Duren Manis

Duren Manis
Ancaman Ratna


Ratna berjalan


menuju ruang rahasia tempat Elena di sekap. Penjaga menunduk hormat padanya dan


membuka pintu kamar itu. Elena tampak menyedihkan dengan rantai membelenggu


kakinya.


Ratna : “Elena, kau


sudah menyadari kesalahanmu?”


Elena : “Tante Ratna,


aku tidak berbuat apa-apa.”


Ratna : “Kau


mengganggu hubungan Riri dan Angelo. Apa kau tidak tahu apa akibatnya kalau kau


melakukan itu?”


Elena : “Tante


tidak akan menyebarkan video itu.”


Ratna : “Kau


yakin?”


Elena sudah tahu


bagaimana Ratna sangat menjaga nama baik keluarga ini. Menjaga kakek tidak malu


diluar sana, jadi Ratna tidak akan menyebarkan video panasnya dengan Heru


kepada publik.


Elena : “Kakek


tidak akan suka kalau reputasinya tercemar, tante.”


Seringai puas


muncul dari wajah Elena. Ratna tersenyum melihat betapa liciknya Elena.


Ratna : “Aku cukup


beruntung, Angelo berhenti mencintaimu.”


Elena : “Angelo


akan tetap mencintaiku, tante. Sampai kapanpun.”


Ratna : “Dia bahkan


sangat marah melihatmu berani masuk ke kamarnya. Ayolah berhenti memikirkan hal


yang sudah jelas tidak akan bisa kau peroleh kembali.”


Elena : “Cinta


pertama akan sulit hilang. Dan cinta yang baru hanya akan jadi pelarian saja.”


Ratna : “Begitu


menurutmu. Satu lagi penawaranku. Kau pergi dari sini dan menjauh dari Angelo atau


kusebarkan video itu dan beberapa video yang baru.”


Elena : “Video


baru? Apa maksud tante?”


Ratna : “Masuk.”


Elena tercengang


melihat Heru berjalan masuk ke kamar itu dengan senyuman mesumnya.


Heru : “Hai, babe.


Nyonya Ratna.”


Ratna : “Kau sudah


tahu tugasmu.”


Heru : “Dengan


senang hati, Nyonya.”


Elena : “Tante!


Sebarkan saja video itu dan kita lihat siapa yang harus pergi dari sini.” Elena


masih sempat berteriak menantang tantenya itu.


Ratna : “Aku lupa


bilang ya, aku hanya akan memberikan video itu pada Om Brian.”


Elena : “Apa?!


Bagaimana tante bisa tahu?!”


Ratna : “Tidak


sulit mencari penyokong danamu. Tapi apa dia sanggup menerima kalau wanita


simpanannya tidur dengan laki-laki lain selama masih berhubungan dengannya. Setahuku


Om Brian tidak suka menggunakan barang yang sama dengan orang lain.”


Ratna berjalan


keluar kamar, ia memejamkan matanya mendengar teriakan Elena yang memohon agar


video panasnya tidak dikirimkan ke Om Brian. Tak lama teriakan Elena berubah


menjadi jeritan khas orang bercinta.


Ratna kembali ke


ruang kerjanya, ia membuka laptopnya dan melihat siaran live Elena bersama


Heru. Hatinya kembali tersakiti, ia sayang pada ponakan cantiknya itu. Tapi


jalan yang dipilih Elena sudah salah.


Elena lebih memilih


menjadi simpanan pria kaya daripada menjadi istri Angelo. Hanya untuk


mempertahankan status sosial dan kesenangan tante Dewi berfoya-foya. Tante Dewi


bahkan tega menjual keperawanan putri cantiknya itu pada penawar tertinggi.


Fakta menyakitkan


yang ditutupi dengan baik oleh kakek. Ratna sama sekali tidak keberatan dengan


hal itu, ia hanya adik yang ingin menjaga hubungan baik dengan kakaknya. Tapi


kalau sudah menyangkut kebahagiaan Angelo, Ratna akan berjuang sampai titik


darah penghabisan.


Ratna juga sudah


sangat nyaman dengan Riri, mengetahui gadis itu sangat dicintai dan mencintai


putranya dengan tulus, membuat Ratna merasakan kebahagiaan. Ia menginginkan


Riri menjadi menantunya secepatnya.


*****


Sabtu pagi, rumah


Alex tampak rame dengan WO yang sibuk mengatur tenda untuk acara lamaran. Sebenarnya


tidak banyak yang akan datang ke rumah Alex untuk acara lamaran ini, tapi Alex


hanya ingin menjaga suasana tetap nyaman meskipun hanya dengan sedikit orang.


Orang-orang


catering juga sudah mengatur stand mereka masing-masing. Rio ikutan sibuk menunjukkan


tempat-tempat yang akan digunakan untuk acara lamaran Riri besok. Alex sendiri


sedang mengawasi pengaturan kursi.


