Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 16


Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 16


Sebelum maid itu melewatinya, Renata menanyakan


sedang apa Kaori di kamarnya. Maid itu mengatakan kalau Kaori baru selesai


mandi dan sedang bicara di telpon dengan seseorang. Renata yang kepo, jadi


ingin tahu siapa yang sedang bicara dengan Kaori.


Perlahan Renata membuka pintu kamar Kaori. Keponakan


Renata itu tampak duduk diatas tempat tidurnya dengan sebuah ponsel di


sampingnya.


“Ken, besok kamu bisa kesini nggak?” tanya Kaori.


“Aku belum tahu, Kaori. Besok ada pesta besar


disini. Kakek akan mengumumkan wasiatnya, aku harus ada disini menemani kakek.


Padahal aku lebih suka berkumpul dengan keluargamu disana,” kata Ken.


“Kamu nggak bisa dateng dong,” kata Kaori.


“Kenapa? Kangen ya? Udah lama juga kita nggak


ketemu, Kaori. Aku dapet apa kalo bisa dateng?” tanya Ken lagi.


Renata menahan dirinya untuk tidak mengatakan


apa-apa dulu. Ia ingin tahu sejauh mana hubungan Kaori dan Ken. Masalahnya


Kaori selalu menghindar saat Renata menanyakan perasaannya pada Ken.


“Dapet cake dong. Oma sudah nyiapin cake besar


untukmu dan juga aunty Renata, ada kado juga. Apalagi ya?” tanya Kaori bingung.


“Kalo dapet kamu, boleh nggak?” tanya Ken.


“Iiih, mana boleh! Ken, jangan ngomong sembarangan!”


Kaori mulai panik.


Terdengar suara Ken ngakak di seberang sana


mendengar Kaori berteriak padanya. Renata juga ikut senyum-senyum mendengar


permintaan Ken. Kalau Ken mau, semua itu bisa diatur Reynold dan Renata. Tapi


mengingat ada Alex juga, Renata mempertimbangkan jalan aman agar bisa mempertemukan


Ken dan Kaori.


Kehadiran Renata akhirnya disadari Kaori, gadis itu


terlalu asyik bicara dengan Ken sampai tidak menyadari Renata sudah masuk ke


kamarnya.


“Aunty Rena, ada apa?” tanya Kaori.


“Nggak, aku cuma ngecek, kamu udah mandi atau


belum. Udah cantik ternyata. Tunggu ya. Aku mau mandi dulu,” kata Renata.


“Iya, aunty. Aku lagi telponan sama Ken. Aunty mau say hay?” kata Kaori.


Renata tidak hanya menyapa Ken, ia juga mengucapkan


selamat ulang tahun duluan pada Ken. Ken juga membalas mengucapkan selamat


ulang tahun pada Renata. Meskipun tahu dirinya sudah ditukar sejak lahir, Ken


berusaha menjaga rahasia kelahirannya agar tidak menyakiti hati Renata.


Setelah Renata keluar dari kamar Kaori, Ken


mengatakan pada Kaori kalau ia harus pergi ke suatu tempat. Kaori mengucapkan


selamat ulang tahun sebelum Ken menutup telponnya. Tapi pria itu ingin


mendengarkan ucapak selamat secara langsung dari Kaori. Ketika Kaori menanyakan


bagaimana caranya, telpon sudah terputus.


Kaori menunggu Renata selesai mandi dan


menjemputnya untuk turun ke lantai bawah. Seperti biasa Diva dan Mia selalu


menyiapkan makanan. Widya juga membantu mereka, sedangkan Flora membantu menata


meja makan. Steven sangat gembira karena mansionnya sangat ramai dengan


keluarga Alex. Ia menjamu Alex dengan koleksi wine milik neneknya. Rio juga


ingin mencoba minum wine, tapi melihat Gadis sibuk melerai anak mereka yang


sedang bertengkar, ia memilih membantu istrinya itu.


Makan malam, malam itu, cukup meriah dengan


dekorasi untuk ulang tahun Renata besok. Reynold yang duduk di samping Renata,


membantu gadis pujaan hatinya itu memotong steak dengan cepat. Alex selalu siap


sedia membantu Kaori memotong steak-nya. Mereka berbincang sambil menikmati


makan malam bersama.


