Duren Manis

Duren Manis
Lebih Aktif


Hari itu, Bianca dan Ilham hanya berdua saja menjaga kantor Alex. Sementara Alex memilih libur untuk membantu si kembar membersihkan kamarnya. Alex ingin memiliki quality time bersama si kembar yang sebentar lagi akan tinggal jauh dari mereka.


Universitas yang menerima mereka, memiliki fasilitas asrama dan keinginan si kembar juga yang ingin mengambil kuliah padat agar segera lulus dan bekerja. Alex sebenarnya tidak setuju kalau si kembar harus tinggal jauh, tapi melihat tekad dan janji si kembar untuk lulus dengan cepat, akhirnya Alex menyetujuinya.


Bianca memiliki banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini karena besok ia sibuk meeting dengan WO. Ilham hanya ingin konsep pernikahan sederhana yang dihadiri beberapa orang tamu undangan tapi papa Bianca tidak mungkin melakukan itu mengingat banyaknya relasi mereka.


Bianca masih membujuk papanya itu, biarlah pernikahannya sederhana saja tidak seperti pernikahan kedua kakaknya yang super mewah. Toh, dia juga tidak kenal dengan relasi papanya.


Telpon kantor terus berdering sejak pagi, beberapa dari client, beberapa juga ada dari staf kantor. Ilham juga terlihat sibuk, seminggu lagi Romi akan kembali dan pekerjaannya masih banyak.


Dalam tiga hari, Ilham harus mempersiapkan serah terima pekerjaan dengan Romi agar ia bisa kembali ke kantor Arnold.


Bianca : "Ilham, ponselmu bunyi tuch."


Ilham : "Coba lihat dari siapa?"


Bianca mengambil ponsel Ilham dan melihat nama My Princess di layar ponsel. Kening Bianca berkerut, hatinya terasa sakit melihat ponsel Ilham.


Bianca : "Dari my princess, cepat diangkat!"


Ilham menyadari perubahan nada suara Bianca, ia tersenyum tipis. Sebelum sambungan telpon terputus, Ilham menjawab telpon itu.


Ilham hanya menjawab dengan satu atau dua kata saja. Bianca jadi penasaran apa yang dibicarakan Ilham dengan my princess-nya itu.


Suasana hati Bianca jadi buruk, ia tidak ingin memancing pertengkaran, tapi ia juga penasaran apa Ilham punya wanita lain. Kalau memang ada, kenapa juga Ilham mau menikahinya.


Akhirnya Bianca memilih bertanya, setidaknya mereka belum menikah dan kalau misalnya Ilham hanya mempermainkannya, ia tidak perlu sakit hati ditinggal sekarang.


Bianca : "Boleh aku tahu siapa itu?"


Ilham : "Yang mana?"


Bianca : "Yang tadi menelponmu? My princess..."


Bianca menahan kata-katanya tetap tenang, padahal jantungnya sedang berdebar kencang menunggu jawaban.


Ilham : "Kau akan segera bertemu dengannya."


Bianca : "Tapi siapa dia?"


Ilham : "Dia orang yang sangat aku sayangi."


Bianca : "Perempuan?"


Ilham : "Iya."


Bianca : "Apa dia sangat spesial?"


Ilham : "Iya."


Bianca : "Apa hubunganmu dengannya?"


Ilham : "Apa kau cemburu?"


Bianca : "Mungkin..."


Bianca bangkit dari duduknya dikursi, ia keluar dari ruangan Ilham dan masuk ke ruang kerja Alex. Ditangannya ada dokumen yang sudah ia selesaikan. Ia sudah tidak mood kerja untuk hari ini dan memilih pulang saja.


Bianca : "Aku pulang duluan ya. Besok aku lanjutkan lagi."


Ilham : "Iya."


Bianca melangkah dengan gontai menuju lift, perasaannya sudah campur aduk. Ia ingin cepat-cepat pulang dan tidur.


------


Setelah perjalanan yang terasa cukup lama baginya, Bianca sampai juga di apartmentnya. Ia melemparkan tas mahalnya diatas meja sofa dan menghempaskan tubuhnya kesana.


Sepatunya tergeletak berantakan dipintu masuk, siapa saja akan tersandung kalau melintas disana. Bianca melepaskan blus dan roknya. Ia bersandar di sofa empuk dengan mata terpejam.


Bianca : "Aargg...!! Menyebalkan sekali!! Aku capek!"


