
Mia kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang apartment yang sudah selesai ia rapikan bersama Alex. Tubuhnya terlalu lelah untuk pergi kemana-mana.
Ia sama sekali tidak menyangka kalau malam pertama bisa sangat melelahkan seperti ini. Belum lagi ia begadang kemarin untuk belajar sebelum ujian skripsinya.
Mia melihat hujan mulai turun membasahi beranda apartment itu. Ia menoleh melihat Alex yang duduk di sofa, membalas chat dan e-mail dari kantornya. Alex sengaja meliburkan diri hari ini untuk menemani Mia seharian.
Bukan hanya untuk menemani sebenarnya, karena ia merasa bersalah telah mengambil mahkota gadis itu dengan cara yang brutal semalam. Bahkan langsung melahap tubuh Mia sampai lima kali, Alex tidak pernah melakukan itu pada Selvi sebelumnya.
Akibatnya Mia sedikit demam sekarang dan tubuhnya lemas. Alex ingin membawa Mia ke rumah sakit untuk diperiksa, tapi Mia tidak mau. Dia malu kalau sampai orang lain tahu apa penyebab ia sakit.
Mia : "Mas..."
Alex : "Ya, sayang. Kamu mau makan?"
Mia : "Aku baru habis sarapan, mas. Sini dong."
Alex : "Aku mau kesana, tapi tutup dulu tubuhmu. Aku gak bisa tahan kalau lihat kamu pakai bathrobe aja. Kamu gak mau aku serang lagi kan?"
Mia menarik selimut menutup tubuhnya, Alex beranjak dari duduknya di sofa dan ikut berbaring di samping Mia.
Mia : "Mas masih sibuk kerja?"
Alex : "Aku cuma balas chat dan e-mail dari kantor. Kenapa, sayang?"
Mia : "Mas, kalau aku hamil gimana?" Ia ingat kalau Alex tidak pakai pengaman semalam.
Alex : "Saat kamu hamil, kita sudah nikah, sayang. Kamu takut apa sich?"
Mia : "...Takut sama mama..."
Alex : "Aku uda bilang sama mamamu. Coba cek aja telponmu, sudah sampai jam segini kamu pergi dari rumah, ada yang nelpon gak?"
Mia melakukan apa yang Alex katakan dan melihat ponselnya, hanya ada beberapa chat dari teman-teman kuliahnya mengucapkan selamat lulus dan chat dari Rara dan si kembar yang mengucapkan hal yang sama.
Ponsel Mia berdering, mamanya menelpon,
Mia : "Kata mas mama gak akan nelpon..."
Mia ketakutan menerima telpon itu, tapi Alex menenangkannya,
Alex : "Angkat aja dulu, loudspeaker dech."
Mia menekan tombol hijau sambil memejamkan matanya,
Mia : "Ha... halo, mah."
Mama Mia : "Mia, kamu uda kasi tahu papamu tentang pernikahanmu?"
Mia : "Be... belum, mah. Mama mau papa datang?"
Mama Mia : "...Ya sudah, kamu chat papamu ya. Suruh datang, dia kan harus jadi wali nikahmu."
Mia : "Iy... Iya, mah."
Mama Mia : "Kamu kenapa gugup gitu? Masih sama Alex?"
Mia : "..."
Mama Mia : "Mama paham, uda ya. Mama mau lanjut meeting, inget chat papamu."
Mia bergidik ngeri melihat ponselnya yang sudah mati, Alex terkejut melihatnya.
Alex : "Kenapa?"
Mia : "Mama gak marah?"
Alex : "Kenapa mesti marah? Aku uda jujur sama mamamu. Mamamu juga tahu kalau kita sama-sama sudah dewasa, sudah bisa bertanggung jawab sama diri kita sendiri."
Mia : "Mama selama ini terlalu khawatir sama aku, mas. Kalau telat pulang dikit aja, pasti ngomelnya bisa sampai besok pagi. Mungkin aku sudah terbiasa mendengar mama marah, daripada gak banyak ngomong kayak tadi. Ngeri."
Alex : "Mungkin mamamu uda tenang karena kamu sama aku..."
Mia : "Aku yang gak tenang..."
Alex : "Kenapa? Kamu gak suka dekat aku?"
Mia : "Aku takut digempur lagi..."
Alex : "Tenang sayang, aku juga perlu mengumpulkan tenagaku dulu. Mungkin dua hari lagi..."
Mia : "Maasss...!!!"
------
Malam itu, Arnold dan Rara sudah masuk ke kamar apartment Arnold. Mereka tinggal menunggu kedatangan dokter Kevin yang masih dalam perjalanan.
Arnold sudah menyiapkan sekat yang ia letakkan di antara ranjang dan sofa. Nantinya dokter Kevin akan duduk di sofa, sementara Arnold dan Rara duduk di ranjang.
