
Malam bahagia
Gadis menyuapi Rio yang makan dengan malas.
Mereka kembali ke kamar pengantin setelah selesai makan.
Bruk! Rio menjatuhkan tubuhnya tengkurap
diatas tempat tidur. Gadis yang asyik melihat-lihat dekorasi kamar pengantin
itu melirik Rio yang sudah tidak bergerak.
“Cepet banget tidurnya.” Gadis melepas satu
persatu aksesoris yang dipakainya.
Ia membuka satu persatu kancing kebayanya
dan melepaskan kebaya itu dari tubuhnya. Gadis melepas juga sisa penutup
tubuhnya yang lain, menyisakan lingeri merah yang memang ia pakai saat itu.
“Darimana Rio tau ya kalau aku pake yang
ini?”
Gadis melirik Rio yang masih tertidur
pulas. Pelan-pelan Gadis membuka jas yang masih dipakai Rio. Ia juga melepas
sepatu yang masih melekat di kaki suaminya itu.
“Bukannya mandi dulu baru tidur. Rio...”panggil
Gadis, tapi Rio masih pules.
Gadis memutuskan mandi duluan, ia malu
sendiri kelamaan memakai lingeri seperti itu. Gadis masuk ke kamar mandi, ia
melihat bathup dan ingin berendam sebentar.
Setelah mengisi bathup dengan air hangat,
Gadis masuk ke dalamnya. Ia menuangkan sedikit sabun, membuat gelembung sabun dari
air mandinya. Sedang asyik bermain gelembung sabun, seseorang masuk ke kamar
mandi.
“Sayang, kamu kok gak bangunin aku?”tanya
Rio dengan suara serak. Ia ikut bergabung masuk ke dalam bathup juga.
“Habisnya kamu pules banget tidurnya. Capek
ya.”
“Nggak kok. Aku full energi sekarang,
maunya bikin kamu lemes.”
Gadis menyadari sentuhan Rio di bawah sana.
Ia tersenyum manis sebelum Rio mulai mencumbunya.
“Rio, mau disini?”
“Iya.”
Keduanya berpelukan sangat mesra sebelum
memulai ritual malam pertama setelah pernikahan mereka. Rio menyentuh Gadis
sangat lembut hingga Gadis terbuai dalam kenikmatan. Keduanya saling mendekat,
berbisik mesra, menumpahkan segala perasaan cinta satu sama lain.
Rio menggendong Gadis keluar dari kamar
mandi, ia berjalan ke ranjang pengantin mereka dan membaringkan Gadis disana.
“Rio, aku masih basah, ambilin handuknya.”
“Gak pa-pa, nanti juga gak basah lagi.”
Rio kembali mencumbu Gadis, tidak
membiarkan istrinya itu lepas dari sentuhannya walau sedetik saja. Suasana yang
romantis semakin bertambah saat lampu dipadamkan. Kedua insan saling menatap
satu sama lain dalam keremangan kamar.
“Gadis...”
“Hmm?”
“Aku mencintaimu.”
*****
Beberapa hari sebelumnya,
Matahari sudah hampir mencapai puncak
memejamkan mata. Bagaimana tidak mereka melakukan pergulatan sampai hari hampir
berganti.
Lili menggeliat merenggangkan otot tubuhnya
yang terasa pegal. Ia memegangi pinggangnya yang terasa sakit dan bagian
tubuhnya yang terasa nyeri. Tanpa menoleh ke samping, Lili bangkit dari
tidurannya. Ia ingin ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Lili tersenyum malu melihat kelopak mawar
yang bertaburan di lantai dan ada juga yang menempel di tubuhnya. Semalam, Lili
benar-benar melakukan semua yang diceritakan Riri padanya. Saat Dion sudah tahu
caranya dan merasakan kenikmatan, Lili tidak perlu repot lagi.
Rasa nyeri di pinggangnya membuat Lili
ingin memukul Dion yang tidak memberi jeda padanya untuk beristirahat semalam.
Dion seolah menghabiskan tenaganya untuk meraih puncak kenikmatan terus-menerus
bersama dirinya.
“Aduch, sakit banget. Dion...”Lili menoleh
menatap wajah Dion yang masih tertidur pulas.
Kening Lili mengkerut ketika melihat
sesuatu tampak terkelupas dari kulit wajah Dion. “Ini apa ya?”
Tangan Lili terulur menyentuh kulit itu
yang malah menempel di tangannya. Pelan-pelan Lili menarik sesuatu yang seperti
kulit itu dan terlihat kulit mulus di baliknya.
Lili melebarkan matanya melihat apa yang
terjadi dengan wajah Dion. Ia menarik lagi kulit itu yang akhirnya terlepas. “Dion,
bangun. Dion!”
Lili mengguncang tubuh Dion yang akhirnya
mau bangun juga. “Apa sich? Aku masih ngantuk.” Dion menggaruk kepalanya, ia
melihat Lili memegang kulit wajahnya dan refleks meraba pipinya.
“Sayang, aku bisa jelaskan.”
“Kamu nipu aku?”tanya Lili menahan
marahnya. Pria yang sudah menjadi suaminya ini membohonginya dengan sebuah
topeng dari kulit.
“Lepasin itu. Aku mau lihat wajahmu!”
teriak Lili sambil meraih selimut menutupi tubuhnya.
Dion melakukan apa yang diminta Lili sambil
terus meminta maaf. Topeng kulit itu sudah terlepas sepenuhnya. Lili bisa
melihat masih ada bekas luka bakar di sekitar mata Dion dan juga keningnya,
tapi pipi, dagu, dan lehernya sudah mulus sempurna.
“Sejak kapan? Katamu gak bisa operasi?”
“Aku gak operasi tapi pake perawatan lain. Memang
waktunya lama, tapi sangat efektif dan aku gak perlu istirahat total.”
Lili merasa sedih sekaligus senang melihat
kondisi wajah Dion sekarang. Sedih karena Dion berbohong agar bisa menikahinya,
senang karena Dion tidak perlu pakai hoodie lagi.
“Sayang, jangan marah. Aku gak kamu batalin
pernikahan kita kalau tahu wajahku sudah membaik gini.”
Lili hanya diam menatap wajah Dion, ia
belum terbiasa melihat wajah baru itu. Dalam pikirannya, suaminya memiliki
bekas luka bakar yang merusak wajahnya.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya
author yang lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.