Duren Manis

Duren Manis
Ungkapan hati


Arnold melihat ponselnya yang berdering dan menerimanya,


Arnold : "Halo, om. Om sudah lihat rekamannya?"


Alex : "Jadi karena ini kamu mau menikahi Rara?"


Arnold : "Yang paling utama alasan saya karena saya mencintai Rara dengan tulus, om. Bukan karena semata-mata Rara sudah membantu pengobatan saya."


Alex : "Apa kamu sadar, Rara bahkan belum selesai kuliah. Usianya masih sangat muda."


Arnold : "Saya sadar, om. Saya tahu masa depan Rara masih panjang, dan saya hanya akan menghambat dia. Tapi, saya mohon om ijinkan saya untuk mendampingi dia menghadapi masa depannya."


Mia : "Maaf menyela, tapi kalau kamu menikahi Rara apa kamu sudah siap menjaganya? Maksud saya, apa kamu sudah bekerja?"


Arnold : "Saya sudah bekerja meneruskan perusahaan papa disini, mama Rara. Sejak lulus sekolah saya sudah melakukannya. Dan saya bisa janjikan satu hal lagi, saya janji tidak akan meminta hak saya sebagai suami sebelum Rara lulus kuliah."


Alex : "Bagaimana bisa kamu menahannya? Saya juga pria, Arnold. Saya tahu bagaimana rasanya ketika hasrat dan nafsu menguasai pikiran kita. Saya saja tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh Mia."


Mia memukul lengan Alex yang terus terang sekali pada Arnold. Ia takut Arnold akan berpikir macam-macam tentang dirinya.


Arnold : "Selama disini, ujian itu akan saya jalani, om. Saya dan Rara menginap dalam satu kamar."


Alex : "Apaaa??!!! Apa papamu sudah tahu?"


Arnold : "Sudah, om. Soal lamaran ini juga papa sudah tahu dan setuju. Sekarang bagaimana keputusan om?"


Alex memijat keningnya yang pusing. Ia memandang Mia yang terlihat khawatir. Sikap Mia sudah seperti seorang ibu yang khawatir saat putrinya akan menikah.


Alex : "Om mau bicara sama papamu dulu. Inget janjimu untuk menjaga Rara ya. Om percaya sama kamu, tolong jangan rusak kepercayaan om."


Arnold : "Baik om."


Arnold meletakkan ponselnya di sisi ranjang, ia melirik Rara yang duduk di sisi seberang ranjang.


Sejak mendengar Arnold melamarnya, Rara jadi pendiam. Lebih tepatnya hatinya sedang berbunga-bunga dan gelisah pada saat yang sama.


Disatu sisi, ia senang sekali karena Arnold mencintainya tapi disisi lain sebuah pernikahan. Rara saja belum pernah pacaran, trus bagaimana dengan pernikahan.


Arnold : "Ra... Rara, kamu marah sama aku?"


Rara : "..." Rara diam saja, membuat Arnold mendekatinya.


Arnold : "Rara..." kata Arnold sambil menarik tangan Rara.


Rara : "Eh, iya kak..."


Arnold : "Kamu kenapa nglamun? Mikirin apa?"


Rara : "Aku cuma bingung, kak. Tapi seneng juga."


Arnold tertawa mendengar kata-kata Rara yang polos. Ia memainkan jemari Rara dalam genggamannya.


Sungguh ia jatuh cinta pada kepolosan Rara, rasa yang sempat ditepisnya karena kondisi kesehatannya dulu.


Rara : "Kak, kita jadi pergi? Aku mau mandi dulu."


Arnold : "Tolong jangan menggodaku..."


Rara : "Apaaa??!!"


Arnold : "Selama disini, tolong jangan bilang 'aku mau mandi', pikiranku kacau setiap dengar kamu ngomong gitu."


Rara : "Kenapa kacau? Kakak pusing lagi?"


Arnold : "Ra, aku mati-matian menahan hasratku setiap dekat kamu. Kamu ngerti kan maksudku."


Rara : "Trus aku mesti gimana, kak?"


Arnold : "Boleh aku peluk?"


Arnold benar-benar bingung menjawab pertanyaan Rara, ia ingin memeluk Rara saat ini untuk meredam hasratnya. Melihat Rara mengangguk, Arnold perlahan lebih mendekat padanya.


Mereka berpelukan diatas ranjang, meredakan kegelisahan masing-masing. Arnold mencium leher Rara, meresapi aroma tubuh Rara yang harum. Arnold tidak habis pikir kenapa bisa tubuh Rara membuatnya rileks seperti ini.


Arnold melepaskan pelukannya, ia menatap Rara yang tersenyum menatapnya. Rara memegang kedua pipi Arnold dan mencubitnya pelan.


Rara : "Kak, kalau papa setuju, kakak beneran mau nikahin Rara?"


Arnold : "Iya, Ra."


Rara : "Kakak beneran cinta sama Rara?"


