Duren Manis

Duren Manis
Mulai dari awal


Mulai dari awal


Ketiga orang tua itu menatap ke pintu masuk. Rio


dan Gadis masuk ke dalam rumah dan duduk di tempat semula. Wajah keduanya


memerah, membuat Mia tersenyum sambil menatap Aira yang juga tersenyum tipis.


Aira : “Jadi, bagaimana keputusanmu, Gadis?”


Gadis : “Gadis mau mandi dulu. Kami mau nonton, mah.”


Mia, Alex, dan Aira bengong melihat Gadis bangkit


dari sofa dan berjalan ke kamarnya. Rio tampak duduk santai sambil membrowsing


film yang akan mereka tonton. Rio memesan tiket secara online dan kembali


menatap ketiga orang tua di depannya.


Alex : “Apa yang terjadi? Kalian ngapain?”


Rio : “Kami mau kencan, pah.”


Alex : “Maksudnya? Trus gimana pernikahannya?”


Rio : “Kami akan putuskan setelah kencan beberapa


hari. Gadis memberi Rio kesempatan untuk mengejarnya. Dan Rio baru berhasil


mengajaknya nonton.”


Ketiga orang tua itu saling pandang, Gadis sudah


kembali dari kamarnya. Ia terlihat cantik dan segar meskipun tanpa riasan


wajah. Wajahnya masih terlihat pucat karena tidak memakai lipstik.


Gadis : “Rio, aku gak bisa dandan. Gak kuat sama


bau make up-nya.”


Rio : “Gak pa-pa. Begitu juga kamu udah cantik.”


Mia senyum-senyum sambil menatap Aira yang juga


tersenyum tipis padanya. Rio meminta ijin pada Aira untuk membawa Gadis nonton


film. Dan Aira mengijinkannya dengan syarat mereka tidak boleh pulang terlalu


malam. Gadis mencium tangan Alex, Mia, dan Aira sebelum pergi bersama Rio.


Setelah kepergian mereka berdua, ketiga orang tua


itu masih betah duduk bersama. Mereka membicarakan rencana pesta pernikahan Rio


dan Gadis. Setidaknya mereka sudah bersiap apa yang harus dilakukan pertama


kalau tiba-tiba Gadis setuju menikah dengan Rio.


Rio mengemudikan mobilnya menuju mall yang dekat


dengan rumah Alex. Sesekali ia melirik Gadis yang duduk manis sambil


memperhatikan jalanan. Saat mereka berhenti di lampu merah, Rio meraih tangan


Gadis dan menggenggamnya. Gadis terkejut, ia melihat kearah Rio yang malah


sibuk memperhatikan lampu merah.


Gadis : “Rio, kamu waktu sama Kaori gimana gaya


pacarannya?”


Rio : “...Biasa aja.”datar suara Rio menjawab.


Gadis : “Maaf, aku membuatmu tersinggung ya.


Lupakan saja pertanyaanku.”


Gadis diam lagi, mereka hanya nyambung saat diskusi


masalah kerjaan atau kuliah. Untuk hal lain, mereka belum pernah mengobrol dari


hati ke hati. Jadi Gadis bingung mau ngobrol apa.


Rio : “Aku sama Kaori memang bukan pacaran biasa.


Tapi aku baru sekali melakukan itu sama kamu.”


Gadis : “Oh, gitu ya.”


Gadis memang penasaran bagaimana Rio mencintai


Kaori. Ia ingin mengetahui semuanya tentang kisah cinta mereka. Gadis tidak


pernah membayangkan bagaimana bisa mencintai sedalam itu sampai maut


memisahkan.


Orang tuanya saja bercerai karena keegoisan mereka


masing-masing. Mamanya pernah bilang kalau semua karena kesalahan mama yang


sering marah pada papa. Bahkan hal kecil bisa memicu pertengkaran mereka. Tapi


menurut Gadis, papanya juga salah. Kalau papa mencintai mama, papa tidak akan


meminta cerai pada mamanya.


Gadis menoleh saat Rio mengeratkan pegangan


tangannya. Ia melihat Rio sudah menatapnya juga. Mereka sudah sampai di


parkiran mall. Gadis bersiap turun dari mobil.


Rio : “Dengar, kalau kau penasaran dengan caraku


mencintai Kaori, aku akan ceritakan pelan-pelan. Tapi jangan sekali-kali minta


aku mencintaimu seperti aku mencintai Kaori.”


Gadis menghela nafasnya, ia tersenyum dengan mata


berkaca-kaca. Tentu saja Rio tidak akan bisa mencintai Gadis seperti ia


mencintai Kaori. Gadis menarik tangannya dari genggaman tangan Rio. Tapi Rio


kembali menggenggam tangan Gadis. Kali ini mencondongkan tubuhnya pada tubuh


Gadis.


