Duren Manis

Duren Manis
Extra part 8


Extra part 8


Rio keluar dari kamar Mia dan mendapati Ken sedang asyik ngobrol dengan Renata dan Kaori. Paper bag yang dibawanya masih ada di sampingnya. Sepertinya Ken belum mengatakan maksud kedatangannya ke rumah Alex.


“Loh, Ken belum dikasi minum? Ken mau minum apa?” tanya Rio berusaha menyenangkan Ken.


“Nggak usah, om. Ngerepotin nanti,” ucap Ken sopan di depan Renata dan Kaori.


Rio menaikkan alisnya, Ken tampak asyik mengobrol dengan Renata dan Kaori. Ketiganya langsung akrab padahal baru kenal. Rio beranjak ke dapur, ia minta tolong mb Minah untuk membuatkan es sirup dan cemilan untuk tamu kecil mereka.


Ketika Rio kembali ke ruang keluarga, Alex sudah ada disana. Opa ganteng itu duduk di samping Kaori, membacakan sinopsis sebuah buku cerita yang sepertinya baru ia beli untuk Kaori.


“Baru pulang, pah,” sapa Rio.


“Iya. Mamamu mana?” tanya Alex sambil beranjak dari sisi Kaori.


“Lagi di kamar tadi, pah,” sahut Rio.


Alex meminta Rio ikut dengannya ke halaman samping. Pria itu menanyakan tentang asal-usul Ken pada Rio. Dengan jujur Rio mengatakan kalau Ken adalah anak Endy dan Kinanti. Rio menceritakan pertemuan pertamanya dengan Ken sampai bisa jadi akrab seperti ini. Tapi Rio menyimpan bagian tentang kecurigaannya dari Alex.


Rio sempat deg-degan saat Alex menatapnya yang banjir keringat dingin. Biar bagaimanapun, Alex sudah hidup lebih lama darinya. Rio tidak bisa memungkiri kalau Alex memiliki insting yang kuat.


“Kamu kenapa pucet gitu? Kayak ada sesuatu yang disembunyikan,” kata Alex membuat Rio seketika balik badan meninggalkan papanya itu.


“Rio! Kamu mau kemana? Papa masih bicara, kamu malah pergi,” kata Alex sedikit kesal.


“Aku kebelet, pah!” saut Rio asal, yang penting bagi Rio saat itu adalah menjauh dari Alex segera.


Alex mengikuti Rio masuk ke dalam rumah lagi, ia langsung menuju kamarnya dan melihat Mia sedang menatap foto pernikahan mereka. Saking seriusnya menatap foto itu, Mia tidak sadar kalau Alex ada di


belakangnya.


“Sayang, kamu lagi ngapain?” tanya Alex sambil menyentuh pundak Mia.


Reaksi berlebihan Mia, membuat Alex mengerutkan keningnya. Istrinya itu tampak panik sampai hampir menjatuhkan foto di tangannya. Mia meletakkan foto itu kembali ke tempat semula. Ia beralih menatap


Alex. Setelah bertahun-tahun mengenal suaminya itu, Mia sangat tahu kalau Alex sedang berbohong atau tidak.  Tapi ia tidak pernah melihat ada sesuatu yang salah dengan tingkah laku Alex.


“Mas, udah pulang ya. Mandi dulu ya. Eh, aku mandi duluan ya. Gerah,” pinta Mia lalu berjalan ke kamar mandi duluan.


Alex melepaskan dasinya, ia membuka kancing kemeja dan juga celananya. Hanya ditutupi boxer, Alex ikut masuk ke kamar mandi lalu berdiri di belakang Mia.


“Sayang, udah lama nggak mandi bareng,” bisik Alex.


Mia memutar bola matanya malas, terakhir kali mereka mandi bareng itu kemarin sore sampai Mia menggigil kedinginan karena terlalu lama di kamar mandi, basah-basahan.


“Mas, kemarin kan udah. Aku mau mandi sendiri,” pinta Mia sambil manyun.


Alex memahami ada sesuatu yang sedang mengganggu Mia, tapi ia tidak mau pergi semudah itu. Alex melucuti pakaian yang tersisa di tubuh Mia. Ia menarik istrinya itu masuk ke shower. Dengan lembut, Alex


menggosokkan sabun ke tubuh Mia.