Arnold : "Iya, Ra. Sepenuh hatiku buat kamu."


Rara : "Kakak jujur kan?"


Arnold : "Iya, Ra. Tanya papaku kalau gak percaya."


Arnold : "Iya, Ra."


Rara : "Kakak.."


Arnold : "Hayo, mau nanya apa lagi? Kamu ini cerewet juga ya. Tapi aku suka denger suaramu."


Rara : "Aku mau mandi dulu, kak."


Lagi-lagi Rara berkata begitu, ia langsung bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Arnold yang merana menahan hasratnya. Akhirnya Arnold merebahkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan matanya.


------


Rara mengguncang tubuh Arnold, ia sudah selesai mandi dan ganti baju. Arnold menggeliat dari tidurnya, ia membuka mata dan melihat wajah Rara yang terlihat segar dengan rambut tergerai dan senyum manisnya berdiri di samping ranjang.


Rara : "Kak, bangun. Tadi papa nelpon tapi Rara bilang kakak ketiduran."


Arnold : "Kamu cantik, Ra. Sekarang jam berapa?" Rara tersipu dipuji Arnold.


Rara : "Uda jam 7, kak."


Arnold duduk di sisi ranjang, ia masih mengumpulkan nyawanya yang menghilang setengah. Aroma teh hangat menguar di dalam apartment. Rara membawa secangkir teh dan meletakkannya di meja makan.


Rara : "Kakak mau teh?"


Arnold : "Gak, Ra. Tapi boleh nyicip dikit gak?"


Arnold berjalan mendekati Rara yang menyodorkan cangkir tehnya. Ia menyeruput sedikit dan mengembalikannya ke Rara. Lalu ia berjalan memasuki kamar mandi.


-------


Sementara itu di rumah Alex, mereka semua sedang makan malam bersama. Mia juga masih disana, ia dan Alex masih menunggu telpon balik dari Arnold.


Alex teringat pembicaraannya dengan Ronald beberapa menit yang lalu.


Ronald : "Lex, aku benar-benar terima kasih sama Rara. Akhirnya ada harapan Arnold bisa sembuh. Tapi aku benar-benar minta maaf sama kamu dan keluarga. Terus terang aku malu melihat rekaman itu, Arnold sampai melakukan itu pada Rara."


Alex : "Aku tahu Arnold tidak bermaksud begitu, tapi masalah pernikahan bagaimana? Apa Arnold serius mau menikahi Rara?"


Ronald : "Aku yakin Arnold serius, Lex. Aku tahu bagaimana keadaan Arnold, bagaimana akibat dari kecelakaan itu pada fisik dan psikisnya. Kamu juga pria kan, Lex. Kamu tahu bagaimana rasanya kalau tidak bisa 'itu'. Aku jamin Arnold tidak akan mempermainkan Rara, apalagi memanfaatkannya. Aku sendiri yang akan menghukumnya akalau dia berani melakukan itu."


Alex : "Aku gak nyangka kita bisa jadi besan."


Ronald : "Jadi kau setuju?"


Alex : "Ya, aku setuju. Lagipula Arnold berjanji tidak akan meminta hak-nya sebagai suami sampai Rara lulus kuliah. Aku juga ingin mereka tinggal di rumahku setelah pernikahan nanti. Hanya sampai Rara siap menjadi istri sepenuhnya."


Ronald : "Terserah padamu, aku juga sudah menyiapkan apartment untuk Arnold disana. Tapi jangan katakan apa-apa dulu pada mereka. Aku ingin mereka konsentrasi dengan terapi Arnold. Aku sih percaya pada Arnold, tapi kita gak tahu kalau setan lewat..."


Alex : "Aku tahu. Arnold juga sudah janji, aku akan katakan kita bicarakan lagi setelah mereka pulang."


Ronald : "Ok, sampai jumpa."


Alex meletakkan sendoknya, ia sudah selesai makan dan ponselnya belum juga berdering. Sedikit kesal, Alex menelpon Rara dan langsung diangkat,


Alex : "Ra, mana Arnold? Kenapa belum telpon juga?"


Rara : "Kak Arnold masih mandi, pah. Dia baru aja bangun tidur. Kita mau keluar cari makan."


Alex terdiam mendengar kata-kata Rara, seolah Rara sudah menikah dengan Arnold dan mereka tinggal di tempat terpisah. Alex memeluk Mia yang duduk di sampingnya sambil menangis bombay, sementara Rara memanggil-manggil papanya,


Rara : "Halo? Pah? Papa?!"


Mia : "Halo, Ra. Papamu masih nangis. Tolong minta Arnold hubungi papamu segera."


Rara : "Kenapa papa nangis?"


Mia : "Papamu nangis karena kebanyakan makan cabe. Ntar ya, Ra."


Rara memandang ponselnya, bingung sejak kapan papanya nangis karena makan cabe.


-------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’


dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


-------