Rio : “Karena aku akan menunjukkan rasa cintaku


padamu sampai kamu akan melupakan semua rasa sakit yang sudah aku berikan


selama ini sama kamu. Membuatmu sangat bahagia sampai kau memohon ampun padaku


untuk menghentikannya. Menjagamu lebih dari aku menjaga hidupku sendiri.”


Air mata Gadis mengalir membasahi pipinya mendengar


kata-kata Rio yang sangat tulus untuknya. Rio mengusap air mata itu dan mencium


kedua mata wanita itu.


Gadis sambil mengelus perutnya.


Rio : “Sebelum dia lahir, aku harus mengejar ibunya


dulu. Atau dia akan memukulku nanti. Kenapa kita tidak menikah saja?”


Gadis : “Aku belum mau menikah denganmu.”


Rio : “Ach, gagal lagi. Ayo turun. Filmnya mau


mulai.”


Gadis tersenyum manis mendengar kata-kata Rio. Ia


turun setelah Rio membuka pintu mobil untuknya. Mereka berjalan masuk ke mall,


melewati beberapa kaca toko yang menunjukkan wajah pucat Gadis. Ia melirik Rio


yang terus berjalan di sampingnya, tidak mau melepaskan tangannya.


Beberapa cewek ABG yang melihat visual Rio, mulai


curi-curi pandang menatap Rio. Gadis merasa sedikit tidak PD saat berjalan


disamping Rio.


Gadis : “Aku pucet ya.”


Rio : “Dikit. Mau kubuat gak pucet lagi?”


Gadis menatap Rio bingung, gimana caranya? Rio


berhenti berjalan, ia mendekat pada Gadis dan meraih pinggangnya. Gadis


mendongak, Rio menunduk dan langsung mencium bibir Gadis sekilas.


Gadis : “Rio!!”


Gadis memukul lengan Rio yang tertawa melihat wajah


Gadis mulai memerah. Gadis sibuk mengipasi wajahnya yang terasa panas, sebelum


Rio kembali menggenggam tangannya. Rio cuek saja melihat reaksi orang-orang


yang melihat mereka ciuman di tempat umum.


Gadis : “Rio!!”


Rio : “Apa?”


Gadis : “Kamu ngapain barusan? Malu tau.”


Rio : “Kenapa? Gak suka? Kurang lama ya?”


Gadis mencubit lengan Rio yang terus saja


menggodanya. Dadanya terasa mau meledak karena ulah Rio. Saat mereka sampai di


eskalator, Gadis tidak memperhatikan langkahnya, ia tersandung tangga dan


hampir jatuh. Rio langsung mendekap tubuh Gadis, memeluk tubuh wanita itu dari


belakang dan berbisik di telinganya.


Rio : “Gadis, aku sayang kamu.”


Gadis refleks memegangi pipinya, ia semakin malu


dengan perlakuan manis Rio. Seluruh organ di dalam tubuhnya bergejolak saling


merespon satu sama lain saat ia merasa sangat bahagia.


”Tuhan, kalau ini mimpi tolong jangan bangunkan


aku.”


Rio : “Kenapa dipegang pipinya? Gak akan kucium


disitu.”


Rio sudah mendekat lagi, tapi Gadis menahan bibir


Rio. Bukannya melepaskan diri atau menjauh, Rio justru menciumi tangan Gadis.


Mereka sampai di ujung eskalator. Rio mengangkat tubuh Gadis sebentar. Mereka


berjalan ke bioskop dan mulai antri di depan loket.


Gadis : “Waktunya mepet ya. Kita gak sempat beli


popcorn dong.”


Rio : “Kamu tunggu sini ya. Aku beli popcornnya, mau


rasa apa?”


Gadis : “Ori ya. Sama minumnya milkshake coklat ya.”


Rio : “Iya, sayang.”


Wajah Gadis memerah lagi mendengar Rio memanggilnya


sayang.


*”Ih\, awas ntar ya. Kubuat baper baru kapok.”*


Gadis masih berdiri mengantri saat ia mendengar


beberapa cewek yang mengantri di belakangnya seperti membicarakannya.


Cewek 1 : “Kamu liat tuch, kayak gitu ganteng cowoknya.


Ceweknya malah biasa-biasa aja.”


Cewek 2 : “Iya, sich. Masi cantikan kita nich.”


Cewek 1 : “Cowok tuch sukanya cewek bisa dandan.


Coba kamu gebet sana. Lumayan, kayaknya tajir tuch.”


Cewek 2 : “Kalo gitu aku kesana dulu ya.”


Gadis melirik cewek yang berjalan menuju tempat


jual popcorn. Jelas sekali cewek itu sengaja berbalik untuk mengejek Gadis. Gadis


mengambil kaca kecil dari dalam tasnya. Ia melihat wajahnya yang pucat tanpa


make up seperti biasanya.


Gadis mengambil lipstik dari dalam tasnya, hanya


memakai lipstik sedikit saja, seharusnya tidak masalah. Ia hampir memakai


lipstik itu ketika seseorang menghentikannya.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.