Duren Manis

Duren Manis
Maafkan papa


Katty tercekat


melihat papanya berdiri di dekat meja dapur dengan tangan mengaduk segelas


susu. Ia hampir kabur dari dapur saat papanya memanggil Katty,


Papa Katty :


“Nak... Ini susumu. Minum dulu.”


Katty menarik nafas


panjang dan berjalan mendekati papanya. Ia mengambil susu hangat yang sudah


disiapkan papanya dan meminumnya sampai habis.


Katty : “Uhuk!


Uhuk!” Katty terbatuk saat minum sambil berusaha menahan tangisannya.


Papa Katty :


“Pelan-pelan, nak.”


Papa Katty menepuk


punggung Katty perlahan sampai batuk Katty mereda. Dengan lembut papa Katty


mengusap rambut panjang Katty yang disemir kecoklatan. Hanya sebentar melakukan


itu dan menarik tangannya lagi. Mereka berdua terdiam lagi.


Papa Katty :


“Nak... Apa kau bahagia?”


Katty : “Maksud,


papa?”


Papa Katty tercekat


mendengar Katty memanggilnya papa. Ia tersenyum samar, mengumpulkan kerutan di


bawah matanya menjadi satu.


Papa Katty :


“Menikah dengan Jodi. Apa kau bahagia?”


Katty : “Iya, pah.


Dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Dia juga membelikan...”


Katty menatap


papanya yang masih menunggu lanjutan kalimat yang digantungnya.


Katty : “Jodi


membelikan Katty rumah, pah.”


Papa Katty :


“Syukurlah kalau gitu. Tapi papa gak keberatan kalau kalian tinggal disini.”


Mereka diam lagi.


Katty merasa kalau dirinya sudah terlalu lama keluar dari kamar dan ingin


melihat Jodi.


Katty : “Pah...


Katty masuk ke kamar lagi ya.”


Papa Katty : “Jodi


sudah tidur?”


Katty : “Tadi belum


sich, mungkin sekarang udah.”


Papa Katty :


“...Nak...”


Katty : “Ya, pah?”


Papa Katty :


“Maafin papa ya.”


Katty : “Papa...”


Katty mendekati


papanya dan memeluk tubuh papanya yang lebih kurus dari terakhir mereka


bertemu.


Katty : “Katty yang


salah, pah. Maafin Katty, pah.”


Keduanya sama-sama


menangis dan sama-sama keras kepala saling menyalahkan diri sendiri. Jodi


mengintip dari balik kulkas dan terharu melihat anak dan ayah itu saling


meminta maaf satu sama lain. Jodi tidak sendirian, mama Katty juga mengintip


dari tempat yang sama dan sudah mulai menangis haru.


Mama Katty : “Makasih,


nak. Kamu sudah membawa Katty kami pulang.”


Mama Katty


bersandar di lengan Jodi yang menjulang tinggi di sampingnya. Jodi tersenyum


pada calon ibu mertuanya dan merangkul lengan ibu mertuanya itu.


Papa Katty yang


sudah melepas pelukannya dari Katty, tidak sengaja melihat Jodi dan istrinya


sedang melihat mereka dari samping kulkas. Ia menatap tajam pada Jodi yang


merangkul istrinya.


Papa Katty : “Anak


muda, tidak cukup mengambil putriku? Tolong lepaskan tanganmu dari istriku.”


Jodi langsung


angkat tangan seperti penjahat yang tertangkap basah oleh polisi sedang mencuri


sesuatu.


Jodi : “Maaf, om.”


Mama Katty : “Pah,


gak pa-pa. Lengannya sama kayak lenganmu waktu muda dulu. Hangat dan keras.”


Mama Katty menarik


tangan suaminya dan merangkul lengan suaminya itu. Merajuk dan bertingkah manja


untuk meredakan kecemburuan suaminya terhadap calon menantu mereka. Katty


mendekati Jodi yang langsung memeluk pinggangnya.


Jodi : “Sekarang


aku tahu dari mana kau dapat sifat galak dan juga manjamu itu. Kau kombinasi


yang baik dari kedua orang tuamu. Sayang.”


Jodi mencium pipi


Katty dan menggelitikinya. Katty menahan tangan Jodi dan mencium bibir calon


suaminya itu. Papa dan mama Katty yang melihatnya jadi malu sendiri.


Papa Katty : “Ehem,


sebaiknya kita tidur, mah. Besok aku harus bangun pagi-pagi.”


Mama Katty : “Iya,


pah.”


Keduanya berjalan


melewati Jodi dan Katty yang masih asyik berciuman gak lihat tempat dan situasi.


*****


Guntur


memperhatikan dengan seksama kedua orang yang sedang berjalan memasuki hotel


milik papa Jodi. Ia baru saja keluar dari hotel tadi setelah mengurus beberapa


hal yang berhubungan dengan lamaran Jodi pada Katty.


Saat di tempat


parkir, ia sangat terkejut melihat Anisa berjalan sambil dirangkul oleh pria


yang sama yang pernah datang ke rumah Anisa. Guntur mulai berpikir yang


tidak-tidak tentang Anisa. Dilihat dari tempatnya berdiri, Anisa terlihat


sangat tidak sabaran.