Dimana para wanita?


Mia, Riri, Rara, Nenek, dan Kaori sedang mencoba kebaya untuk besok. Ratna


mengirimkan desainer khusus untuk membuat kostum acara lamaran. Sekalian kostum


untuk acara pernikahan juga.


Kebaya untuk Nenek,


Riri dan Kaori sudah pas di tubuh mereka. Sedangkan untuk Mia perlu penyesuaian


di bagian dada, dan Rara dibagian perutnya. Penjahit langsung mengerjakan


pria, sudah siap juga.


Mia : “Riri, udah


siap kan untuk besok?”


Riri : “Iya, mah.


Masih gugup sich. Acara lamaran gak ditanya macem-macem kan?”


Mia : “Palingan


sama kayak mama waktu lamaran dulu.”


Riri : “Tapi kan


ada insiden waktu mama dulu.”


Mia : “Habisnya


mama dikerjain nenekmu sich. Jadinya ya gitu, tapi kan semua berjalan dengan


baik dan lancar.”


Riri : “Semoga ya,


mah.”


Rio masuk ke kamar


tempat mereka ganti baju tanpa mengetuk dulu. Mata Rio auto fokus pada tubuh


ramping Kaori yang masih terbungkus kebaya berwarna pink muda. Kaori hampir


melepas kebayanya saat mendengar Mia menegur Rio.


Mia : “Rio, jangan


masuk gitu aja dong. Ketuk dulu.”


Rio : “Hehe, maaf


mah. Riri dicari kak Elo tuch.”


Riri : “Oh, aku


ganti baju dulu, kak Elo suruh nunggu bentar.”


Rio : “Katanya


buru-buru. Tutup aja pake bathrobe, cepetan keluar.”


Riri menyambar


bathrobe untuk menutupi kebayanya agar tidak dilihat Elo. Tampak Elo


menunggunya di dekat kamar Mia.


Elo : “Sayang, kamu


udah coba kebayanya?”


Riri : “Udah, mas.


Mas dateng cuma buat nanya itu?”


Elo : “Nggak, aku


mau ngasih ini.”


Elo memberikan


sebuah kotak pada Riri. Riri menerimanya dengan tanda tanya yang besar.


Elo : “Pakai ini


besok ya. Kakek minta kamu langsung memakainya. Besok para tetua ada yang akan


datang juga, biar mereka gak ngomong apa-apa lagi, kakek mau kamu memakai


perhiasan ini.”


Riri membuka kotak


itu dan melihat satu set perhiasan emas dengan berlian sebagai batunya. Riri


menelan salivanya melihat berlian itu bersinar di bawah cahaya lampu. Tangannya


gemetar seketika,


Elo : “Coba pakai,


Ri.”


Elo melihat wajah


Riri memucat melihat perhiasan itu, ia menarik tangan Riri yang hampir jatuh


karena kakinya tiba-tiba lemas.


Elo : “Ri, kamu


kenapa?!”


Suara panik Elo memancing


rasa ingin tahu Rio dan yang lainnya. Mereka segera menghampiri Elo dan Riri


yang sudah bersandar pada Elo.


Mia : “Riri kenapa?”


Elo : “Gak tau, ma.


Tiba-tiba udah lemes begini.”


Mia melihat kotak


disamping Riri, ketika ia mengusap-usap kaki Riri yang dingin agar tetap


hangat.


Mia : “Itu kotak


apa?”


Elo : “Itu


perhiasan buat dipakai Riri besok. Elo mau lihat Riri memakainya sekarang, dia


malah lemes begini.”


Riri : “Boleh gak


pakai itu besok, gak?”


Elo : “Sayang, kamu


harus memakainya. Perhiasan ini warisan turun temurun untuk menantu perempuan


yang akan menikah dengan pewaris sah kakek. Para tetua tidak akan meragukanmu


sedikitpun. Kakek gak mau kamu merasa tertekan dengan mereka, Ri.”


Riri : “Tapi,


mas... perhiasan itu mahal sekali.”


Elo : “Bagi kakek


gak ada yang lebih mahal dari kebahagiaan kita, Ri. Mau pakai ya?”


Mia : “Boleh mama


lihat?”


Elo mengangguk, ia


membantu Riri meminum air yang diberikan Kaori padanya. Mia mengambil kotak itu


dan terpana melihat batu berlian besar yang bersinar disana.


Mia : “Pantesan


Riri lemes gini. Mama juga ikutan lemes.”


Alex : “Papa juga


ikutan dech.” Alex membayangkan Mia merengek minta dibelikan perhiasan yang


sama. Alex harus jual semua asetnya kalau sampai itu terjadi.


🌻🌻🌻🌻🌻


Riri


lemes dikasi perhiasan mahal. Gimana nasib Alex seandainya Mia minta perhiasan


yang sama ya?


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).