
Rara bolak-balik di kamarnya, ia mendekati meja belajarnya untuk memastikan sekali lagi. Ada undangan wisuda disana untuk 2 orang dan dia beneran gak mimpi.
--------
Rara masih ingat pertemuannya dengan Arnold di kampus tadi. Arnold tiba-tiba menelponnya, menanyakan kelasnya saat itu. Untung saja kelasnya baru berakhir dan Rara bisa mengangkat telpon dari Arnold.
Arnold menemui Rara di kantin kampus, ia sedang duduk bersama teman-temannya disana. Seperti biasa bahkan Arnold tidak pernah tersenyum pada siapapun.
Arnold hanya menyerahkan undangan itu tanpa banyak bicara.
Arnold : "Aku baru mendapatkannya, datanglah bersama mamamu. Aku mau pulang, kamu masih ada kelas?"
Rara : "Iya, kak. Makasih undangannya, sampai jumpa."
Arnold hanya mengangguk dan berbalik pergi.
--------
Rara senyum-senyum sendiri seperti orang gila, ia berbaring di ranjangnya, memeluk bantal dan berteriak senang. Suaranya teredam bantal hingga tidak terdengar sampai keluar.
Rara : "Aduh, acaranya minggu depan ya. Aku harus pakai baju apa?"
Rara mengambil ponselnya, ia menelpon Mia dan tidak diangkat. Rara melihat jam, mungkin Mia sedang dalam perjalanan pulang dari kantor Alex.
Akhirnya Rara hanya mengirimkan chat untuk menanyakan baju yang cocok dipakai ke wisuda Arnold.
-------
Mia merapikan meja kerjanya, hari ini hari terakhir ia praktek kerja di perusahaan Alex. Bersama beberapa mahasiswa lain, ia menerima sertifikat praktek dan penilaian dari HRD perusahaan.
Saat Rara menelpon, Mia sedang mengikuti kegiatan terakhir dari praktek kerjanya dan Alex yang langsung bicara dengan mereka semua.
Alex terlihat berwibawa dan sangat tampan, kalau saja orang-orang di dalam ruangan itu tidak tahu hubungan Mia dengan Alex. Sudah bisa dipastikan, perempuan single disana akan berusaha menarik perhatian Alex.
Mb Sopia : "Mia, tolong bawa ini ke ruangan pak Alex. Kamu bisa langsung bawa tasmu kesana. Sebentar lagi jam pulang kerja."
Mia : "Baik mb."
Mia mengikuti perintah mb Sopia dan berjalan ke ruangan Alex. Asisten Alex mengatakan kalau Alex sedang ada tamu dan Mia bisa menunggunya.
Mia duduk di sofa ruang tunggu, ia membuka ponselnya, menemukan panggilan tidak terjawab dan chat dari Rara.
Mia : "Kita bisa pakai baju kebaya modern, Ra. Atau dress batik." ketik Mia membalas chat Rara.
Rara : "Pakai dress batik aja ya, mah. Sepertinya lebih nyaman."
Mia : "Ok, besok mama antar ke butik. Mama masih di kantor papa, sekalian mau pulang bareng."
Rara : "Iya, mah."
Ceklek! Mia menoleh dari layar ponselnya dan melihat Arnold dan Alex keluar dari sana. Mereka menghampiri Mia yang masih duduk di sofa.
Mia : "Loh, Arnold kok bisa disini?"
Alex : "Sayang, Arnold datang ada urusan pekerjaan. Perusahaan kita sudah lama bekerja sama dan sekarang Arnold menggantikan papanya disini."
Mia : "Wah, hebat ya. Baru lulus kuliah langsung kerja."
Arnold : "Biasa aja, mama Rara. Kalau gitu saya pamit dulu, om."
Alex mempersilakan Arnold dan menatap Mia,
Alex : "Sayang, ayo masuk."
Alex tidak canggung lagi menunjukkan kemesraan mereka di depan asistennya. Mereka berjalan masuk ke ruang kerja Alex dan menutup pintu.
Mia meletakkan barang-barang yang dibawanya di atas meja sofa. Ia menyerahkan dokumen yang tadi diserahkan mb Sopia untuk Alex.
Saat Mia hendak kembali ke sofa, Alex sudah menarik tangannya. Mia duduk di pangkuan Alex,
Alex : "Sayang, kapan kita fitting baju pengantin?"
Mia : "Habis aku sidang skripsi ya, mas."
Alex : "Kapan sidangnya?"
Mia : "Mungkin 2-3 minggu lagi. Aku masih revisi bab akhir."
Alex : "Besok aja kita ke butik ya. Aku tidak ada schedule, kita bisa pergi sama-sama."
Alex memeluk pinggang Mia yang ramping, menyusupkan wajahnya di dada Mia. Ia sama manjanya dengan Rio, dan suka sekali menempel dibagian itu.
