Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Kesepian lagi


DM2 – Kesepian lagi


“Kak Rara?” Gadis menoleh Rio yang


mengangguk.


“Hai, Gadis, pah.”


“Mama Gadis! Sini, mama bawa mainan


banyak.”panggil Reynold.


Gadis merasakan firasat buruk melihat


kedatangan Rara. Ia ikut duduk di samping Rey yang terlihat sangat senang


didampingi kedua mamanya. Rara memeluk Gadis sebentar, menanyakan kabarnya. Gadis


hanya mengangguk mengatakan dirinya baik-baik saja.


Mereka menemani Reynold dan si kembar


bermain sebentar sebelum Rara mengajak Gadis dan Rio bicara di ruang sebelah.


Gadis meremas tangannya, ia harus mendengarkan apa yang akan Rara katakan.


“Gadis, Rio, kakak tahu kalian sangat


sayang sama Rey. Kakak juga berat sebenarnya mau bilang ini. Tapi kakak dan kak


Arnold sudah memutuskan akan kembali  ke


kota ini dan kami ingin tinggal bersama Rey lagi.”


“Maksud kakak?”tanya Gadis dengan


hati-hati. Sungguh ia sudah mulai emosi mendengar kata-kata Rara.


“Kami ingin membawa Rey dari rumah ini dan tinggal


di rumah baru kami, Gadis. Mas Arnold sudah menyiapkan rumah tak jauh dari


sini.”


Gadis terhenyak mendengar kata-kata Rara,


hatinya sakit mendengar kenyataan Rey tidak akan tinggal bersamanya lagi.


“Kak, tolong biarkan Rey tetap sama aku


disini.”pinta Gadis yang tidak bisa membendung air matanya lagi.


“Kakak paham perasaanmu, Gadis. Tapi ingat


Reynold adalah anak kandungku dan mas Arnold. Kami hanya menitipkannya padamu.


Sekarang Reynold bisa tinggal lagi bersama kami. Gadis, Rey anak kami satu-satunya.


Aku tidak bisa lagi mempunyai anak dengan keadaan mas Arnold. Tolong kamu mau


mengerti.”


Gadis terus saja menangis, selama 5 tahun


ini ia menjaga dan merawat Reynold seperti putranya sendiri. Kehadiran Reynold


membuat hari-hari Gadis yang kesepian tanpa kehadiran momongan, menjadi lebih


lengkap dan berwarna.


Sekarang Rara datang dan ingin membawa


Reynold dari dekapannya. Hati Gadis sungguh berat menerima kenyataan Rey akan


dibawa pergi. Meskipun dekat, tapi mereka tidak akan tinggal bersama lagi.


“Rey masih bisa menginap disini kan kalau


weekend. Kamu juga bisa datang kerumah nanti.”


Suara tangisan Gadis membuat Rey berlari


mendekatinya, “Mama Gadis kenapa nangis?”


Gadis memeluk erat-erat Reynold sampai anak


kecil itu kesulitan bernafas. Rio dan Rara menarik Gadis dan Reynold agar


terlepas.


“Kamu apa-apaan, Gadis. Lepasin


anakku!”bentak Rara sambil memeluk Rey yang ketakutan.


“Mama Gadis kenapa? Sakit, mah.”rengek


Reynold.


Gadis terkejut melihat perbuatannya


barusan, ia bangkit berdiri, lalu berlari ke kamarnya di lantai 2. Rio menyusul


Gadis,


“Gadis, tolong mengertilah.”


“Aku selalu berusaha mengerti, Rio... Gak


bisa... Aku udah gak kuat lagi.”


Gadis menangis sangat sedih dipelukan Rio.


Rio juga sangat sedih harus berpisah tinggal dari Rey. Tapi biar bagaimanapun,


Reynold adalah anak Rara.


Gadis tidak turun untuk makan malam,


Reynold terus menunggunya sambil menatap kearah tangga. Biasanya Gadis yang


menyiapkan makanan untuknya. Kali ini Rara yang menyiapkan makanan untuk Rey.


Tapi anak itu tidak makan dengan lahap seperti biasanya.


“Rey, kenapa gak mau makan? Gak enak ya?”


“Rey mau makan sama mama Gadis, mah.”


“Mama Gadis masih di kamar, sayang. Sama


mama dulu ya.”bujuk Rara berusaha sabar.