Usai makan malam, para pria dewasa kembali


menikmati wine sambil ngobrol. Sedangkan para wanitanya asyik bergosip. Dan


anak-anak tampak bermain bersama beberapa main. Mereka tidak menyadari


kehadiran seseorang yang berdiri di luar mansion Steven. Beberapa bodyguard


yang berjaga sejak siang, sedang bersiap untuk digantikan tugasnya dengan


bodyguard pengganti. Satu persatu bodyguard itu kembali ke pos masing-masing.


Salah satu dari mereka tampak naik ke lantai atas


lewat tangga di belakang mansion. Ia harus berjaga di atap untuk melihat


seluruh mansion dari atas. Bodyguard diatas langsung turun setelah mendapat


giliran jaga.


Kaori diantar masuk ke kamarnya oleh seorang maid.


Maid itu mengatakan pada Kaori kalau dirinya perlu apa-apa, ada tombol darurat


di samping tempat tidurnya. Dan juga beberapa maid akan bergantian lewat untuk


berjaga kalau Kaori memerlukan bantuan mereka.


Maid membantu Kaori mengganti pakaiannya dengan


piyama tidur. Lalu meninggalkan gadis itu sendirian di kamarnya. Sendirian di


dalam kamar itu, Kaori mengingat letak kamar mandi dan pintu keluar. Ia


meraba-raba mencari posisi tempat tidur, lalu mulai berjalan keliling kamar. Kaori


menghitung langkahnya menuju pintu keluar, lalu kembali lagi. Setelah itu ia


menghitung ke arah kamar mandi dan kembali lagi.


Meskipun buta, Kaori bisa merasakan kehadiran orang


lain di sekitarnya. Sama seperti saat ini, ia merasakan ada seseorang yang


berdiri di dekat jendela kamarnya. Dibalik korden berwarna krem ada seseorang


yang berdiri sambil mengintip apa yang sedang dilakukan Kaori.


“Siapa kamu? Kenapa


kamu ada di kamarku?” tanya Kaori.


Kaori terlihat semakin


kebingungan, ia merasakan kehadiran seseorang di dekatnya tapi orang itu tidak


mau bicara sedikitpun. Perlahan Kaori mendekati tempat tidurnya, agar bisa


menekan tombol untuk minta bantuan.


“Siapa? Tolong bicara


atau silakan keluar dari kamarku,” pinta Kaori sedikit takut. Ia belum


menemukan tombol yang dikatakan maid tadi.


Ken menatap tajam


tubuh Kaori yang hanya memakai piyama tidur. Tubuh ramping Kaori cukup menonjol


di beberapa bagian. Ken menelan salivanya ketika melihat tengkuk Kaori yang


putih bersih, pria itu berjalan mendekat lalu memeluk tubuh Kaori dari belakang.


“Kyaa...!! Mmmpphh!!”


Kaori meronta ingin melepaskan pelukan dari orang asing yang membekap mulutnya


itu.


bisik Ken. “Jangan teriak. Ini aku, Ken,” kata Ken lagi di telinga Kaori.


“Mmm...?” tanya Kaori


ragu.


“Jangan teriak. Aku


lepas tanganku sekarang, tapi jangan teriak ya.” Ken melepaskan tangannya dari


mulut Kaori. Pria itu menuntun Kaori agar duduk di pinggir tempat tidurnya.


“Ken? Kamu sedang apa


disini? Gimana masuknya?” tanya Kaori setelah mereka duduk di pinggir tempat


tidur Kaori. Tangan Kaori meraba wajah Ken, memastikan kalau itu memang Ken.


“Aku masuk lewat


jendela. Renata mana?” sahut Ken santai.


“Mungkin di kamarnya


sama kak Reynold. Kamu mau ketemu aunty Renata? Biar aku panggilin dulu,” kata


Kaori hampir bangkit dari duduknya.


“Tunggu, Kaori.” Ken


menahan Kaori agar tetap duduk. Ia menatap wajah cantik Kaori yang sedang


tersenyum.


“Ada apa, Ken? Kamu


mau ketemu aunty Renata, kan?” tanya Kaori lagi.


Tiba-tiba Ken


membaringkan tubuh Kaori ke atas tempat tidurnya. Gadis buta itu meronta, ingin


bangun lagi. Tapi Ken mengukung tubuh gadis itu dengan cepat. Pria itu mengecup


kening Kaori, lalu mengecup lehernya juga.


“K—Ken, ja—jangan...


ugh... jangan...,” lirih Kaori masih berusaha memberontak.


