
Ratna berjalan
menuju ruang rahasia tempat Elena di sekap. Penjaga menunduk hormat padanya dan
membuka pintu kamar itu. Elena tampak menyedihkan dengan rantai membelenggu
kakinya.
Ratna : “Elena, kau
sudah menyadari kesalahanmu?”
Elena : “Tante Ratna,
aku tidak berbuat apa-apa.”
Ratna : “Kau
mengganggu hubungan Riri dan Angelo. Apa kau tidak tahu apa akibatnya kalau kau
melakukan itu?”
Elena : “Tante
tidak akan menyebarkan video itu.”
Ratna : “Kau
yakin?”
Elena sudah tahu
bagaimana Ratna sangat menjaga nama baik keluarga ini. Menjaga kakek tidak malu
diluar sana, jadi Ratna tidak akan menyebarkan video panasnya dengan Heru
kepada publik.
Elena : “Kakek
tidak akan suka kalau reputasinya tercemar, tante.”
Seringai puas
muncul dari wajah Elena. Ratna tersenyum melihat betapa liciknya Elena.
Ratna : “Aku cukup
beruntung, Angelo berhenti mencintaimu.”
Elena : “Angelo
akan tetap mencintaiku, tante. Sampai kapanpun.”
Ratna : “Dia bahkan
sangat marah melihatmu berani masuk ke kamarnya. Ayolah berhenti memikirkan hal
yang sudah jelas tidak akan bisa kau peroleh kembali.”
Elena : “Cinta
pertama akan sulit hilang. Dan cinta yang baru hanya akan jadi pelarian saja.”
Ratna : “Begitu
menurutmu. Satu lagi penawaranku. Kau pergi dari sini dan menjauh dari Angelo atau
kusebarkan video itu dan beberapa video yang baru.”
Elena : “Video
baru? Apa maksud tante?”
Ratna : “Masuk.”
Elena tercengang
melihat Heru berjalan masuk ke kamar itu dengan senyuman mesumnya.
Heru : “Hai, babe.
Nyonya Ratna.”
Ratna : “Kau sudah
tahu tugasmu.”
Heru : “Dengan
senang hati, Nyonya.”
Elena : “Tante!
Sebarkan saja video itu dan kita lihat siapa yang harus pergi dari sini.” Elena
masih sempat berteriak menantang tantenya itu.
Ratna : “Aku lupa
bilang ya, aku hanya akan memberikan video itu pada Om Brian.”
Elena : “Apa?!
Bagaimana tante bisa tahu?!”
Ratna : “Tidak
sulit mencari penyokong danamu. Tapi apa dia sanggup menerima kalau wanita
simpanannya tidur dengan laki-laki lain selama masih berhubungan dengannya. Setahuku
Om Brian tidak suka menggunakan barang yang sama dengan orang lain.”
Ratna berjalan
keluar kamar, ia memejamkan matanya mendengar teriakan Elena yang memohon agar
video panasnya tidak dikirimkan ke Om Brian. Tak lama teriakan Elena berubah
menjadi jeritan khas orang bercinta.
Ratna kembali ke
ruang kerjanya, ia membuka laptopnya dan melihat siaran live Elena bersama
Heru. Hatinya kembali tersakiti, ia sayang pada ponakan cantiknya itu. Tapi
jalan yang dipilih Elena sudah salah.
Elena lebih memilih
menjadi simpanan pria kaya daripada menjadi istri Angelo. Hanya untuk
mempertahankan status sosial dan kesenangan tante Dewi berfoya-foya. Tante Dewi
bahkan tega menjual keperawanan putri cantiknya itu pada penawar tertinggi.
Fakta menyakitkan
yang ditutupi dengan baik oleh kakek. Ratna sama sekali tidak keberatan dengan
hal itu, ia hanya adik yang ingin menjaga hubungan baik dengan kakaknya. Tapi
kalau sudah menyangkut kebahagiaan Angelo, Ratna akan berjuang sampai titik
darah penghabisan.
Ratna juga sudah
sangat nyaman dengan Riri, mengetahui gadis itu sangat dicintai dan mencintai
putranya dengan tulus, membuat Ratna merasakan kebahagiaan. Ia menginginkan
Riri menjadi menantunya secepatnya.
*****
Sabtu pagi, rumah
Alex tampak rame dengan WO yang sibuk mengatur tenda untuk acara lamaran. Sebenarnya
tidak banyak yang akan datang ke rumah Alex untuk acara lamaran ini, tapi Alex
hanya ingin menjaga suasana tetap nyaman meskipun hanya dengan sedikit orang.
Orang-orang
catering juga sudah mengatur stand mereka masing-masing. Rio ikutan sibuk menunjukkan
tempat-tempat yang akan digunakan untuk acara lamaran Riri besok. Alex sendiri
sedang mengawasi pengaturan kursi.