Alex tidak mengatakan apa-apa, ia hanya fokus membersihkan tubuh Mia dan tubuhnya sendiri. Alex bahkan membantu Mia keramas, memijat kepalanya sampai Mia merem melek dibuatnya.


Usai membilas sabun dan shampoo sampai tubuh mereka bersih kembali, Alex mengambil handuk lalu mengeringkan tubuh Mia. Ia menarik Mia ke depan meja wastafel dan mengangkat tubuh Mia hingga terduduk disana. Dengan sigap, Alex menarik hairdryer untuk mengeringkan rambut Mia.


Mia menatap Alex dengan pandangan sayu berkabut gairah. Suaminya itu selalu memanjakan dirinya meskipun Alex sedang lelah. Setelah rambut Mia setengah kering, Alex juga membantu menyisir rambut Mia dengan hati-hati.


“Mas, biar aku aja. Mas pake baju dulu sana. Ntar masuk angin,” kata Mia berusaha tidak minta jatah pada suaminya itu.


“Yakin mau aku pake baju?” tanya Alex menggoda Mia.


Mia menatap Alex, ia kembali teringat tentang kata-kata Rio tadi, yang meredupkan api hasrat di tubuhnya. Mia mengangguk lalu mengalihkan pandangannya dari tubuh Alex. Pria itu memilih keluar dari kamar mandi tanpa mengatakan apa-apa.


Alex bingung sendiri apa yang membuat Mia berubah seperti itu. Hari ini mereka kedatangan anak Endy dan Kinanti. Sebelumnya kalau ada tamu yang adalah teman dari anak-anak dan cucu-cucunya, Mia akan dengan


senang hati bergabung dengan mereka. Tapi sekarang, Mia terkesan menghindar dan mengurung diri di kamar.


Setelah Alex selesai berpakaian, ia memilih keluar kamar dan masuk ke kamar kerjanya. Sebelum sampai di kamar kerjanya, Alex melihat Ken, Renata, Kaori, dan Rio masih duduk di ruang keluarga ditemani sirup dan cemilan. Di dalam kamar kerja Alex, ia membuka laptopnya dan mencari aplikasi CCTV.


Alex memasang CCTV di kamarnya sendiri. Ia selalu memantau apa yang dilakukan Mia kalau dirinya tidak ada di rumah. Bukan karena Alex tidak percaya pada Mia, tapi ia tidak percaya pada pria-pria lain di rumahnya sendiri. Alex sangat cemburu kalau putra dan cucu laki-lakinya menempel pada Mia, bahkan hanya untuk curhat sekalipun.


Terlihat rekaman saat Mia masuk ke kamar mandi disusul Rio. Kening Alex mengkerut melihat Mia seperti sedang mengidam. Ia memegangi kepala dan juga perutnya. Hati Alex berbunga-bunga memikirkan mungkin


Mia sedang hamil lagi. Tapi melihat reaksi Mia, sepertinya ia tidak senang.


“Benar juga ya. Renata sudah besar sekarang. Kalau sampai Mia hamil lagi, bagaimana Renata bisa menerimanya? Sepertinya aku harus bicara dengan Mia sebelum anak-anak protes,” gumam Alex lalu menutup aplikasi CCTV-nya.


**


Ken menunduk malu-malu di hadapan Renata yang sudah siap mendengarkannya. Mereka duduk di ruang tamu hanya berdua saja.


“Renata, aku... aku akan pindah ke luar negeri untuk sekolah. Boleh nggak aku minta alamat e-mailmu? Aku mau menulis surat untukmu,” kata Ken malu.


“Alamat e-mail ya. Tunggu coba aku lihat di HP-ku. Kenapa nggak minta nomer telpon aja?” tanya Renata sambil membuka ponselnya.


“Kan lebih murah kalau kita komunikasi lewat e-mail. Bisa skype juga kan,” kata Ken.


Renata hanya mengangguk, ia memperlihatkan alamat e-mailnya dan Ken mencatatnya di ponselnya. Ketika Ken tidak sengaja menekan tanda back, ia melihat wallpaper Renata bersama dengan pria lain. Pose mereka


cukup mesra, membuat Ken geram.


“Itu siapa?” tunjuk Ken ke ponsel Renata.


**


“Itu saingan lo, Ken.” Author siap-siap nglempar air ke wajan panas.


Jangan vote di novel ini ya. Votenya di CINTA KEMBARKU aja, guys. Thanks ya.