
Obat sembelit
Keesokan harinya, Rio memaksakan dirinya untuk
bekerja. Ia menjemput Gadis lebih dulu sebelum ke kantor. Keringat dingin membasahi keningnya saat rasa sakit kembali
ia rasakan ketika menyetir mobil.
“Rio, kamu gak pa-pa?”tanya Gadis setelah ia duduk
di samping Rio.
“Nggak. Emang kenapa?”tanya Rio sambil tetap
konsentrasi menyetir.
“Mukamu kenapa pucet gitu?”tanya Gadis lagi
“Masa? Gak juga. Aku gak bisa tidur semalem.”jawab
Rio sambil menengok ke kanan dan kiri ketika mereka sampai di pertigaan jalan.
“Kenapa?”tanya Gadis ikutan menoleh ke kanan dan ke
kiri.
“Sibuk mikirin kamu.”gombal Rio asal.
Gadis merona mendengar gombalan Rio sepagi itu.
Nyatanya Rio tidak bisa tidur karena rasa sakit dari luka-lukanya. Padahal ia
sudah minum obat penghilang rasa sakit, tapi tetap tidak bisa tidur.
“Dih, gombal pagi-pagi. Uda sarapan?”tanya Gadis
sambil melirik Rio.
“Udah tadi. Aku harus minum obat soalnya...”jawab
Rio yang langsung merutuki mulutnya yang hampir keceplosan.
“Obat apa? Kamu sakit?”kejar Gadis sudah menoleh ke
arah Rio.
“Itu... obat sembelit.”kata Rio agak ragu.
Gadis mengkerutkan keningnya, hari ini Rio cukup
aneh seperti sedang memendam sesuatu. Mungkin memang benar kalau dia sedang
sembelit. Mereka segera sampai di kantor Alex. Rio minta Gadis turun duluan
karena dia mau parkir dulu.
Gadis menuruti Rio, ia turun lebih dulu dan
langsung menuju lift. Gadis sampai lebih dulu di lantai kantor Alex. Ia
menyempatkan dirinya membuka bekal yang tadi diberikan Rio yang katanya titipan
dari Mia. Ada susu hangat dan roti tawar juga.
Sementara Rio masih berada di dalam mobilnya ketika
Alex datang dan memergokinya merintih kesakitan di dalam mobil.
“Seharusnya kamu tetap di rumah, Rio. Kenapa maksa
ke kantor?”kata Alex sambil geleng-geleng kepala.
“Rio gak mau Gadis curiga, pah.”kata Rio sambil
memperbaiki posisi duduknya.
“Sekarang kamu pulang. Istirahat di rumah. Nanti
papa bilang kalau kamu papa tugaskan ke luar kota mendadak.”perintah Alex.
“Ntar siapa yang antar Gadis pulang?”tanya Rio
masih ngeyel.
“Nanti Romi yang antar. Rumahnya kan sejalan. Bisa
pulang sendiri?”tanya Alex merasa khawatir pada putranya.
“Bisa, pah.”jawab Rio yakin.
“Ya sudah hati-hati di jalan. Kabarin papa kalo uda
sampai di rumah ya.”kata Alex.
“Iya, pah.”
Alex ikut menutupi kecelakaan yang dialami Rio
semalam. Ia sengaja mengatakan pada Gadis dan Romi kalau Rio mendadak dikirim
ke luar kota selama beberapa hari untuk bertemu dengan client mereka.
Rio kembali ke rumah Alex dan teringat dengan
janjinya untuk menemui Katty. Ia mengirimkan chat pada Katty kalau Rio mungkin
baru akan ke rumahnya nanti malam. Ia mengambil foto selfienya dengan lengan
dan kaki dibalut perban putih. Diluar dugaannya, Katty menelponnya.
“Kamu kenapa bisa gitu, Rio?”tanya Katty dengan
nada khawatir.
“Rio kecelakaan semalem waktu ngejar Gadis, kak.”jelas
Rio.
“Kamu dimana?”tanya Katty.
“Rio di rumah, kak. Kenapa?”
“Kakak kesana sekarang. Kamu harus cerita detail,
Rio.”kata Katty dengan terburu-buru.
“Maaf ya, kak. Semua terjadi diluar kesadaran Rio.”kata
Rio.
Katty mengatakan kalau ia akan segera sampai di
rumah Rio. Rio duduk di ruang keluarga, Mia yang baru keluar dari kamarnya,
segera mengecek keadaan Rio.
“Rio, kamu gak pa-pa?”tanya Mia dengan khawatir.
“Iya, mah. Papa nyuruh pulang istirahat.”jawab Rio
sambil meringis menahan sakit di tangannya.
“Gadis udah tau?”tanya Mia lagi.
“Nggak, mah. Papa alasan Rio dikirim ke luar kota
untuk ketemu client selama beberapa hari.”jawab Rio lemah.
Mia mengelus kepala Rio dan menyuruhnya istirahat
di kamar tapi Rio mengatakan kalau Katty akan datang sekarang.
“Oh, kalau gitu kamu mau makan?”tawar Mia.
“Rio baru habis sarapan, mah. Masa harus makan
lagi?”