Dimana para wanita?
Mia, Riri, Rara, Nenek, dan Kaori sedang mencoba kebaya untuk besok. Ratna
mengirimkan desainer khusus untuk membuat kostum acara lamaran. Sekalian kostum
untuk acara pernikahan juga.
Kebaya untuk Nenek,
Riri dan Kaori sudah pas di tubuh mereka. Sedangkan untuk Mia perlu penyesuaian
di bagian dada, dan Rara dibagian perutnya. Penjahit langsung mengerjakan
pria, sudah siap juga.
Mia : “Riri, udah
siap kan untuk besok?”
Riri : “Iya, mah.
Masih gugup sich. Acara lamaran gak ditanya macem-macem kan?”
Mia : “Palingan
sama kayak mama waktu lamaran dulu.”
Riri : “Tapi kan
ada insiden waktu mama dulu.”
Mia : “Habisnya
mama dikerjain nenekmu sich. Jadinya ya gitu, tapi kan semua berjalan dengan
baik dan lancar.”
Riri : “Semoga ya,
mah.”
Rio masuk ke kamar
tempat mereka ganti baju tanpa mengetuk dulu. Mata Rio auto fokus pada tubuh
ramping Kaori yang masih terbungkus kebaya berwarna pink muda. Kaori hampir
melepas kebayanya saat mendengar Mia menegur Rio.
Mia : “Rio, jangan
masuk gitu aja dong. Ketuk dulu.”
Rio : “Hehe, maaf
mah. Riri dicari kak Elo tuch.”
Riri : “Oh, aku
ganti baju dulu, kak Elo suruh nunggu bentar.”
Rio : “Katanya
buru-buru. Tutup aja pake bathrobe, cepetan keluar.”
Riri menyambar
bathrobe untuk menutupi kebayanya agar tidak dilihat Elo. Tampak Elo
menunggunya di dekat kamar Mia.
Elo : “Sayang, kamu
udah coba kebayanya?”
Riri : “Udah, mas.
Mas dateng cuma buat nanya itu?”
Elo : “Nggak, aku
mau ngasih ini.”
Elo memberikan
sebuah kotak pada Riri. Riri menerimanya dengan tanda tanya yang besar.
Elo : “Pakai ini
besok ya. Kakek minta kamu langsung memakainya. Besok para tetua ada yang akan
datang juga, biar mereka gak ngomong apa-apa lagi, kakek mau kamu memakai
perhiasan ini.”
Riri membuka kotak
itu dan melihat satu set perhiasan emas dengan berlian sebagai batunya. Riri
menelan salivanya melihat berlian itu bersinar di bawah cahaya lampu. Tangannya
gemetar seketika,
Elo : “Coba pakai,
Ri.”
Elo melihat wajah
Riri memucat melihat perhiasan itu, ia menarik tangan Riri yang hampir jatuh
karena kakinya tiba-tiba lemas.
Elo : “Ri, kamu
kenapa?!”
Suara panik Elo memancing
rasa ingin tahu Rio dan yang lainnya. Mereka segera menghampiri Elo dan Riri
yang sudah bersandar pada Elo.
Mia : “Riri kenapa?”
Elo : “Gak tau, ma.
Tiba-tiba udah lemes begini.”
Mia melihat kotak
disamping Riri, ketika ia mengusap-usap kaki Riri yang dingin agar tetap
hangat.
Mia : “Itu kotak
apa?”
Elo : “Itu
perhiasan buat dipakai Riri besok. Elo mau lihat Riri memakainya sekarang, dia
malah lemes begini.”
Riri : “Boleh gak
pakai itu besok, gak?”
Elo : “Sayang, kamu
harus memakainya. Perhiasan ini warisan turun temurun untuk menantu perempuan
yang akan menikah dengan pewaris sah kakek. Para tetua tidak akan meragukanmu
sedikitpun. Kakek gak mau kamu merasa tertekan dengan mereka, Ri.”
Riri : “Tapi,
mas... perhiasan itu mahal sekali.”
Elo : “Bagi kakek
gak ada yang lebih mahal dari kebahagiaan kita, Ri. Mau pakai ya?”
Mia : “Boleh mama
lihat?”
Elo mengangguk, ia
membantu Riri meminum air yang diberikan Kaori padanya. Mia mengambil kotak itu
dan terpana melihat batu berlian besar yang bersinar disana.
Mia : “Pantesan
Riri lemes gini. Mama juga ikutan lemes.”
Alex : “Papa juga
ikutan dech.” Alex membayangkan Mia merengek minta dibelikan perhiasan yang
sama. Alex harus jual semua asetnya kalau sampai itu terjadi.
🌻🌻🌻🌻🌻
Riri
lemes dikasi perhiasan mahal. Gimana nasib Alex seandainya Mia minta perhiasan
yang sama ya?
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).