Ting tong! Bianca membuka matanya, siapa yang datang? Ini bahkan belum jam pulang kantor, Bianca menoleh melihat jam dinding sudah jam 8 malam.


Bianca : "Astaga! Aku ketiduran... Perutku lapar."


Ting tong! Lagi-lagi bunyi bel. Bianca bangkit dari sofa, ia membuka pintu apartmentnya sedikit dan mengintip keluar.


Bianca : "Ilham?! Ngapain kamu kesini?"


Ilham : "Boleh aku masuk?"


Bianca tidak menyadari kalau ia hanya memakai pakaian dalam saja saat membukakan pintu lebih lebar untuk Ilham. Ia baru saja bangun, nyawanya bahkan belum terkumpul semuanya.


Matanya sedikit terpejam dengan tubuh bersandar ke pintu masuk. Ilham bisa melihat dengan jelas tahi lalat di punggung, panggul, dan juga paha belakang Bianca. Glug! Ilham menelan liurnya, ia berjalan mendekati Bianca.


Bianca merasakan bahunya tertutup sesuatu. Ia menunduk melihat pakaian dalamnya yang berwarna hitam terlihat jelas.


Bianca : "Kyaaa...!!"


Bianca hampir jongkok kalau lengannya tidak ditahan Ilham. Mereka berdua berdiri dengan posisi Ilham dibelakang Bianca memegang bahunya.


Ilham : "Apa kau sengaja menggodaku?"


Bianca : "Ti...tidak... Aku..."


Tubuh Bianca merinding saat Ilham mencium lehernya, ia terlalu malu untuk menghindar. Ilham menganggap itu sebuah undangan untuknya berbuat lebih jauh.


Ilham : "Aku boleh...?"


Bianca : "Ja... Jangan..."


Ilham : "Boleh makan malam disini...?"


Wajah Bianca semakin memerah, ia tidak menyangka kalau Ilham akan berkata begitu. Dirinya merasa malu sudah salah paham pada Ilham.


Ilham : "Atau kamu mau melakukan yang lain?"


Bianca : "Aku ganti baju dulu. Tunggu ya."


Saat Bianca berbalik, ia melihat Ilham telanjang dada. Ilham melepas kemejanya untuk menutupi tubuh Bianca. Bianca menatap mata Ilham mencari cinta untuknya. Mereka berdua hanyut terbawa perasaan  satu sama lain.


Bianca merangkul leher Ilham, ia ingin mencium pria itu tapi tanpa sepatunya, ia kesulitan menjangkau bibir Ilham.


Bianca : "Ugh... Susah banget."


Ilham : "Mau apa?"


Bianca : "Cium..."


Ilham : "Mandi sana... Bau acem..."


Bianca spontan melepaskan diri dari mengendus dirinya sendiri. Hanya tercium wangi parfum mahalnya saja.


Bianca : "Gak ada bau..."


Ilham : "Masa sich?"


Ilham menunduk mencium leher Bianca lagi. Bianca melangkah mundur sampai jatuh di sofa, ia kegelian dengan kelakuan Ilham.


Bruk! Ilham menerjang Bianca,


Bianca : "Apa yang kau lakukan?"


Ilham : "Aku lapar..."


Bianca : "Kalo gitu bangun dong. Aku gimana masak kalau kamu nindih aku gini."


Ilham : "Aku gak mau..."


Bianca : "Ilham...!! Rese!!!"


Bianca berteriak kesal, bukan karena Ilham gak mau bangun, tapi tangan dan bibirnya mulai menyusuri titik geli pada tubuhnya. Bianca sampai menggeliat menahan rasa geli disekujur tubuhnya.


Ia terpaksa membekap kepala Ilham di dadanya agar berhenti menggelitiki tubuhnya. Ilham memberontak saat ia tidak bisa bernafas. Tangannya menggapai kemana saja agar Bianca mau melepaskan dekapannya.


Bianca melepaskan Ilham, mereka saling pandang dengan nafas menderu. Pandangan Ilham menyusuri wajah cantik Bianca dan ia mulai menunduk mencium bibir wanita itu.


Bianca terkejut mendapat perlakuan manis daril Ilham, perlahan ia mulai merangkul leher Ilham, menikmati ciuman mania mereka.


Ilham : "Aku sayang kamu, babe."


Bianca : "Me too..."


-----


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------