
Hari ini, Arnold menerima jadwal operasi yang akan dilaksanakan seminggu lagi. Sebelum operasi, Arnold menemui papanya bersama Rara.
Mereka pergi ke rumah Arnold di kota M bersama sopir. Kondisi Arnold tidak boleh terlalu capek dan juga Rara dalam keadaan hamil.
Setelah berkendara sekitar 1 jam, mereka tiba di rumah Ronald. Papa Arnold itu sudah menunggu bersama mamanya.
Kakak dan kakak ipar Arnold masih belum datang dari tempat kerjanya masing-masing.
Arnold : "Pa, ma. Apa kabar?"
Rara : "Ma, pa. Apa kabar?"
Ronald : "Papa baik."
Mama Arnold : "Mama juga baik. Loh, Rara kok tambah gemuk ya."
Arnold membantu Rara duduk di sofa. Tadi kaki Rara sempat kram karena terlalu lama ditekuk.
Arnold : "Iya, mah. Sering makan sekarang."
Rara : "Habisnya laper, ma."
Mama Arnold : "Laper terus? Kamu hamil, Ra?"
Rara menatap Arnold yang mengangguk sambil tersenyum manis.
Rara : "Iya, mah."
Ronald dan istrinya terlihat sangat bahagia. Mereka memeluk Rara bergantian dan mengelus perutnya.
Arnold : "Tapi Arnold mau bicara satu hal lagi, ma, pa."
Ronald : "Katakan, nak."
Arnold : "Minggu depan Arnold akan dioperasi, pa."
Ronald : "Operasi apalagi?"
Arnold : "Tulang belakang Arnold ada yang retak. Kecil sich, tapi akhir-akhir ini Arnold sering sakit pinggang. Jadi harus dioperasi. Tapi ada resikonya, pah."
Ronald : "Apa itu?"
Arnold : "Kemungkinannya bisa lumpuh, pah."
Ronald : "Ngawur! Mana dokternya, papa mau tanya langsung. Kalau memang harus dioperasi, harus tenaga profesional yang jadi tim-nya."
Arnold : "Semua sudah diatur, pah. Arnold tinggal operasi aja. Dan ini tim terbaik yang bisa Arnold dapatkan. Dokter Kevin juga sudah setuju."
Ronald terdiam melihat ketenangan Arnold menyampaikan sesuatu yang mungkin akan jadi lebih buruk lagi.
Rara juga terlihat tenang, padahal ia sedang hamil. Dirinya tidak terlihat cemas mendengar kemungkinan suaminya akan lumpuh. Arnold mengelus perut Rara yang sedang bersandar di sofa. Putra bungsunya itu terlihat bahagia bersama Rara.
Ronald : "Nak, apa gak ada jalanΒ lain?"
Arnold : "Hanya terapi, pah. Tapi sakitnya tetap saja ada."
Ronald : "Kalau begitu, papa akan temani kamu waktu operasi."
Arnold : "Makasi ya pah."
Mama Arnold : "Sayang, yang tegar ya. Demi anak kalian. Kamu harus kuat."
Arnold : "Iya mah."
Arnold menggenggam tangan Rara dan tersenyum menatapnya. Keluarga memang yang paling baik saat ia mengalami cobaan seperti saat ini.
πππππ
Liburan si kembar sudah berakhir, mereka harus kembali ke asrama besok. Mia sedang membantu anak-anaknya mengecek barang-barang yang akan mereka bawa.
Riri sudah selesai berkemas. Ia membawa semua buku yang ia pinjam dari Elo. Rencananya akan ia kembalikan di kampus.
Sedangkan barang-barang Rio masih tergeletak diatas tempat tidurnya. Rio masih ke bengkel bersama Alex untuk memperbaiki mobilnya. Mia duduk bersandar di tempat tidur Rio. Ia mengelus pinggangnya yang sakit.
Riri : "Mama kenapa?"
Mia : "Cuma sakit pinggang, Ri. Mama mau rebahan bentar."
Riri : "Mama istirahat aja dulu ya."
Riri membantu mengatur bantal agar Mia merasa nyaman. Tak lama, Mia mulai terlelap membiarkan Riri menyelesaikan memasukkan barang-barang Rio ke dalam tasnya.
Pintu kamar Rio terbuka, Rio masuk kesana dan melongo melihat Mia melungker di tempat tidurnya.
Rio : "Kenapa mama tidur disini?"
Riri : "Ssstt... Mama sakit pinggang biarin istirahat dulu."
Rio : "Ooh, sudah selesai?"
Riri : "Uda. Apalagi yang mau kau bawa?"
Rio : "Kita gak pulang minggu depan ya? Aku perlu lebih banyak baju kalau gitu."
Riri : "Bajumu sudah banyak di dalam tas."
Rio : "Itu semua baju yang aku bawa waktu pertama ke asrama. Lemariku sudah kosong disana."
Riri : "Emang kamu gak nyuci di aarama?"
Rio : "Nyuci pakaian dalem aja sama baju olahraga, yang lain aku angin-anginin aja."
