Duren Manis

Duren Manis
Kejutan yang menyakitkan


Kejutan yang menyakitkan


Mia memanggil nenek dan mb Minah agar ikut bergabung dengan mereka di ruang keluarga. Setelah Mia memberi tahu tentang kejutan yang disiapkan Arnold, semua orang mengangguk dan terlihat gembira.


Mia mengetuk pintu kamar Rara,


Rara : "Siapa?"


Mia : "Ini mama, Ra. Bisa keluar sebentar?"


Ceklek! Pintu kamar terbuka dan Rara melihat senyum manis Mia di depan pintu.


Semua : "Kejutan!!"


Rara : "Kenapa? Ada apa?"


Rara menatap bingung semua orang yang berdiri di ruang keluarga ketika ia keluar dari kamar.


Rara lebih kaget melihat Arnold berjalan mendekatinya sambil membawa buket bunga mawar yang besar.


Rara : "Mas, kakimu?"


Arnold : "Ya, sayang. Kejutan, aku bisa berjalan normal."


Rara : "Tapi terapinya? Dokter bilang kan..?"


Arnold : "Aku dah sembuh, Ra."


Rara : "Apa mas menganggap ini lelucon?"


Arnold melihat wajah Rara memerah menahan kemarahan.


Rara : "Kenapa mas tega?"


Arnold tidak bisa menjawab Rara. Lidah terasa kelu melihat reaksi Rara yang diluar dugaannya.


Rara berbalik dengan cepat masuk ke kamarnya dan membanting pintu menutup.


Ia duduk di atas ranjang mulai menangis dengan kesal. Arnold yang mencoba menyusulnya, dihentikan Mia.


Mia : "Tunggu, Arn. Biar mama aja. Kamu tunggu disini ya."


Suasana kemeriahan kejutan untuk Rara tadi berakhir dengan kecanggungan. Alex menemani Arnold duduk di ruang tamu.


Mia mengetuk pintu kamar Rara, ia mencoba membuka pintu itu yang langsung terbuka.


Mia : "Ra, mama masuk ya."


Tidak ada jawaban dari Rara, ia terlalu sibuk menangis sampai tidak mau mendengar apapun.


Mia membuka pintu kamar perlahan dan masuk ke dalam kamar Rara. Dilihatnya Rara duduk diatas ranjang.


Mia : "Ra?"


Rara : "Sejak kapan...hiks... hiks..."


Mia : "Mama baru tahu tadi, Ra. Mama uda bilang sama Arnold, tapi Arnold bilang mau ngasi kejutan malam ini."


Rara : "Jadi mas Arnold gak.. hiks.. lumpuh? Sebulan ini... hiks... hiks... cuma bohong?!"


Mia : "Arnold cuma...


Rara : "Sudah, mah. Jangan bela... hiks... hiks... mas Arnold lagi. Rara gak... hiks... mau denger."


Mia mengerti kekesalan Rara, selama ini Rara sudah cukup sabar dan tegar menghadapi kondisi Arnold. Ia menelan semua kata-kata orang tentang suaminya yang cacat.


Rara tidak pernah mengeluh sedikitpun pada Arnold. Ia berusaha merawat Arnold dan menjaga emosinya tetap stabil.


Rara mengusap air matanya, ia sudah sangat lelah.


Rara : "Mah, Rara mau tidur ya."


Mia : "Tidurlah, sayang. Mama disini."


Rara : "Rara gak mau...hiks... ketemu mas Arnold...hiks... dulu. Capek, mah."


Mia : "Iya, nanti mama larang dia masuk ke kamar."


πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”


Diluar, Arnold terus menoleh ke arah ruang keluarga. Ia menunggu Mia kembali, kecemasan tampak di wajahnya.


Alex menepuk pundak Arnold,


Alex : "Sabar ya, Arn. Rara akan baik-baik saja."


Arnold : "Arnold kira Rara akan bahagia mengetahui Arnold bisa jalan lagi."


Alex : "Kita tunggu mama dulu ya."


Arnold : "Harusnya Arnold jujur aja dari awal, pah. Tapi Arnold mau kasi kejutan sama Rara."


Alex : "Dia sudah cukup menderita dan kesepian sejak kamu koma, Arn. Rara tidak pernah mengeluh pada kami. Tapi kami tahu bagaimana perasaannya."


Mia : "Kasi dia waktu dulu ya. Dia gak mau ketemu kamu dulu, Arn. Capek katanya."


Mia muncul dari ruang keluarga. Arnold mulai menangis menyesali tindakannya. Mia dan Alex meninggalkannya sendirian karena bayi kembar mereka mulai menangis.


Arnold tetap duduk diam di ruang tamu sampai nenek juga balik ke kamarnya. Ia pindah duduk ke ruang keluarga, matanya tidak lepas melihat kearah kamarnya dan Rara.


πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”


Tengah malam, pintu kamar Rara terbuka. Ia terbangun karena lapar, di keremangan malam karena lampu yang sudah dimatikan, Arnold bisa melihat sosok Rara berjalan perlahan mendekati kulkas.


Rara mengambil sebuah kotak dan memakan isi kotak itu.


Ia juga mengambil segelas susu, sambil mengurut pinggangnya ia meneguk sedikit susu itu.


Air mata Arnold menetes tanpa ia sadari. Ia baru tahu kalau Rara sering terbangun di tengah malam untuk mengambil makanan.


Disaat dirinya tertidur pulas, seharusnya dia yang melakukan itu untuk Rara sejak sebulan yang lalu.


Arnold memukul kepalanya sendiri. Ia benar-benar tidak bertanggung jawab sebagai seorang suami dan calon papa.


Rara ingin kembali ke kamarnya, ia sempat berhenti di dekat ruang keluarga. Matanya memicing melihat sosok Arnold berbaring di ruang keluarga.


Arnold pura-pura tertidur, ia ingat kata-kata Mia yang menyampaikan kalau Rara tidak mau ketemu dulu dengannya.


Rara masuk ke kamarnya, dan keluar lagi mendekati Arnold sambil membawa sesuatu. Arnold tidak sempat menghapus air matanya.


Ia merasakan tubuhnya hangat karena selimut yang diletakkan Rara perlahan diatas tubuhnya.


Air mata semakin deras mengalir dari sudut mata Arnold. Ia masih menahan dirinya untuk tidak membuka mata.


Ia takut Rara semakin marah padanya dan berakhir menyakiti dirinya sendiri dan bayi mereka. Rara belum beranjak dari sisi Arnold. Ia mengusap pinggangnya yang masih sakit.


Arnold tidak tahan membuka matanya, ia duduk di samping Rara dan membantu mengurut punggungnya. Rara diam saja saat Arnold melakukan itu.


Arnold menahan dirinya untuk tidak memeluk Rara, ia hanya mengurut punggung istrinya itu.


Tiba-tiba Rara menegakkan tubuhnya. Ia berjalan kembali ke kamar tanpa bicara apa-apa lagi. Arnold melihat sosok Rara menghilang di balik pintu dan dia kembali berbaring.


Arnold menutup matanya dengan lengan, ia berharap air matanya berhenti mengalir untuk sekarang. Baru saja Arnold memejamkan mata, ia merasakan lengannya ditimpa sesuatu.


Rara kembali lagi, kali ini membawa bantal ibu hamilnya dan tidur di samping Arnold. Arnold membagi selimutnya dengan Rara, membiarkan istrinya itu tidur dalam pelukannya tanpa bicara apa-apa.


Ia tahu kalau Rara masih marah padanya. Arnold memilih diam, tertidur juga bersama Rara.


γ€€


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