“Harus makan lagi biar cepet sembuh. Ntar mama
Rio pasrah saja disuruh makan lagi. Berat badannya
sepertinya bertambah akhir-akhir ini karena terus makan. Rio mengeluarkan
kemejanya dari dalam celana panjangnya. Ia menarik kemeja itu keatas untuk
melihat apa ABS-nya masih ada atau tidak.
Kalau Kaori ada disini, pasti ia akan mengeluh
kalau ABS Rio sudah lembek. Rio melirik HP-nya yang masih memasang wallpaper
foto Kaori. Foto yang selalu berganti setiap ia mengunci HP-nya.
”Kaori, apa aku akan mengecewakan kak Katty lagi?
Aku gak bisa jaga kamu, sekarang aku harus bersama Gadis karena perbuatanku.
Apa aku bisa melakukannya dengan baik?”
Mia memberikan sepiring sarapan lagi untuk dimakan
Rio. Ia ikut duduk di ruang keluarga menemani Rio makan.
“Mah, apa Rio salah?”tanya Rio sambil mengunyah
makanannya pelan-pelan.
“Hmm? Maksudmu Gadis?”tanya Mia.
“Sejak Kaori pergi, tidak pernah sedetikpun Rio
melupakan Kaori. Semuanya masih tersimpan disini, setiap sentuhannya, ciuman
kami, suaranya, semuanya tentang Kaori masih bisa Rio rasakan.”kata Rio sambil memegang
dadanya yang terasa hangat setiap mengingat Kaori.
“Sekarang ada Gadis, Rio merasakan cinta yang sama.
Cinta yang diberikan Kaori, sama seperti cinta yang diberikan Gadis. Tapi Rio
takut, mah.”sambung Rio lagi.
“Kamu takut apa?”tanya Mia.
“Rio takut menyakiti Gadis, mah. Waktu kami kencan
untuk pertama kalinya kemarin, Rio berusaha mencintainya, menunjukkan kalau Rio
peduli sama dia. Tapi tetap saja Rio mengecewakan Gadis, mah.”kata Rio memelas.
“Apa karena Katty?”tanya Mia lagi.
“Ya, mah. Rio ingin cerita semuanya sama kak Katty,
tapi Rio gak berani, mah.”
“Kenapa gak berani? Apa kau berbuat salah?”tanya
Katty pada Rio.
Mia dan Rio menoleh melihat Katty dengan perut
besarnya sudah berdiri di dekat ruang keluarga. Katty sudah masuk kesana dari
pintu depan yang dibiarkan terbuka oleh Rio sejak Rio mulai bertanya pada Mia
apa dirinya salah. Katty mendekati Rio yang masih menatapnya.
Katty memeriksa luka di kaki dan lengan Rio. Ia
memukul punggung Rio perlahan.
“Kenapa kamu ceroboh sekali? Kamu gak tahu seberapa
takutnya aku lihat keadaanmu kayak gini.”kata Katty khawatir.
“Maaf, kak. Rio yang salah.”kata Rio memohon maaf.
“Siapa dia, Rio? Kenapa kamu gak cerita sama aku?
Kamu gak anggap aku kakak lagi ya?”tanya Katty yang mulai emosi.
“Kejadiannya cepat sekali, kak. Aku mabuk waktu itu
dan menganggap Gadis adalah Kaori. Aku memaksa Gadis, kak. Padahal dia sudah
teriak, meronta, tapi aku gelap mata.”jelas Rio sambil menunduk.
“Apa dia hamil?”tanya Katty ragu-ragu.
“Iya, kak.”jawab Rio takut.
“Bodoh kau!!!”bentak Katty emosi.
Rio dan Mia terkejut mendengar teriakan Katty.
*****
Gadis memperhatikan ponselnya, ia ingin mengirimkan
chat pada Rio dan menanyakan kabarnya. Tapi ia ragu-ragu dan malu. Gadis
memperhatikan kursi Rio sambil melamun. Ia tidak mendengar suara telpon masuk, membuat
Romi melongok melihatnya.
“Gadis, ada telpon. Gadis!”panggil Romi sambil
menunjuk-nunjuk telpon.
“Hah? Oh, iya, pak.”kata Gadis setelah tersadar.
Gadis mengangkat telpon itu. Ia bicara cukup lama
sampai Alex tidak bisa menelponnya. Alex keluar dari ruangannya hanya untuk
melihat Gadis. Ia mengangguk setelah melihat Gadis masih online. Hari sudah
semakin siang dan Alex mengajak Gadis makan siang di kantin kantor.
Beberapa karyawan yang bertemu dengan Alex dan
Gadis di kantin, mulai berbisik-bisik. Tak sedikit dari mereka yang bergosip
tentang hubungan keduanya. Alex tidak mempedulikan gosip itu, tapi tidak bagi
Gadis yang merasa tidak nyaman.
“Kamu mau makan apa?”tanya Alex sambil
membolak-balik menu di depannya.
“Pah, kok mereka ngliatin kita?”tanya Gadis sambil
melirik sekitarnya.
“Hehe... Mereka pikir kita ada hubungan spesial.”jawab
Alex santai.
“Hah?!”kata Gadis kaget.
*****
“Kenapa kaget?”tanya Alex bingung.
“Lupa belum vote, pah. Gimana dong? Diliatin sama
thor tuch.”kata Alex sambil nglirik author yang duduk di pojokan ngintip dari
balik laptop.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.