Guntur mengkerutkan


keningnya, ia hampir pergi dari sana tapi memilih mengikuti Anisa dan pria itu


masuk kembali ke dalam hotel. Meski hatinya sakit, ia harus memastikan kalau


apa yang dilihatnya itu benar atau tidak.


Pria itu


mendudukkan Anisa di sofa hotel dan pergi meninggalkannya, sepertinya ia akan


membayar kamar untuk mereka. Posisi duduk Anisa cukup terhalang oleh pilar hotel


dan kesempatan itu dipakai Guntur untuk mendekati Anisa.


Guntur : “Anisa,


ngapain kamu disini?”


Anisa menatap


Guntur, kening Guntur mengkerut lagi melihat mata Anisa tidak fokus. Ia bahkan


tidak bisa bicara dengan benar. Anisa tampak seperti orang mabuk dengan wajah


merah dan wajah dipenuhi keringat. Guntur melihat sebagian hijab Anisa bahkan


sudah basah.


Anisa : “...tur...


to... long...”


Hanya itu yang di


dengar Guntur dan dengan cepat ia membopong Anisa masuk ke dalam lift yang


terbuka.


Sementara itu, pria


yang tadi membawa Anisa berjalan mendekati sofa dengan mulut bersenandung


riang. Ia terlihat sangat gembira dengan menggenggam kartu di tangannya. Tapi


sampai di sofa, ia mulai berteriak histeris karena tidak bisa menemukan Anisa


di tempat ia meninggalkannya.


Guntur membawa


Anisa ke penthouse milik papa Jodi. Tadi ia keluar bersamaan dengan Jodi dan


Katty yang akan pergi ke rumah orang tua Katty. Guntur masih membawa kartu


penthouse itu di tangannya.


Di dalam lift,


Guntur menurunkan Anisa yang memeluknya dengan erat. Tangan Anisa menyentuh


leher Guntur dan berusaha membuka kancing kemeja Guntur. Lift terbuka dengan


cepat dan Guntur membopong Anisa lagi, ia meletakkan Anisa diatas ranjang yang


sudah bersih dan rapi.


Guntur : “Apa yang


terjadi sama kamu, Nisa?”


Anisa menggeliat


diatas ranjang, ia mulai menarik hijab dan pakaiannya sendiri. Guntur menahan


tangan Anisa sebelum ia melepas hijabnya sendiri.


Guntur : “Anisa!


Sadar! Kamu kenapa?!”


Anisa : “Sa...sakit...


panas...”


Guntur : “Apa yang


dberikan pria itu sama kamu?! Anisa!”


Percuma bicara pada


Anisa sekarang, ia tidak sadar dengan dirinya saat ini. Guntur memutar otaknya,


ia melihat kamar mandi. Guntur kembali membopong Anisa masuk ke dalam kamar


mandi dan meletakkannya di dalam bath up.


Ia menghidupkan air


dingin di dalam bath up dan menahan Anisa tetap diam di dalam bath up. Perlahan


air dingin mulai memenuhi bath up, mendinginkan tubuh Anisa yang terus berkata


panas.


Anisa : “Panas...


panas...”


Guntur : “Anisa!


Anisa?!”


Guntur mengguncang


tubuh Anisa saat ia tidak lagi bergerak dengan agresif. Perlahan Anisa mulai


membuka matanya dan matanya mulai fokus menatap Guntur.


Anisa : “Gun...tur...”


Guntur : “Ini aku,


Nisa. Kamu kenapa bisa sampai gini?”


Guntur mulai panik


saat mata Anisa kembali terpejam tanpa menjawab pertanyaannya. Ia mengangkat


penyumbat air di bath up dan mengambil handuk untuk membungkus tubuh Anisa.


Sekarang Guntur


kebingungan, ia melihat Anisa menggigil kedinginan karena pakaiannya basah.


Ia teringat Katty


dan segera berlari keluar dari kamar mandi, ia meninggalkan tasnya diatas sofa


tadi. Guntur mencari ponselnya dan mengutuk ponsel malang itu karena sudah mati


kehabisan baterai. Ia mengeluarkan semua isi tasnya dan tidak menemukan chargernya.


Sekali lagi Guntur


memaki dirinya yang bodoh melupakan chargernya di kantor. Guntur menoleh


menatap telpon hotel, ia bisa memanggil seseorang staf hotel perempuan untuk


membantu melepaskan pakaian Anisa. Tapi diurungkan niatnya, melihat kondisi


Anisa seperti itu, ia tidak mau orang lain melihat keadaan Anisa dan membuatnya


jadi bahan gunjingan orang.


Guntur masuk lagi


ke dalam kamar mandi, ia mengambil bathrobe dan dengan cepat melepaskan hijab


dan pakaian Anisa. Guntur berusaha fokus pada pakaian Anisa dan tidak melihat


lekuk tubuh Anisa yang ramping.


Pakaian Anisa


teronggok di samping bath up, Guntur mengangkat tubuh Anisa yang sudah berbalut


bathrobe dan membawanya ke atas ranjang. Guntur menyelimuti tubuh Anisa, ia


masuk kembali ke dalam kamar mandi dan membawa pakaian Anisa yang basah keluar


dari kamar.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