
Restu kakak
Rio menutup wajahnya yang merah padam dengan handuk
dan berjalan keluar kamar mandi. Gadis menutup pintu kamar mandi dan
menguncinya. Wajahnya terasa panas dan jantungnya berdegup kencang. Untuk
pertama kalinya secara sadar mereka berdua merasakan sentuhan berhasrat untuk
satu sama lain.
Kedua kembali canggung saat turun ke lantai bawah. Alex
melihat sikap mereka dan menyikut Mia.
“Kenapa lagi tuch? Mukanya ampe merah gitu.
Jangan-jangan...”bisik Alex pada Mia.
“Kasi mereka, mas. Bagus kan kalo makin deket.
Mereka bisa cepat menikah. Eh, cantik juga Gadis make baju itu.”bisik Mia juga.
“Pah, mah, Rio sama Gadis nengok kak Katty dulu ya.”pamit
Rio.
“Iya, hati-hati di jalan. Pake mobil papa, Rio. Kakimu
kan masih sakit.”kata Alex sambil memberikan kunci mobil matic-nya.
“Mah, makasi bajunya. Pas banget.”kata Gadis pada
Mia.
“Pas? Padahal udah beli satu ukuran diatas ukuranmu
loh. Coba sini lihat.”panggil Mia.
Gadis mendekat dan Mia memeriksa baju yang
dipakainya. Mia mengatakan kalau pinggul Gadis mulai terlihat mengembang
layaknya pinggul wanita hamil.
“Mas, boleh belanja lagi?”tanya Mia pada Alex
sambil tersenyum manis.
“Tergantung.”kata Alex sambil tersenyum tipis.
“Iya. Malam ini double.”balas Mia yang sudah paham
pikiran mesum Alex.
Rio mencibir papanya yang kegirangan sendiri. Gadis
meminta Mia untuk tidak merepotkannya membeli pakaian terus. Ia menanyakan baju
hamil milik Rara atau Mia.
“Terlalu boros kalau mama beli baju terus. Bukannya
hamil cuma sembilan bulan. Bajunya juga gak bisa dipake lagi kalau udah lahiran
nanti.”kata Gadis.
“Terus baju kerjanya gimana? Tenang aja, papa Alex
yang bayar semuanya.”kata Mia.
“Gadis bisa pake dress panjang. Tutupin blazer.
Aman, mah.”
“Kalian nikah dulu ya. Biar gak keburu besar
perutmu.”kata Mia membuat Gadis terdiam.
“Sudah, bahas besok aja baju hamilnya. Keburu malem
nich.”kata Rio sambil mengambil dua kotak hadiah yang sudah disiapkan Mia.
Selama perjalanan ke rumah sakit, Gadis diam saja.
Ia sesekali mengelus perutnya yang mulai tampak buncit. Mungkin karena nafsu
makannya masih baik diluar mual muntahnya. Rio melirik apa yang dilakukan
Gadis. Sepertinya rencana lamaran yang dikatakan Katty, harus segera
dilaksanakan.
Ketika mereka sampai di rumah sakit, Rara dan
Arnold masih ada disana. Mereka sedang menikmati makan malam yang dipesan Jodi.
“Ach, kebetulan aku lapar, kak.”kata Rio sambil
mengambil piring makan Rara.
“Rio, itu kan masih banyak. Ambil piring lagi sana.”kata
Rara.
“Kelamaan... kak...”balas Rio cuek dengan mulut
penuh.
“Kamu ini, bukannya ngliat aku dulu. Malah langsung
makan. Eh, ini siapa yang datang?”tanya Katty melihat Gadis yang berdiri di
samping Rio.
Gadis memberanikan diri mendekati Katty. Ia
mengangguk pada Jodi dan memberikan hadiah untuk bayi mereka.
“Kak, ini kado dari mama... mama Mia. Sama dari aku
sama Rio. Aku Gadis, kak.”kata Gadis sedikit takut pada Katty.
“Oh, kamu Gadis... sudah berapa bulan?”tanya Katty
sambil melihat perut Gadis.
“Udah dua bulan lebih, kak.”kata Gadis masih takut.
“Udah ke dokter? Mual gak? Ngidam apa?”tanya Katty
beruntun yang dijawab Gadis dengan baik.
Mereka berdua malah jadi ngobrol panjang lebar
tentang kehamilan Gadis. Banyak sekali larangan yang diberikan Katty karena
pengalamannya hamil duluan. Jodi mendorong kursi agar Gadis bisa duduk dan
berbincang dengan Katty.
Rio yang melihat Katty malah jadi akrab dengan Gadis,
tersenyum senang. Mereka menoleh ke pintu masuk saat bayi Katty dibawa masuk
oleh suster. Rio mendekati boks bayi berwarna pink itu.
“Hai, baby. Salam kenal dari uncle Rio.”kata Rio.
“Please meet, baby Keira.”kata Jodi.
