Duren Manis

Duren Manis
Rahasia


Mia baru keluar dari kamar setelah mb Minah selesai memasak sarapan. Untuk sementara ia akan seperti itu agar tidak memancing ngidamnya.


Rara yang pada awalnya biasa aja, jadi penasaran apa yang terjadi dengan Mia. Ia sangat mengenal mama tirinya itu.


Mia tipe mama yang sangat perhatian pada anak-anaknya, sesibuk apapun kalau mereka gak ketemu, Mia akan mengirimkan chat pada mereka. Dan untuk sarapan, Mia selalu bangun pagi untuk membuatkan minimal telur mata sapi untuk mereka.


Di meja makan,


Rara : "Mama sakit ya?"


Mia yang sedang mengoleskan butter ke roti bakar Alex, menoleh padanya.


Mia : "Cuma ng-drop, Ra. Perubahan cuaca sich."


Rara cukup memaklumi karena ia juga panik melihat keadaan Mia kemarin dengan perban di kepalanya.


Tapi semakin hari, tingkat kemalasan Mia semakin parah. Puncaknya saat mereka merencanakan masak daging bakar untuk menyambut si kembar yang pulang untuk akhir pekan, Mia baru keluar dari kamar hampir jam 9 pagi.


Rara sedikit kesal pada Mia, karena ia menyiapkan semuanya sendiri.


Mia : "Ra, maaf ya. Mama bangun kesiangan."


Rara : "Mama masih sakit?"


Mia : "Gak juga sich."


Saat itu kandungan Mia memasuki bulan ketiga. Ia hampir keluar kamar tadi ketika mencium bau bumbu bakar yang dibuat Rara. Perutnya langsung mual, ia sampai harus menahan muntahnya di kamar mandi.


Mia menyadari Rara marah padanya, ia mencoba membujuk Rara dengan menjanjikan shopping bersama si kembar. Rara mulai luluh dan kembali ceria bersama Mia.


Pagi itu, si kembar datang bersama Alex yang menjemput mereka di asrama. Si kembar berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan barang-barang mereka masih berserakan di dalam mobil Alex hanya untuk memeluk Mia.


Alex yang khawatir Mia akan diterjang si kembar juga ikut berlari masuk setelah mengunci mobilnya. Mia yang mendengar kedatangan si kembar, bersembunyi di belakang tubuh Rara yang kebingungan melihat tingkahnya.


Rio : "Mama!! Mama kenapa?"


Rio dan Riri langsung ngerem mendadak melihat dahi Mia yang masih ditempel plester lebar. Mereka berjalan mendekati Mia dan memeluknya dengan sayang.


Mia : "Kesayangan mama uda pulang ya. Mama gak pa-pa. Cuma jatuh di kamar mandi."


Rio : "Tapi mama gak luka lain kan?"


Rio membolak balik tangan Mia, mengusap punggung mamanya itu sambil melihat ekspresi Mia. Alex yang melihat itu cemburu pada putranya.


Alex : "Rio, lepasin mama masih sakit."


Rio : "Rio cuma ngecek, mama ada yang sakit gak."


Alex : "Hish, papa uda ngecek cuma jidatnya aja yang benjol."


Rio dan Alex kembali berdebat berebut Mia, Mia melepaskan diri dari Rio dan memeluk Riri. Para wanita dewasa itu duduk di meja makan, dan mulai ngrumpi sambil cekikikan.


Mia : "Jadi, ketemu Elo di kampus nich."


Riri : "Riri gak tau kalo dia asdos, mah."


Mia : "Makin deket dong kalo gitu. Trus yang lagi satu gimana?"


Riri : "Sapa mah?"


Mia : "Itu yang blasteran. Kenny... Ken... Sapa namanya?"


Riri : "Keith? Ish, males banget. Anak mama banget."


Rara : "Ntar kepincut loh."


Riri : "Habisnya ngobrol sama dia gak mutu, diajak curhat malah baper. Sukanya ngobrolin harta kekayaan ortunya."


Rara : "Anak orkay ya. Dia suka sama kamu?"


Riri : "Riri gak suka sama dia. Cuma temen biasa."


Mia : "Kalo Elo gimana?"


Wajah Riri merona saat mendengar nama Elo. Ia menceritakan kejadian setelah upacara kelulusan dan Mia hampir berteriak karena senang.


Mia : "Masa sich? Elo gentle banget ya."


Alex : "Elo kenapa?"


Alex dan Rio sudah bergabung dengan mereka.


Mia : "Mau tau aja obrolan perempuan."


Alex dan Rio saling pandang, gak akan memang dech kalo lawan perempuan. Mending diem aja daripada kena omelan karena kepo.


