
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 22
“Karena opa juga melakukan hal yang sama untukku,
Ken. Opa menjagaku dari pandangan orang yang menganggap kekuranganku sebagai
kelemahan. Opa menuntunku dengan sabar, membesarkan aku seperti orang yang
normal. Memberiku guru terbaik agar aku juga bisa merasakan sekolah meskipun
hanya dirumah. Bagiku kebahagiaan opa yang terpenting, Ken. Kamu ngerti kan?”
ucap Kaori dengan senyum manisnya.
“Berbaringlah. Sudah malam. Peluk?” tanya Ken.
“Kita akan melakukan itu?” tanya Kaori polos.
Ken tertawa, ia menarik Kaori dalam pelukannya lalu
mematikan lampu kamar. Kaori menarik selimut menutupi pundaknya, ia merasa
sedikit kedinginan karena AC yang dipasang dengan suhu minimal. Tapi pelukan
Ken membuatnya merasakan kehangatan.
“Kita akan melakukannya, tapi nanti setelah kita
menikah. Sekarang aku sangat lelah, habis menerima harta kekayaan yang banyak
sekali jumlahnya. Jadi sebaiknya kita tidur dulu,” ucap Ken sambil mencari
posisi yang lebih nyaman.
“Ken, sekarang kamu lebih kaya dari kakek Martin
ya?” tanya Kaori seperti memikirkan sesuatu.
“Mungkin, aku nggak tahu pasti. Kenapa emangnya?”
tanya Ken lagi.
“Kalau kamu lebih kaya, artinya kamu lebih
berkuasa, Ken. Harusnya bisa menolak permintaan kakek Martin tanpa nyusahin
opa, kan?” tanya Kaori yang pintar.
“Aku nggak salah milih kamu jadi calon istriku ya.
Kamu sangat cerdas dan cantik. Tapi aku nggak bisa menolak permintaan kakek
Martin. Meskipun aku yang memiliki semua harta kakek, tetap saja semua itu
asalnya dari kakek. Aku nggak akan jadi begini kalau bukan karena kakek, Kaori.
Sama seperti kamu menyayangi om Alex, aku juga menyayangi kakek Martin seperti
itu. Apa salahnya kita membuat orang yang sudah menjaga kita selama ini,
bahagia, kan?” ucap Ken sambil mengecup kening Kaori.
Kaori tersenyum manis, ia semakin merapatkan
tubuhnya pada Ken dan perlahan mulai tertidur. Kaori merasakan kenyamanan saat
bersama pria itu. Meskipun jahil, tapi Ken adalah pria yang baik dan sangat
bertanggung jawab. Ken juga memejamkan matanya. Mereka berdua tertidur pulas
dalam kenyamanan yang menjaga satu sama lain.
**
Keesokan harinya, Kaori terbangun tanpa Ken
disampingnya. Pria itu sudah harus melakukan tugasnya dengan menjadi pengganti
kakek Martin. Ken berangkat pagi-pagi sekali ke negara B untuk meeting
perdananya dengan client perusahaan mereka.
“Nona, silakan mandi dan ganti pakaian, tuan muda
Ken ingin sarapan bersama anda,” ucap maid yang diperintah Ken untuk menjaga
dan melayani Kaori.
“Dimana Ken?” tanya Kaori ketika maid itu menuntun
Kaori menuju kamar mandi.
“Tuan muda Ken sudah berangkat bekerja pagi-pagi
sekali. Lima belas menit lagi ada sambungan conference call dengan tuan muda
Ken untuk nona Kaori,” kata maid itu lagi.
Kaori mandi dengan cepat, maid itu melayani Kaori
dengan baik dan sopan. Ken sudah memberi pengumuman kalau Kaori adalah calon
istrinya dan kalau sampai Kaori terluka, ia akan menghukum semua orang di
mansion itu. Setelah Kaori berpakaian dengan rapi dan terlihat cantik seperti
biasanya, maid itu menghidangkan sarapan pagi untuk Kaori.
“Kaori, selamat pagi,” ucap Ken dari Ipad yang
berdiri di depan Kaori.
“Ken, kamu dimana?” tanya Kaori tersenyum manis.
