
Mia menelpon Rara yang segera tersambung,
Rara : "Halo, mah?"
Mia : "Kamu dimana, sayang? Sudah turun dari pesawat kan?"
Rara : "Iya, mah. Bentar lagi sampai, baru lewat depan kampus."
Mia : "Ok, mama sudah nunggu sama papa ya."
Rara : "Iya, mah."
Arnold melajukan mobilnya dengan kecepatan standar, mereka akan sampai 10 menit lagi kalau tidak macet.
Arnold : "Papamu sudah menunggu kita?"
Rara : "Iya, kak."
Arnold : "Kamu sudah siap?"
Rara : "Emang kakak uda siap?"
Arnold : "Aku siap, Ra. Apapun keputusan papamu, mau terima atau tidak."
Rara galau lagi, hatinya yang berbunga-bunga langsung layu. Arnold tersenyum melirik reaksi Rara, ia harus mengatakan itu agar Rara bisa menerima apapun keputusan papanya.
Semakin dekat rumah, Rara semakin gelisah. Dalam pikirannya ia akan menceritakan semua yang terjadi dengan detail dan akan minta tanggung jawab Arnold kalau sampai papanya tidak mengijinkan mereka menikah.
Rara sudah nekat, ia siap mempermalukan dirinya sendiri agar bisa bersama Arnold.
-------
Mereka sampai di depan rumah Rara, sebelum keluar mobil, Rara menahan tangan Arnold. Ia menatap Arnold seolah ini pertemuan terakhir mereka.
Arnold tersenyum, ia mengelus kepala Rara, merapikan rambutnya dan perlahan mencium bibir gadis itu. Rara membalas ciuman Arnold, merangkulkan lengannya ke leher Arnold.
Mereka akhirnya berhenti berciuman saat nafas mereka hampir putus. Rara memeluk erat tubuh Arnold, dan Arnold menghirup dalam-dalam aroma tubuh Rara.
Rara : "Kak... aku gak mau pisah. Aku sayang sama kamu, kita lari aja, kak."
Arnold : "Ra, aku juga sayang kamu, tapi kita uda sama-sama dewasa, Ra. Kita harus hadapi setiap masalah. Kita belum tahu apa yang akan terjadi didalam, kan. Papaku pasti bisa bantu kita."
Rara : "Harusnya kakak mau milikin aku seutuhnya waktu di apartment, kak. Jadi masalahnya gak akan serumit ini."
Arnold : "Aku sudah milikin kamu, Ra. Milikin hati kamu, tinggal tunggu waktu sampai aku bisa milikin kamu seutuhnya. Ayo kita turun."
Rara membuka pintu mobil bersama Arnold, mereka bergenggaman tangan berjalan memasuki pekarangan rumah Rara. Tak lupa membawa koper milik Rara.
Pintu rumah terbuka lebar, Arnold dan Rara melihat Alex, Mia dan Ronald duduk di ruang tamu. Ibu Arnold tidak bisa ikut karena harus mengurus cucunya.
Alex : "Rara, sini nak. Kamu capek?"
Rara duduk diapit Alex dan Mia, sementara Arnold duduk di samping Ronald.
Rara : "Gak, pah. Dimana yang lain?"
Mia : "Mereka ada di dalam."
Rara : "Om, apa kabar?"
Ronald : "Om baik, Ra."
Rara membungkuk mencium tangan Ronald, ia kembali duduk dengan gelisah. Arnold menyapa Mia dan Alex,
Arnold : "Om, mama Rara, apa kabar?"
Alex : "Baik, Arn... Situasinya kurang nyaman ya. Om sudah dengar mengenai perkembangan terapimu. Juga soal lamaranmu terhadap Rara."
Ronald : "Papa juga sudah terima laporan updatenya dari dokter. Papa bingung sebenarnya apa yang membuatmu menunda session kedua?"
Alex : "Iya, kalau memang sudah ada perkembangan, kenapa harus menunda sembuh?"
Arnold : "Itu karena... "
Sebenarnya Arnold tidak tahu pasti apa yang terjadi saat session 1 terapi kedua, saat itu ia hanya mendapati Rara sudah bertelanjang dada saja.
Rara : "Kalau dilanjutkan, Rara harus buka baju di depan Arnold..."
Semua orang memandang Rara yang sudah menatap Arnold dengan wajah merah padam.
Flash back...
Rara membiarkan Arnold mencium lehernya, menghirup aroma tubuhnya. Tapi nafas Arnold tidak juga kembali normal.
