
Katty tercekat
melihat papanya berdiri di dekat meja dapur dengan tangan mengaduk segelas
susu. Ia hampir kabur dari dapur saat papanya memanggil Katty,
Papa Katty :
“Nak... Ini susumu. Minum dulu.”
Katty menarik nafas
panjang dan berjalan mendekati papanya. Ia mengambil susu hangat yang sudah
disiapkan papanya dan meminumnya sampai habis.
Katty : “Uhuk!
Uhuk!” Katty terbatuk saat minum sambil berusaha menahan tangisannya.
Papa Katty :
“Pelan-pelan, nak.”
Papa Katty menepuk
punggung Katty perlahan sampai batuk Katty mereda. Dengan lembut papa Katty
mengusap rambut panjang Katty yang disemir kecoklatan. Hanya sebentar melakukan
itu dan menarik tangannya lagi. Mereka berdua terdiam lagi.
Papa Katty :
“Nak... Apa kau bahagia?”
Katty : “Maksud,
papa?”
Papa Katty tercekat
mendengar Katty memanggilnya papa. Ia tersenyum samar, mengumpulkan kerutan di
bawah matanya menjadi satu.
Papa Katty :
“Menikah dengan Jodi. Apa kau bahagia?”
Katty : “Iya, pah.
Dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Dia juga membelikan...”
Katty menatap
papanya yang masih menunggu lanjutan kalimat yang digantungnya.
Katty : “Jodi
membelikan Katty rumah, pah.”
Papa Katty :
“Syukurlah kalau gitu. Tapi papa gak keberatan kalau kalian tinggal disini.”
Mereka diam lagi.
Katty merasa kalau dirinya sudah terlalu lama keluar dari kamar dan ingin
melihat Jodi.
Katty : “Pah...
Katty masuk ke kamar lagi ya.”
Papa Katty : “Jodi
sudah tidur?”
Katty : “Tadi belum
sich, mungkin sekarang udah.”
Papa Katty :
“...Nak...”
Katty : “Ya, pah?”
Papa Katty :
“Maafin papa ya.”
Katty : “Papa...”
Katty mendekati
papanya dan memeluk tubuh papanya yang lebih kurus dari terakhir mereka
bertemu.
Katty : “Katty yang
salah, pah. Maafin Katty, pah.”
Keduanya sama-sama
menangis dan sama-sama keras kepala saling menyalahkan diri sendiri. Jodi
mengintip dari balik kulkas dan terharu melihat anak dan ayah itu saling
meminta maaf satu sama lain. Jodi tidak sendirian, mama Katty juga mengintip
dari tempat yang sama dan sudah mulai menangis haru.
Mama Katty : “Makasih,
nak. Kamu sudah membawa Katty kami pulang.”
Mama Katty
bersandar di lengan Jodi yang menjulang tinggi di sampingnya. Jodi tersenyum
pada calon ibu mertuanya dan merangkul lengan ibu mertuanya itu.
Papa Katty yang
sudah melepas pelukannya dari Katty, tidak sengaja melihat Jodi dan istrinya
sedang melihat mereka dari samping kulkas. Ia menatap tajam pada Jodi yang
merangkul istrinya.
Papa Katty : “Anak
muda, tidak cukup mengambil putriku? Tolong lepaskan tanganmu dari istriku.”
Jodi langsung
angkat tangan seperti penjahat yang tertangkap basah oleh polisi sedang mencuri
sesuatu.
Jodi : “Maaf, om.”
Mama Katty : “Pah,
gak pa-pa. Lengannya sama kayak lenganmu waktu muda dulu. Hangat dan keras.”
Mama Katty menarik
tangan suaminya dan merangkul lengan suaminya itu. Merajuk dan bertingkah manja
untuk meredakan kecemburuan suaminya terhadap calon menantu mereka. Katty
mendekati Jodi yang langsung memeluk pinggangnya.
Jodi : “Sekarang
aku tahu dari mana kau dapat sifat galak dan juga manjamu itu. Kau kombinasi
yang baik dari kedua orang tuamu. Sayang.”
Jodi mencium pipi
Katty dan menggelitikinya. Katty menahan tangan Jodi dan mencium bibir calon
suaminya itu. Papa dan mama Katty yang melihatnya jadi malu sendiri.
Papa Katty : “Ehem,
sebaiknya kita tidur, mah. Besok aku harus bangun pagi-pagi.”
Mama Katty : “Iya,
pah.”
Keduanya berjalan
melewati Jodi dan Katty yang masih asyik berciuman gak lihat tempat dan situasi.
*****
Guntur
memperhatikan dengan seksama kedua orang yang sedang berjalan memasuki hotel
milik papa Jodi. Ia baru saja keluar dari hotel tadi setelah mengurus beberapa
hal yang berhubungan dengan lamaran Jodi pada Katty.
Saat di tempat
parkir, ia sangat terkejut melihat Anisa berjalan sambil dirangkul oleh pria
yang sama yang pernah datang ke rumah Anisa. Guntur mulai berpikir yang
tidak-tidak tentang Anisa. Dilihat dari tempatnya berdiri, Anisa terlihat
sangat tidak sabaran.