“Aku lagi di kantor. Apa sarapanmu enak?” tanya
Ken.
“Iya, Ken. Kapan kamu pulang? Apa aku boleh pulang
ke mansion kak Steven?” tanya Kaori.
“Apa aku boleh melarangmu?” tanya Ken.
“Tergantung, apa kamu berani melakukannya?” tanya
Kaori balik sambil menggigit potongan roti bakar dengan selai coklat. Ken
tertawa keras, Kaori sudah lebih berani menggodanya sekarang. “Ken, aku kangen
sama opa. Aku boleh pulang ya?” bujuk Kaori sambil menyibak rambut panjangnya.
Ken membelai layar laptopnya, ia sudah merindukan
Kaori, padahal mereka baru berpisah beberapa jam yang lalu. Sejujurnya Ken
ingin sekali segera meminang Kaori, ia tidak mau berpisah lagi. Tapi ia takut
Kaori sedih karena di masa peralihan seperti sekarang ini, Ken akan lebih
sering bepergian keluar kota bahkan keluar negeri.
“Kaori, mungkin om Alex sudah menunggumu dibawah. Aku
akan sangat sibuk beberapa minggu ini. Tapi aku janji akan menelponmu?” ucap
Ken.
“Yey! Makasih, Ken. Aku akan menunggumu di rumah
opa ya. Sampai jumpa lagi,” seru Kaori yang merasa sangat senang.
Ken melihat Kaori meminta maid untuk mengantarnya
ke bawah. Bahkan sambungan c-call masih berlangsung. Saat Ken hampir mematikan
laptopnya, Kaori tiba-tiba berkata, “Ken, aku mencintaimu.”
“Apa? Bilang sekali lagi, Kaori. Aku belum
merekamnya,” rengek Ken.
“Kamu itu sudah duapuluh tahun, masih merengek
seperti bayi. Aku turun dulu ya, Ken. Sampai jumpa,” ucap Kaori.
Ken bersorak kegirangan, ia tidak peduli kalau
stafnya menatapnya dengan pandangan aneh. Pria itu semakin bersemangat
mengerjakan tugasnya agar bisa segera menemui Kaori.
**
menunggunya disana bersama Endy dan Kinanti. Tidak ada sepatah katapun yang
keluar dari orang tua Ken itu. Kaori yang merasakan kehadiran Alex disana,
menyapa opanya itu dengan hangat.
“Opa, selamat pagi. Ayo kita pulang. Ken sudah
berangkat kerja pagi-pagi sekali.” Kaori memeluk Alex yang meraih tangannya.
“Ya, ayo kita pulang,” sahut Alex tanpa menunggu
kata-kata dari Endy atau Kinanti.
Kinanti menahan dirinya untuk tidak bicara apapun
ketika melihat Alex membawa Kaori pergi. Endy menepuk pundak Kinanti lalu
tersenyum padanya.
“Kamu kenapa?” tanya Endy melihat Kinanti melamun.
“Ayo kita liburan,” ajak Kinanti sambil tersenyum
pada Endy.
“Kamu yakin?” tanya Endy.
“Ya, serahkan saja perusahaan kita pada anak itu.
Uang simpananku sudah lebih dari cukup untuk kita. Aku sudah merasa sedikit
lelah,” kata Kinanti.
Endy mengambil ponselnya lalu menelpon Ken, ia
hanya mengatakan pada Ken untuk mengawasi perusahaan selama Endy dan Kinanti
pergi. Kenzo akan dititipkan pada Alan dan Ginara sampai Ken kembali.
“Memangnya papa mau kemana?” tanya Ken.
“Kami akan pergi bulan madu, Ken,” sahut Endy. Pria
itu berjalan menjauh dari Kinanti karena tidak ingin Kinanti mendengar kata-kata
Endy berikutnya. “Mamamu sakit, Ken. Dia perlu istirahat dan tidak boleh
berpikir berat. Papa harap kamu bisa dipercaya, Ken,” kata Endy tegas.
“Baik, pah. Tapi ada syaratnya,” ucap Ken.