Ting tong! Mereka menoleh ke pintu depan. Alex memberi tanda pada Rio untuk membuka pintu. Rio melalukan apa yang diminta papanya.


Ketika ia membuka pintu depan, Rio melihat sosok perempuan berdiri di depannya. Perempuan itu menoleh,


Kaori : "Oh, kamu toh."


Rio : "Aku kenapa?" Rio cukup surprise melihat Kaori di depan pintu rumahnya. Ia ingin menarik ekor kuda gadis itu.


Rio : "Ada di dalam. Masuk."


Saat Kaori melewatinya, Rio menarik pengikat rambut Kaori hingga rambutnya jatuh tergerai.


Kaori : "Iihhh... Rio! Kamu jahat!"


Rio tertegun melihat mata Kaori berkaca-kaca hampir menangis. Sepertinya ia sedang ada masalah.


Rio : "Maaf... Aku gak..."


Kaori : "Hmmpp.. hahahahahahahaha... Aduch, lucu banget ekspresi wajahmu. Makanya jangan iseng. Kapok aku kerjain balik."


Rio mengepalkan tangannya, Kaori membuatnya meminta maaf terlalu cepat. Entah kenapa ia gak suka melihatΒ  mata indah Kaori berkaca-kaca. Tawa Kaori menarik perhatian Riri yang mendekati mereka.


Riri : "Kaori! Kamu datang tepat waktu. Ayo kita makan dulu. Habis nich ke mall ya."


Kaori : "Aku uda sarapan kok. Aku tunggu disini aja, kamu makan dulu."


Riri : "Uda gabung aja. Makan dikit gak pa-pa."


Kaori : "Beneran dech, uda full banget nich. Aku minta air aja ya."


Kaori mengibaskan rambutnya yang tergerai. Ia celingukan mencari ikat rambutnya yang masih digenggam Rio.


Kaori : "Rio, balikin ikat rambutku. Cepetan."


Rio : "Gak ada. Jatuh kali."


Kaori celingukan disekitar Rio yang masih berdiri di ruang tamu.


Kaori : "Itu di tanganmu apa?"


Rio : "Gak ada apa."


Kaori menarik tangan Rio, ia mencoba membuka genggaman tangan Rio. Makin ia mencoba, genggaman tangan Rio semakin kuat.


Kaori membalik tubuhnya membelakangi Rio, ia mengerahkan tenaganya mencoba membuka genggaman tangan Rio sampai mereka terlihat sedang berpelukan.


Mia : "Ehem...


Kaori : "Eh, kakak. Siang, kak. Ini Rio, gak mau balikin ikat rambut saya."


Rio tidak mau melepaskan genggamannya. Ia masih menikmati pelukan pertama mereka. Kaori yang menyadari ada yang salah dengan posisi mereka segera menyikut perut Rio.


Mia : "Ini diminum dulu. Kaori gak mau makan disini?"


Kaori : "Beneran uda kenyang, kak. Saya tunggu disini ya."


Mia : "Duduk aja di dalam ada TV juga loh bisa sambil nonton."


Kaori : "Makasih, kak."


Saat Kaori mengikuti langkah Mia, ia hampir menabrak Mia yang tiba-tiba berhenti. Bau daging bakar mulai memenuhi rumah itu.


Mia memegangi perutnya dan tak bisa menahan muntahnya. Kaori yang menyadari keanehan pada Mia, memegang tangannya. Pakaian Kaori sampai kena muntahan Mia.


Hoeek! Hoeekk! Tubuh Mia meluncur turun dan Rio dengan sigap menahan tubuhnya.


Rio : "Mah?! Mama kenapa?!"


Alex yang mendengar suara Mia muntah, dengan sigap menggendong Mia ke kamar mereka.


Rara : "Mama kenapa?"


Semua orang panik mengurus Mia, meninggalkan Kaori yang kebingungan karena pakaiannya kotor.


Tak lama Rio kembali menemui Kaori yang sedang membersihkan bekas muntahan Mia di kaosnya. Ia mencium bau kaosnya dan hampir ikut muntah juga.


Rio : "Kamu ganti baju dulu sana. Bawa ganti kan?"


Kaori : "Hehe... Nggak. Mamamu kenapa?"


Rio : "Cuma masuk angin. Ayo, ke lantai 2."


Rio naik duluan diikuti Kaori, ia menunjuk kamar mandi disana dan juga kamar Riri.


Rio : "Aku ambilkan baju ganti dulu."


Kaori berdiri di depan kamar mandi, menunggu Rio keluar dari kamarnya.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