
Rara sudah selesai bersiap-siap. Ia turun dari lantai 2 dan duduk di meja makan. Mb Minah menghidangkan roti bakar dan nasi goreng untuk sarapan mereka.
Semalam, papanya sudah memberikan ijin Rara untuk menemani Arnold kesana. Sekaligus papanya berpesan agar Rara juga mengambil beberapa foto tempat itu mulai dari jalan masuknya.
Rara melirik jam tangannya, 10 menit lagi Arnold akan datang menjemputnya. Rara menunggu dengan gelisah. Ini pertama kalinya ia pergi sendiri bersama laki-laki yang ia sukai.
Alex yang sedang sarapan bersama nenek dan si kembar mulai memperhatikannya.
Alex : "Rara kenapa gelisah begitu?"
Nenek : "Maklum lah, ini pertama kali kencan."
Rara : "Bukan kencan, nek. Cuma jalan-jalan."
Nenek : "Apa bedanya?"
Alex menatap ibunya heran, sejak ibunya sering ngobrol dengan Mia, sedikit ada perubahan pada gaya bicara ibunya. Sepertinya ibunya merasa muda lagi alias puber kedua.
Rara : "Pokoknya bukan kencan, nek..."
Ting, Tong... bel rumah Rara berbunyi. Bukannya langsung ke depan, Rara malah meringkuk di kursinya. Ia mengambil ponselnya dan mulai berkaca.
Merapikan rambutnya, bajunya, dan make upnya. Mb Minah keburu berjalan ke depan untuk membukakan pintu.
Arnold : "Permisi, mb. Saya mau ketemu Rara."
Rara yang mendengar suara Arnold segera melesat ke depan tanpa mengucapkan apa-apa lagi pada papa dan neneknya.
Rara : "Hai, kak."
Rara mengamati pakaian yang dipakai Arnold saat itu. Kaos putih polos, ditutup jaket kulit coklat, celana jeans hitam, dan sepatu coklat. Rambutnya tersisir sedikit berantakan.
Untung saja Rara mengikuti saran Mia dan Alex mengenai penampilannya. Ia mengenakan kaos putih, celana jins, ditutupi jaket jins dan sepatu putih.
Arnold : "Rara sudah siap? Kita berangkat sekarang?"
Arnold dan Rara berpamitan sama mb Minah, karena Alex masih sarapan. Mereka segera masuk ke dalam mobil Arnold dan berangkat.
Arnold : "Ra, kamu cantik."
Wajah Rara bersemu merah dipuji Arnold yang masih fokus menyetir.
Selama perjalanan, mereka mengobrol seperti biasa. Mulai dari kuliah, gimana caranya biar cepet lulus. Cara nyari kerja cepet, sampai ngbahas binatang kesukaan.
Bayangkan selama perjalanan 1,5 jam itu, mereka punya bahan obrolan yang gak ada habisnya. Air minum yang mereka beli sampai habis tak tersisa.
Arnold menghentikan mobilnya untuk kedua kalinya di mini market terdekat.
Arnold : "Aku gak tau situasi disana nanti, aku mau beli minuman lagi. Kamu nitip apa?"
Rara : "Rara mau ke toilet aja, kak."
Arnold dan Rara keluar dari mobil. Tampak awan hitam di tempat yang akan mereka tuju. Arnold mengambil beberapa botol air minum dan roti lalu membayarnya di kasir.
Saat itu ia tidak sengaja menyenggol tumpukan ** yang ada di meja kasir. Beberapa ** jatuh di bawah kakinya. Arnold mengambil ** itu dan menaruhnya kembali ke meja kasir.
Rara yang kebetulan baru keluar dari toilet, melihat saat Arnold mengambil **. Wajahnya bersemu merah, meskipun belum pernah pacaran, Rara tahu beberapa hal tentang alat kontrasepsi.
Rara bimbang antara mendekati Arnold atau langsung kembali ke mobil. Dilihatnya Arnold kesulitan membawa botol air mineral dan Rara mendekatinya.
Rara : "Sini Rara bantu, kak."
Arnold meminta Rara mengambil roti dan menunggu kembalian. Rara menerima struk dan kembalian dari kasir. Mereka keluar dari mini market itu dan berjalan ke mobil.
Arnold : "Ra, tolong ambilin kunci mobil. Disaku celana depan kanan."
Rara mengantongi struk dan kembalian, tangannya bergerak memasuki saku celana Arnold yang diam tak bergeming. Tapi berbeda dengan tubuh bagian bawahnya yang mulai menggeliat.
Rara menyerahkan kunci ke tangan Arnold yang langsung membuka pintu mobilnya. Mereka masuk kembali ke dalam mobil.
Glegaarr!!!