Rio mencoba menggendong baby Keira yang saat itu
membuka matanya. Jodi mengambil foto Rio bersama bayinya.
“Sepertinya Keira suka sama uncle Rio, ya.”kata
Jodi.
“Gak boleh suka sama uncle Rio ya. Uncle udah ada
Gadis mendekati Rio dan Jodi mengambil foto mereka
lagi dengan Gadis membawa botol susu baby Keira. Mereka mengobrol bersama
sampai malam semakin larut. Rio mengantar Gadis pulang ke rumahnya.
“Rio, makasi ya. Sampai ketemu besok.”kata Gadis
setelah mereka berhenti di depan rumahnya.
“Gadis...”panggil Rio yang tiba-tiba mendekat pada
Gadis.
Mata Gadis terbelalak terkejut ketika Rio sangat
dekat dengannya.
“Boleh?”tanya Rio dengan penuh harap.
Otak Gadis beneran blank saat ia mengangguk atas
pertanyaan Rio. Gadis mengerjapkan matanya dan Rio mencium bibirnya dengan
lembut. Deg! Deg! Deg! Debaran jantung mereka bersautan, dengan hembusan nafas
yang mulai tidak beraturan.
Tangan Gadis mencengkeram pegangan pintu dan bahu
Rio. Keduanya mengatur nafas perlahan tetap saling menatap dalam. Rio mengusap
sudut bibir Gadis yang basah, ia ingin melakukannya sekali lagi. Rio mencium
Gadis untuk kedua kalinya,
“Aku mencintaimu, Rio.”ucap Gadis.
*”Aku juga sangat mencintaimu\, Gadis.”*
Rio tidak mengatakan perasaannya secara langsung,
hanya dalam hati saja. Ia ingin Gadis tahu kalau dirinya juga mencintai wanita
itu melalui perilakunya. Gadis tersenyum ketika tidak mendengar jawaban yang
sama dari mulut Rio.
”Masih belum ya. Sudahlah, nak. Memang hanya mimpi
kalau papamu bisa mencintai mama.”
“Aku masuk dulu ya.”kata Gadis sambil turun dari
mobil Alex.
Rio juga ikut turun dan mengantar Gadis sampai
masuk ke balik pagar rumahnya.
“Bye, Gadis. Besok aku jemput ya.”
“Iya. Ati-ati di jalan ya.”ucap Gadis sambil
melambaikan tangannya.
*****
Di kantor Alex, lagi-lagi ada yang mengirimkan buket
bunga mawar pada Gadis kali ini dengan kartu bertuliskan ‘Untuk Gadis, ayo
ketemu di restauran sebelah saat makan siang. Dari M.’ Rio menatap dingin bunga
mawar yang dipegang Gadis.
”Bilangnya gak kenal sama yang ngirim. Gak tau.
Tapi wajahnya kenapa sumringah banget nerima bunga itu.”
Rio membuat patah dua pensil milik Romi karena
sangat kesal melihat Gadis menerima bunga dari pria lain. Romi yang mendapati
pensilnya patah tulang, mendengus sebal.
“Tanya sana siapa yang ngasi. Daripada duduk diam
disini sambil ngrusak barang.”umpan Romi.
“Nggak. Bodo amat siapa yang ngasi dia bunga.”kata
Rio sok cuek.
Saat makan siang, Gadis memutuskan menemui pengirim
bunga itu. Setidaknya di restauran aman karena banyak orang. Setelah
celingak-celinguk mencari seseorang yang entah siapa, Gadis melihat seorang
pria melambaikan tangannya.
“Pak Manta? Anda disini juga.”kata Gadis setelah
mendekatinya.
“Kau sudah terima bunga dariku kan. Silakan duduk,
Gadis.”
“Terima kasih, pak. Tapi kenapa bapak mengirimi
saya bunga?”tanya Gadis.
“Tentu saja karena saya menyukaimu, Gadis.”gombal
Manta.
“Oh, maaf pak. Sepertinya saya tidak paham.”kata
Gadis.
“Maaf, saya tidak bermaksud kepo. Apa Gadis sudah
punya pacar?”tanya Manta sambil memanggil pelayan agar Gadis bisa segera
memesan.
”Apa Rio masuk sebagai pacar ya? Perasaan kita gak
jadian. Kalau calon suami, aku belum setuju menikah dengannya. Hadeh, aku mesti
jawab apa lagi nich.”
“Saya belum punya pacar, pak Manta.”jawab Gadis apa
adanya.
Prak! Bunyi piring beradu terdengar dari meja di
belakang Gadis. Manta memiringkan kepalanya sebentar untuk melihat apa yang
terjadi. Tapi ia tidak melihat Rio yang langsung sembunyi saat tangannya tidak
sengaja menyenggol piring kotor bekas tamu sebelumnya yang belum sempat
dibereskan pelayan.
*****
Waduh ada penguntit tuch. Bakalan ketahuan Gadis
gak ya kalau Rio mengikutinya ke restauran.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.