Endy terdiam, ia mulai ragu pada Ken. Sepertinya
apa yang dikuatirkan Kinanti akan segera terjadi. Endy menoleh menatap Kinanti
yang masih menunggunya di sofa. Demi wanita itu, Endy bisa melakukan apa saja.
Kalau sampai mereka jatuh miskin, Kinanti pasti akan menderita. Tapi Endy lebih
mengkuatirkan kesehatan Kinanti saat ini. Ia akan mengambil resikonya apapun
yang terjadi.
“Apa syaratmu?” tanya Endy dingin.
“Saat aku kembali nanti, aku ingin papa dan mama
setuju dengan hubunganku dan Kaori. Aku ingin menikahi Kaori, pah,” kata Ken
cepat.
“Memangnya papa dan mama melarangmu berhubungan
dengan gadis itu? Kau itu bisa mendapatkan gadis manapun yang kamu mau. Sejak
dulu keluarga Wiranata tidak pernah menikahi siapapun yang tidak mereka cintai.
Meskipun sifatnya matre sekalipun. Kamu mengerti, Ken?” kata Endy mengingat
sifat Kinanti.
“Serius, pah!! I love you, pah! Papa yang terbaik!”
teriak Ken girang.
“Ken, jaga sikapmu. Jangan seperti anak kecil! Jaga
wibawamu di depan semua orang!” bentak Endy.
Keduanya sama-sama terdiam, Ken masih tersenyum
merasa sangat senang. Sedangkan Endy masih kesal karena Ken tidak bisa menjaga
sikapnya.
“Pah, udah selesai? Aku mau lanjut meeting lagi.”
Ken menoleh saat asistennya masuk ke ruangannya dan mengatakan kalau meeting
akan segera dimulai.
Endy mengakhiri pembicaraan mereka, ia kembali
duduk di samping Kinanti yang sedang mencari tempat liburan yang nyaman tapi
tidak terlalu mahal. Endy memeluk pinggang Kinanti, ia mengatakan kalau mereka
bisa pergi ke pulau pribadi milik keluarga Wiranata dan berkeliling pulau itu. Setelah
persiapan mereka selesai, Endy dan Kinanti pergi berlibur ke pulau pribadi
keluarga Wiranata.
**
Dua tahun kemudian,
Kaori kembali ke mansion Steven untuk menikmati
liburan bersama keluarga Alex. Sekali lagi merayakan ulang tahun Renata yang
kali ini akan lebih meriah dengan kehadiran teman-teman kuliahnya juga. Reynold
sudah menyiapkan semua yang diperlukan untuk pesta ulang tahun Renata kali ini.
Karena selain pesta ulang tahun, Renata juga sudah lulus kuliah dan langsung
diterima bekerja di perusahaan swasta yang cukup bergengsi di negara A.
Mendengar rencana pesta ulang tahun yang sudah
disiapkan Reynold, membuat Kaori sedikit sedih. Sudah dua tahun ini ia belum
pernah bertemu secara langsung dengan Ken. Pria itu sangat sibuk sampai-sampai
untuk bicara saja, mereka hanya bisa melakukannya beberapa jam dalam seminggu.
Tahun lalu saat pesta ulang tahun Renata, Ken tidak
bisa datang untuk merayakan pesta ulang tahun mereka bersama-sama. Ken sedang
mempersiapkan peluncuran produk baru, hingga harus menahan rindunya dengan
hanya mengobrol lewat c-call.
Untuk tahun ini pun, Ken tidak bisa datang karena
ia harus mengurus perusahaan milik Endy dan Kinanti. Setelah ditangani Ken,
perusahaan mereka berdua semakin berkembang pesat sampai-sampai Endy dan
Kinanti memutuskan untuk berlibur lebih lama. Belum lagi harus mengawasi
perusahaan warisan kakek Martin juga, membuat Ken sama sekali kekurangan waktu
untuk bersama keluarganya.
Melihat Kaori yang terus melamun, Renata
mendekatinya. Saat itu mereka sedang duduk bersama di ruang tengah untuk
menikmati cemilan dan juga melihat dekorasi yang sudah disiapkan untuk pesta
ulang tahun Renata. Kaori yang merasakan kehadiran seseorang di sampingnya,
segera tersenyum meskipun hatinya sedang sedih.