Suara petir terdengar sangat keras, kilatan cahaya menerangi jalan raya yang sedikit berkabut. Hujan mulai turun dengan derasnya.
Arnold membawa mobilnya dengan hati-hati. Mereka tidak mungkin mengambil foto saat ini. Satu-satunya cara adalah mencari tempat untuk menunggu sampai hujan reda.
Arnold melihat ada plang resort di jalan yang menuju tempat tujuan mereka.
Arnold : "Ra, kita ke resort dulu ya. Sambil nunggu hujannya reda."
Rara : "Iya, kak."
Arnold menghentikan mobilnya di lobby. Suasana sedikit sepi, hanya ada seorang security yang bergegas menghampiri mereka.
Security : "Selamat siang, pak."
Arnold : "Siang, apa restaurantnya sudah buka?"
Security : "Mohon maaf, pak. Untuk saat ini resraurant sudah di booking untuk konferensi."
Arnold : "Kalau kamarnya ada?"
Security : "Untuk kamar, bapak bisa tanyakan langsung ke resepsionis."
Arnold : "Ra, turun dulu ya. Aku mau parkir mobil."
Security : "Bapak bisa parkir disini dulu. Kalau jadi menginap, silakan pindahkan mobil bapak ke tempat parkir di sebelah sana."
Arnold keluar dari mobil, setidaknya mereka tidak akan basah kuyup karena hujan deras ini. Arnold menggenggam tangan Rara masuk ke lobby.
Resepsionis mengatakan kalau hanya tersisa satu kamar kosong di resort itu. Arnold mengatakan apa boleh mereka menunggu hujan reda di restaurant atau di lobby.
Restaurant in door sudah dipesan untuk konferensi, sementara out door tidak bisa digunakan dengan hujan badai seperti sekarang.
Reseptionis : "Kalau bapak mau menunggu di lobby, tidak masalah. Tapi dengan hujan seperti ini, akan sangat lama menunggu. Apa nantinya bapak akan merasa nyaman?"
Arnold memperhatikan lobby, tidak banyak tempat duduk disana dan suasananya tidak nyaman untuk menunggu. Ia ingin segera makan karena sudah lapar dan tubuhnya perlu istirahat.
Arnold : "Ra, kita nunggu di kamar aja ya. Tidak keberatan kan?"
Rara : "...Iya, kak."
Sebenarnya Rara malu sekali kalau harus sekamar dengan Arnold. Meskipun mereka tidak menginap, tapi tetap saja ada rasa takut menghinggapi Rara.
Arnold : "Ok, saya ambil kamar itu. Tapi rencana saya tidak menginap disini. Kami cuma mau makan siang dan istirahat sebentar. Apa bisa bayar separuh untuk kamarnya?"
Resepsionis : "Maaf belum bisa, pak."
Ketika Arnold hampir membayar kamar itu, seseorang menepuk pundaknya.
Om Dewa : "Arnold, ngapain kamu disini?"
Arnold : "Om Dewa, apa kabar? Arnold mau survey tempat proyek baru. Om ngapain disini?"
Om Dewa : "Proyek yang dikatakan papamu minggu lalu? Loh, kamu gak tahu kalau resort ini punya papamu juga?"
Arnold saling pandang dengan Rara, ia bahkan tidak tahu kalau papanya salah satu pemegang saham di resort itu.
Om Dewa : "Kalian mau menginap? Atau..."
Om Dewa menarik Arnold menjauhi Rara, mereka bicara sambil bisik-bisik.
Om Dewa : "Siapa gadis itu? Pacar kamu? Kamu mau ngapain ngajak dia kesini? Kalian gak..."
Arnold : "Om jangan ngaco dech. Itu anak partnernya papa, mau survey juga. Tadinya Arnold cuma mau nunggu di resto aja, tapi gak bisa. Terpaksa Arnold apply room."
Om Dewa : "Awas kalau macem-macem ya, pakai kamar papamu aja. Sebentar om bilang dulu."
Arnold : "Thanks, om. Tapi jangan bilang papa ya. Ntar papa pikir Arnold nakal."
Om Dewa : "Hmm..."
Om Dewa memerintahkan resepsionis membuka kamar khusus untuk pemegang saham. Kamar suite yang jarang di buka untuk umum.
Arnold dan Rara masuk ke lift khusus untuk kamar itu dan segera tiba disana. Rara berkeliling kamar itu, pemandangan dari kamar itu sangat indah kalau hujan tidak mengaburkan pandangan.
Arnold menoleh ke pintu saat bel pintu berbunyi, room service mengantarkan makanan untuk mereka.
Rara masih berdiri di dekat jendela, Arnold mendekatinya dan berdiri di belakang Rara. Menyandarkan tangannya ke jendela. Rara terpaku mencium wangi parfum Arnold melingkupinya.
-------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------