Ken tidak


mendengarkan apapun, ia hanya fokus meresapi harum tubuh Kaori di bawahnya. Tangan


gadis itu terus berusaha menahan penutup tubuhnya yang ditarik Ken. Tangan pria


itu sudah menyentuh paha dalamnya, membuat tubuh Kaori gemetar menahan geli.


Kaori mulai merasa


tidak nyaman dengan sentuhan Ken. Setiap kecupan yang diberikan Ken membuat


tubuh Kaori seperti tersengat listrik. Tubuh Kaori menegang, semakin bingung


karena tidak tahu bagian mana lagi yang akan dikecup Ken.


“Ken, jangan. Aku


takut,” bisik Kaori. Ia tidak mau orang lain mendengar kalau ia sedang berdua


dengan Ken di dalam kamarnya.


“Kaori, tenanglah.


Aku hanya ingin memelukmu sebentar,” bisik Ken menenangkan Kaori.


Kaori merasakan


lehernya dikecup Ken lagi, pria itu membenamkan wajahnya di cerukan leher


Kaori. Degupan jantung Kaori membuat Ken tersenyum.


“Kenapa kamu


deg-degan?” tanya Ken, hembusan nafasnya membuat Kaori bergidik.


“Ken, kamu terlalu


dekat. Tolong jangan gini, aku nggak nyaman,” pinta Kaori dengan wajah memerah.


Ken mengelus pipi


Kaori, gadis itu ingin menghindar, tapi dagunya ditarik Ken. Kaori merasakan


hembusan nafas Ken di depan wajahnya. Sangat dekat sampai Kaori mulai


memberontak lagi, ia mendorong Ken sampai pria itu terjatuh dari tempat


tidurnya.


Suara gedebuk yang


cukup keras itu menarik perhatian maid yang kebetulan lewat. Pelayan itu


mengetuk pintu kamar Kaori dan menanyakan keadaan gadis itu.


“Nona Kaori, apa nona


baik-baik saja?” tanya maid sambil mengetuk pintu.


“I—iya, aku baik-baik


saja. Aku nggak sengaja menjatuhkan boneka!” kata Kaori sedikit kencang.


“Saya permisi, nona.


Kalau perlu apa-apa, nona bisa tekan tombol di samping tempat tidur nona,” kata


maid itu dari luar pintu kamar.


“Iya, terima kasih,


kak!” balas Kaori berharap maid itu segera pergi.


Ken berdiri dengan


cepat lalu duduk di samping Kaori. Gadis itu hampir bangkit dari atas tempat


tidurnya, tapi Ken menarik tangan Kaori hingga gadis itu terduduk diatas


pangkuan Ken.


“Ken...,” bisik Kaori


yang sebenarnya kaget tapi ia menahan suaranya.


“Kaori, kenapa kamu


nggak bilang kalau aku yang jatuh?” tanya Ken ingin menggoda Kaori.


“A—aku nggak mau ada


orang yang tahu kamu masuk kesini. Opa bisa marah, trus aunty Renata juga nanti


marah sama kamu, Ken.” Kaori menahan pundak Ken agar tidak terlalu menempel


pada tubuhnya.


“Kaori..., bilang aja


kalau kamu mau aku terus disini,” bisik Ken.


Kaori menggeleng,


wajahnya merona merah lagi. Ken mengagumi wajah cantik Kaori yang sangat dekat


dengannya. Ia ingin sekali mencium bibir merah Kaori yang sangat menggoda.


Kalau Alex ada di sana, opa ganteng itu pasti akan memukul Ken karena berani


memeluk cucu kesayangannya.


“Ken, kamu mau nyium


aku ya?” tanya Kaori dengan kepolosan yang sangat menggoda Ken.


Pria itu mengecup


pundak Kaori, lalu mengecup lehernya. Kaori terus merinding dengan perlakuan


Ken yang manis. Gadis itu mengusap lehernya yang berkeringat. Ia mengeluh


kepanasan dan ingin bangkit dari pangkuan Ken.


Ken mendorong Kaori


agar berdiri lalu melepaskan tangan gadis itu. Kaori langsung berjalan


mendekati AC sambil menghitung langkahnya. Ia mulai terbiasa dengan kamar itu


tapi masih berhati-hati.


“Ken, uda malam. Kamu


nggak pulang?” tanya Kaori.


“Pergantian bodyguard


masih satu jam lagi, Kaori. Apa kau mau aku pergi sekarang?” tanya Ken balik.