun sekalipun.
Semakin mengenal Riri, Lili memahami ketakutan Riri
tentang hujatan menjadi menantu orang kaya. Riri paling takut dituduh seperti
tuduhan Elena padanya. Padahal Riri mengenal Elo sebagai mahasiswa yang bekerja
sebagai karyawan swasta. Ia sama sekali tidak tahu kalau Elo anak orang kaya, cucu
laki-laki dari tuan Michael dan pewaris tunggal tuan Michael.
Lili : “Nona, kenapa nona mendengarkan kata-kata
nona Elena? Nona sangat tulus pada tuan muda. Nona mencintai tuan muda tanpa
melihat status-nya kan?”
Riri mengangguk. Ia sudah hampir menangis tapi Lili
menghentikannya.
Lili : “Jangan menangis karena kata-katanya, nona.
Nona tidak boleh menangis atau merasa bersalah atas kata-kata orang lain yang
tidak benar. Yang nona perlu lakukan hanya tetap mencintai tuan muda dengan
tulus. Tolong abaikan nona Elena.”
Riri mengusap sudut matanya, ia tersenyum senang
dan merentangkan tangannya untuk memeluk Lili. Pengawal pribadi sekaligus sahabat
baiknya yang selalu bisa menjaga perasaannya.
Elo masuk ke dalam kamar, ia tersenyum senang
melihat istrinya baik-baik saja. Lili melepaskan pelukan Riri dan berjalan ke
dekat pintu keluar, ia melihat Riri berpelukan dengan Elo sebelum menutup pintu
kamar mereka.
Ketika Lili berbalik, Dion sudah ada di
belakangnya, tersenyum mesum sambil mulai membuka hoodie-nya. Lili berlari
cepat masuk ke kamarnya, Dion menyusulnya dengan cepat dan menahan pintu agar
Lili tidak bisa menutupnya.
Lili : “Dion, aku berubah pikiran. Nanti saja
setelah kita nikah.”
Dion : “Tapi aku sudah panas nich. Mau buka baju
sekarang.”
Lili : “Sana buka bajumu, aku gak lihat.”
Dion beneran membuka pakaiannya, menyisakan boxer
saja. Ia menarik tangan Lili untuk menyentuh bekas luka bakar di pundaknya.
Dion : “Buka matamu. Lihat aku. Kamu berhak
melihatku seutuhnya sebelum kita menikah. Dan kamu bisa menolak menikahiku
setelah ini.”
Lili membuka matanya, ia melihat seluruh wajah
Dion, turun ke leher. Kulit di leher Dion seperti berparut. Dibagian dadanya
yang kekar berotot, tidak terlalu banyak luka bakar. Lili berputar melihat
punggung Dion. Ia meraba pundak Dion merasakan kulit kasar disana.
Lili : “Apa terasa sakit?”
Dion : “Nggak. Pegang aja.”
Lili meraba kulit punggung Dion yang terlihat
mengerikan karena luka bakar yang parah. Di beberapa bagian berwarna putih, dan
bagian lainnya merah. Lili meneteskan air matanya melihat tubuh Dion. Ia
memeluk tubuh Dion dari belakang dan mencium punggungnya.
Lili : “Kenapa bisa sampai parah gini? Kamu gak mau
operasi kulit?”
Dion : “Kalau aku melakukannya, aku harus istirahat
total sekitar setahun. Itu artinya tidak ada yang menjaga Elo selama itu. Apa
kau keberatan dengan apa yang kau lihat?”
Lili : “Andai aku bisa berbagi rasa sakitnya
denganmu.”
Dion berbalik dengan cepat. Ia mencium Lili yang
terkejut dengan perbuatannya. Lili berusaha mendorong Dion, tapi ia tidak bisa
melawan kekuatan Dion. Pelukan Dion pada tubuhnya membuat Lili semakin
mendongak keatas.
Bruk! Tubuh Lili terbenam diantara bantal di atas
tempat tidurnya. Dion merangkak naik ke atas tubuh Lili,
Lili : “Dion...”
Dion : “Aku tidak bisa menahannya lagi. Mendengar
jawabanmu membuatku terlalu senang sampai rasanya mau meledak.”
Lili : “Dion, nikahi aku dulu. Jangan melakukannya
sekarang.”
Dion : “Besok.”
Lili : “Itu terlalu cepat!”
Dion : “Kau sudah membangunkannya, cepat tanggung
jawab.”
Lili melihat kearah yang ditunjuk Dion dengan
dagunya. Ia menggeleng dengan kuat, sambil mendorong tubuhnya menjauh dari
Dion.
Lili : “Nggak mau!!”
Dion tersenyum, ia bangkit dari tempat tidur Lili
dan memakai pakaiannya lagi. Sambil bersenandung, Dion berjalan keluar dari
kamar Lili. Lili menutup wajahnya yang tidak berhenti tersenyum malu. Ia
menyukai apa yang ia lihat tadi dari tubuh Dion dan kebesaran hatinya
menunjukkan luka bakar di tubuhnya tanpa memaksakan syarat yang Dion minta dari
Lili.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).