Rara bingung harus bagaimana sampai ia memikirkan cara nekat dengan membuka kemejanya saat itu. Apalagi dokter Kevin menanyakan kondisi Arnold.
Entah apa yang terjadi, pelan-pelan nafas Arnold kembali normal saat Arnold mencium dadanya. Sementara tubuh Rara menegang merasakan gairah akibat sentuhan Arnold.
Flash back end...
Alex : "Apa karena itu kamu melamar Rara?"
Arnold : "Saya mencintai Rara, om. Masalah Rara bisa menyembuhkan saya atau tidak, bukan point penting disini."
Alex : "Tapi karena itu kamu jatuh cinta sama dia?"
Arnold : "Kalau cinta punya alasan, cinta akan berakhir setelah alasan itu hilang, om. Dan saya gak punya alasan untuk jatuh cinta sama Rara."
Ronald : "Lex, aku boleh nanya sama Rara?"
Alex mengangguk saja, ia juga mulai pusing harus nanya apa lagi.
Ronald : "Ra, apa kamu cinta sama Arnold?"
Rara : "Iya, om." Jawab Rara malu-malu.
Ronald : "Nah! Gitu kan enak, jadi kapan mereka bisa menikah?"
Rara dan Arnold bengong melihat reaksi Ronald. Sementara Mia hanya tersenyum dan Alex menutup wajahnya dengan kesal. Ronald membongkarnya terlalu cepat.
Mereka sudah berencana menekan Arnold sampai Rara mengatakan sendiri perasaannya di depan Alex. Tapi Ronald yang tidak tahan melihat anaknya tetap ngotot, akhirnya menyerah terlalu cepat
Rara : "Jadi...?"
Arnold dan Rara saling berpandangan dan senyuman mulai muncul dari sudut bibir mereka.
Mia : "Sebaiknya kita langsung lanjutkan saja ya. Sebentar mama ambilkan minuman lagi."
Rara : "Jadi Rara boleh nikah sama Arnold, pah? Papa?"
Rara menggelayut manja di lengan papanya yang masih menutup matanya.
Alex : "Sayang, segitunya kamu mau pergi dari papa? Gak sayang papa lagi?"
Rara : "Rara gak pergi kemana-mana, pah. Emang Rara mau kemana?"
Alex : "Kalau kamu menikah, kamu harus pergi dari rumah ini. Ikut suamimu, Ra."
Rara : "Kan cuma pindah, pah. Gak pergi jauh-jauh. Papa..."
Alex : "Arnold, kamu lihat kelakuan Rara masih manja begini. Kamu yakin mau menikahi dia?"
Rara : "Papa, ih. Rara cuma manja sama papa."
Arnold : "Rara gak manja kok, om. Dia sangat mandiri dan tegar."
Rara : "Tuch, Arnold aja bilang gak manja. Papa juga manja kalo sama mama Mia."
Alex : "Itu kan beda..."
Rara tersenyum lebar karena sangat senang, Mia segera kembali membawa minuman lagi dan duduk di samping Rara.
Mia : "Jadi kita mulai darimana? Oh, kapan tanggal pernikahannya?"
Alex : "Kalian mau nikah samaan sama papa? Sekalian kita bikin resepsi dan sebar undangannya."
Arnold : "Kalau gitu, gak mengundang pertanyaan ya, om. Misalnya Rara hamil duluan gitu?"
Ronald : "Benar juga ya, mereka kan baru kenal, masa uda langsung nikah. Kesannya ada yang sembunyikan gitu."
Alex : "Trus maunya kapan? Mia gak mau pesta kalau pernikahan Rara tanpa pesta. Tolong bantu papamu ini, Ra. Papa sudah lama menunggu pernikahan ini."
Rara menatap Mia yang wajahnya sudah memerah,
Rara : "Papa kebelet kawin, ya mah."
Mia : "Kamu juga sama, Ra."
Rara dan Mia terkikik geli membiarkan Alex merana memikirkan nasib pernikahannya.
Alex : "Kita nikah bersamaan saja, mau ada yang bilang ini itu, waktu yang akan menjawabnya. Dan Arnold, papa harap kamu pegang janji, sebelum Rara lulus kuliah, kamu tidak akan menuntut hak suami. Kalian juga harus tinggal sama kami."
Arnold : Baik, pah."
Mau nego apalagi kalau sudah begini, Arnold tetap harus menahan hasratnya pada Rara.
--------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------