Riri berjengit mendengar saudara kembarnya yang jorok. Ia melihat wajah tampan Rio yang juga menatapnya.
Rio : "Kenapa?"
Riri : "Kamu jorok."
Rio : "Yang penting kan gak bau. Weekk."
Obrolan mereka semakin seru dan keras. Mia sampai mengkerutkan keningnya mendengar keributan itu.
Tiba-tiba Alex muncul dari balik pintu. Ia tampak pucat dan langsung melongo melihat tubuh bulat Mia melungker diatas tempat tidur.
Alex : "Haduh! Papa kira mama kemana. Hampir copot jantung papa."
Riri : "Mama bilang sakit pinggang. Jadi tidur disini."
Alex melengos di samping Mia, duduk diatas tempat tidur Rio.
Alex : "Kalian uda selesai kemas-kemas?"
Riri : "Rio belum nich, pah. Riri uda selesai."
Alex : "Maksud Riri koper besar diluar sama dus itu? Riri mau ke asrama apa pindah rumah?"
Riri : "Itu ada bukunya kak Elo, pah. Mau Riri balikin di kampus."
Alex : "Emang Elo kerja di kampus?"
Alex : "Apaan kudet?"
Rio : "Kurang update, pah. Kak Elo kan cucunya yang punya kampus. Dia kerja disana jadi admin."
Alex : "Ngapain kerja jadi admin di kampus? Kenapa gak di perusahaan?"
Riri : "Kak Elo gak suka kerja gitu. Dia mau jadi penulis kayak Riri."
Alex : "Emang Elo bisa nulis?"
Riri beranjak dari duduknya dan keluar kamar. Rio dan Alex saling pandang, bingung. Ini anak ngambek apa gimana.
Riri masuk lagi membawa buku-buku yang dibuat Elo. Rio dan Alex membuka-buka buku itu.
Rio : "Wah, seru nich. Kalau ada buku ini, semester depan udah pasti A semua."
Alex : "Hebat juga ya. Kalian kok keliatannya akrab banget. Sering jalan juga."
Riri : "Emang mama gak cerita, pah?"
Alex : "Cerita apa?"
Riri : "Itu..."
Alex melihat wajah Riri merona, ia menyikut Rio, menanyakan kenapa.
Rio : "Mereka pacaran, pah."
Alex : "Apa??!!"
Mia : "Eenngg... berisik..."
Alex, Rio, Riri kompak menoleh keatas tempat tidur, tampak Mia masih tidur. Alex memelankan suaranya,
Alex : "Sejak kapan?"
Riri : "Baru kok pah."
Alex : "Uda ngapain aja?"
Riri : "Itu... Papa iih, Riri kan malu."
Alex : "Papa kan kepo. Rio juga."
Rio : "Idih, gak kepo kali. Palingan sama kayak Rio."
Alex : "Apa??!!"
Buk! Sebuah bantal melayang mengenai kepala Alex. Mereka menoleh lagi ke arah Mia yang kembali memeluk bantal yang barusan ia pakai memukul Alex.
Alex : "Mamamu ini tidur apa nglindur sich?"
Alex menoel pipi Mia, yang tidak bereaksi apa-apa.
Riri : "Emangnya Rio uda sejauh apa sama Kaori? Cium doang kan?"
Rio : "Iya. Lewat dikit-dikit lah."
Riri : "Maksudnya?"
Rio meraba badannya sendiri, sebuah pukulan langsung mendarat di kepalanya. Bukan dari Alex tapi dari Riri.
Rio : "Adoow...! Sakit, Ri."
Sementara Alex masih asyik mengganggu tidur Mia. Ia masih penasaran kena pukulan tadi.
Riri : "Kamu tuch ya. Ntar kebablasan. Kalian kan masih kuliah."
Rio : "Kaori masi bisa nahan aku kalo hampir kebablasan kok."
Riri : "Kalo aku gak mau digituin. Takut."
Rio : "Asyik tau."
Riri : "Dasar cowok."
Rio : "Kenapa kalo cowok? Salah trus."
Riri : "Sejak jaman prasejarah, namanya cowok ya harus ngalah sama cewek."
Rio : "Mana? Di buku gak ada sejarahnya gitu."
Riri : "Itu hanya perumpamaan."
Dan si kembar semakin sengit berdebat sampai membuat Mia terbangun.
Mia : "Kalian kok berisik banget sich. Mama gak bisa tidur nich."
Riri : "Maaf, mah."
Rio : "Maaf, mah."
Mia : "Kalian ngobrol apa sich?"
Alex : "Obrolan anak muda. Kamu mimpi apa sich tadi?"
Mia : "Oh, itu mimpi gebuk bantal."
Alex : "Trus kenapa aku yang di gebuk?"
Mia : "Masa? Gak ngrasa tuch."
Alex : "Iya. Sakit nich."
Mia : "Mana yang sakit?"
Alex mendekatkan kepalanya minta di elus Mia. Mia mengelus kepala Alex dan mencium keningnya.
Rio : "Mau juga dong, mah."
Alex : "Gak boleh."
Dan seperti sebelumnya Rio dan Alex berebut perhatian Mia.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²