Mia : "Besok aku ada janji sama Rara, mau ke butik nyari dress batik."
Alex : "Buat apa?"
Alex : "Kenapa akhir-akhir ini aku sering dengar nama Arnold disebutkan?"
Mia : "Apa mas cemburu, sayang?"
Alex : "Kalo gak cemburu, apa lagi? Rara bilang Arnold begini begitu, sekarang kamu juga."
Mia : "Tapi Arnold lebih sering ngobrol dan ketemu Rara daripada aku, mas."
Alex : "Habis kamu manis dan cantik gini, aku takut kamu direbut laki-laki yang lebih muda dari aku."
Mia : "Mas...laki-laki yang lebih muda belum tentu sehebat mas."
Mia membelai wajah Alex, membuatnya mendongak dan cup!. Mia mencium Alex dengan sangat agresif. Mereka terlalu asyik bercumbu sampai-sampai tidak sadar kalau asisten Alex sudah masuk ke ruang kerja Alex.
Asisten Alex : "Ehheemm... Permisi pak..."
Mia segera bangun dari pangkuan Alex dan beranjak ke sofa, wajahnya hampir sama merahnya dengan map yang tergeletak di atas meja sofa.
Alex : "Ada apa? Kenapa gak ketuk pintu dulu?"
Asisten Alex : "Maaf, pak. Saya sudah ketuk pintu sampai 10 kali, ini urgent."
Alex : "Cepat bilang..."
Mia tersenyum malu melihat Alex kesal karena interupsi dari asistennya, ia kembali menyibukkan diri dengan melihat ponselnya. Mencari beberapa referensi dress batik yang cocok untuk Rara.
-------
Mia dan Rara tiba di butik sekitar jam 10 pagi, Mia memperhatikan mobil yang terparkir di depan butik, sepertinya ia pernah melihat mobil itu. Rara mengajak Mia masuk ke dalam dan mulai berkeliling. Mereka terpisah di dalam butik, Mia menyusuri deretan dress batik dan semi batik yang tergantung di sudut butik.
Ia menemukan satu dress yang sepertinya cocok untuk Rara. Bruk! Baru saja Mia berbalik, ia menabrak seseorang yang berjalan di belakangnya.
Mia : "Aduh, maaf. Saya gak liat, eh Arnold?"
Arnold : "Mama Rara, sedang apa disini?"
Mia : "Ini lagi milih dress untuk ke wisuda kamu. Kamu sendiri ngapain disini?"
Arnold menunjukkan jas yang dibawanya dengan wajah datar, kalau saja dia tidak tampan, pasti wajahnya itu sudah dipukul orang karena menyebalkan. Arnold bukan tipe orang yang bisa menunjukkan emosinya, ia sangat tidak suka disuruh tersenyum bahkan jarang tertawa.
Arnold : "Sepertinya dress itu lebih cocok untuk Rara." Arnold menunjuk dress batik yang dipegang Mia.
Mia : "Oh, gitu ya. Biar kutunjukkan padanya, kamu mau ikut?"
Arnold : "Aku mau bayar dulu jas ini. Rara disini juga?" Arah pandangan Arnold berpindah dari satu orang ke orang lain yang juga ada di dalam butik itu.
Mia : "Mungkin Rara ada di deretan dress sebelah sana."
Arnold : "Nanti aku nyusul."
Mia segera mencari Rara dan memberikan dress yang dibawanya.
Mia : "Coba yang ini, Ra. Ayo cepat."
Rara mencoba dress itu tanpa bertanya apa-apa, saat ia keluar dari ruang ganti, Arnold sudah berdiri di depannya. Lagi-lagi Arnold menatapnya dengan wajah datar.
Rara : "Kakak ngapain disini?"
Arnold : "Ngambil jas untuk wisuda. Dressnya cocok. Aku pergi dulu. Sampai jumpa, Rara."
Wajah Rara memerah, ia melirik Mia yang senyum-senyum melihat reaksinya ketika bertemu Arnold lagi.
-------
Arnold mengedarkan pandangannya ke deretan tamu undangan wisuda, kalau Arnold tidak salah harusnya Rara akan duduk di bangku di sebelah kanannya. MC sudah mengumumkan pembukaan acara wisuda dan Arnold malah menatap layar ponselnya. Ia ingin menghubungi Rara tapi tidak bisa.
Sekali lagi ia menoleh ke deretan undangan dan bernafas lega, akhirnya Rara dan Mia datang juga. Arnold tersenyum tipis, ia senang sekali karena wisudanya ada yang nemenin. Meskipun bukan papa dan mamanya ataupun keluarganya yang lain.
Upacara wisuda berjalan dengan lancar, Arnold berjalan menaiki panggung bersama wisudawan lainnya. Rara mengambil banyak foto dan video Arnold, mulai dari naik panggung, menerima ijazah, dan bersalaman dengan rektor. Tapi sekalipun ia tidak tersenyum.
-------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------