Guntur mengkerutkan
keningnya, ia hampir pergi dari sana tapi memilih mengikuti Anisa dan pria itu
masuk kembali ke dalam hotel. Meski hatinya sakit, ia harus memastikan kalau
apa yang dilihatnya itu benar atau tidak.
Pria itu
mendudukkan Anisa di sofa hotel dan pergi meninggalkannya, sepertinya ia akan
membayar kamar untuk mereka. Posisi duduk Anisa cukup terhalang oleh pilar hotel
dan kesempatan itu dipakai Guntur untuk mendekati Anisa.
Guntur : “Anisa,
ngapain kamu disini?”
Anisa menatap
Guntur, kening Guntur mengkerut lagi melihat mata Anisa tidak fokus. Ia bahkan
tidak bisa bicara dengan benar. Anisa tampak seperti orang mabuk dengan wajah
merah dan wajah dipenuhi keringat. Guntur melihat sebagian hijab Anisa bahkan
sudah basah.
Anisa : “...tur...
to... long...”
Hanya itu yang di
dengar Guntur dan dengan cepat ia membopong Anisa masuk ke dalam lift yang
terbuka.
Sementara itu, pria
yang tadi membawa Anisa berjalan mendekati sofa dengan mulut bersenandung
riang. Ia terlihat sangat gembira dengan menggenggam kartu di tangannya. Tapi
sampai di sofa, ia mulai berteriak histeris karena tidak bisa menemukan Anisa
di tempat ia meninggalkannya.
Guntur membawa
Anisa ke penthouse milik papa Jodi. Tadi ia keluar bersamaan dengan Jodi dan
Katty yang akan pergi ke rumah orang tua Katty. Guntur masih membawa kartu
penthouse itu di tangannya.
Di dalam lift,
Guntur menurunkan Anisa yang memeluknya dengan erat. Tangan Anisa menyentuh
leher Guntur dan berusaha membuka kancing kemeja Guntur. Lift terbuka dengan
cepat dan Guntur membopong Anisa lagi, ia meletakkan Anisa diatas ranjang yang
sudah bersih dan rapi.
Guntur : “Apa yang
terjadi sama kamu, Nisa?”
Anisa menggeliat
diatas ranjang, ia mulai menarik hijab dan pakaiannya sendiri. Guntur menahan
tangan Anisa sebelum ia melepas hijabnya sendiri.
Guntur : “Anisa!
Sadar! Kamu kenapa?!”
Anisa : “Sa...sakit...
panas...”
Guntur : “Apa yang
dberikan pria itu sama kamu?! Anisa!”
Percuma bicara pada
Anisa sekarang, ia tidak sadar dengan dirinya saat ini. Guntur memutar otaknya,
ia melihat kamar mandi. Guntur kembali membopong Anisa masuk ke dalam kamar
mandi dan meletakkannya di dalam bath up.
Ia menghidupkan air
dingin di dalam bath up dan menahan Anisa tetap diam di dalam bath up. Perlahan
air dingin mulai memenuhi bath up, mendinginkan tubuh Anisa yang terus berkata
panas.
Anisa : “Panas...
panas...”
Guntur : “Anisa!
Anisa?!”
Guntur mengguncang
tubuh Anisa saat ia tidak lagi bergerak dengan agresif. Perlahan Anisa mulai
membuka matanya dan matanya mulai fokus menatap Guntur.
Anisa : “Gun...tur...”
Guntur : “Ini aku,
Nisa. Kamu kenapa bisa sampai gini?”
Guntur mulai panik
saat mata Anisa kembali terpejam tanpa menjawab pertanyaannya. Ia mengangkat
penyumbat air di bath up dan mengambil handuk untuk membungkus tubuh Anisa.
Sekarang Guntur
kebingungan, ia melihat Anisa menggigil kedinginan karena pakaiannya basah.
Ia teringat Katty
dan segera berlari keluar dari kamar mandi, ia meninggalkan tasnya diatas sofa
tadi. Guntur mencari ponselnya dan mengutuk ponsel malang itu karena sudah mati
kehabisan baterai. Ia mengeluarkan semua isi tasnya dan tidak menemukan chargernya.
Sekali lagi Guntur
memaki dirinya yang bodoh melupakan chargernya di kantor. Guntur menoleh
menatap telpon hotel, ia bisa memanggil seseorang staf hotel perempuan untuk
membantu melepaskan pakaian Anisa. Tapi diurungkan niatnya, melihat kondisi
Anisa seperti itu, ia tidak mau orang lain melihat keadaan Anisa dan membuatnya
jadi bahan gunjingan orang.
Guntur masuk lagi
ke dalam kamar mandi, ia mengambil bathrobe dan dengan cepat melepaskan hijab
dan pakaian Anisa. Guntur berusaha fokus pada pakaian Anisa dan tidak melihat
lekuk tubuh Anisa yang ramping.
Pakaian Anisa
teronggok di samping bath up, Guntur mengangkat tubuh Anisa yang sudah berbalut
bathrobe dan membawanya ke atas ranjang. Guntur menyelimuti tubuh Anisa, ia
masuk kembali ke dalam kamar mandi dan membawa pakaian Anisa yang basah keluar
dari kamar.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