Duren Manis

Duren Manis
Mencari tahu


Rara membuka matanya mendengar suara alarm ponselnya berbunyi. Ia menggeliat bangun, melihat kesamping, wajah tampan Arnold terlihat sedang tersenyum menatapnya.


Arnold : "Morning, wife. Ayo kita lakukan apapun yang kau inginkan hari ini."


Rara : "Beneran? Apapun?"


Arnold : "Iya. Apapun yang kau inginkan."


Rara : "Tunggu... Ini gak lagi modus kan?"


Arnold : "Kok modus? Beneran nich. Kamu mau kemana?"


Rara : "Aku mau kita jalan-jalan, nonton, makan di restauran favoritku... Aaaa... Nggak jadi. Itu biasa aja."


Arnold : "Trus? Mau apa?"


Rara : "Gimana kalau kita seharian disini? Mengobrol? Mas cerita semuanya yang mas rasakan sama aku."


Arnold : "Gitu? Yakin?"


Rara : "Ya, mas. Kita belum pernah bicara tentang satu sama lain kan?"


Arnold : "Ok. Aku mandi dulu ya. Habis itu kita sarapan. Aku uda pesen sarapannya."


Rara : "Mandi sama-sama aja, mas."


Arnold : "As you wish my queen."


Rara : "Hihi... Kamu aneh banget mas. Kenapa sich?"


Arnold : "Gak pa-pa. Aku cuma ingin menghabiskan waktu lebih banyak sama kamu."


Rara : "Kita kemana-mana berdua, lengket kayak perangko. Masih kurang?"


Arnold : "Iya. Buat aku, waktu sama kamu gak akan pernah cukup. Kita gak tau apa yang akan terjadi di masa depan kan?"


Rara menutup mulut Arnold,


Rara : "Tolong jangan bilang gitu, mas. Aku percaya kita pasti bisa lalui ini sama-sama."


Arnold : "Aku cuma..."


Rara : "Mas, kita ngobrolin hal lain aja ya."


Arnold : "Apa, sayang? Kamu mau tahu tentang apa?"


Rara : "Eh, mandi dulu, mas. Dingin nich."


Arnold : "Mau aku hangatkan?"


Rara melihat tatapan Arnold yang berkabut, tangan Arnold mematikan kran shower yang membasahi tubuh mereka. Tangan Arnold menyatu dengan tangan Rara membentuk bayangan cinta di kaca shower.


🌚🌚🌚🌚🌚


Setelah sarapan yang singkat dan sedikit terlambat, Rara mengganti bathrobenya dengan kemeja Arnold. Ia duduk dengan nyaman diatas ranjang, menonton film komedi romantis yang ia putar dari laptop Arnold.


Arnold melihat Rara bersinar dengan latar belakang langit biru yang cerah terlihat dari jendela. Ia mengeluarkan kamera dari dalam lemari dan mulai mengambil foto istrinya.


Rara tidak menyadari Arnold mengambil fotonya, ia asyik menonton dan tanpa sadar berpose sensual. Arnold tersenyum melihat hasil fotonya, ia mendekat pada Rara dan mengambil foto dari jarak dekat.


Rara : "Maas, jangan foto lagi. Aku jelek gak make up."


Arnold : "Kamu cantik, sayang. Apa adanya. Apalagi gak pake apa-apa."


Rara : "Maaass! Genit...!"


Arnold : "Makanya jangan godain aku."


Rara : "Masa sich?"


Rara menyingkap bawah kemeja Arnold memperlihatkan sesuatu dibawah sana yang membuat Arnold deg-degan.


Arnold : "Gitu bilang gak godain."


Rara : "Hahahaha..."


Arnold ikutan tertawa mendengar Rara tertawa. Ia bergabung duduk di atas ranjang menonton film itu.


Arnold : "Sayang, apa yang mau kamu tahu lagi tentang aku?"


Rara : "Aku mau tahu sebelum mas kecelakaan, mas suka ngapain?"


Arnold : "Aku sekolah waktu itu. Normalnya remaja laki-laki sekolah gitu dech. Gak ada yang spesial kecuali apa ya? Jadi cowok paling ganteng di sekolah. Yang ditaksir hampir semua cewek di sekolah dan tiap hari harus lari-lari karena dikejar-kejar fans."


Arnold : "Aku cerita kenyataan kok. Bayangin loker di SMA kan cuma semeter tingginya. Kado yang kuterima setiap hari tingginya melebihi itu."


Rara : "Trus hadiahnya mana?"


Arnold : "Aku gak tahu, setiap hari aku masukin plastik sampah trus aku bawa pulang."