Rara : "Kak, aku perlu ganti baju? Pake bathrobe, misalnya?"
Arnold : "Kamu mau menggodaku ya."
Rara : "Kan biar leluasa gitu... Lagian bajuku ntar kusut, kak."
Arnold : "Pake kemejaku, sana di lemari ambil. Ganti baju di kamar mandi." Suara Arnold terdengar sedikit kesal.
Ia setengah mati menahan hasratnya tapi Rara selalu menggodanya dengan sikap polosnya. Kalau terus begini bagaimana Arnold bisa menahan dirinya setelah mereka menikah nanti.
Rara cemberut mendengar Arnold meninggikan suaranya, biasanya Arnold selalu berkata lembut saat bersama Rara. Rara yang masih polos belum mengerti bagaimana hasrat seorang pria kalau sudah berhadapan dengan wanita yang ia cintai.
Ketika Rara keluar dari kamar mandi, ia melihat dokter Kevin sudah duduk di sofa bersama Arnold.
Arnold : "Kita bisa mulai, dok?"
dr.Kevin : "Ya, Arnold silakan berbaring dan Rara sudah tahu kan harus bagaimana."
Dokter Kevin memulai terapinya, dan perlahan keringat dingin mulai membasahi kening dan lengan Arnold. Nafasnya mulai memburu sambil terus bicara, menceritakan apa yang ia rasakan saat berjuang dalam keadaan koma.
Arnold merasa sedang berjalan di sebuah tempat yang sepi dan cukup terang, tapi suara seorang wanita memanggilnya dari kejauhan. Arnold mencari-cari suara itu sampai menemukan sosok seorang wanita berbaju putih tersenyum kepadanya dan mendorongnya jatuh.
Saat itu Arnold tersadar dari komanya dan merasakan seluruh tubuhnya sakit. Ia hanya sanggup menggerakkan jarinya untuk beberapa saat, dan setelah dokter melakukan analisa terhadap benturan pada kepalanya, barulah ia mulai mengontrol emosinya.
Dokter Kevin menanyakan kondisi Arnold pada Rara,
Rara : "Nafasnya... sudah... stabil... dok..."
Dokter Kevin mendengar suara Rara berat dan terputus-putus. Ia ingin melihat sesungguhnya apa yang Rara dan Arnold lakukan selama terapi sehingga kondisi Arnold bisa stabil seperti itu. Tapi apa daya, Arnold sudah membuatnya berjanji untuk tidak mengintip ke balik sekat.
dr.Kevin : "Rara, kamu baik-baik saja? Perlu kita rehat dulu?"
Rara : "Lanjutkan... saja, dok..."
dr.Kevin : "Baik, sekarang saya lanjutkan ke bagian saat ini ya. Kita akan tahu apa yang Arnold rasakan saat bersama Rara."
Rara hanya diam mendengar kata-kata dokter Kevin, ia juga ingin tahu apa yang membuat Arnold bisa stabil setiap dekat dengannya.
Dokter Kevin mulai bicara lagi, kali ini Arnold terdiam cukup lama. Lalu ia mulai bicara saat pertama kali mereka bertemu dan Arnold mendengar teriakan Rara.
Hati dan kepalanya langsung terasa sakit, suara jeritan Rara membuatnya kesakitan dalam sekejap. Tapi saat ia masuk ke ruang kelas itu dan mendapati apa yang akan dilakukan Jodi pada seorang gadis, ia memaksakan dirinya menarik Jodi agar menjauhi Rara.
Saat menatap Rara, rasa sakit yang tadi dirasakan Arnold mendadak lenyap. Padahal mereka belum bersentuhan sama sekali. Hanya menatap Rara bisa membuat tubuh Arnold terasa nyaman.
Arnold mengingat sepertinya ia pernah melihat Rara sebelumnya dalam mimpinya saat koma. Rara adalah sosok yang ia lihat mendorongnya sampai jatuh dalam mimpinya. Mengembalikan jiwanya yang berkelana ke tubuhnya yang koma.
Rara meneteskan air mata mendengar kata-kata Arnold, ia sangat terkejut menyadari bagaimana orang seperti dia bisa sangat berarti dalam kesembuhan Arnold. Takdir sudah mempertemukan mereka, saat Arnold menerima kesempatan kedua untuk memperbaiki hidupnya.
--------
Maaf banget karena beberapa hari ini up terus terpotong karena belum selesai review dari editor Mangatoon. Mungkin reader belum tahu kalau sebelum di up, setiap episode akan melewati tahap review.
Jadi author putuskan untuk memperpanjang jarak terbitnya sekalian menyiapkan episode-episode lainnya. Semoga pihak editor mau membantu mempercepat review novel ini.
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------