Rey tetap tidak melanjutkan makannya, Rara


meletakkan sendoknya dengan kesal. Ia sudah lelah dari perjalanan selama di


pesawat, sampai di rumah Alex belum sempat istirahat karena ingin masak untuk


Rey, tapi Rey malah tidak mau makan masakannya.


Rara sedikit keras.


“Mama Rara jahat!”Rey turun dari kursinya,


ia menaiki tangga dengan cepat sambil berpegangan.


“Rey!”panggil Rara.


Mia menarik tangan Rara, membawa putrinya


itu ke dalam kamarnya.


“Kamu kenapa sich, bentak Rey kayak gitu.”Mia


mendudukkan Rara di tempat tidur. “Rey cuma mau makan sama Gadis.”


“Gadis lagi! Rey, anak aku, mah. Gadis cuma


mengasuhnya, bukan ibunya.”


“Siapa bilang dia bukan ibu Rey juga.


Ingat, Rara. Kamu menitipkan Rey saat dia berumur 2 tahun pada Gadis. Gadis mengurus


Rey seperti anak kandungnya sendiri. Dia yang jaga Rey waktu Rey sakit, dia


yang bantu Rey beradaptasi di sekolah playgroup karena Rey gak suka berteman.


Apa kamu tahu itu?”


“Iya, Gadis pernah cerita. Tapi sekarang


aku sudah disini, mah. Emang gak boleh aku dekat sama anakku sendiri.”


“Kasi Rey waktu, Rara. Kamu gak bisa


langsung memisahkan mereka seperti ini. Apalagi pakai emosi. Rey itu masih


kecil, belum ngerti kalau kamu bilang dia harus pisah tinggal dari Gadis. Dia


pasti berontak.”


“Rey, sudah 7 tahun, mah. Harusnya sudah


paham kita ngomong apa.”


Mia memijat keningnya yang pusing. Ia duduk


di samping Rara, menggenggam tangannya.


“Dengar, Ra. Mama paham mama tau Rey itu


anak kandungmu. Tapi kamu juga harus ingat, sebagian besar hidupnya dia bersama


Gadis. Anak itu sudah terbiasa dengan Gadis. Kamu harus sabar, Ra.”


“Tapi, mah?”


“Ra, kalau kamu keras kepala gini, jangan


salahin mama kalau Rey makin jauh dari kamu.”


Rara menghela nafas berat, ia mencoba


mengerti keadaan Rey saat ini. Mia meminta Rara membawa makanan Rey ke kamar


Gadis.


“Biarkan Rey makan sama Gadis dulu. Sampai


dia terbiasa sama kamu, ya.”


Rara membawa makan malam Rey ke lantai 2,


ia berhenti di depan pintu kamar Gadis dan Rio. Rara mendengar pembicaraan Rey


dan Gadis,


“Mama Gadis, Rey nakal ya? Kenapa mama Gadis


nangis?”


“Nggak, sayang. Tadi mama Gadis ngobrol


sama mama Rara. Kan udah lama gak ketemu, kangen. Makanya mama Gadis nangis.


Emangnya Rey gak kangen sama mama Rara?”


“Kangen, mah. Tapi mama Rara galak. Rey


takut, mah.”


Rara memegang erat piring di tangannya, ia


takut menjatuhkan piring itu ketika mendengar pengakuan putranya.


“Mama Rara gak galak, sayang. Memangnya


kenapa Rey takut?”


Rey menceritakan apa yang terjadi di meja


makan tadi pada Gadis, Rara melihat Gadis duduk di atas ranjangnya dengan Rey


duduk di sampingnya. Tangan Gadis mengelus-elus kepala Rey dengan sayang.


“Oh, mama Rara khawatir kalau kamu sakit


karena gak makan, Rey. Rey dengerin mama ya, mama Rara kesini mau sama-sama


tinggal sama Rey lagi.”


“Kenapa, mah? Bukannya mama Rara lebih


sayang sama papa Arnold ya? Makanya Rey ditinggal disini.”


Hati Rara semakin sakit mendengar kata-kata


putranya, ia hampir menangis melihat putranya itu mengambil tangan Gadis, lalu


memeluk lengan wanita itu.


“Siapa yang bilang mama Rara lebih sayang


sama papa Arnold. Seinget mama, mama Rara lebih sayang sama Rey daripada sama papa


Arnold.”saut Gadis dengan mimik wajah mengingat sesuatu.


“Masa sih, mah?”


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.