Rara : "Mas buka semuanya?"


Arnold : "ART dirumah yang urus. Paling mereka yang ambil."


Rara : "Emangnya mas gak punya gitu cinta monyet?"


Arnold : "Cinta monyet? Disekolah mana ada monyet."


Rara : "Iihh... Serius nich. Sempatnya bercanda."


Arnold : "Hehe... Gak ada. Yang ngaku-ngaku banyak. Bilanglah aku yang nembak, bilang dia nembak trus aku terima. Banyakan halu."


Rara : "Beneran... Harusnya dengan kegantengan mas, mas bisa tuch gonta ganti cewek seminggu sekali."


Arnold : "Idih, ogah. Soalnya waktu itu punya cewek kayaknya ruwet banget. Aku jadi males. Mana gak ada yang dewasa, menye-menye semua."


Rara : "Aku gak dewasa, kenapa mas mau sama aku?"


Arnold : "Kalo kamu meskipun gak dewasa tapi bisa bikin aku bertindak dewasa."


Arnold menaik turunkan alisnya, dengan tangan menyusup masuk kebawah kemejanya. Rara merinding disko menerima sentuhan Arnold.


Rara : "Maasss!!"


🌚🌚🌚🌚🌚


Rara berbaring diatas ranjang, ngos-ngosan habis berolahraga dengan Arnold. Ia mengeluh ngantuk dan perlahan mulai memejamkan matanya dengan posisi menghadap ke kanan.


Arnold mengelus kepala Rara, bangkit berdiri dan masuk ke kamar mandi. Perbicaraan yang tadi pagi diinginkan Rara selalu berakhir dengan hubungan panas.


Arnold memegangi pinggangnya yang terasa nyeri. Ia belum minum obatnya siang itu, ia mulai bosan minum obat. Tapi demi Rara, dia akan bertahan selama yang ia bisa. Ia tidak akan menyerah semudah itu.


Usai meminum obatnya, Arnold berbaring di samping Rara. Notif ponselnya membuatnya bangkit lagi. Tiba-tiba rasa sakit yang amat sangat menyerang pinggangnya.


Arnold kesakitan sampai dirinya terjatuh di samping tempat tidur. Untung saja di bawah tempat tidur mereka terdapat karpet super empuk.


Arnold berusaha mengatur nafasnya yang mulai berat. Rasa sakit itu membuatnya kesulitan bernafas dan bersuara. Ia meluruskan tubuhnya pelan-pelan tanpa berusaha memanggil Rara.


Ia tidak mau kesakitannya dilihat Rara. Perlahan, nafasnya mulai teratur dan rasa sakit di pinggangnya juga menghilang. Arnold berusaha meraih ponselnya diatas nakas.


Ada notif dari pengacaranya, mengirimkan draft dokumen yang ia minta kemarin. Arnold membaca draft itu sambil berusaha bangun. Ia bersandar di samping ranjang.


Arnold menambahkan beberapa poin lagi, semuanya untuk kepentingan Rara. Ia tidak mau semuanya terlambat dan ia belum berbuat apa-apa untuk Rara.


Pengacara mengkonfirmasi tambahan poin itu dan segera mengirimkan revisinya dengan cepat. Arnold mengetik ok dan meminta pengacaranya menyiapkan dokumen itu untuk ia tanda tangani.


Arnold berusaha bangkit, ia berpegangan pada sisi ranjang untuk bisa berdiri. Ia menarik nafas lega saat mulai berjalan, langkahnya normal-normal saja.


Arnold kembali berbaring di sisi Rara. Ia ingin tidur juga, tapi masih ada notif lainnya dari pria yang akan ia temui besok.


Pria 1 : "Aku akan menunggumu di hotel X kamar suite besok jam 12 siang. Katakan pada reseptionis kau mencariku."


Arnold : "Aku akan datang."


Arnold meletakkan ponselnya diatas nakas. Ia memijat keningnya yang terasa sakit. Sepertinya ia tidak beristirahat dengan baik akhir-akhir ini. Sakit pinggang yang terus dirasakannya membuatnya tidak bisa tidur nyenyak di malam hari.


Dan kalau sudah begitu, ia hanya bisa berbaring diam menunggu sampai tertidur lagi dan biasanya ketiduran sejam sebelum subuh.


Arnold melihat ke samping, punggung mulus Rara menggodanya untuk mendekat. Ia menyusupkan wajahnya ke punggung Rara dan memeluk pinggangnya.


Perlahan matanya mulai terpejam membawanya ke alam mimpi yang indah bersama Rara yang menggandeng seorang anak kecil.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